Kenapa Saham BBCA Turun Terus? Ini Penjelasannya

Berita dan Informasi Praktis soal Ekonomi Bisnis
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Bisnis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Harga saham PT Bank Central Asia Tbk atau BCA (BBCA) terpantau mengalami penurunan yang cukup signifikan berdasarkan data Stockbit. Kondisi penurunan yang tajam ini memunculkan pertanyaan tentang kenapa saham BBCA turun terus dalam beberapa waktu terakhir.
Penurunan performa pada hari ini, Rabu, 3 Juni 2026, per pukul 14.49 WIB, menyentuh level 5.650 per lembar saham atau 3% jika dibandingkan dengan harga penutupan pada hari perdagangan sebelumnya. Angka pelemahan sebesar 175 poin tersebut tercermin dalam grafik yang bergerak di zona merah.
Lantas, mengapa saham Bank BCA tersebut semakin rontok?
Kenapa Saham BBCA Turun Terus?
Fenomena penurunan tajam harga saham BBCA pada dasarnya tidak disebabkan oleh masalah internal perusahaan, tetapi akibat kombinasi berbagai faktor eksternal yang terjadi secara bersamaan. Berikut beberapa penyebabnya:
1. Perubahan Sentimen Pasar Jangka Pendek
Dilansir dari Ajaib, pelemahan saham BBCA tidak lepas dari aksi jual yang kembali meningkat setelah sebelumnya sempat terjadi akumulasi, termasuk oleh investor asing.
Kondisi ini mencerminkan adanya perubahan sentimen jangka pendek di pasar, terutama setelah periode rebound (pemulihan) singkat.
2. Perlambatan Pertumbuhan Kredit secara Fundamental
Dari sisi fundamental, pertumbuhan kredit BBCA terlihat melambat yang dipengaruhi oleh high base effect (efek basis tinggi) dari periode sebelumnya.
Meski demikian, likuiditas perseroan masih terjaga dengan baik didukung oleh pertumbuhan dana murah atau Current Account Savings Account (CASA).
3. Penyesuaian Asumsi Pasar dan Kenaikan Risiko Ekonomi
Penyesuaian asumsi pasar terhadap kondisi ekonomi 2026 yang lebih menantang turut memengaruhi valuasi saham BBCA.
Kenaikan Market Risk Premium (MRP) mencerminkan meningkatnya kehati-hatian investor dalam menghadapi ketidakpastian, yang berdampak pada revisi estimasi nilai wajar saham.
4. Ketidakpastian Indeks Global MSCI Indonesia
Pembekuan perubahan indeks Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) memicu kekhawatiran besar bagi investor global.
Akibat dari ketidakpastian review rutin ini, arus modal asing keluar secara masif dari pasar saham domestik, termasuk melalui penjualan portofolio BBCA.
5. Dampak Konflik Geopolitik dan Pelemahan Rupiah
Konflik geopolitik di Timur Tengah ikut memicu kenaikan harga minyak dunia yang memberikan tekanan berat pada stabilitas ekonomi nasional.
Situasi ini mengakibatkan nilai tukar rupiah melemah tajam terhadap dolar Amerika Serikat (AS), sehingga investor asing memilih ke luar demi menghindari kerugian kurs.
6. Penurunan Rating oleh Lembaga Keuangan Global
Tekanan jual semakin diperparah setelah lembaga finansial global sekelas JP Morgan menurunkan peringkat investasi BBCA.
Rating saham yang sebelumnya overweight (layak beli) kini diubah menjadi netral, yang secara otomatis memicu para fund manager (manajer investasi) asing ikut melepas kepemilikan mereka.
Saatnya Beli Saham BBCA atau Tunggu Dulu?
Keputusan jual, beli, atau wait and see tidak hanya dilihat dari penurunan harga saham, tetapi juga memahami alasan di baliknya. Kendati demikian, keputusan akhir tetap berada di tangan pribadi.
Berikut ini beberapa faktor yang memengaruhi keputusan jual dan beli saham:
Gaya investasi.
Profil risiko.
Jangka waktu investasi.
Baca Juga: BCA Mulai Lakukan Buyback Saham hingga Maret 2027
(MDP)
