Konten dari Pengguna

2 Contoh Naskah Drama Natal tentang Kehidupan Sehari-hari

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 8 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Natal. Foto: Africa Studio/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Natal. Foto: Africa Studio/Shutterstock

Ada banyak acara yang bisa dihelat untuk memeriahkan perayaan Hari Natal, salah satunya adalah pementasan drama. Pementasan ini biasanya digelar di sekolah, komunitas, dan gereja.

Tema yang bisa diambil dalam pementasan drama tersebut sangat beragam. Anda bisa mengambil inspirasinya dari kehidupan sehari-hari di lingkungan sekitar.

Di dalam naskahnya, Anda juga bisa menyelipkan pesan-pesan keagamaan. Misalnya dengan menyampaikan bahwa kasih sayang Allah begitu luas yang mengaruniakan Yesus kepada umat agar senantiasa selamat dan memperoleh hidup kekal.

Anda bisa membuat improvisasi karakter agar terlihat menarik. Berikut ini contoh naskah drama Natal tentang kehidupan sehari-hari yang bisa dijadikan referensi.

Contoh Naskah Drama Natal tentang Kehidupan Sehari-hari

Ilustrasi pohon Natal. Foto: Ivan Gran/Shutterstock

Mengutip Pembelajaran Bahasa dan Sastra Berbasis Potensi Lokal karya Duwi Purwanti, naskah drama ditulis dengan menuangkan ide, gagasan, pendapat dalam bentuk cerita. Khusus di momen Natal ini, naskah drama bisa dibuat dengan lebih dramatis seraya menyelipkan pesan-pesan keagamaan.

Tentu, harus ada unsur menarik dalam naskah tersebut agar pementasannya terlihat bagus. Simak contoh naskah drama Natal tentang kehidupan sehari-hari berikut ini sebagai referensi:

1. Hadiah yang Kekal

Pemeran & Tokoh:

1. Si Cakep: (Perempuan, centil dengan pakaian pesta putih dan pita rambut merah)

2. Si Kaya: (Laki-Laki, berdasi, pakai jas, gayanya sedikit sombong)

3. Si Gendut: (Laki-laki, gendut dengan pakaian warna-warni cerah)

4. Si Murung: (Laki-laki, berpakaian santai dengan topi)

5. Si Miskin: (Perempuan, pakaian sederhana, ceria, penuh senyum)

Adegan :

Si Cakep, Si Kaya, Si Gendut, Si Miskin sedang duduk (berpikir) ada yang melihat ke atas, ada yang bertopang dagu, ada yang memegangi dahinya, dsb...) Narator Natal telah tiba. Beberapa anak sedang duduk dan mereka-reka bingkisan apa yang ingin mereka minta kepada papa-mama merekasebagai hadiah di Hari Natal.

(Si Cakep maju ke depan dan melambaikan tangan ke penonton): “Hai, teman-teman! Biasanya setiap Hari Natal tiba, saya pasti akan dibelikan sepatu dan baju baru oleh mama dan papaku.”

Si Kaya (berdiri, membusungkan dada dan menepuk dada): “Kalau Saya, setiap Hari Natal tiba, saya pasti mendapat mainan yang bagus dan yang palingmahal, karena Mama dan Papa belinya di Mega Mall yang keren. Eh, pernah juga loh, dibeli dari luar negeri....Emm... kolong merat, eh salah...apa sih temen-temen...ya, itu. Konglomerat!”

Si Gendut: “Nah, kalau saya maunya minta coklat yang u.....eenak! Silver queen, tobleron, cadburry..ah, kalau itu sih udah bosen. Pokoknya, sayamau coklat yang istimewa di Hari Natal tahun ini.”

Si Miskin: “Kalau saya, sich, maunya hadiah yang nggak habis-habis, nggak pernah rusak sampai saya besar nanti dan saya nggak perlu beli, jadi gratis aja! Soalnya, papa dan mama lagi nggak punya uang untuk beli hadiahyang mahal-mahal.”

Si Cakep+Kaya+Gendut (mencibir dan mengejek sambil mengacungkan jari telunjuknya dan menggoyangkan tangannya dari atas ke bawah): “Aduh...kasihan deh, lo...”

Si Cakep: “Masa mau minta hadiah yang nggak habis-habis, nggak pernah rusak dan nggak usah beli”

Si Kaya: “Mana ada hadiah seperti itu?”

Si Gendut: “lya, biar sampai dunia ini persegi, nggak bakalan kamu dapat!”

Si Miskin: (tangan bersedakep di depan dada dan memandang ketiga anak itulalu tersenyum) “Kita lihat aja, nanti!”

