Konten dari Pengguna

15 Pahlawan Perempuan Indonesia beserta Peran dan Jasanya

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Kartini, salah satu pahlawan perempuan Indonesia. Sumber: indonesia.go.id.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Kartini, salah satu pahlawan perempuan Indonesia. Sumber: indonesia.go.id.

Pahlawan yang ikut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia tidak hanya laki-laki. Ada sederet perempuan Indonesia yang juga turut memberikan kontribusi besar bagi bangsa. Perjuangan mereka membuktikan bahwa semangat juang tidak mengenal batas gender.

Mereka berjuang di berbagai bidang, mulai dari mengangkat harkat kaum perempuan hingga ikut bertempur di medan perang. Jasa dan keberanian mereka akan selalu dikenang dan menginspirasi generasi penerus.

Pahlawan Perempuan Indonesia

H.R. Rasuna Said, salah satu pahlawan perempuan Indonesia. Sumber: budaya.jogjaprov.go.id.

Dihimpun dari buku Kumpulan Pahlawan Indonesia Terlengkap (2012) oleh Mirnawati, berikut tokoh pahlawan perempuan Indonesia yang berjasa besar dalam memajukan bangsa.

1. H.R. Rasuna Said

H.R. Rasuna Said lahir di Maninjau, Sumatra Barat, pada 14 September 1910. Ia berkontribusi memperjuangkan persamaan hak dan pendidikan politik bagi kaum perempuan. Rasuna Said mendirikan organisasi PERMI pada tahun 1930 dan turut mendirikan Sekolah Thawalib di Padang.

Akibat pidatonya yang menentang penjajah, ia ditangkap dan dipenjara pada tahun 1932. Namun, setelah bebas ia terus berjuang melalui majalah dan mendirikan sekolah di Medan. Setelah kemerdekaan, ia aktif sebagai anggota DPR-RIS dan Dewan Pertimbangan Agung hingga wafat pada 2 November 1965.

2. Cut Nyak Dien

Cut Nyak Dien lahir di Lampadang, Aceh, pada tahun 1848. Ia memulai perjuangannya melawan Belanda setelah suami pertamanya, Teuku Ibrahim Lamnga, tewas. Cut Nyak Dien kemudian menikah dengan Teuku Umar dan melanjutkan perang gerilya bersama hingga Teuku Umar gugur di Meulaboh pada tahun 1899.

Setelah suaminya gugur, ia terus memimpin perlawanan sendirian di pedalaman Meulaboh hingga ditangkap karena kondisi fisiknya yang menua dan sakit. Cut Nyak Dien lantas diasingkan ke Sumedang, Jawa Barat, wafat pada 6 November 1908, dan dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada tahun 1964.

3. Cut Nyak Meutia

Cut Nyak Meutia lahir di Pirak, Aceh Utara, pada tahun 1870. Ia berjuang melawan Belanda bersama suami pertamanya, Teuku Tjik Tunong. Setelah Tjik Tunong ditangkap dan dihukum mati pada Maret 1905, ia menikah lagi dengan Pang Nagroe sesuai wasiat suami pertamanya.

Ia melanjutkan perjuangan bersama Pang Nagroe hingga suami keduanya itu tewas dalam pertempuran pada September 1910. Cut Meutia terus memimpin pasukannya hingga ia gugur di Alue Kurieng pada 24 Oktober 1910 dan diakui sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1964.

4. Martha Christina Tiahahu

Martha Christina Tiahahu berjuang melawan penjajah Belanda bersama ayahnya, Kapitan Paulus Tiahahu. Pada tahun 1817, mereka berhasil menguasai Benteng Duurstede dan mempertahankan Benteng Beverwijk dari serangan Belanda.

Setelah Belanda merebut kembali benteng melalui tipu muslihat, ayahnya dieksekusi mati, dan Christina akhirnya ditangkap setelah berusaha melanjutkan perlawanan. Ia wafat di atas kapal Belanda pada 1 Januari 1818 dalam perjalanan ke pengasingan dan diakui sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1969.

5. Nyi Ageng Serang

Nyi Ageng Serang lahir dengan nama R.A. Kustiyah pada tahun 1752 di Serang, adalah keturunan Sunan Kalijaga dan putri Pangeran Natapraja. Ia pertama kali berjuang membantu ayahnya menolak Perjanjian Giyanti hingga sempat ditangkap oleh Belanda sebelum akhirnya dilepaskan.

Pada usia 73 tahun, ia bergabung dengan Perang Diponegoro (1825-1830) dan memimpin pasukannya dalam perang gerilya dari atas tandu. Ia wafat di tengah perang pada tahun 1828 dan dimakamkan di Kulonprogo. Nyi Ageng Serang dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 13 Desember 1974.

6. Raden Ajeng Kartini

Raden Ajeng Kartini dikenal sebagai tokoh pelopor kebangkitan perempuan pribumi di Indonesia. Ia memperjuangkan kesetaraan hak bagi perempuan agar mereka bisa mendapatkan akses pendidikan yang layak seperti laki-laki.

