Konten dari Pengguna

Jurnal Pembalik Adalah Salah Satu Komponen dari 10 Siklus Akuntansi

Berita Bisnis

Berita Bisnis

Berita dan Informasi Praktis soal Ekonomi Bisnis

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Bisnis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi jurnal keuangan akuntansi. Foto: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi jurnal keuangan akuntansi. Foto: Pexels

Jurnal pembalik adalah jurnal untuk membalik jurnal penyesuaian yang menimbulkan akun neraca tidak terjadi akun ganda pada siklus akuntansi di suatu perusahaan.

Ilmu akuntansi memegang peranan yang sangat penting dalam menjalankan operasi perusahaan. Terdapat sepuluh elemen dalam siklus transaksi. Umumnya seluruh transaksi bisnis yang terjadi dalam perusahaan mula-mula akan dianalisis untuk diidentifikasi data dan dicatat ke dalam jurnal.

Sehingga tahapan pembuatan siklus akuntansi jika diurutkan mulai dari melakukan identifikasi dan analisis transaksi, mencatat transaksi pada jurnal, memposting pada buku besar, menyusun neraca saldo, menyusun jurnal penyesuaian, menyusun neraca saldo setelah penyesuaian, menyusun laporan keuangan, menyusun jurnal penutup, menyiapkan neraca saldo setelah penutupan, dan membuat ayat jurnal pembalik.

Untuk lebih memahami sebenarnya apa itu jurnal pembalik, Berita Bisnis kali ini akan memaparkan informasi pengertian, tujuan, dan akun-akun dalam reverse entry.

Apa Itu Jurnal Pembalik

Dikutip dari laman Kementerian Keuangan Republik Indonesia di laman klc2.kemenkeu.go.id, jurnal pembalik atau reversing entries merupakan jurnal yang membalikkan transaksi yang telah dilakukan di jurnal penyesuaian (adjusting entries).

Jurnal pembalik adalah siklus pembalikan beberapa akun yang telah ditutup untuk mengembalikan saldonya. Akun perkiraan yang dibalik biasanya merupakan pembayaran di muka dan belum jatuh tempo.

Menurut Hery (2014:20) dalam Siklus Akuntansi, ayat jurnal pembalik ini biasanya dibuat pada setiap awal periode akuntansi dengan cara membalik ayat jurnal penyesuaian yang telah dibuat pada akhir periode akuntansi sebelumnya.

Jurnal pembalik ini bersifat opsional, artinya boleh dilakukan maupun tidak membuatnya. Meski demikian, untuk beberapa transaksi tertentu, jurnal pembalik ini memang harus dibuat.

Tujuan pembuatan neraca saldo setelah penutupan adalah untuk mendapatkan keyakinan bahwa saldo yang seimbang sudah benar dan akurat.

Sementara itu jurnal pembalik dibuat agar proses pencatatan beberapa transaksi tertentu, terutama yang selalu berulang, bisa menjadi lebih sederhana.

Ilustrasi jurnal keuangan akuntansi. Foto: Pexels

Alasan Menyusun Jurnal Pembalik

Meskipun bersifat tidak wajib, akan tetapi penyusunan jurnal pembalik akan memberikan manfaat bagi keseluruhan proses akuntansi pada periode selanjutnya, lho. Berikut beberapa rincian mengenai pentingnya menyusun jurnal pembali yang dikutip dari laman Quipper Ekonomi Kelas 12:

  1. Dapat mengurangi risiko dan meminimalisasi kesalahan dalam penghitungan akun ganda terhadap pendapatan dan biaya.

  2. Memungkinkan proses efisien terhadap invoice yang nantinya akan diproses pada periode akuntansi selanjutnya.

  3. Dapat mempermudah pencatatan transaksi pada permulaan periode akuntansi selanjutnya, terutama dalam hal ayat jurnal penyesuaian.

  4. Membuat penyusunan jurnal dalam periode akuntansi selanjutnya menjadi lebih sederhana terlebih jika terdapat banyak ayat jurnal pada perusahaan tersebut.

  5. Dapat menjaga konsistensi pendekatan pencatatan akuntansi dalam perusahaan.

Akun pada Jurnal Pembalik

Karena tidak semua dapat dimasukkan dalam menyusun jurnal pembalik, sehingga hanya ada beberapa akun jurnal penyesuaian yang diperbolehkan menerapkan sistem reverse entry atau jurnal pembalik, di antaranya.

  1. Beban yang masih masih harus dibayarkan pada periode tertentu.

  2. Beban yang telah dibayarkan di muka sehingga akan tercatat sebagai beban. Kasus ini kerap kali terjadi ketika beban yang dibayarkan oleh perusahaan dananya diambil dari pengeluaran yang dianggarkan pada periode tertentu.

  3. Akun pendapatan yang masih akan diterima oleh perusahaan tetapi masih belum tercatat sebagai pendapatan usaha.

  4. Pendapatan yang telah diterima di muka dapat dicatat sebagai pendapatan jika diterima pada awal transaksi.

  5. Beban pemakaian terhadap perlengkapan atau peralatan operasional.

(SRS)