3 Contoh Khutbah Idul Adha tentang Haji dan Qurban

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 12 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada momen Hari Raya Idul Adha atau Lebaran Haji, umat Islam di seluruh dunia melaksanakan salat Id berjamaah sebanyak dua rakaat. Setelah salat ditunaikan, rangkaian ibadah dilanjutkan dengan penyampaian materi khutbah.
Khutbah Idul Adha berisi pesan-pesan keagamaan bagi para jemaah. Salah satu tema pesan yang sering kali diangkat adalah tentang ibadah haji dan kurban sebagai wujud ketaatan seorang hamba kepada Sang Pencipta.
Kedua ibadah tersebut mengajarkan banyak pelajaran berharga, mulai dari sikap rela berkorban, kesabaran, hingga semangat berbagi kepada sesama. Melalui khutbah Idul Adha, diharapkan nilai-nilai tersebut dapat menjadi inspirasi bagi umat Islam dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Bagi yang membutuhkan referensi teks khutbah Idul Adha tentang haji dan qurban, berikut tiga contoh yang bisa dijadikan inspirasi.
Contoh Khutbah tentang Haji dan Qurban
Dirangkum dari laman MUI dan Kantor Kementerian Agama Yogyakarta, berikut tiga contoh khutbah Idul Adha untuk menyampaikan pesan tentang haji, kurban, dan ketakwaan:
Contoh Khutbah 1 - Mengambil Ibroh dari Ibadah Haji dan Qurban
السلام عليكم ورحمة الله و بركاته
الله اكبر 9 الله اكبر كبيرا والحمد لله كثيرا و سبحان الله بكرة وأصيلا. الحمد لله ذي الجلال و الإكرام الذي هدانا للإيمان والإسلام وأكرمنا بشريعة تسك الحج إلى بيته الحرام. أشهد ان لا اله الاّ الله وحده لا شريك له إقراراً بربوبيّته وجلاله
وأشهد ان محمدا عبده ورسوله المصطفى من سائر خلقه من إنسه و جنّه. نصلّي و نسلم على سيّدنا وحبيبنا محمد وعلى اله واصحابه ومن تبعه من جميع أمّته.
أمّا بعد, فيا عباد الله اوصيني و إياكم بتقوى الله فقد فاز المتقون. و اتّقوا الله حقّ تقاته ولا تموتن الاّ وأنتم مسلمون
Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, bahwa atas rahmat hidayah dan inayah-Nya pada pagi hari ini kita berkumpul di lapangan ini untuk mengumandangkan takbir, tahmid, tahlil dan tasbih dilanjutkan menunaikan salat Idul Adha. Selanjutnya sholawat dan salam marilah kita doakan semoga selalu dilimpah curahkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW.
Allahu Akbar 3x Walillahul Hamdu.
Idul Adha menjadi momentum dari dua ibadah besar yang memiliki sejarah panjang dan penuh makna bagi kehidupan manusia, baik saat ini maupun di masa mendatang. Dua ibadah tersebut adalah ibadah haji dan penyembelihan hewan kurban.
Ibadah haji adalah rukun Islam kelima sehingga ibadah ini wajib dilakukan oleh seluruh umat Islam yang mampu atau kuasa dalam aspek jiwa, raga, akomodasi, finansial dan keamanannya. Dasarnya adalah Al Qur’an Surat Ali Imron ayat 97:
فِيهِ ءَايَٰتُۢ بَيِّنَٰتٞ مَّقَامُ إِبۡرَٰهِيمَۖ وَمَن دَخَلَهُۥ كَانَ ءَامِنٗاۗ وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلۡبَيۡتِ مَنِ ٱسۡتَطَاعَ إِلَيۡهِ سَبِيلٗاۚ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٩٧
Artinya: "Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam." (QS Ali Imron: 97)
Sedangkan ibadah qurban adalah sunnah muakkad, sunnah yang ditegaskan dan ditekankan untuk dilaksanakan oleh umat Islam setiap tahunnya. Dasarnya adalah Al Qur’an Surat Al Hajj ayat 34:
وَلِكُلِّ أُمَّةٖ جَعَلۡنَا مَنسَكٗا لِّيَذۡكُرُواْ ٱسۡمَ ٱللَّهِ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُم مِّنۢ بَهِيمَةِ ٱلۡأَنۡعَٰمِۗ فَإِلَٰهُكُمۡ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞ فَلَهُۥٓ أَسۡلِمُواْۗ وَبَشِّرِ ٱلۡمُخۡبِتِينَ
Artinya: "Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah)." (QS. Al Hajj: 34)
Ibadah haji merupakan rukun Islam kelima yang sarat simbol-simbol penuh makna bagi kehidupan umat manusia. Berikut di antaranya:
Makna tauhid: Ibadah haji mengajarkan bahwa seluruh manusia memiliki tujuan hidup yang sama, yaitu mendekatkan diri kepada Allah SWT. Hal ini tercermin dari berkumpulnya jutaan jamaah dari berbagai negara di Ka’bah tanpa perbedaan status maupun kedudukan.
