Konten dari Pengguna

Earning After Tax: Pengertian, Rumus, dan Cara Menghitungnya

Berita Bisnis

Berita Bisnis

Berita dan Informasi Praktis soal Ekonomi Bisnis

·waktu baca 3 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Bisnis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi menghitung earning after tax. Foto: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi menghitung earning after tax. Foto: Pexels

Earning after tax adalah istilah keuangan yang digunakan untuk menggambarkan keuntungan perusahaan setelah semua pajak dibayar. Indikator ini dipakai untuk mengetahui besarnya laba bersih yang didapatkan oleh perusahaan.

Merujuk buku KPI untuk Perusahaan Industri yang ditulis oleh Arini T. Soemohadiwidjojo, earning after tax (EAT) atau penghasilan setelah pajak merupakan laba bersih yang diperoleh perusahaan pada periode tahun buku berjalan.

Penghasilan setelah pajak ini dapat dinyatakan dalam satuan uang (Rupiah atau US Dolar) ataupun persentase (%). Simak penjelasan lebih lanjut seputar earning after tax dalam uraian artikel Berita Bisnis di bawah ini.

Rumus Earning After Tax

Ilustrasi menghitung earning after tax. Foto: Pexels

Untuk menghitung pendapatan setelah pajak, cukup kurangi total pajak dari pendapatan kotor. Berikut rumus earning after tax yang dikutip dari laman Corporate Finance Institute (CFI):

Earning After Tax (Pendapatan Setelah Pajak) = Gross Income (Pendapatan Kotor) – Taxes (Pajak)

Selain dengan rumus di atas, EAT juga dapat dihitung dengan mengambil pendapatan kotor dan mengurangkan seluruh beban dan biaya perusahaan seperti:

  • Harga Pokok Penjualan (HPP), yang mewakili biaya yang terlibat dalam produksi termasuk tenaga kerja langsung dan bahan langsung atau inventaris.

  • Penyusutan, yaitu proses pembebanan atau pembagian biaya perolehan aset tetap selama masa manfaatnya.

  • Charge-off, yang dapat berupa penghapusan atau kerugian satu kali saja.

  • Beban bunga atas utang apapun, termasuk utang jangka pendek dan porsi bunga pada periode tersebut untuk utang jangka panjang seperti obligasi yang diterbitkan.

  • Pajak, iuran yang dibayarkan kepada pemerintah.

  • Biaya overhead, termasuk staf dan bangunan untuk kantor perusahaan tercantum dalam laporan laba rugi sebagai penjualan, umum, dan administrasi (SG&A).

  • Belanja penelitian dan pengembangan.

Baca juga: Apa Itu Laba Akuntansi? Ini Rumus dan Aturan Menghitungnya

Cara Menghitung Earning After Tax

Ilustrasi menghitung earning after tax. Foto: Pexels

Merujuk buku Analisis Laporan Keuangan oleh Ivan Gumilar Sambas Putra, H. Azhar Azhar Affandi, Laely Purnamasari, dan Denok Sunarsi, berikut cara menghitung penghasilan setelah pajak:

1. Mengumpulkan Informasi

Mulailah dengan mengumpulkan informasi yang diperlukan untuk menghitung EAT. Ini termasuk tarif pajak usaha dan laba kotor serta biaya operasional untuk periode waktu tersebut. Sebagian besar informasi harus tersedia dalam catatan usaha pebisnis.

2. Menentukan Pendapatan Operasional

Laba bersih setelah pajak membutuhkan pengetahuan tentang pendapatan operasional. Ini melibatkan laba kotor dan biaya operasional. Berikut rumus yang digunakan saat menghitung pendapatan operasional:

Pendapatan operasional = laba kotor - biaya operasional

3. Mengonversi Tarif Pajak

Penting untuk mengonversi tarif pajak ke dalam format yang dapat digunakan untuk penghitungan. Ubahlah dari persentase menjadi titik desimal dengan membaginya 100.

Setelah mendapatkan angka desimal, kurangi angka desimal tersebut dengan satu. Misalnya, jika tarif pajak adalah 20%, maka akan menjadi 0,20, kemudian silakan menguranginya dari satu untuk mendapatkan hasil 0,80.

4. Menghitung Laba Bersih Setelah Pajak

Menghitung laba bersih setelah pajak melibatkan penggunaan pendapatan operasional dan hasil persamaan tarif pajak pebisnis. Kalikan kedua hal tersebut, nanti hasilnya adalah laba bersih setelah pajak.

(NDA)