10 Puisi Tentang Perpisahan Sekolah yang Bermakna

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di acara perpisahan sekolah, ada banyak hiburan yang dipersembahkan untuk para wisudawan dan guru. Adik-adik kelas biasanya menampilkan sejumlah pertunjukkan seni dan sastra, salah satunya pembacaan puisi perpisahan sekolah.
Puisi bisa menjadi alat untuk mengekspresikan emosi serta suasana haru jelang perpisahan. Umumnya, puisi tersebut berisi pesan yang mengandung kesedihan, harapan, serta kenangan manis yang tak terlupakan.
T. S. Eliot, seorang modernis penyair keturunan Inggris-Amerika, mengatakan bahwa puisi merupakan perwujudan emosi terdalam yang dituangkan lewat pilihan kata yang cermat. Dikutip dari Papertrue, puisi biasanya menggunakan bahasa kiasan untuk menyampaikan makna yang dalam.
Itu kenapa, puisi cocok ditampilkan dalam acara berkesan seperti perpisahan sekolah. Butuh referensi? Yuk, simak ragam puisi tentang perpisahan sekolah berikut ini.
Contoh Puisi tentang Perpisahan Sekolah
Kenangan masa sekolah merupakan salah satu hal yang sulit untuk dilupakan. Sebab, segala memori yang tercipta di dalamnya tertanam di dalam hati dan pikiran para siswa.
Untuk mengekspresikan perasaan ini, siswa bisa membacakan puisi perpisahan yang penuh makna. Berikut beberapa contohnya yang bisa dijadikan referensi:
1. Foto Wisuda
(Buku: Catur: Kumpulan Puisi oleh Septi Ananingsih)
Tak ada perpisahan tak ada wisuda
Tak perlu kecewa memang begitu adanya
Biarlah ini menjadi bagian dari cerita
Bahwa pandemi itu pernah ada
Ada cara untuk membunuh kecewa
Berfoto saja menjadi pilihannya
Memakai baju toga meski sementara
Demi kenangan dan menjadi cerita
Anak pun datang secara bergantian
Ke sekolah sesuai kelompok yang ditentukan
Setiap sepuluh menit ada pergantian
Demi menghindari sebuah kerumunan
Protokol Kesehatan tetap dijalankan
Dari cek suhu hingga cuci tangan
Memakai masker menjadi kewajiban
Tak boleh salaman karena dilarang bersentuhan
2. Guru adalah Pahlawan tanpa Tanda Jasa
(Karya: Muh. Dwi Santoso dalam Buku Kumpulan-Kumpulan Puisi Guru karya Siswa Siswi MTs Manbaul Huda)
Ohh… Guru Engkaulah Pahlawan Tanpa Tanda Jasa
Engkau mendidiku dengan sepenuh hati dan kau telah mengajarkanku banyak hal yang belum aku ketahui di dunia ini…
Ohh.. Guru engkau bagaikan cahaya pagi, yang engkau berikan penerangan dalam hidupku..
Terima kasih Guru.. engkau adalah pahlawan terhebat
Yang mengajarkanku yang belum tahu apa-apa..
Sehingga aku bisa berguna bagi bangsa dan negara Indonesia..
Terima kasih Guru…
Engkaulah pahlawan yang mengajarkan banyak hal tanpa tanda jasa
Terima kasih Guruku.
3. Akhir Cerita
(Karya Rahayu Prihatin dalam Buku Antologi Puisi Salam Perpisahan)
Bergelut dengan rasa yang tak pernah bersahabat..
Menjalani hari yang sulit tuk di mengerti...
Bila harap tak menjanjikan harapan
Jika masa lalu jadi bayangan yang tak henti menemani..
Semua menjadi luka..
Semua hanya menambah perih... Semua hanya membuat luka..
Tak terima pikiran dihantui prasangka...
Hati bergejolak oleh amarah.. Lebih baik cinta itu pergi bersama angin...
Yang tak meninggalkan jejak..
Bersama mimpi yang terkubur benci
Akhir cerita tak harus indah... Namun cerita kan selalu memberi makna...
Semua pasti "berakhir" sebab dimulai oleh "awal" akhir cerita..
Hanya milik kita.
4. Perpisahan
(Karya Dwi Ayu Istiqomah dalam Buku Kumpulan-Kumpulan Puisi Guru karya Siswa Siswi MTs Manbaul Huda)
Andaikan perpisahan mudah tuk diucapkan
Mungkin kepergian kalian tak kan menjadi urusan
Jangan terlalu bersedih teman
Percayalah
Hati kita akan terus terikat
Persaudaraan kita akan lebih dekat
Semakin jauh tubuhmu bergerak
Hatimu pun semakin lebih dekat
Teman..
Jangan lagi terlalu bersedih
Marilah kita berbagi
Karena kita akan menemukan suasana yang baru
Terima kasih wahai guruku
Atas bimbinganmu selalu
Agar ku sukses di masa depan nanti
Akan ku ingat selalu pesanmu..
