3 Contoh Khutbah Menyambut Bulan Rajab yang Penuh Makna dan Nasihat

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 15 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bulan Rajab termasuk bulan yang istimewa karena merupakan salah satu dari empat bulan haram dalam kalender Islam. Bulan ini menjadi waktu yang tepat bagi umat Muslim untuk memperbanyak ibadah, merenungkan amalan, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Jelang bulan Rajab yang diperkirakan jatuh pada 21 Desember 2025, khutbah Jumat dapat mengambil tema tentang keistimewaan bulan ini. Bagi yang membutuhkan referensi, simak beberapa contoh teks khutbah menyambut bulan Rajab berikut ini.
Contoh Teks Khutbah Menyambut Bulan Rajab
Mengutip artikel ilmiah berjudul Metodologi Khutbah dan Retorika Dakwah oleh Usman, khutbah Jumat merupakan rangkaian ibadah yang dilakukan umat Islam, khususnya laki-laki, saat menunaikan sholat Jumat. Khutbah biasanya berisi nasihat, informasi, dan ceramah yang disampaikan secara lisan oleh khatib kepada jemaah.
Berikut adalah beberapa contoh teks khutbah menyambut bulan Rajab yang bisa dijadikan sebagai referensi.
1. Khutbah Bulan Rajab Momentum Ibadah
(Dikutip dari laman resmi Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Jakarta).
Khutbah I
الحمد لله الذى فضلنا بشهر رجب وهو الذى اصطفى نبينا محمد المجتبى المؤيد. اشهد ان لا اله الا الله .
وَأَشْهَدُ أَنَّ محَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا.
اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلًا نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلَامَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اُلله، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اِلله، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اُلله تَعَالَى : يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اَلله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. أمابعد
Sidang Jumat Rahimakumullah,
Mari pada siang yang penuh kebahagiaan dan kemuliaan ini, di tempat yang penuh berkah, kita menelaah sunnah Rasulullah mengenai bulan Rajab sebagai momentum untuk meningkatkan ibadah. Allah swt berfirman:
إنِّ عدِّةَ الشُّهوْر عند الله اثنا عشر شهرا فى كتاب الله يوم خلق السماوات والأرض منها أربعة حر م
Artinya: “Jumlah bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan dalam Kitab Al Quran pada hari Dia menciptakan langit dan bumi, empat di antaranya adalah bulan suci.”
Dalam konteks ayat ini, Allah menciptakan empat bulan suci, salah satunya adalah bulan Rajab yang mulia, yang saat ini kita jalani. Para ulama menekankan bahwa bulan-bulan suci ini merupakan momentum untuk memperbanyak ibadah dan menjadi hamba yang istimewa. Kebaikan yang dilakukan di bulan suci akan dilipatgandakan pahalanya.
Setidaknya ada empat amalan yang dianjurkan selama bulan Rajab:
1. Puasa
Puasa di bulan Rajab termasuk amalan sunah yang dianjurkan untuk menambah ketaqwaan kepada Allah SWT. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahih Muslim Juz 2, halaman 811, yang artinya:
Utsman bin Hakim berkata : saya bertanya kepada Sa’id bin Jubair tentang puasa Rajab, ketika itu kami berada di bulan Rajab. Sa’id menjawab : saya mendengar ibu Abbas berkata bahwa Rasulullah saw berpuasa berturut- turut hingga kami menduga beliau berpuasa, dan beliau tidak berpuasa berturut – turut hingga kami menduga beliau tidak berpuasa. (H.R. Muslim).
2. Memperbanyak Dzikir
Dalam surat Al-Baqarah ayat 152, Allah berfirman:
أذكرونى أذكركم
Artinya: “Ingatlah aku, akupun akan ingat kepadamu.”
Salah satu dzikir ringan namun sangat bernilai di sisi Allah adalah istighfar. Dengan beristighfar, seorang hamba mengakui kesalahan dan kelalaian, sekaligus menyadari kebesaran serta rahmat Allah. Dzikir ini membuka pintu ampunan, membersihkan hati, dan membantu kita kembali fokus beribadah.
