Santunan Kematian BPJS Ketenagakerjaan: Besaran, Syarat, dan Cara Mengurusnya

Berita dan Informasi Praktis soal Ekonomi Bisnis
Konten dari Pengguna
14 Januari 2022 16:31
·
waktu baca 4 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Berita Bisnis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ilustrasi perlindungan dari BPJS Ketenagakerjaan. Foto: Freepik
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi perlindungan dari BPJS Ketenagakerjaan. Foto: Freepik
ADVERTISEMENT
Santunan kematian BPJS Ketenagakerjaan diberikan kepada ahli waris apabila tenaga kerja peserta BPJS Ketenagakerjaan meninggal bukan karena kecelakaan kerja.
ADVERTISEMENT
Melansir dari laman resmi BPJS Ketenagakerjaan, BPJS Ketenagakerjaan merupakan transformasi dari PT Jamsostek (Persero). Tugasnya memberikan perlindungan terhadap tenaga kerja Indonesia, baik mereka yang bekerja secara informal maupun formal. BPJS memiliki empat program jaminan perlindungan.
Semua pekerja di Indonesia wajib menjadi peserta jaminan sosial BPJS Ketenagakerjaan. BPJS Ketenagakerjaan merupakan transformasi PT Jamsostek (Persero) yang dibentuk pada tanggal 1 Juli 2015.
Artikel ini akan membahas mengenai jenis-jenis perlindungan BPJS Ketenagakerjaan, khususnya berapa besaran yang diperoleh dari santunan kematian, syarat dan cara mengurus jaminan kematian. Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.

Jenis-jenis Perlindungan BPJS Ketenagakerjaan

Dikutip dari buku Panduan Resmi Memperoleh Jaminan Sosial dari BPJS Ketenagakerjaan oleh Tim Pustaka Yustisia (2014), ada beberapa jenis perlindungan yang dapat diperoleh bagi pekerja yang mendaftar BPJS Ketenagakerjaan. Jenis-jenis perlindungan tersebut terbagi sebagai berikut:
ADVERTISEMENT
  • Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK): jaminan yang diberikan sebagai kompensasi bagi tenaga kerja yang mengalami kecelakaan saat mulai berangkat kerja hingga tiba kembali di rumah.
  • Jaminan Hari Tua (JHT): program JHT merupakan program penghimpunan dana yang diperuntukkan sebagai simpanan yang bisa dipakai oleh peserta ketika dalam kondisi yang darurat. Contohnya saat mengalami kecelakaan dan cacat total atau telah mencapai usia 55 tahun.
  • Jaminan Kematian (JKM): jaminan yang diberikan bagi ahli waris tenaga kerja peserta BPJS Ketenagakerjaan yang meninggal bukan karena kecelakaan kerja.
  • Jaminan Pensiun (JP): jaminan dengan memberikan kompensasi kepada para pekerja yang telah mencapai batas akhir usia produktif atau bekerja. Sehingga peserta BPJS Ketenagakerjaan tetap dapat menghidupi keluarganya walau sudah tidak bekerja.
Ilustrasi Jaminan Kematian BPJS Ketenagakerjaan. Dok: bpjsketenagakerjaan.go.id
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Jaminan Kematian BPJS Ketenagakerjaan. Dok: bpjsketenagakerjaan.go.id

Jaminan Kematian BPJS Ketenagakerjaan

Program santunan kematian diselenggarakan oleh BPJS Ketenagakerjaan secara nasional berdasarkan prinsip asuransi sosial. Jaminan kematian memberikan manfaat uang tunai yang diberikan kepada ahli waris ketika peserta meninggal dunia bukan akibat kecelakaan kerja.
ADVERTISEMENT
PP 44 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Kecelakaan Kerja dan Jaminan Kematian melakukan revisi untuk dana santunan kematian, yang tadinya Rp 24 juta menjadi Rp 42 juta.
Menyadur laman resmi BPJS Ketenagakerjaan di bpjsketenagakerjaan.go.id/jaminan-kematian, berikut rincian santunannya.
  • Santunan sekaligus sebesar Rp 20 juta
  • Santunan berkala selama 24 bulan sebesar Rp12 juta yang dibayar sekaligus.
  • Biaya Pemakaman sebesar Rp10 juta.
  • Maka keseluruhan santunan jaminan kematian yang diterima sebesar Rp42 juta.
Beasiswa pendidikan bagi dua orang anak dari peserta yang meninggal dunia dengan masa iur minimal 3 tahun maksimal sebesar Rp174 juta. Bagi anak dari peserta yang belum memasuki usia sekolah sampai dengan sekolah di tingkat dasar pada saat Peserta meninggal dunia, beasiswa diberikan pada saat anak memasuki usia sekolah.
ADVERTISEMENT
Beasiswa berakhir pada saat anak peserta mencapai usia 23 tahun atau menikah atau bekerja. Adapun rincian beasiswa yang diterima berdasarkan jenjang pendidikan ialah sebagai berikut.
  • TK sampai SD/sederajat sebesar Rp. 1.500.000,00/orang/tahun, maksimal selama 8 tahun.
  • SMP/sederajat sebesar Rp. 2.000.000,00/orang/tahun, maksimal selama 3 tahun.
  • SMA/sederajat sebesar Rp. 3.000.000,00/orang/tahun, maksimal 3 tahun.
  • Pendidikan tinggi maksimal S1 atau pelatihan sebesar Rp12.000.000,00/orang/tahun, maksimal 5 tahun.
Ilustrasi BPJS Ketenagakerjaan. Dok: bpjsketenagakerjaan.go.id
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi BPJS Ketenagakerjaan. Dok: bpjsketenagakerjaan.go.id

Syarat Mengurus Jaminan Kematian BPJS Ketenagakerjaan

Syarat-syarat yang perlu dipenuhi oleh ahli waris untuk mengurus JKM agar bisa di klaim asuransi kematiannya, yakni.
  1. Kartu peserta BPJS Ketenagakerjaan (milik almarhum).
  2. Mengisi formulir pengajuan klaim, beserta dengan stempel dan tanda tangan dari perusahaan almarhum bekerja.
  3. Surat keterangan kerja dari perusahaan asli disebutkan karena meninggal dunia
  4. Fotocopy KTP almarhum dan ahli waris.
  5. Fotocopy akta kematian dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil.
  6. Fotocopy Kartu Keluarga.
  7. Fotocopy surat nikah.
  8. Fotokopi buku tabungan atas nama ahli waris.
  9. Surat pernyataan ahli waris dari kelurahan, diketahui kecamatan, RT dan RW.
ADVERTISEMENT

Cara Mengurus Jaminan Kematian BPJS Ketenagakerjaan

  1. Datang ke kantor BPJS Ketenagakerjaan terdekat dengan membawa persyaratan administrasi yang dibutuhkan.
  2. Setelah sampai di kantor BPJSTK, kamu akan dimintai untuk mengisi formulir pengajuan klaim dan formulir berkala sesuai dengan persyaratan yang dibawa.
  3. Setelah selesai mengurus program jaminan kematian, lalu kamu tinggal menunggu waktu klaim pencairan jaminan kematian BPJS Ketenagakerjaan akan membutuhkan waktu paling lama 7 hari kerja.
  4. Terakhir, kamu bisa mengeklaim JKM dengan cara mengambil secara tunai langsung di kantor BPJSTK terdekat atau via transfer ke rekening tabungan atas nama ahli waris.
Semoga bermanfaat!
(SRS)