Tenaga Kerja yang Menggunakan Kemampuan Intelektualnya adalah Ini

Berita dan Informasi Praktis soal Ekonomi Bisnis
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Bisnis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tenaga kerja sebagai salah satu faktor produksi menggunakan kemampuan intelektualnya untuk melakukan pekerjaannya. Contoh tenaga kerja ini adalah dokter dan guru.
Lantas, tenaga kerja yang menggunakan kemampuan intelektualnya disebut apa? Simak jawaban dan informasi lainnya di artikel Berita Bisnis berikut ini.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Tenaga Kerja yang Menggunakan Kemampuan Intelektuanya adalah Ini
Mengutip buku Ekonomi: Jilid 1 oleh Deliarnov, faktor produksi mencakup tenaga kerja yang berupa tenaga manusia. Berdasarkan sifatnya, tenaga kerja dibagi atas dua jenis, yakni:
1. Tenaga Kerja Jasmani
Tenaga kerja jasmani adalah tenaga kerja yang cenderung menggunakan kekuatan fisik selama kegiatan produksi berlangsung. Tenaga kerja ini juga dikenal dengan sebutan pekerja non-profesional. Contohnya, kuli bangunan, buruh angkut, petani, nelayan, dan sebagainya.
2. Tenaga Kerja Rohani
Tenaga kerja rohani adalah tenaga kerja yang menggunakan kekuatan berpikir dan mengandalkan kinerja otak (kemampuan intelektual). Biasanya, tenaga kerja rohani disebut pekerja profesional. Contoh tenaga kerja ini adalah menteri, guru, direktur, dokter, ilmuwan, pengacara, dan sebagainya.
Jadi, tenaga kerja yang menggunakan kemampuan intelektualnya adalah tenaga kerja rohani yang disebut juga pekerja profesional.
Merujuk pcwlawfirm.com, pekerja profesional memiliki berbagai cara untuk menjalankan fungsi pekerjaan masing-masing. Mereka juga umumnya memiliki kendali atas jam kerja mereka.
Perbedaan Tenaga Kerja Rohani dan Jasmani
Mengutip indeed.com, berikut perbedaan antara tenaga kerja rohani (pekerja profesional) dan tenaga kerja jasmani (pekerja non-profesional):
1. Pengalaman dan Tingkat Pendidikan
Banyak pekerjaan profesional mengandalkan pendidikan lanjutan, sedangkan banyak pekerjaan non-profesional menghargai pengalaman. Untuk menjadi seorang ahli bedah, misalnya, seorang profesional harus menyelesaikan program doktoral.
Sementara itu, jika seseorang mengejar karier sebagai tukang ledeng, mereka perlu mendapatkan pengalaman bertahun-tahun dan pelatihan langsung.
2. Pelatihan
Banyak pekerjaan non-profesional yang sangat berfokus pada pelatihan dan sering kali menyediakan pelatihan di tempat kerja.
Karena pekerjaan non-profesional membutuhkan lebih banyak pelatihan, karier untuk pekerja non-profesional sering kali menawarkan tingkat pekerjaan yang berbeda.
Meski pekerjaan profesional terkadang juga membutuhkan periode pelatihan, seperti magang, dan menawarkan orientasi, sebagian besar individu yang bekerja di pekerjaan profesional memperoleh keterampilan yang diperlukan untuk posisi mereka melalui pendidikan, bukan dari pelatihan.
3. Gaji
Sebagian besar pekerjaan non-profesional menawarkan bayaran per jam, sedangkan banyak pekerjaan profesional menawarkan bayaran gaji per bulan.
Selain itu, pekerjaan profesional umumnya membutuhkan gelar sarjana. Banyak orang yang bekerja di jenis karier ini memiliki peluang untuk mendapatkan penghasilan lebih besar daripada individu yang bekerja di karier non-profesional.
4. Tanggung Jawab di Luar Pekerjaan
Individu yang memiliki pekerjaan profesional sering kali mendapati diri mereka memiliki lebih banyak tanggung jawab terkait karier di luar pekerjaan dibanding mereka yang bekerja di pekerjaan non-profesional.
Sebagai contoh, bahkan di luar jam kerja yang dijadwalkan, seorang dokter mungkin harus siap siaga jika ada operasi dadakan yang harus dilakukan, tentu saja, hal ini dapat memengaruhi waktu luang mereka.
(MQ)
Frequently Asked Question Section
Apa saja contoh tenaga kerja jasmani?

Apa saja contoh tenaga kerja jasmani?
Kuli bangunan, buruh angkut, petani, nelayan, dan sebagainya.
Apa saja contoh tenaga kerja rohani?

Apa saja contoh tenaga kerja rohani?
Menteri, guru, direktur, dokter, ilmuwan, pengacara, dan sebagainya.
Mengapa gaji pekerja rohani cenderung lebih tinggi?

Mengapa gaji pekerja rohani cenderung lebih tinggi?
Tenaga kerja rohani umumnya membutuhkan gelar sarjana, sehingga berpeluang untuk mendapatkan penghasilan yang lebih besar daripada individu yang bekerja di karier non-profesional.
