Konten dari Pengguna

25 Puisi karya Chairil Anwar Terbaik Sepanjang Masa

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 10 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada banyak puisi karya Chairil Anwar. Chairil Anwar adalah seorang penyair yang sangat terkenal di Indonesia. Foto: Pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Ada banyak puisi karya Chairil Anwar. Chairil Anwar adalah seorang penyair yang sangat terkenal di Indonesia. Foto: Pexels.com

Daftar isi

Ada banyak puisi karya Chairil Anwar. Chairil Anwar sendiri adalah seorang penyair yang sangat terkenal di Indonesia.

Chairil Anwar telah melahirkan begitu banyak karya puisi yang ternama. Salah satu puisi karya Chairil Anwar yang terkenal adalah "Aku".

Selain puisi "Aku", masih banyak puisi karya Chairil Anwar lainnya. Di bawah ini terdapat kumpulan puisi karya Chairil Anwar. Mari simak bersama!

Siapakah Chairil Anwar?

Chairil Anwar adalah seorang penyair terkemuka Indonesia yang lahir pada tanggal 26 Juli 1922 di Medan. Foto: Pexels.com

Chairil Anwar adalah seorang penyair terkemuka Indonesia yang lahir pada tanggal 26 Juli 1922 di Medan, dan meninggal pada tanggal 28 April 1949 di Jakarta, Indonesia.

Ia dikenal sebagai pelopor Angkatan '45 dalam sastra Indonesia dan dijuluki sebagai "Si Binatang Jalang" dari karyanya yang berjudul "Aku".

Chairil Anwar memiliki keluarga yang terkait dengan tokoh-tokoh penting di Indonesia, seperti mantan Bupati Indragiri Riau dan Perdana Menteri pertama Indonesia, Sutan Syahrir.

Karya-karyanya yang terkenal sering mengangkat tema cinta, kematian, dan eksistensialisme. Beberapa karya puisinya yang terkenal antara lain "Aku", "Krawang-Bekasi", dan "Sajak Putih".

Karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Jerman, dan Spanyol.

Chairil Anwar juga dikenal sebagai penyair yang memperkenalkan kosakata sehari-hari ke dalam karya sastra, sehingga bahasa dan sastra Indonesia menjadi lebih bebas dan lepas dari patokan bahasa Melayu yang baku.

Hari meninggalnya, yaitu tanggal 28 April, diperingati sebagai Hari Chairil Anwar oleh para pengagumnya.

Baca Juga: 3 Puisi Hari Halloween Singkat dalam Bahasa Inggris dan Artinya

Kumpulan Puisi karya Chairil Anwar

Ilustrasi kumpulan puisi karya Chairil Anwar. Foto: Pexels.com

Berikut ini adalah kumpulan puisi karya Chairil Anwar yang terkenal:

1. Nisan

untuk nenekanda

Bukan kematian benar menusuk kalbu

Keridlaanmu menerima segala tiba

Tak kutahu setinggi itu atas debu

dan duka maha tuan bertakhta.

Oktober 1942

2. Penghidupan

Lautan maha dalam

mukul dentur selama

nguji tenaga pematang kita

mukul dentur selama

hingga hancur remuk redam

Kurnia Bahgia

kecil setumpuk

sia-sia dilindung, sia-sia dipupuk.

Desember 1942

3. Diponegoro

Di masa pembangunan ini

tuan hidup kembali

Dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali tuan menanti

Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.

Pedang di kanan, keris di kiri

Berselempang semangat yang tak bisa mati.

MAJU

Ini barisan tak bergenderang-berpalu

Kepercayaan tanda menyerbu.

Sekali berarti

Sudah itu mati.

MAJU

Bagimu Negeri

Menyediakan api.

Punah di atas menghamba

Binasa di atas ditinda

Sungguhpun dalam ajal baru tercapai

Jika hidup harus merasai.

Maju.

Serbu.

Serang.

Terjang.

Februari 1943

4. Tak Sepadan

Aku kira:

Beginilah nanti jadinya

Kau kawin, beranak dan berbahgia

Sedang aku mengembara serupa Ahasvéros.

Dikutuk-sumpahi Eros

Aku merangkaki dinding buta

Tak satu juga pintu terbuka.

Jadi baik juga kita padami

Unggunan api ini

Karena kau tidak ‘kan apa-apa

Aku terpanggang tinggal rangka.

