Konten dari Pengguna

2 Khutbah Jumat di Penghujung Bulan Ramadhan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi khutbah Jumat di penghujung bulan Ramadhan. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi khutbah Jumat di penghujung bulan Ramadhan. Foto: Unsplash

Khutbah Jumat di penghujung bulan Ramadhan bisa mengangkat tema zakat fitrah. Sebagaimana diketahui, zakat fitrah wajib ditunaikan oleh umat Muslim sebelum waktu salat Idulfitri tiba.

Melalui khutbah ini, khatib dapat mendorong kesadaran jemaah untuk segera menunaikan kewajiban tersebut. Selain itu, khatib juga dapat menguraikan keutamaan dan hikmah zakat fitrah.

Agar pesan tersampaikan dengan baik, materi khutbah perlu disusun dengan bahasa yang jelas dan mudah dipahami. Bagi yang butuh referensi, simak contoh materi khutbah Jumat di penghujung bulan Ramadhan tentang zakat fitrah berikut ini!

Contoh Khutbah Jumat di Penghujung Bulan Ramadhan

Ilustrasi khutbah Jumat di penghujung bulan Ramadhan. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Berikut contoh materi khutbah Jumat di penghujung bulan Ramadhan yang mengangkat tema zakat fitrah:

1. Logika Menunaikan Zakat Fitrah

Khutbah I

لْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ رَسُولِهِ الْـمُصْطَفَى، وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى، أَمَّا بَعْدُ

Hadirin yang dimuliakan Allah

Zakat merupakan ajaran Islam, bahkan menjadi salah satu pilar keislaman, yang sudah tidak asing terdengar dasar perintahnya baik dalam Al-Qur'an maupun hadis. Kemanfaatan yang ditimbulkan zakat pun sudah banyak disinggung melalui banyak kajian atau tulisan baik itu manfaat terhadap diri sendiri maupun terhadap penerimanya.

Berbagai alasan dan dasar hukum yang sudah tersebar luas seharusnya sudah menjadi dasar bagi seseorang untuk melaksanakannya. Namun, masih banyak orang yang mengabaikan perintah zakat dikarenakan ego pribadi dan terkadang dikarenakan logika berpikir yang salah.

Mengapa kita perlu berzakat? Paling tidak berikut ini 3 alasan logisnya sesuai dalil naqli.

Jemaah yang dimuliakan Allah

Pertama, adanya peran Allah. Setiap usaha atau bisnis yang dilakukan manusia dengan tujuan memperoleh keuntungan, pastinya membutuhkan modal. Dasar logika manusia hanya memahami modal mumi berasal dari usahanya, namun pada dasarnya seluruh modal dan bahan baku yang diolah sebenarnya berasal dari bahan yang dipersiapkan oleh Allah.

Seluruh kekayaan yang didapatkan, terdapat peran Allah. Bukankah sewajarnya, jika pemilik modal meminta separuh bagian dari pengelola modal? Tetapi Allah tidaklah meminta banyak dalam syariat zakat, karena Allah sangatlah mengenal hamba yang begitu dicintai-Nya.

Jemaah yang dirahmati Allah

Kedua, keterlibatan pihak lain. Sebagaimana peran Allah di dalam menyediakan seluruh kebutuhan untuk diolah, terdapat juga peran orang lain di balik kesuksesan banyaknya harta yang telah diperoleh.

Dapat dipastikan terdapat banyak pihak yang terlibat, misalnya untuk penjual maka akan membutuhkan pembeli, distributor, pemasok, bahkan tukang parkir.

Selain itu, pasti terdapat banyak pihak yang tidak bersentuhan langsung terhadap kesuksesan, seperti terciptanya keamanan sehingga dengan nyaman berniaga, terciptanya fasilitas publik yang tersedia dengan baik, dan sebagainya Keterlibatan pihak lain ini pasti tercipta dan tidak akan bisa terpisah dari kehidupan manusia sebagai makhluk sosial.

Adanya keterlibatan banyak pihak ini sangatlah wajar jika diberikan "bagi hasil" dari kekayaan yang diperoleh, selain melalui pajak tentunya, maka zakat pun wajar dibayarkan. Karena fungsi lain di balik zakat juga mempunyai fungsi penjaga stabilitas ekonomi, dimana zakat dapat menghilangkan adanya macetnya distribusi kekayaan yang hanya akan dimiliki sebagian kecil masyarakat sehingga sistem keuangan pun berhenti dan kemiskinan semakin merajalela.

Melihat dari kacamata lain pun, zakat dapat bermanfaat sebagai penyumbang terjadinya keamanan suatu negara dengan hilangnya potensi permusuhan dan konflik yang mungkin terjadi.

Hadirin yang diberkahi Allah

Ketiga, spirit persaudaraan. Seorang muslim dan muslim lainnya merupakan saudara yang telah dinash oleh Al-Qur'an maupun hadis.

Sebagai sesama muslim bukanlah wajar jika membantu saudaranya, bahkan tanpa menunggu meminta saat kesusahan. Jika seorang saudara "terbengkalai" hidupnya bukankah menjadi tanggung jawab saudaranya, dan meruntuhkan "bangunan" agama Islam sendiri.

Terlebih, jika dalam hari raya, dimana sewajarnya dirayakan dengan gembira, namun di sisi lain terdapat saudara yang merasakan kesedihan dan meratapi kehidupannya.

