Konten dari Pengguna

Kenapa Saham Bank Turun? Ini Penjelasannya

Berita Bisnis

Berita Bisnis

Berita dan Informasi Praktis soal Ekonomi Bisnis

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Bisnis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi memahami alasan kenapa saham bank turun. Foto: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi memahami alasan kenapa saham bank turun. Foto: Pexels

Sejumlah saham bank komersial dengan aset terbesar dan kapitalisasi pasar tertinggi (big banks) kompak runtuh pada penutupan perdagangan Senin, 8 Juni 2026. Hal ini pun memicu kekhawatiran di tengah investor mengenai alasan kenapa saham bank turun.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), harga saham PT Bank Central Asia Tbk atau BCA (BBCA) menyentuh level terendah 4.850. Posisi tersebut melemah drastis hingga 225 poin atau setara 4,43 persen dari harga penutupan sebelumnya yang berada di level 5.075.

Selanjutnya, saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI (BBRI) juga mengalami koreksi yang cukup mendalam. Emiten bank pelat merah ini jatuh 150 poin atau 5,47 persen hingga mendarat di level 2.590.

Tidak ketinggalan, saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) terpaksa parkir di zona merah setelah tertekan sepanjang hari perdagangan. BMRI mencatatkan penurunan sebesar 130 poin atau 3,39 persen dan ditutup pada level 3.710.

Pelemahan yang jauh lebih agresif menimpa saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI (BBNI). Harga saham BBNI terpangkas hingga 6,23 persen atau anjlok 200 poin dan berakhir di posisi 3.010 pada akhir sesi.

Terakhir, tekanan paling berat di antara deretan bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dirasakan oleh PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN (BBTN). Saham emiten ini merosot tajam sebesar 7,89 persen atau berkurang 90 poin menuju level 1.050.

Kenapa Saham Bank Turun?

Ilustrasi memahami alasan kenapa saham bank turun. Foto: Pexels

Dirangkum dari berbagai sumber, berikut alasan kenapa saham bank mengalami penurunan belakangan waktu ini:

1. Tingginya Rasio Kredit Macet

Banyaknya kredit macet menyebabkan rasio non-performing loan (NPL) perbankan tetap berada di level yang tinggi.

Akibatnya, bank harus mencadangkan kerugian dalam bentuk CKPN (cadangan kerugian penurunan nilai) yang pada akhirnya menekan kinerja keuangan perusahaan.

2. Beban Biaya Dana yang Masih Tinggi

Meskipun suku bunga saat ini dalam tren penurunan, biaya yang harus dikeluarkan bank untuk memperoleh dana masih tergolong tinggi.

Hal ini memicu penurunan net interest margin (NIM), karena penyesuaian suku bunga kredit biasanya berlangsung secara perlahan dan tidak langsung turun.

3. Pembekuan oleh MSCI

Morgan Stanley Capital International (MSCI) melakukan pembekuan terhadap kenaikan bobot saham-saham di Indonesia.

Kebijakan ini dipicu oleh kekhawatiran investor global terkait transparansi struktur kepemilikan saham di pasar modal Indonesia.

4. Aksi Jual Bersih oleh Investor Asing

Terjadi aliran dana keluar (capital outflow) yang cukup deras dengan nilai jual bersih asing mencapai Rp21,09 triliun di pasar reguler sepanjang Mei 2026.

Saham perbankan berkapitalisasi besar, seperti BBCA menjadi sasaran utama yang paling banyak dilepas oleh investor asing.

DPR Panggil Bos Himbara

Di tengah merosotnya saham big banks, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI diketahui mengumpulkan pimpinan bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Pertemuan itu terjadi di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa, 9 Juni 2026.

Berdasarkan pantauan kumparan, pertemuan dimulai sekitar pukul 09.55 WIB. Beberapa tokoh yang hadir meliputi Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi, Chief Operating Officer (COO) Danantara sekaligus Kepala Badan Pengatur (BP) BUMN Dony Oskaria, dan Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan.

Selanjutnya, hadir pula Direktur Utama Indonesia Investment Authority (INA) Oki Ramadhana, Direktur Utama Bank Mandiri Riduan, Direktur Utama PT Taspen Rony Hanityo Aprianto, Direktur Utama BRI Hery Gunardi, dan Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan Mayjen TNI (Purn) Prihati Pujowaskito.

Sebelum pertemuan berlangsung, Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad mengatakan salah satu hal yang akan dibahas adalah terkait kondisi saham-saham BUMN yang dinilai mempunyai fundamental baik, tetapi terdampak tekanan pasar.

“Pagi ini kan kita berkumpul untuk koordinasi, terutama kita akan berdiskusi banyak soal paket sama saham-saham BUMN yang sebenarnya bagus-bagus,” kata Dasco.

Dia menilai saham-saham BUMN kini terdampak oleh situasi pasar global, sehingga perlu perhatian bersama. Oleh sebab itu, lanjut dia, DPR bersama para pemangku kepentingan terkait ingin membahas upaya yang bisa dilakukan untuk menjaga nilai dan kepercayaan pasar terhadap saham perusahaan milik negara.

Dasco menyebut salah satu hal yang akan didiskusikan adalah peluang pembelian kembali atau buy back terhadap saham-saham tersebut.

“Kemudian pada saat ini, kita sudah saatnya berdiskusi bagaimana kita kemudian pada kesempatan yang tepat menurut saya. Kita kembali buy back atau membeli kembali saham-saham yang sebenarnya di pasar,” ucap Dasco.

Baca Juga: Dasco Terima Dirut Bank Himbara di DPR, Bahas Saham-Pasar Global

(MDP)