Februari 1943

5. Sia-sia

Penghabisan kali itu kau datang

membawa karangan kembang

Mawar merah dan melati putih:

darah dan suci.

Kau tebarkan depanku

serta pandang yang memastikan: Untukmu.

Sudah itu kita sama termangu

Saling bertanya: Apakah ini?

Cinta? Keduanya tak mengerti.

Sehari itu kita bersama. Tak hampir-menghampiri.

Ah! Hatiku yang tak mau memberi

Mampus kau dikoyak-koyak sepi.

Februari 1943

6. Ajakan

Ida

Menembus sudah caya

Udara tebal kabut

Kaca hitam lumut

Pecah pencar sekarang

Di ruang legah lapang

Mari ria lagi

Tujuh belas tahun kembali

Bersepeda sama gandengan

Kita jalani ini jalan

Ria bahgia

Tak acuh apa-apa

Gembira-girang

Biar hujan datang

Kita mandi-basahkan diri

Tahu pasti sebentar kering lagi.

Februari 1943

7. Sendiri

Hidupnya tambah sepi, tambah hampa

Malam apa lagi

la memekik ngeri

Dicekik kesunyian kamarnya

la membenci. Dirinya dari segala

Yang minta perempuan untuk kawannya

Bahaya dari tiap sudut. Mendekat juga

Dalam ketakutan-menanti ia menyebut satu nama

Terkejut ia terduduk. Siapa memanggil itu?

Ah! Lemah lesu ia tersedu: Ibu! Ibu!

Februari 1943

8. Pelarian

Ilustrasi puisi karya Chairil Anwar. Foto: Pexels.com

I

Tak tertahan lagi

remang miang sengketa di sini

Dalam lari

Dihempaskannya pintu keras tak berhingga.

Hancur-luluh sepi seketika

Dan paduan dua jiwa.

II

Dari kelam ke malam

Tertawa-meringis malam menerimanya

Ini batu baru tercampung dalam gelita

“Mau apa? Rayu dan pelupa,

Aku ada! Pilih saja!

Bujuk dibeli?

Atau sungai sunyi?

Mari! Mari!

Turut saja!”

Tak kuasa — terengkam

la dicengkam malam.

Februari 1943

Baca Juga: 5 Contoh Puisi Sumpah Pemuda yang Menginspirasi

9. Suara Malam

Dunia badai dan topan

Manusia mengingatkan “Kebakaran di Hutan”*

Jadi ke mana

Untuk damai dan reda?

Mati.

Barang kali ini diam kaku saja

dengan ketenangan selama bersatu

mengatasi suka dan duka

kekebalan terhadap debu dan nafsu.

Berbaring tak sedar

Seperti kapal pecah di dasar lautan

jemu dipukul ombak besar.

Atau ini.

Peleburan dalam Tiada

dan sekali akan menghadap cahaya.

.......................................................

Ya Allah! Badanku terbakar — segala samar.

Aku sudah melewati batas.

Kembali? Pintu tertutup dengan keras.

Februari 1943

10. Aku

Kalau sampai waktuku

‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu

Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang

Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku

Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari

Berlari

Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Maret 1943

11. Semangat

Kalau sampai waktuku

kutahu tak seorang ‘kan merayu

Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu!

Aku ini binatang jalang

Dari kumpulan terbuang

Biar peluru menembus kulitku

Aku tetap meradang-menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari

Berlari

Hingga hilang pedih dan peri.

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi.

Maret 1943

12. Di Mesjid

Kuseru saja Dia

Sehingga datang juga

Kami pun bermuka-muka.

Seterusnya Ia bernyala-nyala dalam dada.

Segala daya memadamkannya

Bersimpah peluh diri yang tak bisa diperkuda

Ini ruang

Gelanggang kami berperang

Binasa-membinasa

Satu menista lain gila.

29 Mei 1943

13. Kawanku dan Aku

kepada L.K. Bohang

Kami jalan sama. Sudah larut

Menembus kabut.

Hujan mengucur badan.

Berkakuan kapal-kapal di pelabuhan.

Darahku mengental-pekat. Aku tumpat-pedat.

Siapa berkata?

Kawanku hanya rangka saja

Karena dera mengelucak tenaga.

Dia bertanya jam berapa!