Makna kemanusiaan: Penggunaan kain ihram menjadi simbol kesetaraan dan persamaan derajat manusia di hadapan Allah. Seluruh jemaah menanggalkan identitas sosial, jabatan, maupun status ekonomi, lalu hadir sebagai hamba Allah yang setara.
Napak tilas kenabian: Rangkaian ritual haji juga menjadi bentuk mengenang perjuangan para nabi dan tokoh mulia terdahulu. Mulai dari melontar jumrah hingga sa’i antara Shafa dan Marwah, semuanya menyimpan sejarah perjuangan Nabi Ibrahim AS, Nabi Ismail AS, Siti Hajar, hingga Nabi Adam AS.
Di sisi lain, ibadah kurban juga mempunyai beberapa makna penting. Berikut beberapa di antaranya:
Mendekatkan diri kepada Allah SWT: Ibadah kurban menjadi bentuk taqarrub atau upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT. Berkurban juga melatih seseorang untuk mengendalikan hawa nafsu, menekan egoisme, serta menumbuhkan ketakwaan dalam diri.
Wujud rasa syukur: Kurban merupakan bentuk syukur atas nikmat dan karunia yang diberikan Allah SWT. Sebagian rezeki yang dimiliki digunakan untuk menjalankan perintah Allah melalui ibadah kurban.
Menumbuhkan kepedulian sosial: Daging kurban dibagikan kepada masyarakat, terutama yang membutuhkan, sehingga dapat mempererat kebersamaan, persaudaraan sesama muslim, dan rasa kemanusiaan.
Menghilangkan sifat buruk dalam diri: Penyembelihan hewan kurban menjadi simbol untuk menanggalkan sifat-sifat buruk seperti rakus, tamak, egois, dan licik.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنَ الآيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللَّهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم
Contoh Khutbah Idul Adha 2 - Mengurai Makna Ibadah Qurban dan Haji
أَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَاكَاتُهُ
اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (×3) اللهُ اَكبَرْ (×3)
اللهُ اَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرَا وَسُبْحَان للهِ بُكْرَةَ وَاَصِيْلاَ, لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ, اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ
اَلْحَمْدُا ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِأَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَمُضِلَ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ أَنْ لآ إِلَهَ اِلآّ اَللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُهَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْ لُهُ وَلآنَبِىَ بَعْدَهُ. اُوْصِيكُمْ عِبَادَ اللهِ وَاِيآيَ بِتَقْوَي اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ . اَمَا بَعْدُ
وَقآَلَ اَللهُ تَعَآلَي فِى ا لْقُرْآنِ الْكَرِيم:
يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah
Ungkapan rasa syukur sudah seharusnya kita ungkapkan biqouli Alhamdulillah karena sampai dengan saat ini kita masih mendapat kepercayaan dari Allah SWT untuk tetap bisa menikmati karunia Allah SWT.
Terlebih lagi, saat ini kita masih diberikan-Nya kesempatan untuk bertemu dengan Hari Raya Idul Adha 1447 H. Mudah-mudahan semua ini mampu menjadi motivasi kita untuk meningkatkan dan memperkuat keimanan serta ketakwaan kita kepada Allah SWT.
Maasyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah
Idul Adha adalah salah satu hari raya dalam agama Islam yang di dalamnya menyimpan berbagai peristiwa monumental dari peradaban kehidupan di bumi. Peristiwa tersebut selanjutnya diabadikan dalam sebuah ritual ibadah.
Dua Ibadah yang sangat identik dengan Hari Raya Idul Adha adalah ibadah qurban dan haji. Kedua ibadah ini mengandung nilai keteguhan dan keimanan, serta menjadi bukti pengorbanan yang didasari keikhlasan dan kesabaran.
