Jual Beli Menurut Syariat Agama Islam, Rukun, dan Syaratnya

Berita dan Informasi Praktis soal Ekonomi Bisnis
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita Bisnis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jual beli didefinisikan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sebagai suatu persetujuan saling mengikat antara penjual sebagai pihak yang menyerahkan barang dan pembeli sebagai pihak yang membayar harga yang dijual.
Dalam kegiatan tersebut ada pula perjanjian yang biasanya digunakan perusahaan perseorangan, kemitraan, dan perusahaan tertutup untuk melangsungkan transisi kepemilikan ketika mitra meninggal, pensiun, atau memutuskan untuk keluar dari bisnis.
Lantas, bagaimana jual beli dalam syariat agama Islam? Berikut Berita Bisnis jabarkan informasi mengenai jual beli menurut syariat islam.
Pengertian Jual Beli menurut Syariat Agama Islam
Merujuk jurnal Jual Beli dalam Islam oleh Yusarlis, jual beli memiliki dua arti, yaitu arti khusus dan arti umum sebagai berikut:
1. Arti Khusus
Jual beli adalah menukar benda dengan dua mata uang (emas dan perak) dan semacamnya atau tukar-menukar barang dengan uang atau semacamnya menurut cara yang khusus.
2. Arti Umum
Jual beli adalah tukar menukar harta dengan harta menurut cara yang khusus, harta mencakup zat (barang) atau uang.
Rukun Jual Beli
Merujuk jurnal Jual Beli dalam Islam oleh Yusarlis, jual beli dianggap sah apabila terpenuhi rukun dan syaratnya. Berikut rukun jual beli berdasarkan pendapat para ulama:
Adanya penjual dan pembeli
Adanya barang yang diperjualbelikan
Sighat atau kalimat ijab qabul (ucapan penyerahan barang antara kedua belah pihak)
Syarat Objek yang Dijualbelikan
Mengutip dari skripsi Tinjauan Hukum Islam tentang Jual Beli dengan Sistem Taksir oleh Lestari, berikut syarat bagi objek yang akan dijualbelikan oleh kedua belah pihak:
Objek yang dijualbelikan diketahui secara jelas jenisnya, kadar, dan sifatnya.
Objek atau barang yang suci, bukan barang haram atau najis.
Bermanfaat.
Objek yang memang milik orang yang melakukan akad, bukan milik orang lain atau tanpa sepengetahuan orang yang memiliki barang tersebut.
Tidak ada unsur penipuan (gharar).
Tidak mengandung kemudaratan (dharar), seperti mencampurkan dengan bahan yang buruk tanpa sepengetahuan orang lain atau pembeli.
Etika Jual Beli dalam Islam
Dalam melakukan kegiatan jual beli, penting bagi seorang muslim untuk memperhatikan etika jual beli dalam Islam. Mengutip skripsi Tinjauan Hukum Islam tentang Jual Beli dengan Sistem Taksir oleh Lestari, berikut etika jual beli dalam Islam:
Jujur dan transparan
Menjual barang yang halal dan menghindari dari macam-macam riba
Menjual barang dengan kualitas baik
Tidak menyembunyikan cacat pada barang
Tidak memberikan janji atau sumpah palsu mengenai objek yang dijualbelikan
Murah hati pada pembeli
Tidak melalaikan salat saat melakukan kegiatan jual beli
Demikian informasi mengenai jual beli menurut syariat agama Islam, rukun, dan syaratnya. Semoga bermanfaat.
(MQ)
Frequently Asked Question Section
Apakah seorang muslim boleh menjual minuman keras?

Apakah seorang muslim boleh menjual minuman keras?
Salah satu syarat objek yang dijualbelikan dalam islam ialah objek atau barang yang suci, bukan barang haram atau najis.
Apa contoh dari kemudaratan dalam jual beli menurut Islam?

Apa contoh dari kemudaratan dalam jual beli menurut Islam?
Contohnya adalah mencampurkan dengan bahan yang buruk tanpa sepengetahuan orang lain atau pembeli.
Apa saja rukun jual beli dalam islam?

Apa saja rukun jual beli dalam islam?
Adanya penjual dan pembeli, adanya barang yang diperjualbelikan, dan mengucapkan sighat atau kalimat ijab qabul.
