Kebijakan Diskonto: Pengertian dan Contoh Penerapannya

Berita dan Informasi Praktis soal Ekonomi Bisnis
Konten dari Pengguna
8 Agustus 2022 20:00
·
waktu baca 3 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Berita Bisnis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi peredaran uang akibat kebijakan diskonto, Foto: unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi peredaran uang akibat kebijakan diskonto, Foto: unsplash
ADVERTISEMENT
Secara sederhana, kebijakan diskonto ialah salah satu instrumen yang dapat dilakukan Bank Indonesia (BI) selaku bank sentral di Indonesia, untuk mengatur jumlah uang yang beredar di masyarakat.
ADVERTISEMENT
Adapun istilah untuk kebijakan yang mengatur jumlah uang yang beredar di masyarakat disebut sebagai kebijakan moneter. Jadi, kebijakan diskonto atau politik diskonto merupakan salah satu instrumen yang bisa dilakukan BI untuk menjalankan kebijakan moneter.
Tidak hanya itu, instrumen yang bisa dilakukan BI dalam mengatur peredaran jumlah uang juga dapat dilakukan dengan operasi pasar terbuka (open market policy), giro wajib minimum (GWM), dan dorongan moral.
Lalu, apa itu kebijakan diskonto? Serta bagaimana prosesnya? Untuk mengetahui jawaban dari kedua pertanyaan tersebut, Anda perlu membaca artikel ini sepenuhnya.

Pengertian Kebijakan Diskonto

Nazamuddin dalam Memahami Makroekonomi melalui Data dan Fakta, menerangkan bahwa kebijakan diskonto merupakan kebijakan yang bertujuan untuk menambah atau mengurangi jumlah uang yang beredar melalui penetapan suku bunga diskonto.
ADVERTISEMENT
Ia melanjutkan, suku bunga diskonto tidak lain berupa tingkat suku bunga yang dikenakan kepada bank-bank umum, serta lembaga keuangan lainnya ketika meminjam sejumlah dana dari bank sentral.
Ilustrasi peredaran uang di masyarakat, Foto: pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi peredaran uang di masyarakat, Foto: pexels
Sementara itu melalui buku Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya karya Arfandi SN, dkk, mereka menjelaskan bahwa kebijakan diskonto ini berguna untuk mempengaruhi jumlah uang yang beredar di masyarakat. Adapun caranya dengan menetapkan suku bunga diskonto.
Apabila suku bunga diskonto yang ditetapkan bank sentral semakin tinggi, maka semakin rendah pula pinjaman yang dilakukan oleh bank-bank umum. Dengan begitu, bank-bank umum akan menahan laju penyediaan kredit kepada masyarakat.
Dengan cara itu, uang yang beredar di masyarakat akan semakin dikit jumlahnya. Hal sebaliknya dilakukan, apabila BI sebagai bank sentral hendak memperbanyak jumlah uang yang beredar di masyarakat.
ADVERTISEMENT

Contoh Penerapan Kebijakan Diskonto

Berita Bisnis sebelumnya telah memaparkan mengenai arti dari kebijakan diskonto. Hal yang akan dibahas selanjutnya ialah contoh penerapan kebijakan tersebut. Berikut ini upaya-upaya yang dilakukan saat menerapkan kebijakan diskonto:

1. Perilisan Surat Berharga Negara (SBN)

Hal pertama yang bisa dilakukan dalam menerapkan kebijakan diskonto ialah dengan merilis sejumlah Surat Berharga Negara (SBN). Adapun SBN terdiri dari saving bond ritel (SBR), surat utang, dan obligasi.
Perilisan surat berharga ini ditujukan untuk mengumpulkan dana dari masyarakat. Dalam hal ini, masyarakat akan membeli surat berharga yang nantinya, dana yang terkumpul dipergunakan untuk pemanfaatan dan pembiayaan di sektor-sektor penting negara.

2. Menyesuaikan BI Repo Rate

Lalu hal yang bisa dilakukan dalam menerapkan kebijakan diskonto ialah dengan melakukan penyesuaian terhadap BI Repo Rate. Penyesuaian ini tentunya dalam bentuk menaikkan atau menurunkan BI Repo Rate.
ADVERTISEMENT
Tujuan menaikkan BI Repo Rate ini ialah untuk membuat masyarakat berbondong-bondong menyimpan dan menabung sejumlah dananya, agar peredaran uang di masyarakat semakin berkurang.
Sementara tujuan dari menurunkan BI Repo Rate ialah sebaliknya, yakni untuk membuat masyarakat tidak menyimpan uangnya, agar uang yang beredar di masyarakat semakin banyak.
(NNR)