Desain Stasiun LRT Jakarta Fase 1B Velodrome-Manggarai Seperti Apa?

Berita dan Informasi Praktis soal Ekonomi Bisnis
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Bisnis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pertanyaan tentang desain stasiun LRT Jakarta Fase 1B Velodrome-Manggarai seperti apa, kerap memicu keingintahuan warga DKI. Pasalnya, rute baru Lintas Rel Terpadu atau Light Rail Transit (LRT) ini direncanakan bakal mulai beroperasi pada Agustus 2026.
LRT Jakarta Fase 1B sendiri merupakan bagian dari proyek LRT Jakarta rute Kelapa Gading (Pegangsaan Dua)-Manggarai dengan total 12,2 kilometer dan 11 stasiun. Khusus Fase 1B Velodrome-Manggarai, LRT akan memiliki panjang lintasan 6,4 kilometer dan lima stasiun.
Berdasarkan informasi dari akun Instagram Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi DKI Jakarta, @dishubdkijakarta, Senin, 14 Juli 2026, progres pembangunan LRT Jakarta Pegangsaan Dua-Manggarai telah mencapai 95 persen.
Desain Stasiun LRT Jakarta Fase 1B Seperti Apa?
Adapun lima stasiun untuk LRT Jakarta Fase 1B rute Velodrome-Manggarai terdiri dari Stasiun Rawamangun, Stasiun Pramuka, Stasiun Kayu Manis, Stasiun Matraman, dan Stasiun Manggarai.
Dua dari lima nama stasiun tersebut telah mengalami perubahan. Sebelumnya, Stasiun Kayumanis disebut sebagai Stasiun Pramuka, sedangkan Stasiun Pramuka awalnya diberi nama Stasiun Pramuka BPKP (Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan).
Mengacu pada unggahan akun Instagram PT Jakarta Propertindo (Perseroda) atau Jakpro, @jakprogroup, pada Selasa, 9 Juni 2026, progres pekerjaan seluruh stasiun LRT Jakarta Fase 1B mencapai 78,6 persen.
Untuk Stasiun Rawamangun, sistem persinyalan, platform screen door (pintu peron otomatis), dan automatic fare collection (sistem pembayaran tarif otomatis) telah terpasang penuh. Sementara itu, instalasi di stasiun lainnya masih terus berjalan.
Merujuk pada laporan Analisis Penentuan Tarif LRT Jakarta Rute Pegangsaan Dua – Manggarai karya Alfira Berlianti (2024), berikut rencana pengembangan lima stasiun LRT Jakarta Fase 1B rute Velodrome-Manggarai:
1. Stasiun Rawamangun
Rancangan Stasiun Rawamangun menyatukan area concourse (ruang fasilitas umum dan perantara) dengan peron Halte Transjakarta Sunan Giri. Sambungan ini memanfaatkan elevated linkway (jembatan penyeberangan layang) yang dilengkapi tangga.
Pengembangan struktur integrasi ini juga memperhitungkan potensi perluasan Halte Transjakarta di masa depan seiring dengan melonjaknya volume penumpang.
2. Stasiun Pramuka
Stasiun LRT Jakarta Pramuka akan tersambung dari area concourse menuju jalur paid elevated linkway (jembatan layang berbayar) milik Transjakarta. Akses antar-moda ini menggunakan elevated linkway yang ditunjang dengan ramp (jalur landai ramah disabilitas).
3. Stasiun Kayu Manis
Stasiun Kayu Manis mengintegrasikan area concourse Stasiun LRT Pramuka dengan peron Halte Transjakarta Pasar Genjing. Penghubung berwujud elevated linkway ini disediakan lengkap beserta tangga penunjang.
Rencana pembangunan fisik stasiun tersebut telah mempertimbangkan opsi penyesuaian kapasitas Halte Transjakarta guna mengantisipasi lonjakan kebutuhan masyarakat.
4. Stasiun Matraman
Stasiun Matraman dirancang untuk menghubungkan concourse LRT dengan paid elevated linkway pada Halte Transjakarta Matraman 1 dan 2. Jalur integrasi layang ini turut dilengkapi break point area (zona titik singgah sementara) untuk kenyamanan pengguna angkutan umum.
5. Stasiun Manggarai
Stasiun LRT Manggarai bakal menjadi simpul pemutus yang mengoneksikan area concourse LRT, peron Halte Transjakarta, dan concourse Stasiun KRL Manggarai.
Akses terpadu tersebut dilengkapi gathering area (area titik kumpul) dan ruang komersial yang diisi oleh tenant (penyewa lapak) makanan, non-makanan, hingga co-working space (ruang kerja bersama).
Lebih lanjut, apabila mengacu pada penjelasan akun Instagram PT LRT Jakarta @lrtjkt, maka desain atap stasiun LRT Jakarta secara umum menggunakan metode double seaming. Atap dengan model ini dipasang tanpa baut dan menggunakan sistem lipatan.
Dengan sistem ini, stasiun diklaim dapat mendukung efisiensi energi, mengurangi panas, menekan kebisingan, dan memaksimalkan sirkulasi udara secara alami.
“Di LRT Jakarta, desain stasiun juga dirancang dengan pendekatan yang mendukung sustainability (keberlanjutan),” tulis @lrtjkt, Kamis, 16 Juli 2026.
Baca Juga: Kapan LRT Kelapa Gading-Manggarai Beroperasi? Ini Progresnya
(MDP)