Narator: Itulah yang dipikirkan mereka. Satu hadiah yang tidak akan rusak, tidak akan habis dan tetap mereka miliki sampai selama-lamanya....Kalian tahu, hadiah apakah itu?

Adegan:

Si Murung Masuk. Si Murung (duduk menekuk lututnya dan meletakkan dagunya di atas kedualututnya dengan wajah sedih): “Hadiah Natal? Mungkin itu tinggal kenangan. Dulu Mama Papa selalu ingat membelikanku hadiah untuk Hari Natal. Tapi sekarang....jangankan hadiah, mereka bahkan tidak ingat padaku lagi...

Si Miskin: “Hai, teman. Kenapa kau kelihatan sedih. Bukankah seharusnyakamu bersukacita menyambut hari kelahiran Yesus.”

Si Murung: “Aku kehilangan papa-mamaku...”

Si Miskin: “Apa? Kehilangan papa-mama? Maksudmu mereka sudah meninggal?”

Si Murung: “Tidak, mereka tidak meninggal. Tetapi mereka terlalu sibuk untuk mengingatku lagi. Senin sampai Sabtu sibuk kerja mencari uang.Minggu mereka sibuk di gereja, katanya sih, pelayanan. Aku sering ditinggal sendirian. Sekarang, Hari Natal pun mereka tidak ingat untuk membelikanku hadiah... I

Si Miskin: “Ya, sudah. Aku akan menemanimu sekarang. Kamu tidak perlu bersedih, bukankah masih banyak hal lain yang bisa membuat kita senang, misalnya lagu Natal yang merdu...cerita Natal yang indah...dan tarian Natal yangceria.…

Si Murung: (berdiri dan menatap Si Miskin) “Tunggu! Kau ingat tentang Yesus? Si Miskin (tersenyum) Ya, tentu. Aku sangat mengasihi Yesus.”

Si Murung: “Bukan itu maksudku, tetapi kau...Kau seperti Yesus!! Yesus yang kudengar di Sekolah Minggu. Yesus yang mengasihi semua manusia: yang sakit, yang susah, yang menderita, dan yang kesepian seperti aku ini...”

Si Miskin: “Oh, ya? (menutup mulutnya dengan telapak tangan). Ya, Tuhan. Kenapaaku tidak menyadari kalau aku sudah mendapatkan hadiah yang kekal itu..”

Si C+K+G: “Apa? Kau sudah mendapatkan hadiah itu!? Si Miskin hadiah yang kekal itu. Dia tidak bisa Benar, teman-teman. Aku sudah mendapatkan hadiah yang kekal rusak, tidak pernah habis dan akan menjadi milikku sampai aku besar nanti, bahkan sampai selamanya..”

Si Gendut: “Wah, hebat! Kalau gitu bagi dooong...”

Si Kaya: “Hei, gendut. Aku duluan”

Si Cakep (menarik kedua temannya) “Aku dong yang duluan. Tadi kan yangkeluar panggung aku duluan…”

Si Miskin: “Tenang...Sebenarnya kita semua bisa memilikinya. Hadiah yang kekal itu adalah Yesus. Allah Bapa telah memberikan-Nya kepada kita sebagaihadiah yang kekal.”

Si Murung: “Ya, karena begitu besar kasih Allah kepada kita, maka la mengaruniakan Yesus kepada kita supaya kita selamat dan beroleh hidup kekal (menengok si Miskin) Begitu 'kan?”

Si Miskin: (mengacungkan jempol) “Hadiah itu bisa kalian miliki, bila kalianmau menerima Dia dalam hati kalian...”

Si Kaya: “Aku mau”

Si Cakep: “Aku mau”

Si Gendut: “Aku juga”

Si Miskin: “Nah, hadiah yang termahal, terindah dan kekal selama-lamanya tidak kita dapatkan di dunia ini, tetapi telah diberikan oleh Allah, yaitu pada malam Natal ketika Yesus turun ke dunia untuk menyelamatkan kita semua.”

Epilog Narator:

Nah, adik-adik. Ternyata hadiah yang kekal itu adalah Tuhan Yesus sendiri. Semua hadiah di dunia ini akan rusak dan musnah, tetapi Yesus akan menjadi milik kita sampai selama-lamanya. Amin

Ilustrasi Natal. Foto: Shutter Stock

2. Hadiah Kursi Roda di Hari Natal

Narasi: Kevin dan Lula berbincang di kelas ketika jam istirahat. Keduanya berbincang seputar kado yang ingin dibeli untuk hadiah Natal nanti.

Kevin: Kamu mau kasih hadiah apa untuk adikmu Natal tahun ini?

Lula: Aku bingung Vin, karena aku tidak begitu tahu dia suka apa.

