Harga Tembaga Bekas di E-Commerce atau Pasar

Berita dan Informasi Praktis soal Ekonomi Bisnis
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Bisnis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Selain botol atau kardus bekas, tembaga bekas juga termasuk salah satu barang yang bisa diperjualbelikan. Transaksi jual beli tembaga bekas pun dapat dilakukan secara online melalui e-commerce ataupun tatap muka di pasar.
Untuk harga tembaga bekas sendiri dapat bervariasi. Menurut informasi yang telah dirangkum dari berbagai sumber, harga tembaga yang masih belum terkelupas dari bungkus kabelnya berkisar mulai dari Rp105.000-Rp120.000 per kilogram.
Sementara untuk tembaga yang sudah terkelupas berkisar mulai dari Rp40.000-Rp80.000 per kilogram. Besaran harga tembaga bekas tersebut umumnya ditentukan berdasarkan jenis, kualitas, ketebalan, dan kemurnian tembaga.
Sifat Material Tembaga
Setiap logam memiliki ciri khas dan karakter masing-masing, tak terkecuali tembaga. Adapun sifat material tembaga yang membuatnya bisa dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari, di antaranya:
Penghantar panas yang handal dan cepat. Tembaga memiliki sifat yang unik. Logam ini punya kemampuan menghantar panas dan listrik yang bagus. Selain itu, tembaga juga bisa didaur ulang serta tahan karat.
Memiliki kekuatan penghantar listrik yang tinggi, cocok digunakan untuk arus listrik yang tidak stabil dan tinggi. Tembaga yang telah dicampurkan dengan senyawa lain dapat menjadi alat penghantar panas yang baik.
Memiliki sifat koefisien suhu yang baik, artinya tembaga dapat menyusut ketika suhu dingin dan memuai ketika suhu panas.
Baca juga: Ciri-ciri Zaman Logam Tembaga dan Contohnya
Daerah Penghasil Tembaga Terbesar di Indonesia
Daerah penghasil tembaga di Indonesia terbilang cukup banyak dan tersebar dari sabang sampai merauke. Berdasarkan data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Indonesia masuk dalam tujuh negara penghasil tembaga terbesar di dunia.
Pada 2020, diketahui bahwa cadangan sumber daya tembaga di Indonesia mencapai 28 miliar metrik ton. Angka ini setara dengan 3 persen cadangan tembaga dunia yang jumlahnya mencapai 871 miliar metrik ton.
Selain itu, Indonesia juga berada pada urutan 11 untuk produksi tambang tembaga. Kendati begitu, industri hilir tembaga Indonesia berada di urutan ke-18, di bawah Jepang, India, Korea dan Bulgaria.
Merujuk laman resmi Kementerian Investasi / Badan Koordinator Penanaman Modal (BKPM) dan sumber lainnya, berikut beberapa daerah penghasil tembaga terbesar di Indonesia:
1. Mimika (Papua)
Mimika, Papua menjadi daerah penghasil tembaga paling besar di Indonesia. PT Freeport Indonesia menjadi pengeksplorasi tambang tembaga di Mimika.
Tambang tembaga yang dikelola oleh Freeport adalah tambang Grasberg berada di Kabupaten Mimika, tepatnya di dataran tinggi Tembaga Pura.
Menurut laporan dalam Fourth Quarter and Year Ended 2020 Freeport Mcmoran, PT Freeport Indonesia pada 2019 berhasil menambang 607 juta ton tembaga. Angka tersebut naik menjadi 809 juta ton pada tahun berikutnya.
2. Sangkaropi (Sulawesi Selatan)
Lokasi tambang tembaga terbesar berikutnya ada di Sangkaropi, Kecamatan Sa’dan, Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan. Daerah ini terdapat banyak batuan vulkanik yang telah mengalami proses pelapukan, sehingga cocok dijadikan sebagai area galian atau penambangan. Produksi tembaga di Sangkaropi diperkirakan mencapai hingga 350 ribu ton setiap tahunnya.
3. Gorontalo (Sulawesi Utara)
Tidak hanya Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara juga mempunyai cadangan tembaga yang melimpah. Salah satu perusahaan yang melakukan penambangan tembaga di wilayah Sulawesi Utara adalah PT Gorontalo Minerals yang berlokasi di Talango, Kec. Kabila, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo.
PT Gorontalo Minerals merupakan cucu perusahaan dari PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Jumlah tembaga yang diproduksi PT Gorontalo Minerals diperkirakan mencapai mencapai 693.109 ton per tahun.
(NDA)
