EBITDA: Definisi, Fungsi, dan Cara Menghitungnya

Berita dan Informasi Praktis soal Ekonomi Bisnis
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Bisnis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

EBITDA adalah salah satu indikator keuangan yang kerap digunakan oleh investor, analis keuangan, serta manajemen untuk mengevaluasi profitabilitas dan efisiensi operasional suatu perusahaan.
Secara istilah, EBITDA merupakan singkatan dari Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization. Jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berarti "Pendapatan Sebelum Bunga, Pajak, Depresiasi, dan Amortisasi."
EBITDA dapat digunakan untuk melihat laba bersih dari aktivitas utama perusahaan, tanpa memperhitungkan faktor eksternal seperti kebijakan pajak atau keputusan pembiayaan.
Selain itu, EBITDA juga bisa dimanfaatkan untuk membandingkan perusahaan dalam industri yang sama, terutama ketika mereka memiliki struktur pembiayaan atau kebijakan pajak yang berbeda.
Fungsi EBITDA
Berdasarkan informasi yang dirangkum dari berbagai sumber, EBITDA memiliki beberapa kegunaan penting dalam analisis keuangan perusahaan, seperti:
1. Mengukur Kinerja Operasional Murni
Menurut CFI, EBITDA membantu menunjukkan pendapatan yang dihasilkan oleh aktivitas inti perusahaan tanpa pengaruh dari faktor eksternal. Ini memungkinkan manajemen dan investor untuk memahami performa dasar perusahaan secara lebih baik.
2. Membandingkan Perusahaan di Industri yang Sama
EBITDA bermanfaat untuk membandingkan perusahaan di dalam industri yang sama karena mengabaikan perbedaan kebijakan pembiayaan, struktur pajak, atau biaya non-tunai yang mungkin berbeda.
Misalnya, jika dua perusahaan memiliki laba bersih yang berbeda tetapi EBITDA yang mirip, hal ini mungkin menunjukkan bahwa perbedaan laba bersih disebabkan oleh faktor di luar aktivitas operasional utama.
3. Menganalisis Kemampuan Perusahaan untuk Membayar Utang
EBITDA menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan pendapatan tanpa memperhitungkan beban utang, sehingga membantu investor mengevaluasi seberapa mampu perusahaan untuk membayar kewajiban finansialnya.
4. Mempermudah Valuasi Perusahaan
EBITDA sering digunakan dalam metode valuasi berbasis multipel, seperti EV/EBITDA (Enterprise Value to EBITDA ratio), yang memungkinkan investor menghitung nilai perusahaan berdasarkan pendapatan operasional.
Mengutip buku Cara Menilai Perusahaan karya Dr. Adler Haymans Manurung, rasio EV/EBITDA bisa memberikan indikasi apakah suatu perusahaan dinilai wajar, overvalued, atau undervalued di pasar.
Baca Juga: 6 Penyebab Perusahaan Pailit yang Perlu Diwaspadai
Cara Menghitung EBITDA
Investopedia menerangkan bahawa terdapat dua rumus yang bisa digunakan untuk menghitung EBITDA. Rumus pertama berdasarkan laba bersih, sementara yang kedua berdasarkan laba operasi. Berikut penjabaran rumusnya.
Berdasarkan Laba Bersih
EBITDA = Laba Bersih + Bunga + Pajak + Depresiasi + Amortisasi
Berdasarkan Laba Operasional
EBITDA = Laba Operasi + Depresiasi + Amortisasi
Sebagai contoh, perusahaan XYZ memiliki laporan keuangan sebagai berikut:
Laba bersih: Rp500 juta
Bunga: Rp100 juta
Pajak: Rp50 juta
Depresiasi: Rp30 juta
Amortisasi: Rp20 juta
Maka, perhitungan EBITDA menggunakan rumus pertama, yakni:
EBITDA = Laba Bersih + Bunga + Pajak + Depresiasi + Amortisasi
= Rp500 juta + Rp100 juta + Rp50 juta + Rp30 juta + Rp20 juta
= Rp700 juta
(NDA)
