Silo Mentality: Pengertian, Faktor Pemicu, Dampak, dan Cara Mengatasinya

Berita Bisnis
Berita dan Informasi Praktis soal Ekonomi Bisnis
Konten dari Pengguna
12 Desember 2022 14:13 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Berita Bisnis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi silo mentality dalam perusahaan. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi silo mentality dalam perusahaan. Foto: Unsplash
ADVERTISEMENT
Istilah silo mentality diambil dari kata silo yang berarti sebuah bangunan tinggi untuk tempat penyimpanan hasil panen pertanian. Selain tinggi, bangunan tersebut juga tidak memiliki jendela, sehingga membuat akses untuk masuk ke dalamnya menjadi sangat terbatas.
ADVERTISEMENT
Ketika digunakan dalam konteks bisnis, silo mentality menggambarkan kondisi setiap divisi di suatu perusahaan yang bekerja secara masing-masing. Menurut laman Investopedia, silo mentality adalah keengganan untuk berbagi informasi dengan karyawan dari divisi yang berbeda di perusahaan yang sama.
Mindset seperti ini tentu berpotensi merugikan perusahaan karena akan mengurangi efisiensi kerja, merusak moral dan mentalitas karyawan, hingga akhirnya menghambat terciptanya budaya produktif di tempat kerja.

Faktor Pemicu Terjadinya Silo Mentality

Silo mentality umumnya terjadi secara tidak disadari dan muncul pada saat ada pekerjaan yang membutuhkan kerja sama antar divisi. Menurut buku The “No Silo” Rule oleh Skillbooks Editorial, berikut beberapa faktor yang dapat menjadi pemicu munculnya silo mentality:
ADVERTISEMENT

Dampak Silo Mentality

Ilustrasi dampak silo mentality. Foto: Unsplash
Dalam dunia bisnis, silo mentality adalah kondisi perusahaan yang antar departemen atau divisinya merasa enggan untuk saling berbagai informasi. Adapun dampak yang diakibatkan dari silo mentality, yakni:

Cara Mengatasi Silo Mentality

Setiap masalah dalam perusahaan tentu berawal dari hal-hal kecil yang diabaikan, tak terkecuali dengan silo mentality. Jika pimpinan setiap divisi terus membiarkannya, maka akan menimbulkan masalah berupa adanya sinisme dan konflik antar divisi yang semakin besar.
ADVERTISEMENT
Oleh karena itu, seorang atasan tentu wajib bertanggung jawab dalam mencari solusi efektif dan juga realistis untuk mencegah masalah yang lebih besar akibat silo mentality.
Berikut beberapa cara mengatasi silo mentality seperti dikutip dari buku Blue Marble Evaluation: Premises and Principles oleh Michael Quinn Patton:
Ilustrasi mengatasi silo mentality. Foto: Unsplash

1. Menyamakan visi seluruh karyawan

Para atasan memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan visi dan misi perusahaan kepada anak buah agar dapat dipahami dan diupayakan bersama.
Seorang pemimpin yang berhasil menyatukan seluruh departemennya, akan mendorong rasa saling percaya di antara para karyawan.
Dengan demikian, tidak akan ada lagi anggapan tentang urusan masing-masing, melainkan semua urusan menjadi tujuan bersama organisasi.

2. Mencapai tujuan bersama-sama

Atasan bisa mengajak setiap karyawan untuk dapat memahami peran dan kontribusi dari setiap divisi, sehingga bisa menentukan pencapaian tujuan organisasi.
ADVERTISEMENT
Melalui hal tersebut, para karyawan di setiap divisi akan memahami pentingnya melakukan kolaborasi dan bersatu demi tercapainya tujuan bersama.

3. Memberikan motivasi dan insentif

Cara berikutnya untuk menghindari silo mentality di tempat kerja adalah memberikan motivasi kepada karyawan untuk dapat dan mau berkomunikasi secara efektif dengan berbagai rekan di divisi yang berbeda.
Apabila karyawan telah berhasil melakukan hal tersebut, pihak pimpinan sebaiknya memberikan apresiasi kepada karyawan, seperti dalam bentuk insentif. Ini dapat menjadi salah satu trik andalan untuk meningkatkan semangat dan motivasi karyawan.

4. Eksekusi secara akurat

Agar upaya pencapaian tujuan perusahaan dapat berjalan secara efektif, pemimpin memiliki tanggung jawab untuk merancang strategi yang diukur secara akurat.
Beberapa yang termasuk ke dalam hal ini adalah menetapkan jangka waktu penyelesaian bersama, menentukan tolok ukur keberhasilan, serta mendelegasikan tugas-tugas kepada divisi terkait.
ADVERTISEMENT
Kemudian, penting juga untuk melakukan pertemuan meeting secara rutin sebagai evaluasi dan juga menjaga momentum kerja sama yang telah berjalan selama ini.

5. Berkolaborasi untuk berkreasi

Terdapat empat kunci di balik sebuah tim yang solid dan produktif: pengetahuan, kolaborasi, kreativitas, dan percaya dini. Keempat hal ini akan terjadi apabila pimpinan memberikan ruang dan kesempatan bagi para karyawan untuk berinteraksi lintas departemen. Usaha ini dapat mendukung terjadinya pertukaran ide dan juga kolaborasi yang baik antara departemen.
(NDA)