Imam Hasan Al-Bashri pernah menceritakan bahwa ketika para jamaah mengadukan berbagai permasalahan, mulai dari ekonomi, rumah tangga, hingga paceklik yang berkepanjangan, beliau hanya memberikan satu solusi: fastaghfiruhu – beristighfarlah kepada Allah.
3. Memperbanyak Berdoa
Rajab adalah salah satu bulan haram yang memiliki keistimewaan tersendiri. Rasulullah menganjurkan untuk banyak berdoa di bulan Rajab. Dalam hadis yang diriwayatkan dari Anas bin Malik RA, Rasulullah berdoa:
اللهم بارك لنا فى جب و شعبنا و بارك لنا فى رمضان.
Artinya: “Ya Allah, berikanlah keberkahan kepada kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan berkahilah kami di bulan Ramadhan.” (HR. Ahmad 2228)
Imam Nawawi dan beberapa ulama hadis menilai hadis ini dhaif, namun beramal dengan hadis dhaif diperbolehkan selama tidak berkaitan dengan hukum atau aqidah. Berdoa sendiri tetap diperintahkan oleh Allah, dan memohon keberkahan termasuk sunnah Rasulullah.
4. Menghidupkan Malam-Malam Rajab
Menghidupkan malam-malam Rajab dengan berbagai ibadah termasuk salat, membaca Al-Quran, berdzikir, bershalawat, berdoa, dan ibadah sunah lainnya merupakan amalan yang sangat dianjurkan. Menghidupkan malam berarti tetap terjaga sebagian malam untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dengan besarnya keutamaan bulan Rajab, langkah terbaik adalah memfokuskan waktu di malam hari untuk beribadah.
Ma’asyiral muslimin jamaah Jumat rahimakumullah,
Mari kita maksimalkan iman dan taqwa di bulan Rajab mulia ini dengan memperbanyak puasa, dzikir, istighfar, doa, serta meningkatkan ibadah malam dengan berbagai ibadah sunnah. Semoga Allah menurunkan berkah dan anugerah-Nya untuk kita dan keluarga, memberikan pemimpin yang amanah bagi negeri ini, dan memudahkan kita menyambut bulan Ramadhan yang mulia. Amin ya rabbal ‘alamin.
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِله عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا اُلله وَاُلله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِِّ عَلَى سَيِِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا
أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُواَلله فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اَلله أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ الْمُسَبِِّحَةِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اَلله وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِِّ عَلَى سَيِِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اُلله عَلَيْهِ وَسَلِِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللِّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلي وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
2. Khutbah Hikmah Bulan Rajab
(Dikutip dari laman resmi Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga)
Khutbah I
اَلْحَمْدُ للهِ، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ فَضَّلَنَا بِشَهْرِ رَجَبَ، وَهُوَ الَّذِيْ اصْطَفَى نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا ﷺ الْمُجْتَبَى الْمُؤَيَّد. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمَ وَبَارِكْ وَتَرَحَّمْ وَتَحَنَّنْ عَلَى مَنْ بِهِ تُرْجَى شَفَاعَتُهُ يَوْمَ الْمَآبِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ رَبُّ الْعِبَادِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ إِلَى سَائِرِ الْأَعَاجِمِ وَالْعَرَب. أما بعد
فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْنِىْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Jamaah Sholat Jum’at rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa, yaitu dengan melaksanakan seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Alhamdulillah, pada bulan ini kita masih diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk berada di bulan yang mulia, yaitu bulan Rajab 1447 Hijriah.
Jamaah Shalat Jumat rahimakumullah,
Perlu kita syukuri bahwa bulan Rajab termasuk bulan yang mulia. Rajab merupakan salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah SWT, yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Rasulullah SAW pun memberikan perhatian khusus terhadap datangnya bulan Rajab. Bahkan beliau memanjatkan doa sebagaimana yang diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dalam Musnad Ahmad:
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ
Artinya: “Ya Allah, semoga Engkau memberkahi kami pada bulan Rajab dan Sya’ban, semoga Engkau pertemukan kami dengan bulan Ramadhan.”
