Siapa yang Menentukan Desil? Ini Jawaban Lengkapnya

Berita dan Informasi Praktis soal Ekonomi Bisnis
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Bisnis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Desil menjadi salah satu istilah yang banyak diperbincangkan dalam penyaluran bantuan sosial (bansos). Pasalnya, data desil digunakan pemerintah untuk melihat posisi kesejahteraan keluarga sekaligus menjadi salah satu dasar dalam menentukan sasaran berbagai program bantuan.
Merujuk artikel resmi Pemerintah Desa Morowudi, Kabupaten Gresik, desil merupakan pembagian masyarakat ke dalam 10 kelompok berdasarkan tingkat kesejahteraan.
Setiap kelompok mewakili sekitar 10 persen dari total populasi yang tercatat dalam sistem, mulai dari kelompok dengan tingkat kesejahteraan terendah hingga tertinggi.
Lantas, siapa yang menentukan desil? Untuk mengetahui jawaban lengkap dari pertanyaan tersebut, simak terus uraian artikel ini hingga tuntas.
Siapa yang Menentukan Desil?
Berdasarkan informasi terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS), penentuan desil dilakukan melalui pengolahan data dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN).
BPS bertugas menyusun dan mengelola DTSEN, termasuk melakukan pemeringkatan kesejahteraan keluarga berdasarkan berbagai karakteristik sosial ekonomi.
Hal ini juga dijelaskan dalam artikel resmi Desa Kebonsari, Purworejo, yang menyebutkan bahwa desil dalam DTSEN ditentukan secara objektif oleh BPS berdasarkan berbagai indikator sosial ekonomi masyarakat.
Pemerintah desa, kelurahan, pendamping PKH, dan Dinas Sosial berperan dalam mengusulkan, memverifikasi, serta membantu memperbarui data masyarakat.
Bagaimana Cara Menentukan Desil?
Penentuan desil tidak hanya melihat satu indikator, seperti jumlah penghasilan atau jenis pekerjaan. BPS menjelaskan bahwa pemeringkatan mempertimbangkan berbagai karakteristik sosial ekonomi secara bersama-sama.
Menurut informasi dari laman resmi Cek Bansos Kementerian Sosial (Kemensos), beberapa faktor yang diperhitungkan dalam penentuan desil, antara lain:
Identitas dan kependudukan.
Tingkat pendidikan anggota keluarga.
Status pekerjaan dan jenis pekerjaan.
Kondisi fisik tempat tinggal.
Akses sanitasi dan air bersih.
Daya listrik yang terpasang.
Kepemilikan aset (kendaraan, lahan, alat usaha).
Beban tanggungan keluarga.
Data tersebut kemudian diolah menggunakan metode statistik Proxy Means Test (PMT) untuk memperkirakan posisi kesejahteraan relatif keluarga.
Pembagian Sistem Desil
Menurut artikel resmi Desa Sumberwuluh, Kab. Lumajang, desil terbagi menjadi 10 kelompok. Setiap desil mencakup sekitar 10 persen keluarga dalam pemeringkatan nasional. Berikut urutannya:
Desil 1 (0–10% terbawah) — Sangat Miskin
Kelompok ini berada di lapisan paling bawah. Kondisi rumah tidak layak huni, mata pencaharian umumnya sebagai buruh harian, dan tidak memiliki kendaraan pribadi sama sekali.
Desil 2 (10–20%) — Miskin
Kondisi rumah mulai sederhana namun masih terbatas. Sebagian sudah memiliki motor, meski kondisinya tua dan kepemilikannya belum merata.
Desil 3 (20–30%) — Rentan Miskin
Rumah berukuran kecil namun sudah lebih permanen. Kepemilikan kendaraan bermotor berupa satu unit motor.
Desil 4 (30–40%) — Rentan Menuju Sejahtera
Rumah sudah sederhana tapi cukup layak, dengan kepemilikan satu unit motor dalam kondisi yang lebih baik.
Desil 5–6 (40–60%) — Menengah Bawah
Kondisi rumah sudah layak huni. Kepemilikan kendaraan meningkat menjadi satu hingga dua motor, bahkan sebagian sudah memiliki mobil meski tergolong lama.
Desil 7–8 (60–80%) — Menengah
Rumah berukuran besar dengan kualitas bangunan yang baik. Kepemilikan kendaraan lengkap, yaitu kombinasi mobil dan motor.
Desil 9–10 (80–100% teratas) — Mampu / Sangat Mampu
Kelompok teratas dengan kepemilikan properti dan aset paling mapan, termasuk rumah berkualitas tinggi dan kendaraan mobil pribadi.
Baca juga: Cek Desil DTSEN Triwulan 3 2026, Begini Cara Lihat Status Terbaru Pakai NIK
(NDA)
