Konten dari Pengguna

KRI Sriwijaya Bakal Ganti Bendera, Berapa Biaya Operasionalnya?

Berita Bisnis

Berita Bisnis

Berita dan Informasi Praktis soal Ekonomi Bisnis

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Bisnis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

KRI Sriwijaya. Foto: Kemhan
zoom-in-whitePerbesar
KRI Sriwijaya. Foto: Kemhan

KRI Sriwijaya akan menjalani proses reflagging atau pergantian bendera Italia menjadi Indonesia pada Kamis, 24 September 2026. Kapal induk yang sebelumnya bernama ITS Giuseppe Garibaldi itu telah tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat, 18 September 2026.

Kapal perang hasil hibah pemerintah Italia ini awalnya direncanakan menggunakan nama KRI Gajah Mada, tetapi kini akan diberi nama KRI Sriwijaya. Adapun KRI Sriwijaya berangkat dari Taranto, Italia, pada 24 Agustus 2026, dengan menempuh sekitar 6.870 mil laut.

Estimasi Biaya Operasional KRI Sriwijaya

KRI Sriwijaya. Foto: Kemhan

Meskipun berasal dari hibah, pemerintah Indonesia disebut membutuhkan biaya untuk perawatan hingga operasional KRI Sriwijaya. Hal ini mengingat kapal perang itu sudah tergolong tua dengan usia lebih dari 40 tahun.

Melansir Antara, biaya yang dikeluarkan pemerintah untuk melaksanakan retrofit (modernisasi) KRI Sriwijaya diperkirakan mencapai Rp7,2 triliun hingga Rp16,78 triliun. Perbaikan ini diperlukan agar sesuai kebutuhan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL).

Sebelumnya, Anggota Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI TB Hasanuddin, sempat menyoroti rencana Indonesia menerima hibah kapal induk Giuseppe Garibaldi (C551). Dia menyebut perlu kajian secara mendalam terutama mengenai biaya pemeliharaannya.

Hal ini berdasar pada laporan analisis pertahanan nasional The National Interest, yang menyebutkan bahwa Angkatan Laut Italia membutuhkan sekitar 5 juta euro atau sekitar Rp101 miliar per tahun untuk merawat ITS Giuseppe Garibaldi.

“Angka ini tentu menjadi beban baru bagi anggaran pertahanan Indonesia, di luar kebutuhan biaya operasional lainnya,” kata Hasanuddin dalam keterangannya, Selasa, 5 Mei 2026, seperti dikutip dari laman DPR.

Akan tetapi, besaran pasti pengeluaran untuk operasional KRI Sriwijaya sangat bergantung pada berbagai faktor teknis. Kendati demikian, pihak pemerintah sampai saat ini belum merilis perincian estimasi biaya operasional tersebut secara resmi kepada publik.

Spesifikasi KRI Sriwijaya

Giuseppe Garibaldi dirancang di galangan Cantieri Navali Monfalcone. Kapal induk ini mulai dibangun sejak 20 Februari 1978 dan resmi diluncurkan pada 4 Juni 1983.

Berdasarkan data resmi Angkatan Laut Italia, kapal ini memiliki dimensi panjang 180,2 meter, lebar dek penerbangan 30,4 meter, sarat air 6,7 meter, dan bobot perpindahan (displacement) mencapai 13.850 ton.

Dimensi fisiknya yang tergolong luas memungkinkan Giuseppe Garibaldi menjalankan berbagai variasi tugas di wilayah perairan. Fleksibilitas dimensinya mendukung pelaksanaan tugas militer utama hingga penanganan misi kemanusiaan dan tanggap bencana.

1. Performa dan Sistem Penggerak

Guna menunjang pergerakannya, Giuseppe Garibaldi mengusung sistem Combined Gas and Gas (COGAG) dengan empat unit turbin gas FIAT/GE LM-2500.

Kombinasi daya ini menghasilkan tenaga 60.400 kilowatt atau setara 81.000 tenaga kuda yang disalurkan ke dua poros baling-baling.

Mesin ini mampu memacu kapal hingga mencapai kecepatan puncak 30 knot atau setara 56 kilometer per jam. Selain itu, armada ini dibekali daya jelajah yang sangat jauh hingga mampu menjangkau jarak 7.000 mil laut.

2. Kapasitas Angkut Wahana Udara

Daya tarik Giuseppe Garibaldi juga terletak pada kemampuan untuk membawa berbagai jenis wahana udara. Konfigurasi ruangnya dirancang sanggup memuat sekitar 18-20 unit pesawat tempur STOVL AV-8B Plus Harrier II maupun helikopter EH101, SH90A, dan AB212.

Dek penerbangan kapal perang ini dilengkapi fitur ski-jump yang memungkinkan empat helikopter lepas landas secara bersamaan.

3. Sistem Persenjataan dan Pembenahan

Selain mengandalkan kekuatan udara, Giuseppe Garibaldi dibekali peluncur rudal antipesawat Aspide delapan sel dan tiga sistem pertahanan DARDO beramunisi meriam Breda 40/70.

Ketahanan operasinya turut diperkuat oleh sistem pertahanan aktif dan pasif guna menangkis ancaman luar.

4. Kapasitas Personel dan Komando

KRI Sriwijaya sanggup menampung hingga 825 awak yang bertugas mengoperasikan sistem navigasi dan pendukung kapal. Ketersediaan fasilitas komando dan pengendalian di dalamnya memungkinkannya berfungsi sebagai pusat koordinasi taktis dalam sebuah operasi besar.

Kapasitas akomodasi yang besar dan pusat kendali yang terpadu memperkuat peran kapal ini dalam menjalankan misi pertahanan maupun aksi kemanusiaan. Hal ini menjadikannya aset yang sangat strategis bagi pertahanan negara.

5. Kapal Pendukung Tanggap Bencana

Adapun Kementerian Pertahanan (Kemhan) mengarahkan penggunaan KRI Sriwijaya untuk OMSP, khususnya penanganan bencana dan penyaluran logistik ke wilayah terisolasi. Dek yang luas menjadikan kapal ini sarana bantuan efektif bagi kawasan kepulauan.

Fungsi pendukung ini sesuai dengan kondisi geografis Indonesia yang kerap dilanda bencana alam, seperti gempa bumi, banjir, hingga erupsi gunung berapi. Keberadaan KRI Sriwijaya diyakini akan mempercepat respons penanggulangan darurat di berbagai wilayah.

Baca Juga: KSAL: Garibaldi Berganti Nama Jadi KRI Sriwijaya per 24 September

(MDP)