2 Khotbah Jumat Agung 2026 untuk Tingkatkan Iman

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 10 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jumat Agung diperingati menjelang Paskah untuk mengenang kesengsaraan dan wafatnya Yesus Kristus. Dalam ibadah ini, terdapat khotbah sebagai sarana untuk merenungkan kembali makna pengorbanan-Nya di kayu salib.
Khotbah biasanya menghadirkan pesan penghiburan, ketenangan, dan harapan baru dalam menghadapi berbagai tantangan hidup. Selain itu, khotbah juga menegaskan kasih Allah yang menghadirkan Kristus sebagai Juruselamat bagi umat manusia.
Agar pesan khotbah Jumat Agung dapat dipahami dengan baik oleh jemaah, teks khotbah haruslah disusun secara runtut. Bagi Anda yang mencari referensi Khotbah Jumat Agung 2026, simak contoh materinya berikut ini!
Contoh Khotbah Jumat Agung 2026
Berikut beberapa contoh khotbah Jumat Agung 2026 yang bisa Anda jadikan referensi:
1. Janganlah Jauh Dariku! (Da Mitoyanganna')
Bacaan Mazmur: Yesaya 52:13-53:12
Bacaan 1: Mazmur 22 (BU)
Bacaan 2: Ibrani 4:14-16; 5:7-10
Bacaan 3: Yohanes 18:1-19:42
Nas Persembahan: Mazmur 22:28
Petunjuk Hidup Baru: Mazmur 22:31-32
Tujuan:
1. Untuk memahami bahwa Yesus yang turut mengalami derita seluruh ciptaan karena dosa juga berdiri bagi kita dan menyelamatkan kita.
2. Umat memahami bahwa kita juga dipanggil untuk berdiri bagi sesamanya sebagaimana Kristus melakukannya.
Pemahaman Teks
Yesaya 52:13-53:12 menggambarkan karya penebusan Allah, yang orang Kristen percayai terjadi di dalam Yesus Kristus. la digambarkan sebagai manusia yang ditolak, menderita dalam kesendirian. Artinya, la menderita karena kelemahan, penyakit, pelanggaran, pemberontakan, dan kesalahan kita. Kemanusiaan (katolinoan) Kristus yang menggantikan manusia, baik dalam hidup maupun mati-Nya, merupakan gambaran tindakan pendamaian (kasikaeloan) dari Allah. Ayat 5 menceritakan bahwa kita menerima keselamatan (shalom, kamarampasan) karena la tertikam akibat semua pemberontakan dan kejahatan kita. la yang tidak bersalah, tidak bercacat dan tidak berdosa, berdiri menggantikan umat manusia. Bahkan, la dipandang sama dengan penjahat (53:9) dan menanggung kesalahan semua orang (53:10-12).
Mazmur 22 adalah seruan yang lahir dari kesedihan yang mendalam, karena pemazmur ditindas oleh musuh-musuhnya, ditolak oleh bangsanya, hingga ia merasa ditinggalkan oleh Tuhan. Ia merasa bahwa ancaman telah mengelilinginya. Orang-orang di sekitarnya juga menghinanya. Di tengah situasi itu, ia juga merasa bahwa Tuhan telah meninggalkannya (ayat 2).
Sepanjang 22 ayat, pemazmur mengerang atas siksaan, kesepian, dan perasaan ditinggalkan. Memasuki ayat 23, ancaman itu berubah menjadi kesaksian dan ajakan untuk memuji-muji Tuhan. Ketakutan terhadap penderitaan dan ratapan diubah menjadi rasa takut dan pujian terhadap Tuhan. Dunia, sebagaimana yang dialami pemazmur, telah menjadi tempat sukacita dan berkat. Semuanya adalah karya Tuhan yang mengarahkan wajah-Nya kepada umat manusia. la menjawab dan bertindak bagi orang yang dipinggirkan dan dibuang oleh masyarakat. Allah yang kudus, yang bersemayam di atas pujian orang Israel, membungkuk dan memperhatikan kebutuhan orang yang dihina dan ditolak.
