2 Contoh Studi Kasus PPG PAUD 2025 yang Cocok Jadi Referensi

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam pelaksanaan Pendidikan Profesi Guru (PPG) 2025, peserta diwajibkan menyelesaikan berbagai tugas, salah satunya studi kasus. Tujuannya untuk menguji kemampuan analisis dalam menghadapi permasalahan pembelajaran.
Tugas studi kasus juga diharapkan mampu meningkatkan kemampuan peserta dalam mengidentifikasi persoalan secara tepat. Kemudian merumuskan solusi yang relevan dan aplikatif dalam proses pembelajaran ke depannya.
Dalam pengerjaan tugas tersebut, peserta perlu menjawab sejumlah pertanyaan berbasis pengalaman nyata selama proses mengajar. Bagi yang butuh bahan referensi, simak contoh studi kasus PPG PAUD 2025 berikut ini!
Contoh Studi Kasus PPG PAUD 2025
Berdasarkan buku Penelitian Kualitatif: Studi Fenomenologi, Case Study, Grounded Theory, Etnografi, Biografi oleh Hadi dkk., studi kasus merupakan metode penelitian yang berfokus pada satu kasus tertentu. Penelitian ini dikaji secara mendalam, rinci, dan komprehensif untuk memperoleh pemahaman yang utuh.
Berikut contoh studi kasus PPG PAUD 2025 yang dihimpun dari kanal YouTube Rosti Hidayah:
1. Studi Kasus: Perkembangan Motorik Kasar Siswa yang Beragam
Permasalahan yang dihadapi: Beberapa siswa memiliki motorik kasar yang belum berkembang sesuai harapan, sehingga mereka mengalami kendala dan cenderung pasif saat bermain. Misalnya, siswa hanya bisa berlari dan bermain, tetapi sulit menangkap dan melempar bola. Di sisi lain, beberapa siswa justru sudah bisa melempar dan mengangkap bola, tetapi masih kaku dan membutuhkan bantuan guru.
Upaya penyelesaian: Melakukan tes awal untuk melihat motorik kasar anak. Kemudian diberikan perlakukan melalui kegiatan bermain, seperti lempar tangkap secara berkelanjutan dan terarah. Salah satu permainan yang saya terapkan adalah lempar tangkap bola kecil. Anak-anak diminta melempar dan menangkap bola dengan menggunakan tangan kanan dan kiri secara bergantian.
Hasil dari upaya yang dilakukan: Siswa terlihat senang dan menjadi lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran. Hasilnya, siswa perlahan dapat mengembangkan kemampuan motorik kasarnya melalui permainan lempar tangkap bola kecil.
Pengalaman berharga yang bisa dipetik: Sebaiknya saya membuat tes awal yang lebih baik. Dengan begitu, saya bisa menerapkan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan masing-masing siswa.
2. Studi Kasus: Perkembangan Kreativitas Siswa Belum Berkembang secara Optimal
Permasalahan yang dihadapi: Permasalahan yang pernah saya hadapi adalah kemampuan kreativitas pada anak belum berkembang secara optimal. Beberapa anak masih dibantu oleh guru ketika menggunting, menempel, maupun melipat.
Upaya penyelesaian: Upaya yang saya lakukan adalah melakukan tes awal melalui permainan mozaik kertas. Kemudian, saya menerapkan rancangan pembelajaran yang menarik, yaitu menggunakan permainan papercraft. Saat bermain, anak membuat lipatan kertas menjadi dua atau lebih agar anak belajar mengenal berbagai ukuran yang tepat dan benar.
Hasil dari upaya yang dilakukan: Hasil dari upaya tersebut adalah siswa terlihat senang dan aktif dalam kegiatan pembelajaran. Selain itu, mereka bisa mengembangkan kemampuan kreativitasnya lewat media papercraft.
Pengalaman berharga yang bisa dipetik: Dalam membuat contoh media papercraft, guru harus meluangkan waktu lebih untuk menerapkan rancangan pembelajaran yang sesuai kebutuhan anak.
Baca Juga: Pakta Integritas PPG Guru Tertentu 2026, Begini Formatnya
(NSF)