Jamaah Sholat Jumat rahimakumullah,
Sebagaimana kisah yang telah masyhur, pada bulan Rajab terjadi peristiwa monumental Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW, yaitu perjalanan dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsha di Palestina, kemudian dilanjutkan menuju Sidratul Muntaha untuk menghadap Allah SWT, Sang Pencipta alam semesta. Hal ini sebagaimana difirmankan Allah SWT dalam Surah Al-Isra ayat 1:
سبْحانَ الَّذِىأَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ اْلأَقْصَا الَّذِى باَرَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَتِنَا إِنَّهُ,هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْر
Artinya: “ Maha-Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS.Al Isra : 1).
Peristiwa Isra’ dan Mi’raj juga dijelaskan dalam Shahih Bukhari. Dalam peristiwa tersebut, Allah SWT mewajibkan shalat kepada Nabi Muhammad SAW sebanyak lima puluh kali dalam sehari. Dalam perjalanan kembali, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Nabi Musa AS yang mengingatkan bahwa umat beliau tidak akan mampu melaksanakan perintah tersebut. Atas saran Nabi Musa AS, Nabi Muhammad SAW kembali menghadap Allah SWT untuk memohon keringanan hingga akhirnya Allah SWT menetapkan kewajiban shalat lima waktu dalam sehari semalam.
Jamaah Sholat Jumat rahimakumullah…
Berikut beberapa pelajaran yang dapat kita petik dari peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Pertama, Isra’ dan Mi’raj adalah perkara yang haq karena sharih (sangat jelas) disebutkan dalam Al-Qur’an. Peristiwa ini pasti terjadi dan tidak ada keraguan sama sekali, meskipun akal manusia tidak mampu menjangkaunya. Semua hal yang tampak “ajaib” ini terjadi untuk menguji ketebalan iman seseorang. Kita wajib menghindari pemikiran yang hanya membanggakan akal dan mengesampingkan kemahakuasaan Allah SWT. Pola pikir seperti ini adalah cara pandang iblis, yang disifati:
أَوَّلُ مَنْ قَاسَ الدِّيْنَ بِرَأْيِهِ
Artinya: “(makhluk yang pertama kali mengukur kebenaran agama dengan akalnya sendiri)”.
Kedua, sebelum Nabi Muhammad SAW menghadap Allah SWT (mi’raj), beliau dibersihkan hatinya. Bukan karena hati Nabi kotor, sebab beliau ma’shum (suci dari dosa), tetapi agar kesucian hatinya semakin sempurna. Sebagaimana disebutkan oleh Habib Ali Al-Habsyi dalam Simthut Durrar:
وَمَا أَخْرَجَ الآمْلَاكُ مِنْ قَلْبِهِ أَذًى وَلَكِنَّهُمْ زَادُوْهُ طُهْرًا عَلَى طُهْرٍ
Artinya: “Malaikat tidak menghilangkan kotoran dari hati Nabi, tetapi agar hati yang suci menjadi semakin suci”.
Pembersihan hati ini dilakukan sebelum Rasulullah SAW menerima tugas shalat lima waktu. Ini menjadi pelajaran bagi kita semua, bahwa ketika hendak menghadap Allah SWT, sebaiknya hati kita terlebih dahulu dibersihkan. Oleh karena itu, ketika kita melaksanakan shalat, mulailah dari pakaian, tempat, dan hati yang suci, sehingga khusyu’ kita tertuju sepenuhnya kepada Allah SWT.