Dengan demikian, pengkhotbah dapat menukik pada pemahaman bahwa ungkapan Yesus di kayu salib, "Eli, eli, lama sabaktani?" (Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku) (Mat. 27:46; Mrk. 15:34) merupakan pengalaman Yesus sebagai orang yang dicerca, ditinggalkan, dicemooh, dan dikepung oleh musuh-musuh. Pengkhotbah dapat juga menghubungkan Mazmur ini dan penderitaan Kristus yang sepenuhnya masuk ke dalam penderitaan umat manusia dan menanggungnya. Penderitaan-Nya adalah penderitaan penebusan, penderitaan yang menggantikan, penderitaan yang menandai awal dari akhir semua penderitaan yang disebabkan oleh dosa dan kejahatan manusia. Penderitaan Yesus mendatangkan sukacita sebagaimana yang dijelaskan dalam ayat 22-32. Karenanya, pengkhotbah dapat menekankan dua poin. Pertama, Mazmur 22 mengingatkan kita bahwa iman tidak berakar pada kemenangan yang dibuat-buat, melainkan kemenangan yang penuh penderitaan melawan semua dosa. Kedua, kita dapat membayangkan orang-orang yang mengalami seperti yang dialami pemazmur di sekitar kita. Jumat Agung adalah hari untuk bergabung dengan Yesus dalam kesedihan dan dukacita-Nya yang mendalam atas dosa dunia. Bersama Yesus juga kita turut meratapi kejahatan dan berseru agar mendatangkan kesembuhan bagi dunia kita yang menderita karena dosa. Kita pun diingatkan bahwa kejahatan masih menjangkiti dunia dan diri kita. Pengkhotbah dapat mengajak umat untuk meratap bersama sembari menghayati panggilan Allah untuk turut mengakhiri semua kejahatan dan penderitaan.
Ibrani 4:14-16; 5:7-10 menyajikan gambaran unik tentang Yesus, yaitu sebagai Imam Besar Agung dan Pengantara. Pertama, Yesus disebut Imam Besar Agung. Hal ini didasarkan pada pemahaman bahwa imam adalah perantara antara Allah dan manusia. Merekalah yang mempersembahkan korban, menyampaikan doa, dan perkara umat di hadapan Allah. Yesus juga digambarkan sebagai "Imam Besar Agung yang telah melewati seluruh surga" (4:14). Ia adalah Imam Besar yang telah dicobai dalam segala hal, hanya saja Ia tidak berdosa" (4:15b). Kita memiliki seorang Imam Besar, Yesus, yang turut merasakan pergumulan kita.
Kedua, doa syafaat. Melalui Dia, kita tidak hanya dapat mendekat kepada Bapa, tetapi juga menyampaikan seruan dan doa kita melalui Dia. Pengkhotbah dapat mendorong jemaat untuk tidak hanya memanjatkan doa syafaat dalam nama Yesus, tetapi juga untuk membela orang lain. Mengapa demikian? Karena Yesus tidak menjadi pendoa syafaat untuk diri-Nya sendiri, tetapi untuk umat manusia. Pembaca surat kepada orang Ibrani juga dipanggil untuk meniru Kristus.
Yohanes 18:1-19:42 mulai dari kisah penyangkalan hingga
pengabdian di kaki salib; dari penyangkalan Petrus hingga pembebasan Pilatus; dari banyaknya orang yang menuntut penyaliban Yesus hingga dua orang yang menurunkan-Nya dari salib; dari mereka yang mengikat-Nya dengan paksa saat penangkapan-Nya hingga mereka yang mengikat-Nya dengan kasih saat penguburan-Nya; dari awal akhir di satu taman hingga akhir awal di taman yang lain.
Korelasi
"Jangan meninggalkan aku?" menjadi penegasan bahwa dalam penderitaan, Allah tidak pernah meninggalkan manusia. Ia turut merasakan penderitaan dan membawa kita pada keselamatan. Solidaritas tersebut pun membawa kita pada solidaritas terhadap sesama yang mengalami penderitaan.
Pokok-pokok Pengembangan Khotbah
Jumat Agung mengingatkan bahwa kita harus berpegang teguh pada iman kita. Bahkan dalam menghadapi penderitaan, masih ada terang, harapan, dan keselamatan di baliknya. Kita menantikan kebangkitan Yesus yang kuasa kebangkitan-Nya juga tersedia bagi kita. Berikut ini adalah pokok-pokok pengembangan khotbah.
Berdiri bagi Kita, Kita berdiri bagi sesama
Penulis Kitab Ibrani juga mendorong dan mengingatkan kita di masa-masa sulit, bahwa Yesus telah berdoa untuk kita. Artinya, la berdiri bagi kita dan membuat ikatan dengan ciptaan-Nya. Karena itu, kita juga harus berdiri dan saling mendoakan satu sama lain. Hal tersebut menandakan bahwa kita adalah orang-orang yang berpengharapan pada kebangkitan Kristus yang berdiri bagi kita.