Gagasan dan kritiknya mengenai kondisi perempuan Jawa ia tuangkan dalam surat-surat kepada sahabatnya di Belanda. Surat-surat itu diterbitkan menjadi buku Habis Gelap Terbitlah Terang. Kartini wafat di usia muda pada 17 September 1904 dan hari kelahirannya kini diperingati setiap tahunnya sebagai Hari Kartini untuk menghormati jasanya dalam emansipasi wanita.

7. Raden Dewi Sartika

Raden Dewi Sartika adalah pahlawan perempuan Indonesia yang lahir di Cicalengka, Jawa Barat, pada 4 Desember 1884. Ia dikenal sebagai tokoh perintis yang gigih memperjuangkan pendidikan bagi kaum perempuan Sunda.

Pada 16 Januari 1904, ia mendirikan Sakola Istri di Bandung agar perempuan bisa mendapatkan keterampilan membaca, menulis, dan berumah tangga. Berkat jasanya memajukan pendidikan, ia diakui sebagai salah satu tokoh emansipasi wanita Indonesia.

8. Fatmawati Soekarno

Fatmawati Soekarno adalah Ibu Negara pertama Indonesia yang lahir di Bengkulu pada 5 Februari 1923. Ia merupakan istri ketiga dari Presiden Soekarno dan mendampinginya selama masa perjuangan kemerdekaan.

Jasa terbesarnya yang paling dikenang adalah menjahit bendera pusaka Sang Saka Merah Putih. Bendera itulah yang dikibarkan pertama kali saat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

9. Malahayati

Malahayati adalah seorang laksamana perempuan pemberani dari Kesultanan Aceh pada abad ke-16. Ia memimpin pasukan Inong Balee yang terdiri dari para janda prajurit Aceh yang gugur dalam pertempuran.

Pencapaiannya yang paling terkenal adalah saat ia berhasil mengalahkan dan menewaskan Cornelis de Houtman dalam duel di atas kapal pada tahun 1599. Atas jasa dan kepemimpinannya, Malahayati diakui sebagai Pahlawan Nasional Indonesia dan salah satu laksamana wanita pertama di dunia.

10. Maria Walanda Maramis

Maria Walanda Maramis lahir di Minahasa, Sulawesi Utara, pada 1 Desember 1872. Ia dikenal sebagai tokoh yang memperjuangkan hak-hak dan kemajuan pendidikan bagi kaum perempuan di Minahasa.

Pada tahun 1917, ia mendirikan organisasi Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunnya (PIKAT). Melalui organisasi ini, ia membuka sekolah untuk mengajar perempuan membaca, menulis, keterampilan rumah tangga, serta memperjuangkan hak pilih perempuan.

11. Opu Daeng Risaju

Opu Daeng Risaju berasal dari Luwu, Sulawesi Selatan. Ia aktif berjuang melawan penjajahan Belanda dengan bergabung dalam organisasi Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII).

Karena perjuangannya, ia ditangkap, disiksa, dan gelar kebangsawanannya dicabut oleh Belanda. Meski begitu, ia tetap teguh melanjutkan perlawanan untuk kemerdekaan Indonesia.

12. Ratu Kalinyamat

Ratu Kalinyamat adalah seorang penguasa wanita pemberani yang memerintah Kerajaan Jepara pada abad ke-16. Ia berhasil membangun armada angkatan laut yang sangat kuat dan disegani di Nusantara.

Ratu Kalinyamat sangat menentang kolonialisme Portugis dan tercatat pernah mengirimkan pasukannya untuk menyerang Portugis di Malaka. Berkat perjuangan dan kepemimpinannya, Ratu Kalinyamat dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia.

13. Ruhana Kuddus

Ruhana Kuddus berasal dari Koto Gadang, Sumatera Barat dan dikenal sebagai jurnalis perempuan pertama di Indonesia. Pada tahun 1912, ia mendirikan surat kabar Soenting Melajoe yang menjadi media pertama bagi perempuan di Hindia Belanda. Ia juga mendirikan sekolah Kerajinan Amai Setia di Koto Gadang untuk membekali perempuan dengan berbagai keterampilan.

14. Andi Depu

Andi Depu adalah seorang pejuang perempuan bangsawan yang berasal dari Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Ia memimpin perlawanan rakyat Mandar melawan penjajah dan gigih mempertahankan bendera Merah Putih agar tidak diturunkan oleh pasukan Belanda.

15. Siti Walidah

Siti Walidah, yang dikenal sebagai Nyai Ahmad Dahlan, merupakan pelopor emansipasi perempuan Islam dengan mendirikan organisasi 'Aisyiyah pada tahun 1917.

Organisasi ini didirikan untuk memajukan pendidikan agama, kesehatan, dan keterampilan bagi kaum perempuan. Perjuangannya adalah memberdayakan perempuan agar dapat berkontribusi aktif dalam masyarakat.

(FHK)

Baca juga: 5 Kegiatan Hari Pahlawan yang Seru dan Menginspirasi Generasi Muda