Kenapa Harga Cabai Naik? Ini Penjelasannya

Berita dan Informasi Praktis soal Ekonomi Bisnis
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Bisnis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kenaikan harga cabai sangat memukul masyarakat, karena komoditas ini merupakan salah satu bahan utama dalam berbagai masakan Nusantara. Situasi ini pun memicu pertanyaan mengenai kenapa harga cabai naik, mengingat ketergantungan yang tinggi terhadap cita rasa pedas dalam kuliner Indonesia.
Melansir Antara, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta Hasudungan A. Sidabalok sebelumnya mengatakan, berdasarkan pemantauan pada minggu kedua Mei 2026, beberapa komoditas hortikultura mengalami kenaikan harga dibandingkan minggu sebelumnya.
Harga cabai rawit merah melambung sebesar 12,12 persen atau Rp8.689 per kilogram, dari semula Rp71.664 per kilogram menjadi Rp80.354 per kilogram.
Kemudian, cabai merah keriting mengalami kenaikan harga sebesar 5,61 persen atau Rp2.926 per kilogram, dari awalnya Rp52.117 per kilogram menjadi Rp55.103 per kilogram.
Berikutnya, cabai merah TW (Tanjung Wangi) naik 3,84 persen atau Rp2.306 per kilogram, dari Rp60.069 per kilogram menjadi Rp62.375 per kilogram.
Sementara itu, kenaikan harga cabai rawit hijau sebesar 3,05 persen atau bertambah Rp1.773 per kilogram, dari awalnya Rp58.166 per kilogram menjadi Rp59.939 per kilogram.
Kenapa Harga Cabai Naik?
Pada kesempatan berbeda, Staf Khusus Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta Bidang Komunikasi Publik, Chico Hakim menuturkan, bahwa kenaikan harga pangan di DKI dipicu oleh peningkatan permintaan menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah.
“Menjelang Hari Besar Keagamaan Iduladha, kebutuhan masyarakat naik, baik untuk konsumsi sehari-hari maupun persiapan hari raya,” kata Chico di Jakarta, Minggu, 24 Mei 2026, seperti yang dikutip Antara.
Pemicu utama dari melambungnya harga komoditas bahan pangan tersebut adalah perpaduan dari faktor cuaca dengan peningkatan permintaan.
Curah hujan yang masih tinggi, menurut dia, mengakibatkan penurunan produksi dan mutu panen hortikultura, seperti cabai, bawang putih, dan bawang merah.
Tak hanya itu, meningkatnya serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) juga menjadi salah satu penyebabnya. “Hal ini langsung berdampak pada pasokan ke Jakarta,” ucap Chico.
Faktor-Faktor yang Memengaruhi Harga Cabai
Berdasarkan jurnal Segmentasi Wilayah Indonesia yang Berpotensi Budidaya Cabai dengan Hierarki Clustering karya Erpita Rahman dkk., cabai merah menjadi salah satu komoditas penyumbang inflasi.
Hal ini terjadi karena perubahan harganya bersifat musiman, di mana kenaikan terjadi biasanya pada musim penghujan, bulan Ramadan, menjelang tahun baru, atau hari-hari besar dan keagamaan lainnya.
1. Permintaan Tinggi pada Hari Besar Keagamaan
Menurut laporan Pengaruh Pemberian Pupuk Kandang terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Cabai Merah (Capsicum annuum L) oleh Helena A. Fatem, kebutuhan cabai merah pada hari-hari besar keagamaan umumnya meningkat sekitar 10-20 persen dari kebutuhan normal. Apabila pasokan kurang atau lebih rendah daripada permintaan, maka akan terjadi kenaikan harga.
2. Penurunan Kualitas saat Musim Penghujan
Mengacu pada jurnal Pelatihan Berbasis Digital Marketing Melalui Inovasi Hasil Olahan Komoditas Cabai Menjadi Chili Oil pada Gapoktan Subur, Kabupaten Malang karya Gevyma Tharis Iftikhor dkk., harga cabai cenderung naik selama musim hujan. Hal ini terjadi karena cabai rentan membusuk akibat kelembaban tinggi.
Baca Juga: BPS Catat Harga Cabai Merah dan Minyak Goreng di 200 Lebih Kabupaten/Kota
(MDP)