Meratap bersama Kristus
Jika, dalam Ibrani, Kristus berdiri bagi umat dalam doa syafaat, maka Mazmur (BU) mengajar untuk meratap bersama Kristus. Dalam derita hingga menjelang kematian-Nya, la terus berseru kepada Sang Bapa. Ratapan itu merupakan ratapan bersama dunia yang mengerang karena dosa. Jumat Agung menjadi momen bagi kita untuk menyadari bahwa dosa membuat kita menderita dan terasa jauh dari Allah. Yesus bersama-sama dengan seluruh ciptaan meratap dalam derita itu. Namun, ratapan itu adalah ratapan yang membebaskan. Iman kita kepada-Nya tidak bukan sekadar kepercayaan tak berdasar, melainkan kepercayaan akan adanya kebangkitan bersama dengan-Nya.
Ratapan bersama Kristus membawa kita juga kepada gaya hidup yang menyadarkan dunia akan dosa yang menjauhkan kita dari Allah. Sembari itu, kita juga memberitakan bahwa di dalam Kristus Yesus, ada pengharapan akan kebangkitan dari derita dosa yang membelenggu kita.
Sumber: Buku Membangun Jemaat 2025 oleh Gereja Toraja
2. Oleh Bilur-bilurnya Kita Menjadi Sembuh (Bannang dio Sisulla'pang-la'pangna, Anta pomondoi)
Bacaan Mazmur: Mazmur 22:1-12
Bacaan 1: Yesaya 52:13-53:12 (BU)
Bacaan 2: Ibrani 4:14-16
Bacaan 3: Yohanes 18:12-27
Nas Persembahan: Ibrani 4:16
Petunjuk Hidup Baru: Yesaya 53:5
Tujuan:
1. Jemaat memahami Yesus menderita karena kasih-Nya bagi orang berdosa.
2. Para pemimpin jemaat menyadari bahwa penderitaan dan kekecewaan merupakan konsekuensi ikut Yesus.
Pemahaman Teks
Raja Daud berdoa kepada Allah dalam Mazmur 22:1-12. Dalam Mazmur ini, ia menggambarkan perasaan kesepian dan terabaikan oleh Allah serta mengalami kesulitan dalam menghadapi musuh-musuhnya. Bagian ini menunjukkan bahwa bahkan seorang raja dapat mengalami kesulitan dan ketakutan. Akan tetapi, ia tetap percaya dan memohon pertolongan kepada Allah. Daud meratap di awal Mazmur karena perasaan terabaikan dan ditinggalkan oleh Allah. Karena itu, ia tetap memohon dan percaya kepada Allah. Kemudian Daud membandingkan dirinya dengan hewan korban di Bait Allah. Hewan-hewan tersebut diberikan kepada Allah sebagai rasa syukur dan pengampunan atas kesalahannya. Namun, ia merasa seperti hewan-hewan tersebut yang tidak memiliki belas kasihan atau kasih sayang Allah.
Dengan mengungkapkan kecemasan di bagian ini, ia merasa musuh-musuhnya kuat dan tak terkalahkan. Permohonan kepada Allah terus dipanjatkannya dan percaya Ia akan membantu. Daud berpikir tentang bagaimana Allah telah setia kepada umat-Nya di masa lalu, dan berharap bahwa Ia akan mengingat hal itu dan membantunya menghadapi kesulitan.
Yesaya 52:13-53:12 menyeritakan penderitaan dan penebusan Mesias yang akan datang serta menunjukkan penderitaan luar biasa yang harus dialami Mesias untuk menebus manusia. Ia akan mengalami kesulitan, penderitaan, dan penghinaan, tetapi pada akhirnya ia akan diangkat dan dihormati. Mesias menderita bukan karena kesalahannya sendiri, tetapi untuk menebus manusia. Ia akan menjadi korban penebusan manusia dan memulihkan hubungan manusia dan Allah. Kendati tidak bersalah, ia akan mati seperti seorang penjahat dan melalui penderitaan-Nya, Ia akan bangkit dan menang atas dosa dan kematian. Dengan demikian, dosa-dosa kita akan dihapus. Bagian ini menunjukkan betapa besarnya kasih Allah sehingga Ia mengutus Putra-Nya untuk menebus kita dan melalui iman dalam Yesus Kristus, kita dapat hidup dalam persekutuan dengan-Nya.