Jamaah Sholat Jum’at rahimakumullah,
Akhirnya, semoga kita menjadi hamba yang terhindar dari segala kejelekan dan kemaksiatan, selalu beruntung mendapatkan ridha, kemampuan, dan kesempatan untuk melakukan amal shalih (ibadah), serta memperoleh pahala dan keberkahan dari Allah SWT. Aamiin ya rabbal ‘alamin.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِالْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
3. Khutbah Keutamaan dan Peristiwa Penting Bulan Rajab
(Dikutip dari laman resmi Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Khutbah I
الحَمْدُ لِلّٰهِ مُكَوِّنِ الْأَكْوَانِ، الْمَوْجُوْدِ أَزَلًا وَّأَبَدًا بِلَا مَكَانٍ، الْمُنَزَّهِ عَنِ الشَّكْلِ وَالْأَعْضَاءِ وَالْأَرْكَانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِصِدْقٍ وَإِحْسَانٍ، وَأَشْهَدُ أنْ لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، الْمُنَزَّهُ عَنِ الْأَيْنِ وَالزَّمَانِ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ الَّذِي كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ،
أَمَّا بَعْدُ، عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ المَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثۡنَا عَشَرَ شَهۡرٗا فِي كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوۡمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ مِنۡهَآ أَرۡبَعَةٌ حُرُمٞۚ
Ma’asyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Mengawali khutbah singkat ini, khatib berwasiat kepada kita semua, terutama kepada diri khatib sendiri, agar senantiasa berusaha meningkatkan ketaqwaan dan keimanan kepada Allah, satu-satunya Tuhan yang wajib disembah dan berbeda dari apa pun maupun siapa pun.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Pada hari Jumat ini, tidak terasa kita telah berada pada tanggal 3 bulan Rajab tahun 1446 H, salah satu dari empat al-Asyhur al-Hurum, bulan-bulan haram yang suci dan mulia, yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Allah SWT berfirman:
إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثۡنَا عَشَرَ شَهۡرٗا فِي كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوۡمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ مِنۡهَآ أَرۡبَعَةٌ حُرُمٞ
Artinya: “Sesungguhnya bilangan bulan menurut Allah adalah dua belas bulan dalam ketetapan Allah , di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan harâm. ” (QS at-Taubah: 36)
Allah menyebut empat bulan tersebut sebagai bulan-bulan harâm karena pada awalnya peperangan di dalamnya diharamkan.
Hadirin yang dirahmati Allah…
Rasulullah SAW setiap kali memasuki bulan Rajab, beliau selalu membaca doa:
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ (رَجَبَ) وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ
Artinya: “Ya Allah, anugerahkanlah keberkahan kepada kami di bulan Rajab dan Sya’bân, dan sampaikanlah umur kami pada bulan Ramadhân.” (Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dan Ibnu as-Sunni)
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Di antara keutamaan bulan Rajab bahwa malam satu Rajab adalah salah satu malam yang mustajab bagi doa sebagaimana hal itu ditegaskan oleh Imam Syafi’i dalam kitab al-Umm:
وَبَلَغَنَا أَنَّهُ كَانَ يُقَالُ: إِنَّ الدُّعَاءَ يُسْتَجَابُ فِي خَمْسِ لَيَالٍ: فِي لَيْلَةِ الْجُمُعَةِ، وَلَيْلَةِ الْأَضْحَى، وَلَيْلَةِ الْفِطْرِ، وَأَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَجَبٍ، وَلَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ
Artinya: “Telah sampai berita pada kami bahwa dulu pernah dikatakan: Sesunguhnya doa dikabulkan pada lima malam: malam jum'at, malam hari raya Idul Adha, malam hari raya Idul Fitri, malam pertama bulan Rajab dan malam Nishfu Sya’bân.”
Hadirin yang dirahmati Allah,
Pada bulan Rajab, kita dianjurkan memperbanyak amal kebaikan, salah satunya puasa. Sunnah memperbanyak puasa di bulan Rajab serupa dengan puasa di tiga bulan haram lainnya, yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram.