Kevin: Wah kok bisa? Kamu tidak tahu barang kesukaan dia apa?

Lula: Tahu sih, dia suka sekali doraemon, tapi sudah banyak koleksinya.

Narasi: Keduanya hening memikirkan kado untuk ulang tahun adik Lula.

Lula: Eh kalau kamu mau beli apa untuk adikmu Vin?

Kevin: Aku mau membelikan kursi roda untuk dia. Semenjak kecelakaan dia jarang keluar rumah, dia juga tidak bisa datang ke gereja. Padahal aku tahu dia rindu sekali ibadah di gereja.

Lula: Wah kamu baik sekali, tapi kan kursi roda mahal Vin.

Kevin: Iya, makanya aku cari kerja sampingan untuk cari tambahan.

Narasi: Kedua orang tua Kevin meninggal saat kecelakaan bersama adiknya. Oleh karena itu sekarang Andi hanya hidup berdua dengan adiknya. Ada satu bibi yang pulang pergi sekadar untuk memasakan Kevin dan adiknya di rumah.

Natal tinggal seminggu lagi, baik Lula dan Kevin pun sama-sama belum membelikan hadiah untuk adiknya di Hari Natal nanti. Lula masih bingung memilih hadiah apa, sedangkan Kevin belum cukup uang untuk membeli kursi roda.

Di kelas, Kevin bercerita dengan Lula kalau semenjak adiknya tidak bisa ke mana-mana, adiknya gemar sekali melukis. Kevin pun menunjukan beberapa koleksi yang dibawa ke sekolahnya.

Lula: Ini serius hasil karya dari adikmu? (Seperti tidak percaya).

Kevin: Iya ini adikku yang menggambarnya

Lula: Sebentar, aku langsung dapat ide hadiah untuk adikku. Adikmu bisa tidak menggambar santa dengan doraemon bersebelah gitu?

Kevin: Sepertinya bisa

Narasi: Akhirnya setelah dua hari, Kevin menyampaikan kalau adiknya bersedia menggambarkan apa yang dia minta. Dan keesokannya, Kevin membawakan hasilnya. Tidak disangka Lula sangat suka.

Lula: Berapa harganya?

Kevin: Tidak perlu. Adikku ingin berbagi kebahagiaan katanya.

Lula: Ya sudah begini saja, izinkan aku kasih kamu uang tambahan untuk beli kursi rodanya supaya dia bisa ibadah lagi saat natal nanti.

Kevin: Kamu jangan bercanda deh.

Lula: Aku serius, pulang kelas kita cari kursi rodanya ya.

Narasi: Akhirnya Hari Natal yang ditunggu-tunggu pun tiba. Kevin membangunkan adiknya untuk segera siap-siap beribadah ke gereja. Namun adiknya enggan bangun karena tidak ada kursi roda.

Kevin: Kakak punya hadiah Natal untuk kamu. Kakak kasih lebih awal ya supaya kita bisa beribadah lagi ke gereja sama-sama.

Kenzo: Hadiah apa? (Masih bingung).

Narasi: Tidak lama kemudian Kevin masuk ke kamar adiknya dengan membawa kursi roda yang dibeli bersama Lula beberapa waktu lalu. Kenzo menangis dengan kado Natal yang berharga untuknya.

Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk pergi ke gereja yang sudah lama ingin dikunjungi Kenzo sejak lama. Kenzo tampak sangat gembira di Natal tahun ini karena hadiah yang istimewa.

Di Gereja, Kenzo mengucapkan terima kasih pada Yesus untuk kado indah yang sudah diberikan melalui kakaknya. Ia selalu percaya selalu ada kebaikan lebih yang didapatkan setiap kali merayakan Natal. Saat hendak pulang, bahu Kevin ditepuk oleh seseorang. Ternyata itu Lula.

Lula: Lho kok kamu di sini Vin?

Kevin: Eh Lula, Iya nih adik aku mau merayakan Natal di gereja ini. Dia senang sekali karena kursi rodanya.

Lula: Aku ikut senang ya. Aku ke sini sama adik dan orangtuaku juga. Itu mereka. (Sambil menunjuk ke arah mama, papa dan adik Lula).

Narasi: Setelah perbincangan singkat, orang tua Lula mengundang Kevin dan adiknya untuk makan bersama di rumah Lula. Melihat bahwa mereka sudah tidak memiliki orangtua lagi, mama Lula ingin berbagi kasih di Hari Natal ini.

Akhirnya mereka pun makan bersama dan menghabiskan Hari Natal di rumah Lula hingga larut malam. Hari itu, Kevin merasakan kebaikan Natal untuknya.

Mulai dari hadiah kursi roda yang dibantu Lula, hingga ia merasa memiliki keluarga.