Ibrani 4-14-16 menekankan pentingnya iman dan pengharapan dalam hidup Kristiani. Pembaca diminta untuk datang kepada Yesus Kristus sebagai Imam Agung yang sempurna. Penulis Ibrani menegaskan pada bagian awal bahwa Yesus Kristus adalah Imam Agung yang luar biasa. Karena, Ia telah naik ke surga dan duduk di sebelah kanan Allah Bapa, memahami segala kelemahan manusia dan merasakan segala cobaan serta keinginan mereka.
Datanglah kepada Yesus Kristus karena Ia telah membuka jalan bagi kita untuk pergi ke takhta Allah dengan keyakinan. Menurut penulis Ibrani, Yesus Kristus adalah Imam Agung yang penuh kasih sayang dan belas kasihan serta tidak menuntut kepatuhan yang tak manusiawi. Sebaliknya, Yesus benar-benar memahami semua kelemahan dan kekurangan kita. Kita diajak untuk datang kepada Yesus Kristus sebagai Imam Agung yang sempurna. Patutlah bila kita datang kepada-Nya dengan penuh keyakinan dan memohon belas kasihan dan pertolongan-Nya. Karena, Ia memahami segala kelemahan dan kekurangan kita serta memohon belas kasih-Nya dan pertolongan-Nya.
Yohanes 18:12-27 menyeritakan penangkapan Yesus di taman
Getsemani dan penyangkalan Petrus. Petrus terus mengikuti Yesus dari kejauhan dan tertangkap. Seperti yang telah disebutkan Yesus, Petrus menolak dan membantahnya tiga kali saat ditanyai mengenai kedekatannya dengan Yesus. Ia menangis menyesal saat menyadari pengkhianatannya saat ayam berkokok. Peristiwa tersebut menunjukkan betapa mudahnya seseorang meninggalkan imannya meskipun telah berkomitmen untuk setia. Pengalaman Petrus juga menunjukkan betapa pentingnya iman kita harus setia dan berani, bahkan ketika kita menghadapi tantangan yang besar. Namun, kasih karunia Allah selalu tersedia bagi mereka yang bertobat dan berbalik kepada-Nya. Kisah ini menunjukkan betapa mudahnya manusia tergoda untuk menolak atau menentang iman mereka dalam situasi yang sulit. Namun, hal itu juga menunjukkan bahwa Tuhan selalu memberi kita kesempatan untuk bertobat.
Korelasi
Tema yang saling terkait dalam keempat bacaan Alkitab di atas adalah penderitaan dan pengorbanan Mesias untuk menebus umat manusia. Dalam Mazmur 22 dan Yesaya 52:13-53:12, penebusan yang diselenggarakan di Yesus Kristus sebagai Imam Besar. Dalam Yohanes 18:12-27, Petrus menyangkal Yesus pada malam pengadilan-Nya. Ringkasnya, bahkan dosa terbesar manusia lebih besar dari kasih karunia Allah.
Pokok-pokok Pengembangan Khotbah
1. Umat beriman diajak untuk mencari pertolongan hanya dari Tuhan dalam segala kesulitan dan ketakutan, seperti yang dilakukan Raja Daud. Tidak ada pilihan lain.
2. Melalui iman kepada Yesus Kristus, kita dapat hidup dalam persekutuan dengan Allah. Oleh karena itu, mengingat penderitaan dan penebusan Mesias memungkinkan kita untuk hidup dalam persekutuan dengan Allah.
3. Yesus Kristus sebagai Imam Besar yang penuh belas kasihan dan memahami kelemahan umat-Nya. Kita diundang untuk datang kepada-Nya dengan penuh keyakinan dan memohon pertolongan dalam berbagai situasi kehidupan. Karena kabar baiknya adalah: melalui penderitaan, luka, dan rasa sakit yang ditanggung-Nya, maka kita dipulihkan.
4. Tetaplah setia dan berani dalam iman, walaupun dihadapkan pada tantangan yang besar, dan ingatlah bahwa kasih karunia Allah selalu ada bagi mereka yang bertobat. Setiap orang percaya perlu untuk belajar memperkuat iman dalam menghadapi cobaan dan penderitaan, serta untuk senantiasa kembali kepada Tuhan ketika tersesat atau mengalami kegagalan
Sumber: Buku Membangun Jemaat 2024 oleh BPS Gereja Toraja
Baca Juga: 35 Quotes Jumat Agung sebagai Refleksi Pengorbanan Yesus Kristus
(NSF)
