Tarif Tol Jakarta Surabaya saat Libur Nataru 2024, Ini Rinciannya

Berita dan Informasi Praktis soal Ekonomi Bisnis
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Bisnis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tarif tol Jakarta Surabaya saat libur Nataru 2024 menjadi informasi yang perlu diketahui masyarakat sebelum melintasinya. Dengan begitu, masyarakat yang akan menggunakan jalan tol Jakarta Surabaya bisa menyiapkan biaya transportasi yang sesuai.
Sebagai informasi, masyarakat dapat menggunakan Tol Trans Jawa yang terdiri dari 13 ruas untuk pergi dari Jakarta ke Surabaya. Dari ke-13 ruas jalan tol tersebut, masing-masing memiliki tarif yang berbeda-beda. Lantas, berapa tarif tol Jakarta Surabaya saat libur Nataru 2024?
Bagi masyarakat yang ingin mudik dari Jakarta ke Surabaya melalui Tol Trans Jawa saat libur Nataru 2024, simak rincian tarifnya dalam uraian artikel Berita Bisnis di bawah ini.
Tarif Tol Jakarta Surabaya saat Libur Nataru 2024
Mengutip laman resmi Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), berikut rincian ruas jalan Tol Trans Jawa dari Jakarta menuju Surabaya beserta tarifnya saat libur Nataru 2024 untuk jenis kendaraan Golongan I:
Jakarta- Cikampek: Rp20.000
Cikopo- Palimanan: Rp119.000
Palimanan- Kanci: Rp13.500
Kanci- Pejagan: Rp31.500
Pejagan- Pemalang: Rp60.000
Pemalang- Batang: Rp53.000
Batang- Semarang (Kalikangkung): Rp111.500
Semarang ABC: Rp5.500
Semarang- Solo: Rp92.000
Solo- Ngawi: Rp131.000
Ngawi- Kertosono: Rp98.000
Kertosono- Mojokerto: Rp50.000
Mojokerto- Surabaya: Rp39.000
Dengan demikian, akumulasi tarif tol Jakarta (via Tol Japek) ke Surabaya (via GT Warugunung) untuk jenis kendaraan Golongan I adalah Rp841.000.
Baca juga: 197 Ribu Kendaraan Kembali ke Jabodetabek saat Momentum Natal 2023
Sekilas tentang Tol Trans Jawa
Jalan Tol Trans-Jawa adalah sebuah jaringan jalan tol yang menghubungkan kota-kota di pulau Jawa, Indonesia. Jalan tol ini memiliki jarak sepanjang 1.056,38 km.
Tol Trans-Jawa kini memiliki 20 ruas tol yang terbentang dari Pelabuhan Merak, Cilegon, di Provinsi Banten hingga Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, di Provinsi Jawa Timur.
Berdasarkan sejarahnya, Tol Trans Jawa dibangun secara estafet dalam beberapa periode, dimulai dari 1978 hingga 2018. Pembangunan tol pertama kali digagas oleh wali kota (setingkat gubernur) Jakarta periode 1953-1960, Raden Soediro.
Proyek tol pertama pun mulai digarap pada masa kepemimpinan Presiden Soeharto di 1975. Lalu pada 1978, Soeharto meresmikan jalan tol pertama di Indonesia, yakni Tol Jakarta-Bogor-Ciawi (Jagorawi) sepanjang 59 km, sebagai bagian dari Tol Trans Jawa.
Sepanjang 1978-2004, tercatat ada 242 km jalan tol Trans Jawa yang dibuka. Berdasarkan data Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), tol-tol Trans Jawa yang diresmikan Suharto, di antaranya:
Tol Jakarta-Tangerang (33 km) pada November 1984;
Tol Surabaya-Gempol (49 km) pada Juli 1986;
Tol Jakarta-Cikampek (83 km) pada September 1988;
Tol Tangerang-Merak (73 km) pada Juli 1992; dan
Tol Palimanan-Plumbon-Kanci (26,3 km) pada Januari 1998.
Periode pembangunan tol berikutnya dilakukan pada masa kepemimpinan Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dari 2004 sampai 2014 dengan total panjang jalan terbangun 75 km. Pada masa itu, pembangunan tol kembali memasuki masa percepatannya setelah sempat banyak proyek yang tertunda.
Adapun untuk ruas-ruas tol Trans Jawa selanjutnya baru mulai kembali dibangun ada pada 2010. Selama tahun 1998 sampai 2010, ruas-ruas tol baru yang dibuka lebih banyak di luar Jawa, Jabodetabek dan non Trans Jawa.
Ruas Trans Jawa baru yang dibuka di antaranya Kanci-Pejagan (35 km) pada Januari 2010, Surabaya-Mojokerto seksi 1A (1,89 km) Agustus 2011, Semarang-Solo seksi I (11 km) November 2011, Semarang-Solo seksi II (11,95 km) April 2014 dan Kertosono-Mojokerto seksi I (14,41 km) pada Oktober 2014.
Periode berikutnya ialah di tahun 2015 s.d 2018, saat masa kepemimpinan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi). Pada periode tersebut, tol-tol pelengkap Trans Jawa mulai diselesaikan.
(NDA)
