Konten dari Pengguna

3 Contoh Khutbah Jumat tentang Maulid Nabi untuk Pedoman Khatib

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 11 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Maulid Nabi 1447 Hijriah. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Maulid Nabi 1447 Hijriah. Foto: Unsplash

Sholat Jumat merupakan ibadah wajib bagi laki-laki Muslim yang dilaksanakan sebanyak dua rakaat sebagai pengganti sholat Dzuhur. Sebelum pelaksanaannya, khatib wajib menyampaikan khutbah sebagai bagian penting dari rangkaian ibadah ini.

Khutbah Jumat biasanya membahas tentang nilai-nilai keislaman, seperti akhlak mulia, perintah ibadah, maupun kisah nabi dan rasul. Namun tak jarang, tema khutbah juga mengangkat mengenai peristiwa penting yang ada di dalam kalender Islam.

Mengingat peringatan Maulid Nabi 1447 Hijriah semakin dekat, kisah kelahiran dan keteladanan Nabi Muhammad saw dapat dijadikan sebagai tema khutbah. Untuk itu, simak beberapa contoh khutbah Jumat tentang Maulid Nabi selengkapnya di bawah ini.

Contoh Khutbah Jumat tentang Maulid Nabi

Ilustrasi contoh khutbah Jumat tentang Maulid Nabi. Foto: Unsplash

Berikut ini adalah beberapa contoh khutbah Jumat tentang Maulid Nabi yang dapat dijadikan pedoman bagi para khatib.

Contoh 1: Pelajaran dari Maulid Nabi

Khutbah Pertama

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَفَقَنَا لأَدَاءِ أَفْضَلِ الْعِبَادَاتِ وَأَوْقَفَنَا عَلَى كَيْفِيَةِ اكْتِسَابِ أَكْمَلِ السَّعَادَاتِ

أَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ رَبُّ الْأَرْضِينَ وَالسَّمَاوَاتِ

وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الْمُؤَيَّدُ بِأَفْضَلِ الْآيَاتِ وَالْمُعْجِزَاتِ

صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ بِحَسَبٍ تَعَاقُبِ الْأَوْقَاتِ وَالسَّاعَاتِ

أَمَّا بَعْدُ ) فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُونَ)

اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ عَلَى مَمَرِّ الدُّهُورِ وَالْأَوْقَاتِ

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّحِيمِ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Jamaah Jumat yang dirahmati oleh Allah Swt.

Tanpa terasa kita sudah masuk di bulan yang mulia, yaitu Rabiulawal di mana di bulan ini telah dilahirkan seorang tokoh besar Islam. Beliau dilahirkan bukan hanya untuk umat Islam tetapi seluruh umat di muka bumi ini, yaitu Baginda Rasulullah Nabi Besar kita Muhammad saw.

Hadirin yang berbahagia!

Peringatan maulid merupakan tradisi yang berkembang setelah Nabi Muhammad saw wafat dan diperingati di seluruh dunia bahkan sampai sekarang dan sampai ke negara kita Indonesia yang kita cintai ini. Sejarah peringatan maulid Nabi Muhammad saw pertama kali yaitu pada abad keempat di Kota Irbil Negeri Irak dan diselenggarakan pada zaman Raja Malik Al-Mudhofar atau pada masa Abu Sa'id Al-Mujafar.

Hadirin Rahimakumullah!

Sebagaimana kita ketahui bahwa setiap datangnya bulan maulid banyak umat Islam yang merayakannya. Sebenarnya apa yang menyebabkan mereka begitu antusias dan sangat berharap dapat merayakannya setiap tahun? Sebagian mereka beralasan bahwa bagi mereka yang memperingati maulid Nabi Muhammad saw sebagai ungkapan rasa cinta kepada Rasulullah saw.

Sekarang yang menjadi masalah apakah orang yang tidak merayakan maulid Nabi Muhammad saw tidak cinta atau tidak loyal terhadap Rasulullah saw.? Jawabannya tidak juga. Bisa jadi orang yang tidak memperingati juga mencintai bahkan lebih loyal kepada Nabi Muhammad saw. Maka kita sebagai umat Islam tidak boleh berburuk sangka dahulu kepada mereka yang tidak memperingatinya.

Jamaah Rahimakumullah!