Memang tidak ada hadits shahih yang khusus menyatakan kesunnahan puasa Rajab, namun tidak ada larangan untuk berpuasa. Para ulama berpendapat bahwa dalil umum tentang anjuran puasa sepanjang tahun, kecuali lima hari yang diharamkan, cukup menjadi dasar kesunnahan puasa di bulan Rajab. Disebutkan dalam Shahîh Muslim:
عَنْ عُثْمَانَ بْنِ حَكِيْمٍ الْأَنْصَارِيِّ قَالَ سَأَلْتُ سَعِيْدَ بْنَ جُبَيْرٍ عَنْ صَوْمِ رَجَبٍ وَنَحْنُ يَوْمَئِذٍ فِي رَجَبٍ فَقَالَ سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّااسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَقُوْلُ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُوْمُ حَتَّى نَقُوْلَ لَا يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُوْلَ لَا يَصُوْمُ
Dari ‘Utsman bin Hakim al-Anshari bahwa ia berkata, “Saya bertanya kepada sahabat Sa’id bin Jubair mengenai puasa Rajab, dan saat itu kami berada di bulan Rajab. Ia pun menjawab: Saya telah mendengar Ibnu ‘Abbas berkata, “Dulu Rasulullah SAW pernah berpuasa hingga kami berkata bahwa beliau tidak akan berbuka. Dan beliau juga pernah berbuka hingga kami berkata bahwa beliau tidak akan puasa.”
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahîh Muslim mengomentari hadits di atas dengan mengatakan, “Secara lahiriah, yang dimaksud sahabat Sa’id bin Jubair dengan pengambilan hadits ini sebagai dalil adalah bahwa tidak ada nash yang menyatakan sunnah atau pun melarang secara khusus terkait puasa Rajab. Karenanya, ia masuk dalam hukum puasa pada bulan-bulan yang lain. Tidak ada satu pun hadits tsâbit terkait puasa Rajab, baik anjuran maupun larangan. Akan tetapi, hukum asal puasa adalah disunnahkan. Dalam Sunan Abu Dawud bahwa Rasulullah SAW menyatakan kesunnahan puasa pada bulan-balan harâm (al-Asyhur al-Hurum, empat bulan yang dimuliakan), dan Rajab adalah salah satunya. Wallahu a’lam.”
Hadirin yang dirahmati Allah…
Pada bulan Rajab, terdapat beberapa peristiwa penting dalam sejarah umat Islam yang menunjukkan keistimewaannya:
1. Sayyidah Âminah binti Wahb mulai mengandung Nabi Muhammad pada bulan Rajab. Kelahiran beliau pada bulan Rab’ul Awwal adalah rahmat Allah untuk seluruh alam semesta.
2. Pada 27 Rajab terjadi peristiwa Isra dan Mi’raj, mukjizat agung yang memuliakan Nabi Muhammad dan menjadi momentum ditetapkannya shalat wajib. Allah Mahasuci dari tempat dan arah, dan mukjizat ini menegaskan kekuasaan-Nya.
3. Hari kesepuluh Rajab tahun 9 H terjadi Perang Tabuk.
4. Pada bulan Rajab tahun 9 H, Ash-hamah an-Najasyi, raja Habasyah wafat dalam keadaan Muslim.
5. Imam Syafi’i wafat pada bulan Rajab tahun 204 H di usia 54 tahun, dimakamkan di Mesir.
6. Khalifah Umar bin Abdul Aziz wafat pada bulan Rajab tahun 101 H di usia 39 tahun.
7. Pada 27 Rajab 583 H, Sultan Shalahuddin al-Ayyubi membebaskan Baitul Maqdis. Ia menekankan kesatuan aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah sebagai kekuatan umat sebelum menghadapi perang.
8. Pada 16 Rajab 1344 H (31 Januari 1926), para ulama di Surabaya mendirikan Jam’iyyah Nahdhatul Ulama untuk memperjuangkan aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah dan sistem bermadzhab.
Ma’asyiral Muslimîn rahimakumullâh…
Demikian khutbah singkat ini. Semoga di bulan Rajab ini kita diberi kekuatan, kemudahan, dan kemampuan untuk memperbanyak kebaikan serta ketaatan kepada Allah SWT. Amin.
أَقُوْلُ قَوْلِي هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهُ لِي وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَاا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ النَّحۡل : فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Baca juga: Bacaan Dzikir Bulan Rajab 70 Kali dan Keutamaanya
(RK)
