Konten dari Pengguna

3 Contoh Essay LPDP yang Inspiratif dan Efektif

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 11 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi peserta program beasiswa LPDP. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi peserta program beasiswa LPDP. Foto: Unsplash

Essay menjadi salah satu persyaratan yang harus disertakan dalam pendaftaran beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Dokumen ini berisi informasi pribadi pendaftar, mulai dari karakteristik hingga motivasi mereka mengajukan pendanaan.

Essay harus disampaikan singkat dan jelas, namun tetap mampu menggambarkan kepribadian serta potensi diri agar menarik perhatian panitia seleksi. Melalui essay, panitia akan menilai kualitas dan komitmen kandidat untuk menentukan kelayakan beasiswa.

Essay dalam beasiswa LPDP umumnya mengikuti beberapa ketentuan yang berlaku, seperti batas maksimal jumlah kata dan format file saat pengiriman. Untuk memudahkan proses penulisan, perhatikan beberapa contoh essay LPDP berikut sebagai referensi.

Contoh Essay LPDP

Ilustrasi contoh essay LPDP. Foto: Unsplash

Mengutip buku Indonesia 2045 oleh Mata Garuda, secara garis besar ada empat jenis essay yang harus ditulis pelamar LPDP, yaitu Kontribusiku bagi Indonesia, Sukses Terbesar dalam Hidupku, Rencana Studi, dan Essay On The Spot.

Sebagai bahan referensi, berikut adalah beberapa contoh essay LPDP yang inspiratif dan sesuai ketentuan:

Contoh Essay LPDP 1

Kesuksesan Terbesar Dalam Hidupku

Kesadaran untuk terus membangun diri adalah titik awal sebuah kesuksesan. Ketika kecil sempat merasakan tak ada listrik, tak memiliki kamar mandi, tak ada angkutan umum, membuat saya pernah mengalami perasaan inferior. Saya merasa sukses ketika saya keluar dari perasaan tersebut dan kini memiliki keinginan untuk membangun diri lebih jauh.

Sejak kecil di bangku sekolah saya selalu berusaha belajar dengan baik. Saya selalu peringkat pertama di Sekolah Dasar dan berusaha mempertahankan prestasi tersebut di SMP sehingga ketika lulus saya mendapat peringkat 4 secara paralel. Saya kira itu cukup. Namun, saat saya bersekolah di SMAN 1 Kebumen, saya sempat merasa rendah diri karena merasa hanya sedikit pelajaran yang saya kuasai. Teman-teman saya sangat berbakat, aktif dalam organisasi, kritis dalam berargumen, percaya diri saat berbicara di depan umum, serta menguasai bahasa Inggris dengan baik.

Mereka memiliki kualifikasi yang saat itu belum saya miliki. Saya mencoba mengatasi rasa rendah diri tersebut. Saya belajar dari kesalahan orang di sekitar yang hanya karena perasaan inferior mereka kehilangan banyak kesempatan.

Saya tidak mau mengulang kesalahan yang sudah dilakukan mereka sehingga saya bertekad untuk menjadi lebih percaya diri. Jarak rumah ke sekolah saya cukup jauh sehingga saya memutuskan untuk tinggal di kost yang dekat sekolah.

Awalnya tidak mudah hidup di kost tetapi justru itulah yang membuat saya belajar mandiri dan punya lebih banyak waktu di sekolah. Saya mulai ikut organisasi dan meningkatkan kemampuan bahasa Inggris. Saya mulai ikut organisasi dengan menjadi pengurus Palang Merah Remaja yang memungkinkan saya bertemu orang baru, menerima tamu, dan berkunjung ke sekolah lain membawa nama organisasi.

Untuk bahasa Inggris, saya mulai sering ke warnet untuk chatting dengan orang asing dan membaca ebook, kemudian mencatat kosakata yang tidak saya mengerti. Di saat yang sama, saya tetap harus mengikuti pelajaran agar bisa lulus dan masuk perguruan tinggi negeri. Alhamdulillah, dengan doa, usaha, dan dukungan dari banyak pihak, pada tahun 2010, saya lulus dan diterima di UNY dengan skor TOEFL tahun itu adalah 506.

Dengan itu, saya memulai babak baru dalam hidup saya. Hidup yang lebih percaya diri. Semasa kuliah, saya mencoba menggali potensi sebaik mungkin. Kuliah bagi saya bukan hanya kegiatan akademik tetapi juga kegiatan organisasi, hobi, dan pengalaman kerja. Saya berusaha mengikuti kuliah dengan baik. Standar acuannya adalah masa studi tepat waktu dan Indeks Prestasi yang baik, hasil dari keaktifan di kelas, tugas-tugas, dan ujian.