اللهُ أَكْبَر،اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ
Hadirin Rahimakumullah
Ibadah qurban berawal dari sejarah ketika Nabi Ibrahim mendapatkan perintah untuk mengorbankan putra semata wayangnya, Ismail, dengan cara disembelih. Berbekal keimanan yang tinggi, Nabi Ibrahim pun melaksanakan perintah yang disampaikan Allah melalui sebuah mimpi.
Namun sebelum Nabi Ibrahim menyembelih Ismail, malaikat membawa seekor kambing dari surga sebagai ganti untuk disembelih. Peristiwa ini diabadikan dalam Al Qur’an Surat As Shaffat ayat 102:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
Artinya: "Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: 'Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!' Ia menjawab: 'Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar'."
Dari sejarah inilah umat Islam diperintahkan untuk menyembelih hewan qurban yang pada hakikatnya merupakan sebuah ibadah untuk mengingatkan kita agar kembali kepada tujuan hidup, yaitu beribadah kepada Allah.
Hikmah dari ujian Allah kepada nabi Ibrahim untuk menyembelih putra semata wayangnya adalah keikhlasan dalam menjalankan perintah Allah SWT. Keikhlasan menjadi salah satu kunci untuk memperoleh ridha Allah dengan menjalankan apa yang menjadi perintah-Nya dan menjauhi apa yang dilarang-Nya. Jika kita melaksanakan ibadah tanpa didasari oleh keikhlasan, maka niscaya yang kita lakukan akan menjadi sebuah kesia-siaan belaka.
إِنَّ اللَّهَ لا يَقْبَلُ مِنْ الْعَمَلِ إِلا مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ
Artinya: "Allah tidak menerima amal, kecuali amal (ibadah) yang dilandasi keikhlasan dan karena mencari keridhaan Allah SWT." (HR. Nasa’i)
Maasyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah
Ibadah selanjutnya yang identik dengan Hari Raya Idul Adha adalah haji. Ibadah haji merupakan kewajiban bagi umat Islam yang memiliki kemampuan. Hal ini ditegaskan oleh Allah dalam Firmannya dalam Surat Al Imran ayat 97:
وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلْبَيْتِ مَنِ ٱسْتَطَا عَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَن كَفَرَ فَإِ نَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ عَنِ ٱلْعَٰلَمِينَ
Artinya: “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya dari semesta alam.”
Mampu melaksanakan rukun Islam yang kelima ini memiliki artian siap untuk mengorbankan harta yang dimiliki sebagai wujud syukur atas nikmat harta dan kesehatan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Dengan niat yang benar, ibadah haji dapat membangkitkan semangat dan kesadaran diri untuk saling mengingatkan dalam kebenaran, menasehati dalam kesabaran dan menebarkan kasih sayang kepada seluruh ciptaan Allah SWT.
اللهُ أَكْبَر،اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ
Maasyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah
Dengan hikmah dua ibadah ini yaitu qurban dan haji, sudah merupakan kewajiban bagi kita selaku umat Islam untuk meyakini bahwa Allah memiliki tujuan dalam memberikan setiap perintah kepada manusia.
Allah pasti akan memberikan yang terbaik kepada kita, jika kita juga berbuat baik dan mematuhi perintah-Nya. Keyakinan dan keikhlasan untuk mematuhi perintahnya akan membawa kebaikan kepada kita.
Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah
Akhirnya marilah kita berdoa memohon kepada Allah SWT agar semua ibadah yang kita lakukan akan mendapatkan ridha dari Allah SWT. Ya Allah… Ya Rahman… limpahkanlah rahman rahim-Mu.
Curahkanlah hidayah-Mu sehingga kami dapat meraih keridhaan-Mu. Hanya kepada engkaulah kami mempercayakan diri kami. Janganlah Engkau membiarkan kami berjalan sendiri tanpa kendali hidayah-Mu. Ya Allah.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ فِى اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، اِنَّهُ هُوَ الْبَرُّ الرَّؤُوْفُ الرَّحِيْمُ
Contoh Khutbah Idul Adha 3 - Keteladanan Nabi Ibrahim sebagai Orang tua dan Nabi Ismail sebagai Anak dalam Membentuk Keluarga Sakinah
Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tiada tuhan selain Allah, dan Allah Maha Besar. Allah Maha Besar dan segala puji hanya bagi Allah.
