14 Puisi buat Hari Guru Nasional 2024, Penuh Makna dan Menyentuh Hati

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hari Guru Nasional adalah momen untuk menghormati jasa para guru yang telah mendidik dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Pada momentum ini, ada banyak cara untuk mengungkapkan rasa terima kasih, salah satunya adalah melalui puisi buat Hari Guru Nasional.
Dikutip dari laman Kemdikbud, peringatan Hari Guru Nasional (HGN) pada tahun 2024 mengusung tema 'Guru Hebat, Indonesia Kuat'. Momentum ini bisa dijadikan sebagai apresiasi kepada guru atas kontribusinya dalam memajukan pendidikan di Indonesia.
Untuk menyampaikan rasa terima kasih kepada guru, simak kumpulan puisi buat Hari Guru Nasional di bawah ini.
Puisi Buat Hari Guru Nasional
Dirangkum dari buku Seni Mengenal Puisi yang ditulis oleh Agnes Pitaloka dan Amelia Sundari, puisi merupakan jenis karya sastra yang tersusun atas bahasa yang indah dan padat makna.
Selain itu, puisi merupakan bentuk ekspresi diri yang menggambarkan keresahan, imajinasi, kritik, pemikiran, pengalaman, kesenangan, nasehat, dan lain sebagainya.
Sebagai wujud rasa sayang dan bentuk ungkapan terima kasih kepada guru tercinta, berikut beberapa puisi buat Hari Guru Nasional 2024 yang dikutip buku Antologi Puisi & Cerpen Mutiara yang Kurindu (2021), Antologi Puisi untuk Guruku (2022), dan buku Selamat Hari Guru (2024).
1. Merajut Ilmu Membangun Generasi
Karya: Toto Sugiarto
Jiwa pendidik kobarkan nyali
Mengukir jiwa insan cendekia
Tumbuhkan potensi generasi baru
Pembawa panji Islam sejati
Pendidik sejati kuatkan hati
Membangun generasi merajut prestasi
Ilmu terpancar cerdaskan bangsa
Tumbuh kembang cerdas mulia
Pendidik generasi Islam terpadu
Berbekal iman dan ilmu menyatu
Qur'an dan sunah pandu mulia
Ikhlas dan ridha dalam beramal
2. Guru Penggerak Peradaban
Karya: Toto Sugiarto
Wajah ceria... semangat membara
Jiwa pejuang...kobarkan asa
Menanam benih peradaban maju
Guru sejati... selamatkan Negeri
Bumi bergetar menyambut Guru
Beramal saleh menoreh karya
Mencetak generasi ... cerdas mulia
Wujudkan negeri adil sejahtera
Wahai guru penggerak
Majulah menjunjung Hidayah
Sucikan diri melangkah pasti
Bumikan peradaban Islam terpadu
3. Oase (1)
Karya: Sri Widada
Engkaukah oase itu
Tempat aku belajar huruf dan angka?
Tempat aku belajar bahasa dan logika?
Tempat aku mengasah tata krama dan melembutkan etika?
Hingga setajam pisau sembilu dan selembut sutera.
Ku tak ingin...
Ketika kuhampiri dirimu
Ternyata hanya fatamorgana
Tak menyisakan harap dan cerita
Yang ada hanya danau kerontang tak berair
Daun-daun kering berserakan memenuhinya dasarnya
Lalu...
Aku tak tahu harus ke mana berlari dan mencari oase itu...
Engkaukah oase itu?
Penuhilah telagamu
Dengan mata air yang menghapus dahaga
Karena kuingin
Engkaulah oase itu.
4. Oase (2)
Karya: Sri Widada
Oase
Padamu aku belajar tentang cahaya
Cahaya yang menerangi setiap langkah
Cahaya yang sempurna dan menyempurnakan
Cahaya yang menebar rahmat, kedamaian dan kasih sayang
Padamu tak kudengar caci maki dan menyalahkan
Oase
Padamu kutemukan ruang pembelajaran yang luas dan mendalam
Seluas lautan sedalam samudra
Belajar mengelaborasi potensi dan mempersembahkannya pada dunia
Belajar merangkai asa dan cita
Oase...
Padamu kutemukan canda dan cerita
Penghapus penat dan jelaga paskamengembara
penyuplai energi pembangun motivasi
Oase...
Doaku selalu.