Anjuran ini muncul dikarenakan tidak wajarnya seseorang meminta-minta untuk kebutuhan hidupnya di hari raya, maka wajar diwajibkannya zakat fitrah bagi setiap orang baik kaya maupun tidak selagi mempunyai kelebihan makan walau sehari semalam untuk mereka yang membutuhkan.

Karena zakat fitrah merupakan lambang kesediaan kita memberi hidup kepada seseorang, seakan-akan memberikan jaminan untuk kehidupannya esok hari.

Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى

وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Sumber: Syiar Ramadan Perekat Persaudaraan: Materi Kuliah dan Khutbah di Masjid dan Musala Selama Ramadan oleh Tim Layanan Syariah Kementrian Agama RI

2. Menunaikan Zakat Fitrah

Khutbah I

لْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ رَسُولِهِ الْـمُصْطَفَى، وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى، أَمَّا بَعْدُ

Ibnu Abbas r.a. berkata, "Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri untuk mensucikan orang yang berpuasa dari perkara yang sia-sia dan perkataan kotor, sekaligus untuk memberikan makan orang-orang miskin." (HR. Abu Daud)

Zakat fitrah ini hukumnya wajib. Sebagai hadis yang disampaikan oleh Ibu Umar r.a., "Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri dengan satu sho’ kurma atau satu sho’ gandum bagi setiap muslim yang merdeka maupun yang budak, laki-laki maupun perempuan, anak kecil maupun dewasa." (HR. An Nasai)

Mereka yang wajib berzakat fitrah adalah muslim dan mampu mengeluarkan zakat fitrah, yakni memiliki kelebihan makanan untuk diri dan keluarganya pada malam dan siang hari Ied.

Nabi SAW bersabda, "Barangsiapa meminta dan padanya terdapat sesuatu yang mencukupinya, maka seseungguhnya dia telah mengumpulkan bara api.” Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana ukuran mencukupi? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Seukuran makanan yang mengenyangkan sehari-semalam.” (HR. Abu Daud)

Adapun harta yang dikeluarkan adalah makanan pokok di negeri masing-masing, kalau di negeri kita sebanyak (+/-) 2,5 kg beras. Ini pandangan jumhur (mayoritas) imam madzhab seperti Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hambal. Mereka menolak pembayaran zakat fitrah dengan nilai harganya (uang), karena hal itu dianggap bertentangan dengan sunnah Nabi (lihat: hadits An-Nasai di atas).

Namun para imam besar sejak masa salaf pun tidak sedikit yang membolehkan dengan uang. Seperti Imam Abu Hanifah, beliau menyatakan bolehnya zakat fitrah dengan uang.

Ini juga pendapat Imam Sufyan Ats Tsauri, Imam ‘Atha, Imam Al Hasan Al Bashri, Imam Bukhari, Imam Muslim, dan juga sahabat Nabi, seperti Muawiyah radhiallahu ‘anhu dan Mughirah bin Syu’bah radhiallahu ‘anhu, membolehkannya dengan nilainya, sebab yang menjadi prinsip adalah terpenuhi kebutuhan fakir miskin pada hari raya dan agar mereka tidak meminta-minta pada hari itu.

Sebagaimana hadits dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mewajibkan zakat fithri, beliau bersabda: “Penuhilah kebutuhan mereka pada hari ini.” (H.R. Ad Daruquthni, 2/152)

Ini juga menjadi pendapat Al-Hasan Al-Bashri, Umar bin Abdul Aziz, Imam Abul Hasan Al-Mawardi, Imam Badruddin Al-‘Aini, dan lain-lain.

Sedangkan Al-Hasan, Imam Abur Rabi’ Sulaiman bin Abdil Qawi, Imam Zainuddin Abu Abdillah Ar-Razi, dan Yusuf Al-Qaradhawi membolehkannya.

Dalam konteks zakat peternakan Ibnu Taimiyah membolehkan membayarkannya dengan uang jika itu lebih membawa maslahat, jika tidak ada maslahat, maka tidak boleh menggunakan uang.

Lebih lanjut, para ahli fiqih berbeda pendapat tentang objek penerima zakat fitrah, menjadi tiga kelompok:

Pertama, Pendapat jumhur ulama bahwasanya dibolehkan pembagian zakat fitrah sama seperti Pembagian zakat mal (yaitu kepada delapan asnaf).

Kedua, Adapun Malikiyah dan satu riwayat dari Imam Ahmad, dan dipilih oleh Ibnu Taimiyah bahwasanya zakat fitrah dikhususkan penyalurannya khusus untuk fakir dan miskin.

Ketiga, Sedangkan Syafi’iyah mengatakan bahwa pembagian zakat fitrah wajib kepada delapan asnaf atau seadanya yang mereka temui dari mereka. (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 23/344)

Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى

وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Sumber: 30 Materi Ceramah Ramadhan oleh M. Indra Kurniawan

Menjelang Lebaran, tradisi mudik kembali menjadi perjalanan yang penuh makna untuk pulang dan berkumpul bersama keluarga. Melalui semangat #KebaikanBersama, kumparan menghadirkan beragam informasi seputar mudik, dari kondisi rute perjalanan, tips mudik, hingga rekomendasi kuliner khas daerah.

Temukan info selengkapnya di kum.pr/mudik2026

Baca Juga: 2 Khutbah Idul Fitri Sedih tentang Anak Yatim yang Menginspirasi

(NSF)