Contoh Studi Kelayakan Bisnis untuk Menilai Keberhasilan Usaha

Berita dan Informasi Praktis soal Ekonomi Bisnis
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Berita Bisnis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di dunia usaha, studi kelayakan bisnis menjadi bagian penting sebelum sebuah usaha dijalankan atau dikembangkan. Kajian ini dilakukan secara menyeluruh untuk mengetahui berbagai faktor yang dapat memengaruhi peluang keberhasilan suatu usaha.
Studi kelayakan bisnis penting bagi pengusaha maupun investor yang hendak menanamkan modal. Dengan kajian yang matang, keputusan bisnis dapat dibuat secara lebih terukur. Sebaliknya, keputusan tanpa perencanaan yang cukup dapat meningkatkan risiko kerugian.
Agar lebih mudah dipahami, simak contoh studi kelayakan bisnis yang dapat dijadikan gambaran di bawah ini.
Apa Itu Studi Kelayakan Bisnis?
Studi kelayakan bisnis atau feasibility study merupakan penelitian komprehensif untuk menilai apakah suatu rencana usaha atau proyek layak dijalankan berdasarkan berbagai aspek yang relevan.
Dalam buku Studi Kelayakan Bisnis: Konsep, Metode, dan Aplikasi karya Putu Anom Mahadwartha dkk., studi kelayakan bisnis disusun secara sistematis untuk memberikan gambaran mengenai peluang, tantangan, serta risiko yang melekat pada suatu rencana usaha, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Kajian ini penting karena dapat membantu mengurangi risiko kegagalan sekaligus menjadi bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan.
Secara umum, aspek yang dinilai dalam studi kelayakan bisnis meliputi aspek pasar, teknis, keuangan, hukum, ekonomi, sosial, serta manajemen.
Contoh Studi Kelayakan Bisnis
Sebagai ilustrasi, Karsa Coffee merupakan kedai kopi yang berlokasi di Jalan Yos Sudarso, Rumbai, Pekanbaru.
Karsa Coffee beroperasi setiap hari mulai pukul 10.00 WIB hingga 01.00 WIB. Kedai ini memiliki kapasitas sekitar 20–30 pengunjung serta menyediakan fasilitas Wi-Fi.
Berdasarkan contoh studi kelayakan bisnis dari buku Kajian Studi Kelayakan Bisnis karya Jahrizal dkk., berikut analisis kelayakan usaha Karsa Coffee berdasarkan beberapa aspek.
1. Aspek Teknis
Aspek teknis digunakan untuk menilai kesiapan usaha dalam menjalankan kegiatan operasional. Penilaian mencakup ketepatan lokasi, kebutuhan tempat, tata letak, peralatan, hingga fasilitas yang menunjang kegiatan usaha.
Karsa Coffee memilih lokasi yang dekat dengan kampus sehingga memiliki peluang menjangkau konsumen dari kalangan mahasiswa.
Untuk menunjang kenyamanan pelanggan, kedai menyediakan fasilitas Wi-Fi gratis, area parkir yang luas, serta suasana yang nyaman. Menu yang ditawarkan juga memiliki harga relatif terjangkau sehingga dapat disesuaikan dengan target konsumen.
2. Aspek Keuangan
Aspek keuangan digunakan untuk mengetahui kebutuhan investasi, biaya operasional, penerimaan, serta potensi keuntungan usaha. Perhitungan berikut menjadi gambaran sederhana mengenai kondisi keuangan Karsa Coffee.
Biaya Investasi
Mesin kopi: Rp8.000.000 dengan penyusutan sekitar Rp66.667 per bulan.
Grinder: Rp1.000.000 dengan penyusutan sekitar Rp27.778 per bulan.
Meja dan kursi: Rp5.000.000 dengan penyusutan sekitar Rp138.889 per bulan.
Atap baja ringan: Rp10.000.000 dengan penyusutan sekitar Rp166.667 per bulan.
Semikontainer: Rp5.000.000 dengan penyusutan sekitar Rp83.333 per bulan.
Bangunan: Rp25.000.000 dengan penyusutan sekitar Rp416.667
Total biaya investasi yang dicantumkan sebesar Rp50.000.000, dengan biaya penyusutan sekitar Rp900.000 per bulan.
Biaya Operasional
Air dan listrik: Rp160.000 per bulan.
Bahan baku: Rp4.000.000 per bulan.
Internet: Rp200.000 per bulan.
Tenaga kerja untuk dua orang: Rp2.400.000 per bulan.
Total biaya sebesar Rp6.760.000
Berdasarkan perhitungan tersebut, total biaya keseluruhan yang mencakup biaya operasional serta penyusutan mencapai Rp7.660.000 per bulan atau Rp91.920.000 per tahun.
Penerimaan dari Penjualan
Karsa Coffee diproyeksikan mampu menjual sekitar 40 cup per hari dengan harga rata-rata Rp14.000 per cup. Dengan asumsi penjualan tersebut, penerimaan harian mencapai Rp560.000.
Jika dihitung berdasarkan 26 hari operasional dalam satu bulan, penerimaan yang diperoleh mencapai Rp14.560.000 per bulan. Dalam satu tahun, penerimaan diperkirakan sebesar Rp174.720.000.
Keuntungan Usaha
Berdasarkan perhitungan penerimaan dan biaya, keuntungan usaha dapat diketahui dengan mengurangi total penerimaan dengan total biaya.
Total penerimaan: Rp174.720.000
Total biaya: Rp91.920.000
Total keuntungan: Rp82.800.000
Rata-rata keuntungan per bulan: Rp6.900.000
3. Aspek Pasar
Aspek pasar digunakan untuk mengetahui peluang pasar bagi produk yang ditawarkan. Analisis ini mencakup target konsumen, daya beli, strategi pemasaran, produk yang dijual, serta kondisi persaingan di sekitar lokasi usaha. Berikut gambaran aspek pasar Karsa Coffee:
Target pasar: Karsa Coffee menyasar masyarakat dengan tingkat ekonomi menengah. Segmen usia yang dituju cukup luas, mulai dari kalangan muda hingga orang dewasa.
Tujuan konsumen: Karsa Coffee dapat menjadi tempat berkumpul bersama keluarga, teman, maupun pasangan. Kedai juga dapat digunakan untuk melepas penat setelah bekerja atau menjalani aktivitas perkuliahan.
Kondisi pasar: Setelah Karsa Coffee berdiri, semakin banyak kedai kopi lain yang bermunculan di kawasan Rumbai. Kondisi tersebut menunjukkan adanya persaingan yang perlu diperhatikan dalam menjalankan usaha.
4. Aspek Manajemen
Aspek manajemen digunakan untuk menilai kemampuan sumber daya manusia dalam mengelola serta menjalankan kegiatan usaha. Pengelolaan yang baik diperlukan agar operasional kedai berjalan sesuai dengan tugas dan tanggung jawab masing-masing.
Karsa Coffee memiliki dua orang tenaga kerja sebagai barista. Pemilik bertanggung jawab atas pengelolaan keuangan, pembelian bahan baku, pemasaran, serta evaluasi penjualan.
Sementara itu, barista bertugas menyiapkan pesanan, melayani pelanggan, menjaga kebersihan area kerja, serta memastikan kualitas produk tetap konsisten.
Baca Juga: Apa itu Sistem Merit ASN? Simak Pengertian, Tujuan, dan Penilaiannya
(SA)
