Konten dari Pengguna

Jual Beli Menurut Syariat Agama Islam, Rukun, dan Syaratnya

Berita Bisnis

Berita Bisnis

Berita dan Informasi Praktis soal Ekonomi Bisnis

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Bisnis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Jual Beli Menurut Syariat Islam. Foto: Unsplash.com/Kelly Sikkema
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Jual Beli Menurut Syariat Islam. Foto: Unsplash.com/Kelly Sikkema

Jual beli didefinisikan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sebagai suatu persetujuan saling mengikat antara penjual sebagai pihak yang menyerahkan barang dan pembeli sebagai pihak yang membayar harga yang dijual.

Dalam kegiatan tersebut ada pula perjanjian yang biasanya digunakan perusahaan perseorangan, kemitraan, dan perusahaan tertutup untuk melangsungkan transisi kepemilikan ketika mitra meninggal, pensiun, atau memutuskan untuk keluar dari bisnis.

Lantas, bagaimana jual beli dalam syariat agama Islam? Berikut Berita Bisnis jabarkan informasi mengenai jual beli menurut syariat islam.

Pengertian Jual Beli menurut Syariat Agama Islam

Ilustrasi Jual Beli Menurut Syariat Islam. Foto: Unsplash.com/Artem Beliaikin

Merujuk jurnal Jual Beli dalam Islam oleh Yusarlis, jual beli memiliki dua arti, yaitu arti khusus dan arti umum sebagai berikut:

1. Arti Khusus

Jual beli adalah menukar benda dengan dua mata uang (emas dan perak) dan semacamnya atau tukar-menukar barang dengan uang atau semacamnya menurut cara yang khusus.

2. Arti Umum

Jual beli adalah tukar menukar harta dengan harta menurut cara yang khusus, harta mencakup zat (barang) atau uang.

Rukun Jual Beli

Merujuk jurnal Jual Beli dalam Islam oleh Yusarlis, jual beli dianggap sah apabila terpenuhi rukun dan syaratnya. Berikut rukun jual beli berdasarkan pendapat para ulama:

  1. Adanya penjual dan pembeli

  2. Adanya barang yang diperjualbelikan

  3. Sighat atau kalimat ijab qabul (ucapan penyerahan barang antara kedua belah pihak)

Syarat Objek yang Dijualbelikan

Ilustrasi syarat objek yang dijualbelikan. Foto: Unsplash.com/Clay Banks

Mengutip dari skripsi Tinjauan Hukum Islam tentang Jual Beli dengan Sistem Taksir oleh Lestari, berikut syarat bagi objek yang akan dijualbelikan oleh kedua belah pihak:

  1. Objek yang dijualbelikan diketahui secara jelas jenisnya, kadar, dan sifatnya.

  2. Objek atau barang yang suci, bukan barang haram atau najis.

  3. Bermanfaat.

  4. Objek yang memang milik orang yang melakukan akad, bukan milik orang lain atau tanpa sepengetahuan orang yang memiliki barang tersebut.

  5. Tidak ada unsur penipuan (gharar).

  6. Tidak mengandung kemudaratan (dharar), seperti mencampurkan dengan bahan yang buruk tanpa sepengetahuan orang lain atau pembeli.

Etika Jual Beli dalam Islam

Ilustrasi Jual Beli Menurut Syariat Islam. Foto: Unsplash.com/Eddie Junior

Dalam melakukan kegiatan jual beli, penting bagi seorang muslim untuk memperhatikan etika jual beli dalam Islam. Mengutip skripsi Tinjauan Hukum Islam tentang Jual Beli dengan Sistem Taksir oleh Lestari, berikut etika jual beli dalam Islam:

  1. Jujur dan transparan

  2. Menjual barang yang halal dan menghindari dari macam-macam riba

  3. Menjual barang dengan kualitas baik

  4. Tidak menyembunyikan cacat pada barang

  5. Tidak memberikan janji atau sumpah palsu mengenai objek yang dijualbelikan

  6. Murah hati pada pembeli

  7. Tidak melalaikan salat saat melakukan kegiatan jual beli

Demikian informasi mengenai jual beli menurut syariat agama Islam, rukun, dan syaratnya. Semoga bermanfaat.

(MQ)

Frequently Asked Question Section

Apakah seorang muslim boleh menjual minuman keras?

chevron-down

Salah satu syarat objek yang dijualbelikan dalam islam ialah objek atau barang yang suci, bukan barang haram atau najis.

Apa contoh dari kemudaratan dalam jual beli menurut Islam?

chevron-down

Contohnya adalah mencampurkan dengan bahan yang buruk tanpa sepengetahuan orang lain atau pembeli.

Apa saja rukun jual beli dalam islam?

chevron-down

Adanya penjual dan pembeli, adanya barang yang diperjualbelikan, dan mengucapkan sighat atau kalimat ijab qabul.