Ternyata memang ada beberapa hikmah dan manfaat memperingati maulid Nabi Muhammad saw di antaranya adalah sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah Swt. Karena berkat ajaran agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw yang kita rasakan sampai sekarang dan detik ini sampai kepada kita dan dapat kita laksanakan dalam kehidupan sehari-hari.

Manfaat kedua memperingati maulid Nabi adalah sebagai momen spiritual mengikuti Rasulullah saw sebagai figur tunggal yang mengisi pikiran, hati, dan pandangan hidup kita. Hikmah ketiga dari memperingati maulid Nabi, yaitu untuk menguatkan iman dan loyalitas kita kepada beliau dan kepada Allah Swt.

Kemudian manfaat yang keempat dari merayakan maulid Nabi ialah kita dapat mengikuti budi pekerti atau akhlak beliau yang baik sebagaimana firman Allah Swt. dalam Surat Al-Ahzab ayat 21:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

"Sungguhlah telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu dan bagi orang-orang yang berharap (Rahmat) Allah pada hari kiamat dan banyak mengingat Allah."

Sedangkan manfaat yang kelima dari memperingati maulid Nabi adalah berharap agar kita mendapatkan syafaat uzmah atau pertolongannya di hari kiamat kelak dan cara mendapatkan syafaatnya banyak di antaranya dengan cara bersholawat kepada beliau, membaca Al-Qur'an, mengucapkan kalimat tauhid dengan ikhlas, dan sebagainya.

Aamiin Ya Rabbal Alamin.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ بِاالآيَاتَاتِ وَالذِكرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ مِنْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهَُ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ.

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. وَصَلَّى الله عَلَى سَيِّدَنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتْ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ

ْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

(Sumber: Buku Materi Khutbah Jumat Sepanjang Tahun oleh Muhammad Khatib, S.Pd.I)

Contoh 2: Meneladani Rasulullah

Khutbah Pertama

الحَمدُ لِلَّهِ الذِي جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَهُ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَذكرَ أَوَأَرَادَ شُكُورًا ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَاشْكُرُهُ وَاسْتَغْفِرُهُ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ جَمِيعِ الذُّنُوبِ صَغِيرًا أَوْ كَبِيرًا ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَكَانَ بِعِبَادِهِ عَفُوا غَفُورًا وَاشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللَّذِي أَرْسَلَهُ اللهُ لِلْعَالَمِينَ بَشِيرًا وَنَذِيرًا . شَهَادَةً مَنْ قَالَ لَهَا فَرَحِمَهُ مِنَ الخَطِيئَتِ مَغْفُورًا . اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمٌ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ يُحِبُّ الفُقَرَاءَ وَالْمَسَاكِينَ وَرَحِمَ اليَتِيمَ صَلَاةً

تُنجِيْنَا بِهَا مِنْ جَمِيعِ الْأَهْوَالِ وَالْافَاتِ بَاطِنًا وَظَهِيرًا وَعَلَى آلِهِ وَاصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ مَا تَعَا قَبَتِ الأَوْقَاتُ وَالسَّاعَاتُ أَمَّا بَعْدُ : فَيَا مَعَا شرَ المُسْلِمِينَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ .

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah…

Pada kesempatan yang penuh rasa persaudaraan ini tidak lupa saya berpesan, marilah kita selalu meningkatkan iman dan takwa kepada Allah Swt dengan cara melaksanakan semua perintah-Nya, dan menjauhi semua larangan-Nya.

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah…

Salah satu karunia terbesar yang diberikan oleh Allah kepada kita adalah lahirnya Nabi Muhammad saw sebagai nabi dan rasul, pada hari senin, tanggal 12 Rabiul awal. Atas kelahirannya, dunia yang asalnya gelap gulita menjadi terang benderang, yang asalnya jahiliyah berubah menjadi beradap. Sebagaimana disebutkan dalam Surat At-Taubat ayat 128:

لَقَدْ جَآءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِٱلْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

Artinya: “Sungguh telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasih lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.”

Ibnu Katsir dalam Tafsir Qur'anil Adzim berkata, "Allah menyebutkan limpahan nikmat yang telah diberikan-Nya kepada orang-orang mukmin melalui seorang rasul yang diutus oleh-Nya dari kalangan mereka sendiri, yakni dari bangsa mereka dan sebahasa dengan mereka".