Selama tiga tahun berturut-turut saya juga menjadi penerima beasiswa untuk mahasiswa dengan performa akademik bagus, yaitu beasiswa Pengembangan Prestasi Akademik (PPA) dari UNY dan menjadi pengurus organisasi kampus seperti Himpunan Mahasiswa dan UKM Penelitian. Tahun 2011, saya aktif memimpin FORBI sebuah forum diskusi ilmiah membahas masalah sosial politik yang sedang terjadi di Indonesia saat itu. Diskusi tersebut dilakukan rutin dua mingguan dan telah memberi saya kesempatan untuk berlatih berdiskusi secara sehat, berpikir kritis, sekaligus lebih peka terhadap perkembangan bangsa.

Tahun 2012, saya berhasil menjadi pembicara perwakilan mahasiswa dalam Seminar Nasional bertema Inovasi Social Policy dalam Membangun Kesejahteraan Masyarakat yang Membumi", membawakan telaah kritis tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial. Saya juga sering terlibat dalam berbagai kepanitiaan kegiatan mahasiswa termasuk menjadi Ketua Panitia UNY Scientific Fair dalam rangka Dies Natalis ke-49 UNY yang mengundang mahasiswa se-Indonesia untuk mengikuti LK II tingkat nasional di UNY.

Dengan semua kegiatan tersebut, ada kalanya saya merasa penat dan saya melepaskannya dengan hobi. Saya menekuni hobi membaca dan menulis fiksi. Sejak tahun 2011 saya bergabung dengan komunitas menulis Writing Revolution dan pada 2012 menjadi koordinator bedah cerpen mingguan di komunitas tersebut. Beberapa karya saya yang dilombakan berhasil dimuat dalam beberapa antologi.

(Sumber: Unggahan Scribd berjudul Contoh Esai LPDP yang diunggah Ega Risma.)

Contoh Essay LPDP 2

Sukses, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti berhasil atau beruntung. Namun setiap orang bisa merumuskan sendiri apa makna sukses, tergantung pengalaman hidup dan bidang yang digelutinya. Thomas Alfa Edison yang berhasil mendapatkan ribuan hak paten dari kegagalan demi kegagalan, menyebut-kan bahwa sukses adalah 1% inspirasi dan 99% usaha. Sementara Winston Churchil, politikus Inggris yang hidup semasa era militer Hittler, merumuskan bahwa sukses adalah mengalami kegagalan tanpa kehilangan antusiasme. GC Ahmad Fuadi, melalui tokoh Alif dalam novel Rantau 1 Muara, menuliskan bahwa hakikat hidup adalah seni menjadi. Menjadi hamba Allah, sekaligus khalifah untuk kebaikan alam semesta. Saya sepakat, bahwa sukses sebetulnya adalah upaya menjadi hamba Allah yang baik, serta melakukan pencapaian yang dapat memotivasi diri kita untuk lebih bermanfaat bagi kehidupan.

Dalam Al-Qur'an surah Al-Mujaadilah: 11 disebutkan, orang yang beriman dan berilmu pengetahuan akan ditinggikan kedudukannya beberapa derajat. Ayat tersebut selalu menjadi landasan saya untuk menjadi pembelajar. Dan alhamdulillah, Allah memberikan kesuksesan atas kesungguhan saya menuntut ilmu, dengan meraih predikat juara kelas sejak SD hingga SMA. Capaian prestasi saya saat SMP, tidak saja di bidang akademik. Tahun 1996 saya dipilih sebagai kontingen Jambore Nasional dari Tuban. Sementara di SMA, beberapa kali saya menjuarai lomba pidato bahasa Inggris dari tingkat lokal hingga daerah.

Di bangku kuliah, capaian terbaik saya adalah ketika terpilih mendapatkan Beasiswa Penelitian untuk Penulis Perempuan se-Jawa Bali. Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sebagai penyelenggara kegiatan ini, memilih 10 pengaju proposal terbaik untuk dibimbing dalam melakukan riset dan menuliskannya dalam bentuk jurnal ilmiah. Dalam kegiatan ini, saya banyak mendapat asupan ilmu dari para dosen dan peneliti senior untuk mengkaji tentang Fenomena Islam liberal di Indonesia.