5. Pahlawan Tanpa Tanda Jasa: Kepada Guru-Guruku
Oleh: Marzuli Ridwan Al-bantany
Kau pahlawan, pejuang ilmu pengetahuan
Tak menuntut riang
Kau pahlawan, tanpa tanda jasa
Tersemat di dada
Telah tak berbilang sudah
Manusia-manusia berilmu kau lahirkan
Di kota, di kampung dan ceruk-ceruk desa
Kau tabah, ikhlas melukis senyum paling indah
Pada setiap resah yang menjengah
Berpantang kau ucap kata lelah
6. Guruku, Melali di Ujung Laman
Oleh: Adin
Bersamamu rekah yang berketayap di puncak malam
Tidak jua ranum di ujung pagi
Namun titis embun masih jua mampu hembuskan harap
Padamu yang masih igaukan fitri
Dalam dekap yang erat di buhul lelap
Langkah kakimu telah pecah di dalam lelap
Berkuubang segala lantang
Tentang suara yang yang tak jua pikirkan siang
Bertekak membentuk luka
Bertukak hingga kau tersiksa
Setelah riuh tengkujuh subuh
Kau masih hangat menyeduh tadah
Manis gula di ujung madah
Ada aku diselip dalam ratibmu
Senyummu tctap manis melati di ujung laman
Tingkahmu rentak zapin zaman berzaman
Segalamu adalah pedoman
7. Tentangmu Guruku
Oleh: Adin
Tentangmu
Sebatas menulis rindu di lembar buku
Adalah sendu
Sekadar bermadah kesah di mulut basah
Adalah salah
Tentangmu
Sekuntum mawar di tengah rimba
Semerbak aroma penuh serlah
8. Kasih yang Tak Bertuan
Oleh: Mhd Safuan
Jeritanmu sering kau lontarkan
Namun tak pernah terdengarkan
Dengan halus kau tutup jeritan itu
Di dalam sujud dan doamu yang penuh haru
Engkau mengadu akan kasih yang tak bertuan
Seolah engkau ingin melepaskan apa yang engkau rasakan
Namun engkau pandai menahan
Akan pahitnya kegundahan yang semakin menekan
Pujangga menerkam tapi kau tak pernah bungkam
Kau tegar walau sakit yang teramat dalam
Pengabdian yang kau berikan menggetarkan seluruh alam
Bahkan tak hirau walau badai bertubi menghantam
Kau tetap tampil bijak walau kasihmu tak bertuan
Meskipun nasehatmu tak banyak yang mendengarkan T
api jasamu takkan pernah terlupakan
Kasih seorang guru yang tak pernah bertuan
9. Perisai Langkah
Oleh: Nukhairunnisak
Terima kasih guruku
Hadirmu bak perisai langkah
Mengubur gelap pada masa
Menebas kejahilan di dinding waktu
Mengejar terang
Membawa petuah
Terima kasih guruku
Tiada kata yang bisa menyetara jasamu
Setiap momen bersamamu adalah rindu
Senyummu lentera di ruang bisu
Buku dan pensil yang kubawa
Sebagai jalan untuk kita beriring dengan sapa dan canda
Tingkahku penyebab amarahmu kadang kala
Namun nasehatmu selalu menjadi penghujung dialog kita
Doamu pelurus semangat
Iklasmu jadikan ilmu bermanfaat
Sumber pelita masa depan
Penyuluh tapak dari kesesatan
Terima kasih guruku
Kudekap kasihmu menuju mimpiku
Kubawa namamu di setiap sujudku
10. Terimakasih Guru
Oleh: Masrifa
Guru orang tua kedua ku
Di sekolah dia mengajarkan sopan santun kepada ku
Menasehati baik dan buruk suatu hal
Aku pergi mencari ilmu
Dia memberi ku cinta dan ilmu
Dia adalah pelita di hidupku
Tak pernah lelah di hadapan ku
Kau sembunyikan wajah lelah sedihmu
Seolah kau bahagia selalu
Kata-katamu penuh candu
Ku resapi dan kan kuingat selalu
Terimakasih atas semua pengorbananmu
Terima kasih atas semua jasa mu
Jasamu tak terukur
Kan selalu kukenang seumur hidupku
11. Mengabdi Tanpa Henti
Oleh: Mudmainah
Dalam sunyi kuriuhkan pinta sepenuh hati
Agar beban mengabdi tak lagi menjadi perih
Dalam sepi kuteriakkan cinta segenap rasa
Bukan karena ingin mengais nama
Tapi, demi putra-putri bangsa nan berharga
Mencoba berdamai dengan gemuruh isi kepala
Kebijakan silih berganti seiring pergantian purnama
Sedikit celah saja kami menjadi tersangka
Namun kami tidak goyah
Tawa mereka memberi napas panjang di setiap dahaga
Sejenak mengistirahatkan raga
Duduk bersama ilalang dan bebatuan
Meskipun mata ini terpejam
Dalam benak berkata
"Apa kabar mereka?"
12. Kilauan Lentera
Oleh: Zafirah Sawsan
Kala kebodohan membelenggu diri
Akan aksara yang tak dapat dimengerti
Engkau datang memberi arti
Dengan baswara bagai indurasmi
Harsa datang menghampiri
Terbaluti kilauan lentera suci
Saat engkau basmi buta aksara kami
Persistensi membimbing diri ini
Menjadikan diri berbudi pekerti
Kau lakukan semua tanpa pamrih
Terimakasih atas jasamu, Guru.
13. Lukisan Jiwa Sang Guru
Oleh: Wahyuni Budi Astuti
Sengatan mentari di terik siang
Mutiara bening basah menghias wajah
Jatuh bercucuran basahkan jiwa
Mata berbinar pancarkan keikhlasan
Ketika matahari bersembunyi di balik cakrawala
Cahaya lembut datang berbisik di gelap malam
Bagikan cahaya pada jiwa yang papa
Haus belaian tangan penuh kasih sayang
Jemari cantik liukkan gemulai pena
Goreskan rasa percikkan kesejukan
Lukisan indah menoreh kanvas kelas
Hadirkan suasana nyaman bahagia
Ayunkan kaki kuat tebarkan harapan
Hempaskan keterpurukan halau ketidakpastian
Hadirkan inspirasi dalam kesuraman
Melangkah seirama raih bintang di angkasa
14. Pahlawan Aksara
Oleh: Qonita Auliya
Dari masa menuju masa
Dari asa menjadi nyata
Tidak akan pernah hilang dalam sejarah
Para pahlawan tanpa tanda jasa
Ilmunya seluas samudera
Ketulusannya setulus cinta
Hidup tanpa kehadirannya
Kita berada dalam neraka buta aksara
Tak pernah lelah dalam berjasa
Dirinya selalu menjadi simbol kehidupan manusia
Terima kasih, wahai pahlawan aksara
Baca Juga: 50 Ucapan Hari Guru Aesthetic yang Berisi Harapan Baik
(SFN)