Limpahan nikmat itu betul-betul nyata. Terbukti Rasulullah saw selalu merasakan penderitaan dan kesulitan umatnya, sehingga setiap saat yang diperjuangkan adalah umat, yang dibela adalah umat. Menjelang wafatnya pun yang beliau pikirkan hanyalah umatnya. "Ummatii... ummatii...".

Rasulullah juga sangat menginginkan umatnya memperoleh hidayah serta kebaikan di dunia dan di akhirat. Sehingga semua yang diterima dari Allah beliau sampaikan kepada umatnya. Segala hal yang mendekatkan ke surga dan menjauhkan dari neraka beliau paparkan. Bahkan Rasulullah menyimpan doa terbaik untuk umatnya kelak di yaumul hisab, agar umatnya mendapat syafaat. Itulah wujud kasih sayang Rasulullah kepada umatnya.

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah…

Meneladani Rasulullah berarti mengikuti sunnahnya dan tidak menentangnya. Apabila kita selalu mengikuti petunjuk Nabi melalui hadis-hadisnya, maka balasan yang kita terima adalah surga. Namun bila kita enggan mengikuti sunnah Nabi, apalagi berani menentangnya, maka sudah pasti balasan yang kita terima adalah neraka.

"Setiap umatku masuk surga, kecuali yang enggan," Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, lantas siapa yang enggan?" Nabi menjawab: "Siapa yang taat kepadaku (mengikuti aku) masuk surga dan siapa yang menentangku aku, berarti ia enggan." HR. Bukhari.

Semoga kita tergolong umat Muhammad yang berusaha mempelajari sunnahnya, lalu mengikuti dan mengamalkannya. Semoga kita tidak tergolong orang-orang yang menentang hadits-hadits Nabi, baik dalam hal aqidah, ibadah, akhlak maupun muamalah. Amin…

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَذِكْرِ الحَكِيمِ وَتَقَبَّلْ مِنِّي وَمِنكُمْ تِلَا وَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ العَلِيمُ . أَقولُ قَوْلِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرُ الْمُسْلِمِينَ وَ المُسلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُونَ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ .

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ، وَبِفَضْلِهِ تَتَنَزَّلُ الْخَيْرَاتُ وَالْبَرَكَاتُ، وَبِتَوْفِيْقِهِ تَتَحَقَّقُ الْمَقَاصِدُ وَالْغَايَاتُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَانَبِيَّ بَعْدَهُ

اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ المُجَاهِدِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا آيُّهَا الحَاضِرُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم. بسم الله الرحمن الرحيم. إنَّ اللهَ وملائكتَهُ يصلُّونَ على النبِيِّ يَا أيُّهَا الذينَ ءامَنوا صَلُّوا عليهِ وسَلّموا تَسْليمًا

اللّـهُمَّ صَلّ على سيّدِنا محمَّدٍ وعلى ءالِ سيّدِنا محمَّدٍ كمَا صلّيتَ على سيّدِنا إبراهيمَ وعلى ءالِ سيّدِنا إبراهيم وبارِكْ على سيّدِنا محمَّدٍ وعلى ءالِ سيّدِنا محمَّدٍ كمَا بارَكْتَ على سيّدِنا إبراهيمَ وعلى ءالِ سيّدِنا إبراهيمَ إنّكَ حميدٌ مجيدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْلَنَا ذُنُوْبَنَا وَ ذُنُوْبَ وَالِدَيْنَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا

(Sumber: Buku Koleksi Khutbah Jum'at Inspiratif untuk Pemula dan Umum oleh Abdul Azis Muslim. S. Ag)

Contoh 3: Makna Peringatan Maulid Nabi

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...

Pada kesempatan kali ini tak lupa saya wasiatkan kepada diri saya pribadi dan jama'ah semuanya, marilah kita selalu meningkatkan kualitas iman dan ketakwaan kita, karena hanyalah iman dan ketakwaan yang bisa kita jadikan bekal untuk menuju kehidupan di akhirat kelak, kehidupan abadi tanpa batas.