Masih di tahun yang sama, tahun 2003, saya mendapatkan kesempatan untuk melakukan minor research pada Pusat Studi Wanita UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dengan kajian tentang Poligami dan Keti-dakadilan. Sedangkan pada 2004, saya mendapatkan kesempatan untuk menjadi peserta International Workshop and Public Forum on Equality and Plurality yang diadakan oleh Centre for The Study of Religious and Socio-Cultural Diversity.

Saya menyelesaikan kuliah dalam 3 tahun 8 bulan, dengan IPK 3,52. Meski bukan sebagai yang terbaik, saya bersyukur karena orientasi saya bukanlah studi semata. Bisa dikatakan saya berhasil menerapkan moto "studi cepat, organisasi dapat, nilai hebat (cum-laude)".

Usai kuliah saya mengabdikan diri di tanah ke-lahiran, sambil menunggu waktu yang tepat untuk melanjutkan studi lagi.

Saya merasa sukses saat saya bisa bermanfaat bagi banyak orang. Seperti saat saya bergabung dalam kegiatan pendampingan program pelayanan masyarakat Keaksaraan Fungsional, Koperasi Wanita, dan Dasawisma. Di bidang pendidikan, saya berusaha menjadi guru yang visioner, kreatif, dan menginspirasi siswa, dengan memberikan keteladanan melalui sikap dan prestasi. Alhamdulillah, beberapa kali saya memenangkan kompetisi guru. Usaha untuk memudahkan proses belajar siswa dengan membuat alat peraga edukatif juga telah membawa saya menjadi juara Lomba Alat Peraga Edukatif berbahan daur ulang.

Di bidang jurnalistik dan kepenulisan, saya bergabung sebagai kontributor majalah sehingga saya dapat berbagi pengetahuan melalui tulisan saya. Selain itu, melalui Forum Lingkar Pena (FLP), saya melakukan kampanye membaca pada masyarakat luas, beberapa kali mengirimkan karya ke media cetak daerah, berpartisipasi dalam pameran sastra, serta menjadi narasumber diskusi kepenulisan di radio Pemerintah Kabupaten Tuban. Capaian saya yang sangat berarti lainnya adalah ketika saya mendapatkan kesempatan untuk melakukan eksplorasi ke Singapura bersama penulis buku terkenal, Gola Gong. Begitu banyak hal yang saya pelajari dari kunjungan singkat tersebut, membuat saya ingin lebih banyak belajar dari kota-kota besar negara lain di seluruh dunia, kemudian menerapkan sisi positifnya bagi kemajuan masyarakat.

Kesuksesan yang sudah saya raih tidak membuat saya puas atau berhenti. Ibarat menapaki anak tangga, saya masih di bawah, dan masih harus melangkah menuju pencapaian selanjutnya. Melanjutkan studi S-2 lalu S-3 bukan hanya berarti melanjutkan harapan yang tertunda, tetapi juga menjadi sarana belajar, menimba ilmu lebih dalam, untuk menjadi semakin bermanfaat bagi diri sendiri maupun masyarakat. Besar harapan saya bahwa beasiswa LPDP ini dapat membantu saya meraih kesuksesan selanjutnya, agar saya dapat memberikan lebih banyak kontribusi untuk bangsa dan negara Indonesia di masa depan.

(Sumber: Buku Awardee Story: Kisah dan Kiat dari Penerima Beasiswa LPDP karya Seng Hansen.)

Contoh Essay LPDP 3

Sukses Terbesar dalam Hidupku

Bagi saya kesuksesan seseorang itu tidak dapat diukur dari segi apapun karena kesuksesan itu sangat bersifat kualitatif. Jika menurut saya saat ini saya sudah mencapai kesuksesan, tetapi belum tentu sukses menurut teman-teman atau rekan kerja saya. Kesuksesan hanyalah penilaian yang diberikan oleh orang di sekitar kita terhadap apa yang sudah kita lakukan dan penilaian ini biasanya bersifat subjektif.

Dari sudut pandang saya kesuksesan itu sendiri sangat berkaitan dengan proses dan hasil akhir. Ini saya aplikasikan pada diri saya sendiri. Saya tidak pernah menargetkan agar apa yang saya lakukan dan saya rencanakan tersebut akan menjadi sukses, tetapi saya sangat menghargai proses. Begitu pula dengan hasil akhir, apapun itu hasilnya bagus atau jelek, benar atau salah menurut orang-orang disekitar, tetapi bagi saya proses dalam pengerjaan itu yang membuat kita sadar dimana letak kesalahan ataupun kelebihan kita, sehingga kita lebih termotivasi untuk mencoba lagi.

