3 Contoh Pidato Singkat 1 Muharram yang Penuh Makna

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Muharram merupakan bulan pertama dalam kalender Hijriah yang menandai berbagai peristiwa penting dalam Islam. Salah satu peristiwa yang berkesan dan diabadikan dalam Al-Qur'an, yakni proses hijrahnya Rasulullah SAW dari Mekkah ke Madinah.
Di bulan Muharram, umat Islam kerap menggelar sejumlah acara untuk merayakan Tahun Baru Islam. Tak hanya diisi dengan pengajian, ada juga momen pembacaan pidato yang penuh makna. Lewat pidato ini, umat Islam bisa berbagi nilai-nilai spiritualitas dan pengetahuan sejarah keagamaan kepada audiens.
Namun, membuat pidato singkat 1 Muharram tidaklah mudah. Ada pesan dan nasihat baik yang mesti disampaikan kepada audiens. Jika butuh referensi, simaklah beberapa contohnya di sini!
Contoh Pidato Singkat 1 Muharram
Menurut Suprapto (2020:184) dalam Dialektika Islam Dan Budaya Nusantara, 1 Muharram merupakan salah satu momentum penting yang mengingatkan umat muslim tentang peristiwa bersejarah dalam Islam.
Muharram juga termasuk salah satu dari empat bulan suci yang ada di Islam, yakni Dzulqa’dah, Dzulhijah, Muharram, dan Rajab, sebagaimana diungkapkan dalam Al-Quran:
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram.” (QS. At Taubah : 36).
Itu kenapa, pidato mengenai bulan Muharram sering disampaikan di acara keagamaan. Sebagai referensi, berikut contoh pidato singkat 1 Muharram penuh makna yang materinya dihimpun dari buku M. Rouful Wahab dan S.M. Hamzah (2024:8) berjudul Khotbah Sepanjang Tahun:
1. Contoh 1
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Hadirin yang dirahmati Allah,
Rasulullah saw. ditanya mengenai puasa Asyura, beliau menjawab, ia bisa menghapus dosa setahun yang lalu. (HR Muslim). Hadis ini menguatkan pentingnya hari Asyura tanggal 10 Muharram bagi sejarah para nabi.
Sebab, pada hari itu, Allah Swt menyelamatkan Musa dan Bani Israil dari tenggelam, sedangkan Fir'aun tetep tenggelam. Pada hari itu pula kapal Nabi Nuh berhasil berlabuh di Bukit Judi.
Sebagai wujud rasa syukur, Nabi Musa dan Nabi Nuh berpuasa pada hari itu. Hendaknya kita mencontoh para nabi, yaitu berpuasa tidak hanya ketika memohon sesuatu pada Allah Swt tapi juga ketika Allah mengabulkannya.
2. Contoh 2
Muharram adalah bulan pertama dalam tahun Hijriah. Bulan ini menandai hijrahnya Rasulullah saw. ke Madinah. Pada bulan ini pula Allah Swt menyelamatkan Nabi Musa dari kekejaman Fir'aun.
Karena itu, banyak kemuliaan dalam bulan Muharram sehingga disebutkan dalam Surah At-Taubah ayat 36. Dalam surah tersebut, Muharram, Zulkaidah, Zulhijah dan Rajab ditetapkan sebagai bulan haram atau asyhurul haram.
Jemaah Jumat yang dirahmati Allah....
Bulan Muharram adalah bulan yang dimuliakan Allah Swt. Untuk menjaga kesuciannya, umat Islam dilarang berperang kecuali dalam keadaan terpaksa dan ditekankan untuk meninggalkan perbuatan zalim.
Gunakan pula kesempatan ini untuk menjalankan puasa karena puasa paling utama setelah Ramadan adalah puasa pada bulan Muharram.
Semoga Allah merahmati kita semua. Amin. Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Baca juga: Khutbah Jumat Bulan Zulkaidah sebagai Bulan Haram yang Dimuliakan
3. Contoh 3
Pertama-tama marilah kita panjatkan puja puji syukur kita kepada Allah SWT. Karena kita masih diberi umur dan kesehatan sehingga kita dapat memasuki tahun baru hijriyah ini dengan selamat dan sejahtera.
Bulan Muharram yang merupakan permulaan tahun Hijriyah ini adalah bulan yang mulia dan terpuji.
Karena itulah, di dalam menyambut tahun baru hijriyah ini, marilah kita tingkatkan amal kebaikan kita sesuai dengan arti yang terkandung dalam tahun Hijriyah, yaitu nama tahun di mana Khalifah Umar bin Khattab telah menetapkannya agar seluruh umat Islam senantiasa mengingat peristiwa hijrah Rasul untuk menegakkan agama Islam.
Allah SWT berfirman dalam surat Fatir ayat 37 yang berbunyi:
أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ ۖ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ
Artinya: "Dan apakah kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir, dan apakah tidak datang kepada kamu pemberi peringatan?"
Ayat di atas memberi pelajaran kepada kita, bahwa setiap orang yang diberi umur panjang hendaknya mau berpikir mengenai apa yang telah diperbuatnya di masa lalu, kemudian berbenah diri atas perbuatan yang salah. Demikian seterusnya, sehingga amalan kita menjadi semakin sempurna.
(SLT)