Sudah larut sekali

Hingga hilang segala makna

Dan gerak tak punya arti

5 Juni 1943

14. Dendam

Berdiri tersentak

Dari mimpi aku bengis dielak

Aku tegak

Bulan bersinar sedikit tak nampak

Tangan meraba ke bawah bantalku

Keris berkarat kugenggam di hulu

Bulan bersinar sedikit tak nampak

Aku mencari

Mendadak mati kuhendak berbekas di jari

Aku mencari

Diri tercerai dari hati

Bulan bersinar sedikit tak tampak

13 Juli 1943

15. Merdeka

Aku mau bebas dari segala

Merdeka

Juga dari Ida

Pernah

Aku percaya pada sumpah dan cinta

Menjadi sumsum dan darah

Seharian kukunyah-kumamah

Sedang meradang

Segala kurenggut

Ikut bayang

Tapi kini

Hidupku terlalu tenang

Selama tidak antara badai

Kalah menang

Ah! Jiwa yang menggapai-gapai

Mengapa kalau beranjak dari sini

Kucoba dalam mati.

14 Juli 1943

16. 1943

Ilustrasi puisi karya Chairil Anwar. Foto: Pexels.com

Racun berada di reguk pertama

Membusuk rabu terasa di dada

Tenggelam darah dalam nanah

Malam kelam-membelam

Jalan kaku-lurus. Putus

Candu.

Tumbang

Tanganku menadah patah

Luluh

Terbenam

Hilang

Lumpuh.

Lahir

Tegak

Berderak

Rubuh

Runtuh

Mengaum. Mengguruh

Menentang. Menyerang

Kuning

Merah

Hitam

Kering

Tandas

Rata

Rata

Rata

Dunia

Kau

Aku

Terpaku.

1943.

Baca Juga: 7 Contoh Puisi Mantra dalam Sastra Indonesia

17. Isa

kepada nasrani sejati

Itu Tubuh

mengucur darah

mengucur darah

rubuh

patah

mendampar tanya: aku salah?

kulihat Tubuh mengucur darah

aku berkaca dalam darah

terbayang terang di mata masa

bertukar rupa ini segara

mengatup luka

aku bersuka

Itu Tubuh

mengucur darah

mengucur darah

12 November 1943

18. Doa

kepada pemeluk teguh

Tuhanku

Dalam termangu

Aku masih menyebut namaMu

Biar susah sungguh

mengingat Kau penuh seluruh

cayaMu panas suci

tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Tuhanku

aku hilang bentuk

remuk

Tuhanku

aku mengembara di negeri asing

Tuhanku

di pintuMu aku mengetuk

aku tidak bisa berpaling

13 November 1943

19. Sajak Putih

buat tunanganku Mirat

bersandar pada tari warna pelangi

kau depanku bertudung sutra senja

di hitam matamu kembang mawar dan melati

harum rambutmu mengalun bergelut senda

sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba

meriak muka air kolam jiwa

dan dalam dadaku memerdu lagu

menarik menari seluruh aku

hidup dari hidupku, pintu terbuka

selama matamu bagiku menengadah

selama kau darah mengalir dari luka

antara kita Mati datang tidak membelah...

Buat Miratku, Ratuku! kubentuk dunia sendiri,

dan kuberi jiwa segala yang dikira orang mati di alam ini!

Kucuplah aku terus, kucuplah

dan semburkanlah tenaga dan hidup dalam tubuhku...

18 Januari 1944

20. Siap-sedia

kepada angkatanku

Tanganmu nanti tegang kaku,

Jantungmu nanti berdebar berhenti,

Tubuhmu nanti mengeras batu,

Tapi kami sederap mengganti,

Terus memahat ini Tugu,

Matamu nanti kaca saja,

Mulutmu nanti habis bicara,

Darahmu nanti mengalir berhenti,

Tapi kami sederap mengganti,

Terus berdaya ke Masyarakat Jaya.

Suaramu nanti diam ditekan,

Namamu nanti terbang hilang,

Langkahmu nanti enggan ke depan,

Tapi kami sederap mengganti,

Bersatu maju, ke Kemenangan.

Darah kami panas selama,

Badan kami tertempa baja,

Jiwa kami gagah perkasa,

Kami akan mewarna di angkasa,

Kami pembawa ke Bahgia nyata.

Kawan, kawan

Menepis segar angin terasa

Lalu menderu menyapu awan

Terus menembus surya cahaya

Memancar pencar ke penjuru segala

Riang menggelombang sawah dan hutan.

Segala menyala-nyala!

Segala menyala-nyala!