Segala puji bagi Allah yang telah mensyariatkan ibadah qurban kepada hamba-hamba-Nya, menjadikannya sebagai sarana mendekatkan diri kepada-Nya dan sebagai bukti ketakwaan. Kita memuji-Nya, memohon ampun kepada-Nya, serta meminta taufik dan keridhaan-Nya.
Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Nabi Muhammad, keluarga, dan seluruh sahabat beliau.
Jamaah Idul Adha yang dimuliakan Allah.
Hari ini kita merayakan Idul Adha, hari besar yang mengingatkan kita pada peristiwa agung pengorbanan Nabi Ibrahim dan ketaatan luar biasa Nabi Ismail. Ini bukan sekedar kisah sejarah melainkan pelajaran hidup tentang bagaimana orang tua bersikap kepada Allah, serta bagaimana anak bersikap terhadap Allah dan orang tuanya.
معاشر المسلمين رحمكم هللا
Di antara sosok teladan dalam Al-Qur’an adalah Nabi Ibrahim, seorang ayah, suami, dan pemimpin umat yang memiliki sifat sabar, tawakal, dan penuh kasih sayang dalam membina keluarganya.
Keteladanan yang ada dalam diri beliau adalah:
1. Kepemimpinan Spiritual
Nabi Ibrahim membimbing keluarganya menuju tauhid, bahkan saat diperintahkan untuk menyembelih putranya:
يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
Artinya: "Wahai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah pendapatmu." Ismail berkata: "Wahai ayahku kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, in syaa Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar." (QS. Ash-Shaffat: 102)
Ini adalah bentuk kepemimpinan spiritual yang mengakar dalam cinta kepada Allah dan pendidikan tauhid.
2. Keteladanan Istri: Siti Hajar
Ketika Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail di padang tandus, Hajar berkata:
"Apakah ini perintah Allah, wahai Ibrahim?
Ibrahim menjawab, "ya"
"Kalau begitu Allah tidak akan menyia nyiakan kami"
(HR. Bukhari)
Siti Hajar adalah contoh istri yang taat, kuat, dan yakin pada ketentuan Allah.
3. Tujuan Akhir: Mencetak Generasi Saleh
Nabi Ibrahim selalu berdoa untuk anak cucunya:
" Ya Tuhanku jadikanlah aku dan anak cucuku orang orang yang tetap mendirikan sholat" (QS. Ibrahim: 40)
"Ya Tuhan kami jadikanlah kami orang-orang yang berserah diri kepada-Mu dan anak cucu kami juga." (QS. Al-Baqarah: 128)
Nabi Ibrahim mempunyai anak yang taat karena didikan orang tuanya. Dikisahkan dalam Al Qur'an surat Ash-Shaffat ayat 102, bagaimana keteguhan Ismail kecil taat kepada orang tuanya.
Nabi Ismail, yang masih belia saat itu tidak membangkang, tidak mengeluh, bahkan menyemangati ayahnya untuk taat kepada perintah Allah. Inilah contoh nyata anak yang berbakti dan taat kepada Allah serta kedua orang tuanya.
Apa yang bisa kita teladani dari Nabi Ismail?
Taat kepada Allah sepenuh hati, meski perintah-Nya terasa berat.
Berbakti kepada orang tua, mendengarkan dan menghormati keputusan mereka.
Sabar dan rela berkorban, demi kebaikan dan nilai-nilai agama.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamdu.
Kaum Muslimin yang dimuliakan Allah,
Idul Adha juga dikenal sebagai Hari Raya Qurban. Kata "qurban" berasal dari "qaruba" yang berarti mendekat. Maka, berqurban adalah bentuk mendekatkan diri kita kepada Allah, dengan harta, waktu, tenaga, dan bahkan perasaan.
Begitu pula yang dilakukan Nabi Ismail AS. Ia rela menjadi qurban jiwa, bukan karena paksaan, tetapi karena keimanan yang mendalam.
وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ
"Maka Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. (QS. Ash-Shaffat: 107)
Allah pun mengganti Ismail dengan hewan sembelihan, karena telah terbukti keikhlasan dan ketaatan mereka.
Akhir kata, mari kita sambut Hari Raya Idul Adha ini dengan hati yang penuh syukur, ketakwaan yang tinggi, dan semangat berbagi. Semoga Allah SWT menerima ibadah qurban kita, memberkahi kita, serta melimpahkan rahmat dan keberkahan-Nya kepada kita semua.
Baca Juga: Khutbah Jumat Awal Dzulhijjah Singkat dan Menyentuh
(ANB)