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Allah mengutus Nabi Muhammad ke dunia untuk memberikan pengajaran kepada umat manusia tentang cara penghidupan yang baik. Tentunya kita akan bertanya kepada diri kita masing-masing, apakah maulid Nabi perlu untuk diperingati? Apakah memperingatinya cukup dengan adanya kalender berwarna merah sehingga kita bisa berlibur? Untuk bisa menjawab pertanyaan tersebut, perlu kita menghayati kehidupan Rasulullah sebagaimana firman Allah dalam surat al-Ahzab ayat:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ اسْوَةٌ حَسَنَةٌ لمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ الله كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” QS. al-Ahzab 21.

Hadirin Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah,

Setiap tahun, umat Islam di Indonesia selama ratusan tahun selalu merayakan Maulid Nabi Muhammad saw. Perayaan keagamaan Maulid Nabi memang selama ini diperdebatkan di kalangan Ulama. Sebagian menganggap ini bid'ah. Mereka beralasan karena maulid Nabi tidak pernah dirayakan di masa Rasulullah saw di masih hidupnya.

Namun sebagian besar ulama di negeri kita, terutama yang bermazhab Imam Syafi'i menganggap bahwa perayaan maulid Nabi Muhammad saw. bukanlah perbuatan bid'ah. Karena memiliki tujuan-tujuan positif.

Perayaan Maulid Nabi Nabi Muhammad saw, yaitu peringatan hari kelahiran beliau yang tepat jatuh pada tanggal 12 Rabiul Awal (kurang lebih) 15 Abad yang lalu. Peringatan Maulid baru diselenggarakan ratusan tahun setelah beliau wafat. Ada beberapa versi mengenai awal mula diselenggarakannya perayaan maulid ini. Namun, pendapat yang paling masyhur digagas pertama kali oleh Sultan Shalahuddin al-Ayyubi (1137-1193).

Awal mulanya, bala tentara Shalahuddin berputus-asa menghadapi tentara Nasrani dalam beberapa peperangan (Perang Salib). Lalu, Sultan memerintahkan kepada para ulama agar memberi semangat kepada umat Islam pada hari-hari menjelang hari kelahiran Nabi Nabi Muhammad saw, dengan cara berorasi tentang perjuangan Beliau. Hasilnya, semangat juang umat Islam pun bangkit sehingga bisa meraih kemenangan dalam berbagai medan perang.

Berangkat dari latar belakang seperti itulah, para ulama kemudian menjadikan peringatan Maulid Nabi saw sebagai tradisi dan tentu sangat baik bila kita mengikutinya. Hanya saja, peringatan yang kita lakukan sejatinya tidak bergeser dari semangat Sultan Shalahuddin al-Ayyubi, yakni mengobarkan semangat juang umat Islam (jihad). Dan, jihad yang dimaksud di sini dan kini bukan lagi secara fisik di medan perang, seperti saat Perang Salib, melainkan secara ruhaniah (jihad an-nafs) dalam bentuk lain. Kebodohan, kemiskinan, keterbelakangan, sikap emosional, dan berbagai perilaku yang menyimpang dari ajaran Rasulullah saw merupakan objek jihad sekaligus musuh-musuh kita sekarang. Semuanya itu justru lebih banyak lahir karena kita kurang meneladani Nabi Muhammad saw.

Jama'ah Jum'ah yang dirahmati Allah,

Perayaan Maulid nabi Muhammad saw yang setiap tahun diperingati adalah momen untuk mengingat pentingnya misi kenabian. Nabi saw datang telah mengubah komunitas manusia yang menjadikan patung-patung sebagai sesembahan, dan meremehkan harkat kemanusiaan, menjadi manusia yang bertauhid dan bermartabat. Dalam menjalankan misinya Beliau Tidak menggunakan basis etnis, turunan, kekuasaan, dan perbudakan.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,

Demikianlah khutbah singkat pada hari ini, mudah-mudahan mendapatkan barokah dari Allah swt dan bermanfaat bagi kita semua. Amin.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَذِكْر الحَكِيمِ وَتَقَبَّلْ مِنِّي وَمِنكُمْ تِلَا وَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ أَقولُ قَوْلَى هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللَّهَ العَظِيمَ

(Sumber: Khutbah Jumat Sejuta Umat oleh Muhammad Khatib, S.Pd.I)

Baca juga: 15 Tema Maulid Nabi 2025 untuk Khutbah Acara Keagamaan

(RK)