Kawan, kawan

Dan kita bangkit dengan kesedaran

Mencucuk menerang hingga belulang.

Kawan, kawan

Kita mengayun pedang ke Dunia Terang!

1944

21. Kepada Penyair Bohang

Suaramu bertanda derita laut tenang...

Si Mati ini padaku masih berbicara

Karena dia cinta, di mulutnya membusah

Dan rindu yang mau memerahi segala

Si Mati ini matanya terus bertanya!

Kelana tidak bersejarah

Berjalan kau terus!

Sehingga tidak gelisah

Begitu berlumuran darah.

Dan duka juga menengadah

Melihat gayamu melangkah

Mendayu suara patah:

“Aku saksi!”

Bohang,

Jauh di dasar jiwamu

bertampuk suatu dunia;

menguyup rintik satu-satu

Kaca dari dirimu pula....

1945

22. Sebuah Kamar

Ilustrasi puisi karya Chairil Anwar. Foto: Pexels.com

Sebuah jendela menyerahkan kamar ini

pada dunia. Bulan yang menyinar ke dalam

mau lebih banyak tahu.

“Sudah lima anak bernyawa di sini,

Aku salah satu!”

Ibuku tertidur dalam tersedu,

Keramaian penjara sepi selalu,

Bapakku sendiri terbaring jemu

Matanya menatap orang tersalib di batu!

Sekeliling dunia bunuh diri!

Aku minta adik lagi pada

Ibu dan bapakku, karena mereka berada

di luar hitungan: Kamar begini,

3 x 4 m, terlalu sempit buat meniup nyawa!

1946

Baca Juga: 4 Contoh Puisi Bebas dengan Berbagai Tema

23. Buat Gadis Rasid

Antara

daun-daun hijau

padang lapang dan terang

anak-anak kecil tidak bersalah, baru bisa lari-larian

burung-burung merdu

hujan segar dan menyebar

bangsa muda menjadi, baru bisa bilang “aku”

Dan

angin tajam kering, tanah semata gersang

pasir bangkit mentanduskan, daerah dikosongi

Kita terapit, cintaku

— mengecil diri, kadang bisa mengisar setapak

Mari kita lepas, kita lepas jiwa mencari jadi merpati

Terbang

mengenali gurun, sonder ketemu, sonder mendarat

— the only possible non-stop flight

Tidak mendapat.

1948

24. Kepada Kawan

Sebelum Ajal mendekat dan mengkhianat,

mencengkam dari belakang ‘tika kita tidak melihat,

selama masih menggelombang dalam dada darah serta rasa,

belum bertugas kecewa dan gentar belum ada,

tidak lupa tiba-tiba bisa malam membenam,

layar merah terkibar hilang dalam kelam,

kawan, mari kita putuskan kini di sini:

Ajal yang menarik kita, juga mencekik diri sendiri!

Jadi

Isi gelas sepenuhnya lantas kosongkan,

Tembus jelajah dunia ini dan balikkan

Peluk kucup perempuan, tinggalkan kalau merayu,

Pilih kuda yang paling liar, pacu laju,

Jangan tambatkan pada siang dan malam

Dan

Hancurkan lagi apa yang kau perbuat,

Hilang sonder pusaka, sonder kerabat.

Tidak minta ampun atas segala dosa,

Tidak memberi pamit pada siapa saja!

Jadi

mari kita putuskan sekali lagi:

Ajal yang menarik kita, ‘kan merasa angkasa sepi,

Sekali lagi kawan, sebaris lagi:

Tikamkan pedangmu hingga ke hulu

Pada siapa yang mengairi kemurnian madu!!!

30 November 1946

25. Krawang-Bkekasi

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi

tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.

Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,

terbayang kami maju dan berdegap hati?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi

Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.

Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa

Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa

Kami sudah beri kami punya jiwa

Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan

arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan

Tapi adalah kepunyaanmu

Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang

berserakan

Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan

kemenangan dan harapan

atau tidak untuk apa-apa,

Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata

Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi

Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami

Teruskan, teruskan jiwa kami

Menjaga Bung Karno

menjaga Bung Hatta

menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat

Berilah kami arti

Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami

yang tinggal tulang-tulang diliputi debu

Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi.

1948

Itulah kumpulan puisi karya Chairil Anwar. Karya-karyanya yang begitu indah membuat Chairil Anwar menjadi salah satu penyair terbaik di negeri ini.

(SAI)