Konten dari Pengguna

3 Cara Menulis Angka Romawi dengan Baik dan Benar

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 1 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi cara menulis angka romawi. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi cara menulis angka romawi. Foto: Unsplash

Bilangan atau angka Romawi adalah sistem penomoran yang berasal dari bangsa Romawi kuno. Sistem ini memakai huruf latin untuk melambangkan angka numerik dan sekarang ini umum digunakan untuk menulis bilangan tingkat, bab buku, penomoran seri event olahraga, dan lain-lain.

Selain itu, angka Romawi kini telah menjadi salah satu penulisan angka yang telah diatur dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Melalui pedoman ini, diharapkan dapat mengakomodasi perkembangan bahasa Indonesia yang semakin pesat karena kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.

Berikut beberapa contoh penulisan angka Romawi yang sesuai dengan PUEBI:

I = 1

V = 5

X = 10

L = 50

C = 100

D = 500

M = 1000

Penulisan bilangan Romawi didasarkan pada sistem pengulangan, penjumlahan, dan pengurangan. Dijelaskan dalam buku Literasi Numerasi untuk Sekolah Dasar terbitan UMM Press, cara mudah menulis angka romawi adalah dimulai angka ribuan terlebih dahulu, dilanjutkan dengan ratusan, puluhan, serta satuan.

Untuk lebih jelasnya, simak penjabaran berikut ini.

Ilustrasi cara menulis angka romawi. Foto: Unsplash

Cara Menulis Angka Romawi

Sebelum menulis menggunakan sistem ini, Anda harus memperhatikan terlebih dahulu rumus dalam menulis angka Romawi. Merangkum buku Pintar SD Kelas 4 Semester 2 karangan Tim Pintar, berikut tiga rumus dalam menulis dan membaca angka Romawi:

  • Angka yang sama ditulis dua atau tiga kali, mempunyai nilai kelipatan tersebut. Contoh: XX = 20, XXX = 30, CC = 200, CCC = 300.

  • Jika angka bilangan kecil diletakkan sebelum angka besar akan memberikan nilai kurang (-). Contoh: IV = 4, angka yang terbaca 4 itu adalah dari 5-1 dan XC = 90, angka yang terbaca 90 itu berasal dari 100-10.

  • Jika angka bilangan kecil diletakkan setelah angka bilangan besar akan memberikan nilai tambah (+). Contoh: VI = 6, angka yang terbaca itu dari 5+1 dan LXX = 70, angka yang terbaca 70 berasal dari 50+10+10.

Untuk menguasai sepenuhnya cara menulis angka Romawi dari terkecil hingga angka yang besar, perlu menggunakan tiga macam cara yaitu, pengulangan, pengurangan, dan penjumlahan. Menukil buku Ajar Farmasetika yang diterbitkan oleh Penerbit Lakeisha, berikut caranya:

1. Cara Mengulang

  • Mengulang berarti mempunyai banyak nilai. Banyaknya tergantung seberapa kali pengulangan. Jika diulang sebanyak 3 kali berarti jumlai nilai 2 kali lipat lebih banyak. Contoh:

X = 10

XX = 20 (diulang sebanyak 2 kali)

CCC = 300 (diulang sebanyak 3 kali)

  • Mengulang tidak boleh lebih dari tiga kali. Contoh:

III = 3

Jika menulis 4, bukan IIII, tetapi IV (5-1)

  • Mengulang tidak berlaku untuk angka V, L, D. Jika angka dasar ini diulang sebanyak dua kali saja, hal ini dianggap salah. Contoh:

VV = 10, sedangkan 10 mempunyai angka dasar X. Begitu juga mengulang sampai 3 kali, misalnya menulis 15 tidak boleh VVV, tetapi angka 5 dihitung 2 kali menjadi 10 = X, kemudian ditambah angka V = 5, menjadi XV = 15.

Ilustrasi cara menulis angka romawi. Foto: Unsplash

2. Cara Menambah

  • Mencari angka dasar yang lebih dekat dan lebih besar. Contoh:

Angka 6, maka ditulis angka 5+1 = VI.

  • Angka yang ditambahkan harus diletakkan di belakang angka. Contoh:

Angka VI = 6, di sini angka dasar yang ditambah adalah V dan angka dasar yang ditambahkan adalah I.

  • Untuk angka-angka dasar seperti I, X, C, M, boleh ditambahkan atau diulangi sebanyak 3 kali. Contoh:

Angka 80 (terdiri dari 50 +30). Pertama ditulis angka dasar L kemudian ditambah angka dasar X sebanyak 3 kali menjadi LXXX.

Sedangkan untuk angka 90, tidak boleh ditulis 50 + 40 (LXXXX), karena angka dasar tidak boleh diulang lebih dari 3 kali, maka ditulis (100-10) = XC.

  • Untuk angka-angka dasar seperti V, L, D, tidak boleh diulang atau ditambahkan lebih dari 1 kali. Contoh:

200 = CC (tidak boleh CLL), meskipun LL sama dengan 50 + 50 = 100. Jadi 200 bukan 100 + 50 + 50, tetapi 100 + 100 = CC

3. Cara Mengurang

  • Mencari angka dasar yang lebih dekat dan lebih besar. Contoh:

90, angka ini berada di antara 50 dan 100, dan yang lebih dekat adalah angka 100, maka harus ditulis XC (100-10).

  • Angka pengurangan harus diletakkan di depan angka yang dikurangi. Contoh:

Angka 9 = IX, di sini angka dasar yang dikurangi adalah X dan angka dasar pengurangan adalah I.

  • Angka dasar I hanya berlaku untuk mengurangi angka dasar V, dan X. Jadi hanya IV dan IX saja, dan tidak berlaku bagi angka L, C, D, dan M. Contoh:

Untuk membuat angka 49 bukan IL tetapi XLIX.

  • Angka dasar X hanya berlaku untuk mengurangi angka dasar L, dan C saja, tidak berlaku bagi angka D, dan M. Contoh:

Angka 490 bukan ditulis XD, tetapi CDXC.

  • Angka dasar V, L, D tidak berlaku untuk mengurangi. Contoh:

Angka 45 bukan ditulis dengan 50-1 = VL, tetapi 40 + 5 = XLV.

(IMR)