Sampai saat ini saya belum bisa menilai diri saya sendiri sudah cukup sukses atau belum. Karena menurut saya biarkan orang lain yang menilai saya sudah cukup sukses atau belum. Sejak saya duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) saya tidak pernah menargetkan diri saya untuk menjadi seorang dokter. Yang ada dalam benak saya saat itu hanyalah belajar dan apapun hasilnya akan saya terima.

Dari SD hingga SMA saya selalu mencari sekolah dengan kemampuan saya sendiri dan puji syukur saya selalu diterima di sekolah favorit di Denpasar dan saya selalu menduduki peringkat tiga besar di dalam kelas. Klimaksnya ketika saya melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi, saya diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana melalui jalur Penelusuran Minat Dan Kemampuan (PMDK). Saat itu keluarga saya bangga akan saya karena belum ada satupun dokter dari keluarga kami, baik dari pihak ibu ataupun ayah saya. Disaat itulah orang-orang disekitar saya dan keluarga terdekat saya menganggap bahwa kedua orang tua saya sudah sukses membesarkan saya hingga menjadi seorang mahasiswa kedokteran.

Belum selesai sampai disana, panjangnya masa studi di fakultas kedokteran tidak membuat saya gentar. Kembali saya memegang prinsip diatas, dimana yang diperlukan untuk menjadi seorang dokter selain ilmu, skill atau keterampilan yang tidak kalah penting adalah proses selama menimba ilmu dan berbagai keterampilan selama menjalani pendidikan profesi sebagai dokter muda.

Dari proses pendidikan di fakultas kedokteran ini saya bisa melihat kekurangan dan kelebihan saya dibidang apa. Hingga akhirnya masa studi 6 tahun itu pun saya lewati dan saya berhasil lulus dengan predikat cumlaude. Saat itu kembali kedua orang tua saya yang mendapat pujian dari teman-teman mereka ataupun keluarga terdekat kami karena dianggap sukses mengantarkan anaknya menjadi dokter pertama di keluarga dan berhasil lulus dengan predikat cumlaude.

Ujian sesungguhnya dari seorang dokter itu adalah ketika kita sudah menyelesaikan masa studi. Disini kembali saya dihadapkan pada banyak pilihan. Banyak teman-teman saya yang langsung melanjutkan ke jenjang Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) namun tidak dengan saya. Sadar akan kondisi ekonomi keluarga, saya putuskan untuk bekerja terlebih dahulu. Sebenarnya cita-cita terbesar ayah saya adalah ingin melihat anaknya menjadi seorang dokter spesialis, sedangkan keinginan terbesar saya adalah ingin menjadi seorang dosen di almamater saya sendiri. Belum sempat terpenuhi cita-cita ayah saya, Sang Pencipta sudah memanggil beliau terlebih dahulu.

Kembali saya dihadapkan pada situasi sulit yang mengharuskan saya menjadi tulang punggung keluarga. Saat itu saya bekerja di klinik-klinik swasta di daerah Denpasar untuk menafkahi keluarga saya sementara cita-cita saya untuk menjadi dosen saya tunda sementara waktu. Namun seiring berjalannya waktu saya pun bangkit mengingat keinginan terbesar saya dan juga tidak ingin melihat cita-cita ayah saya ikut terkubur. Saya pun bertekad agar terus dapat melanjutkan studi saya hingga ke jenjang tertinggi. Tidak pernah ada kata terlambat untuk belajar.

Akhirnya saya diterima menjadi salah satu staf dosen di almamater kampus saya di bagian Mikrobiologi Klinik FK Unud. Saya sendiri adalah orang yang senang belajar dan dengan menjadi dosen banyak terbuka kesempatan beasiswa untuk melanjutkan studi S2 ataupun Program Pendidikan Spesialis (PPDS) untuk saya.

Jadi ketika pertanyaan apakah sukses terbesar dalam hidup saya, saya belum bisa menilai diri saya sukses sampai saat ini tetapi saya bangga menjadi anak dari ibu dan almarhum ayah saya yang menurut saya mereka berdua sangat sukses membesarkan dan mengantarkan saya sampai saat ini. Karena menurut saya pribadi mereka berdualah kesuksesan terbesar dalam hidup saya.

(Sumber: Buku Sukses Lolos Beasiswa LPDP dan MEXT Plus Short Course Gratis ke Jerman tulisan Bayu Mayura.)

Baca juga: 10 Contoh Soal Essay Pendidikan Pancasila Kelas 4 Kurikulum Merdeka Semester 1

(RK)