Wahai guruku…
5. Kenangan Abadi
(Karya Luffy Alyatur Rahmah – XII MIPAS dalam Buku Rupa Rasa Asa Semesta Tercipta)
Di sudut ruang kelas, kenangan terpahat,
Dalam riuh suara tawa, cerita kita tercipta
Setiap Langkah di Koridor, mengalir nostalgia
Saat teman-teman terdekat, jadi keluarga
Pagi-pagi di teras, derap kaki menyusuri Lorong
Mengisi ruang hati dan cerita dan angan
Puisi-puisi tercipta di antara jendela dan pintu
Sekolah, tempat kita bersama membangun mimpi
Gelak tawa mengiringi setiap cerita
Bersama-sama merajut mimpi di pelita
Dibawah langit biru, di halaman sekolah
Bersama kita mengukir kenangan yang abadi
Perpisahan pun datang, namun kenangan tetap bersinar
Kembali dalam ingatan, seperti mimpi yang nyata
Sekolah tempat kita belajar dan tumbuh bersama
Kenangan tentangmu, selalu dalam hati kami
6. Putih Abu
(Karya Indah Asri Fitriani – XII MIPA 1 dalam Buku Rupa Rasa Asa Semesta Tercipta)
Masih kuingat awal kita berjumpa
Saling mengulur tangan dan menyebut nama
Awalnya merasa malu
Akhirnya terukir sederet cerita seru
Tak terasa bangku sekolah telah usai
Banyak kisah telah berlalu
Suka duka kita lalui
Semoga nanti kita bisa bertemu kembali
7. Hymne Perpisahan
(Karya Ai Marhayanti dalam Buku Antologi Sayembara Puisi Guru)
Bersama tak kami dustai waktu
Tak kami lupa tuk berpacu
Selalu terkenang kala kami terpencil
Di hamparan ladang kebingungan
Kebingungan yang menggertakkan harapan sebagai awal kebahagiaan
Ibu Bapak guru, terima kasih tak terbalaskan atas
Kelulusan dan keikhlasanmu membimbing kami
Membuka halaman-halaman buku pengharapan
Hingga terbalaskan doa dan air mata orang tua kami
Kini tiba masa nya kami tiba di puncak ketinggian
Dengan cita dan angan terbayang betapa engkau pernah mendengarkan harap, bahwa telah engkau perlihatkan semesta
Kau ingin kami mampu menafsirkan simbol-simbol kehidupan
Kala ditarik bintang harapan, agar tak terjatuh oleh batu keputusasaan
Asa yang takkan terlupa semoga kami dapatkan singgasana kejayaan tahta
Menghiasi masa kini dan nanti dengan jubah-jubah yang melimpah
Kujadikan keluruhan syukur atas kehangatan
Jasa tak kenal pamrih darimu
Untaian dawai indah doa tulus darimu tetap kami harap agar bisa terus melanjutkan cita-cita ini
Bangga kami saat kembali ke pelukan kedua orang tua
Yang tak pernah salah menitipkan kami di pangkuanmu
Tak terkira terima kasih ini
Terima kasih Ibu-Bapak Guru, Ayah, Bunda,
Terima kasih Tuhan Yang Maha Esa atas Maha Kuasa-Mu dan Maha Ridho-Mu
8. Kenanganku di Sekolah Tercinta
(Karya Muhammad Dafi Irsyad – XII dalam Buku Rupa Rasa Asa Semesta Tercipta)
Hari demi hari begitu cepat berganti bersama Mentari
Pagi hari yang cerah menjadi persaksian aku semangat sekolah
Siang hari yang terik menjadi teman dalam indahnya memetik
Bunga-bunga ilmu itu merekah menggoda sang penuntut
Penuh semangat bergandengan dengan kawan seperjuangan
Menyatu dalam gengaman asa terangkan masa depan
Pantang untuk menyerah dengan alasan kata bermakna lelah
Terus menyelami air berilmu sampai menemukan itu
Sungguh sekolah ini menjadi cerita sendiri di dalam dinding hati
Tidak akan terlupakan walau tersiram sebongkah debu
Kisahnya sesejuk embun pagi yang bening di dedaunan
Memberikan kesejukan pada insan yang berbalut turut merasakan
Sekarang kenangan hanya tinggal kenangan, Kenangan di sekolahku tercinta
Terima kasih telah menjadi tempat sebaik-baiknya rumah
Persinggahan untuk hari tua
Terima kasih telah melindungi anak negeri dari terik mentari
Terima kasih sekolahku, engkau tempat terbaik menuntut ilmu
Semua akan kami tinggalkan untuk melneruskan perjuangan
Gerbang-gerbang kesuksesan telah menunggu kami di sana
Akan kami kencangkan pacuan dengan cemerlang kecerdasan
Sampai bertemu kembali di pintu-pintu meraih kemenangan
9. Guru
(Karya Syahla Nisrina Putri – XII MIPA 3 Buku Rupa Rasa Asa Semesta Tercipta)
Rautmu tak pernah terlihat Lelah
Panas dan hujan pun engkau tetap mengajar
Demi semua anak didikmu
Demi masa depan semua anak didikmu
Aku mau menjadi sepertimu
Berpengetahuan, pemahaman yang dalam
Berpikir dengan hati dan juga kepala
Memberikan kami yang terbaik
Dengan sensitif dan penuh perhatian
Padamu guru-guruku
Aku haturkan rasa hormatku
Untukmu guru-guruku
Aku ucapkan terima kasih
Atas ilmu yang telah kau bagi pada murid-muridmu
Jasamu tak kan pernah terbalas
Selamat hari pahlawan
Untukmu pahlawan tanpa tanda jasa
Terima kasihku
10. Guruku
(Karya Erna Hariza Maftuhah dalam Buku Kumpulan-Kumpulan Puisi Guru karya Siswa Siswi MTs Manbaul Huda)
Engkau membimbingku
Engkau mendidikku
Engkau adalah pelita
Yang menerangi kegelapan
Jasamu begitu besar
Mencerdaskan putra putri bangsa
Terima kasih guruku
Kaulah pahlawan tanpa tanda jasa
