Konten dari Pengguna

3 Contoh Surat untuk Pahlawan yang Menyentuh dan Menginspirasi

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi contoh surat untuk pahlawan. Sumber: Unsplash.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi contoh surat untuk pahlawan. Sumber: Unsplash.

Jasa para pahlawan begitu besar bagi bangsa dan negara. Perjuangan mereka dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia patut ditiru oleh anak-anak muda di masa sekarang.

Ungkapan rasa terima kasih dan penghargaan dapat diberikan dalam berbagai bentuk, salah satunya melalui tulisan surat yang tulus. Berbagai contoh surat untuk pahlawan yang dapat menjadi referensi sebagai wujud apresiasi atas jasa-jasa mereka.

Contoh Surat untuk Pahlawan

Ilustrasi contoh surat untuk pahlawan. Sumber: Unsplash.

Dikutip dari berbagai sumber, berikut beberapa contoh surat untuk pahlawan yang bisa dijadikan referensi:

Contoh 1

Di bawah langit merdeka kami berdiri, menatap sejarah yang kau ukir abadi. Kau tempuh gelap melawan petir, demi tanah air yang kini bertegak tak terusir.

Wahai pahlawan, di pelukan bumi kau berdarah. Dalam hening, doa kami ucapkan dengan tabah. Jejakmu tetap hidup tak lekang oleh masa, Semangatmu membara seperti api yang menyala.

Kami di sini melanjutkan harap. Di jalan berbeda, tetapi tetap tegap. Kau ajarkan kami arti pengorbanan, tentang cinta tanah air tanpa batasan.

Kini, kami berjanji di atas mimpi, menjadi pahlawan dalam sunyi. Bukan dengan senjata atau darah yang mengalir, tetapi dengan ilmu dan kasih yang menembus batin.

Terima kasih, terima kasih pahlawan yang tenang di sana. Tanpa kau, tak ada kami yang penuh asa. Kau bimbing langkah kami walau tak kasat mata untuk terus menjaga dan membela negara.

Hari ini, di setiap langkah, di setiap perjuangan.

Merdeka, merdeka, merdeka!

(Sumber: Kanal Youtube Untag TV)

Contoh 2

Sengaja aku tulis surat ini untukmu pahlawanku. Pahlawan yang sudah mendahului kami pulang ke asalnya.

Ketika ku tulis surat ini, aku mengingat akan kisahmu saat dirimu berjuang dan bergerilya. Aku sendiri tak bisa membayangkan bagaimana dulu suara ledakan bergema di telinga.

Setiap hari mendengar bedil bernyanyi pekik. Mesiu dan aroma darah merusak pernapasan. Mata mulai rabun melihat bangkai dan tulang belulang manusia berserakan seperti tak ada artinya.

Berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun, bahkan berabad-abad. Kalian terus berjuang demi mengejar satu kata, MERDEKA!

Usaha dan doa tak pernah menghianati hasil. 17 Agustus 1945 kita MERDEKA. Kata yang pernah diperjuangkan kini kita rasakan

Kita menjadi bangsa yang besar, bangsa yang disegani bangsa lainnya. Semua itu tak lepas dari usaha dan doa kalian.

Namun, perjuangan belum usai. Setelah kepergian kalian, kalian titipkan bangsa ini padaku, pada kami. Generasi penerus seperti ku, seperti kami.

Aku sendiri ragu, apakah bisa menjaga bangsa ini seperti kalian?

Teringat pesan Bung Karno, "Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah, namun perjuangan kalian akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri."

Memang generasi penerus sepertiku tak perlu angkat senjata seperti kalian. Karena perjuanganku melawan kebodohan, melawan korupsi, melawan kolusi, melwan nepotisme yang bersarang di negeri ini dari dulu hingga sekarang.

Aku sendiri ragu, apakah bisa menjaga bangsa ini seperti kalian?

(Sumber: unggahan Scribd berjudul Surat Untuk Pahlawan 1 oleh Rizal Andina Wiansah)

Contoh 3

Teruntuk Ibu Kartini

Saya ingin menceritakan sekilas perjalanan hidup di tanah air sepeninggalan perjuangan ibu. Yang sekarang resmi menjadi nama Indonesia, bukan lagi Hindia Belanda.

Yang sudah merdeka, terlepas dari cengkeraman penjajah. Persis seperti yang ibu impi-impikan tempo dulu.

Saya ingin bercerita perihal kehidupan yang selalu berkembang setiap harinya. Tahukah ibu bahwa dunia ini tak lagi sama?

Modern, begitulah sebutan era sekarang, bu. Kalau anak-anak milenial biasa menyebutnya era digital, di mana semua sudah terkomputerisasi. Perkembangan teknologi sudah semakin meluas hingga membuat manusia bergantung pada teknologi tersebut.

Bisa dibilang peradaban ini memberikan kesempatan pada siapa saja untuk mengakses dunia luar. Lewat benda pipih yang disebut gawai dan tersambung dengan internet, dunia benar-benar seperti berada dalam genggaman kami.

Begitu juga dengan berkarya. Tak lagi ada rintangan bagi siapapun yang ingin menuangkan pikirannya.

Surat menyurat juga tak lagi menggunakan kertas dan membutuhkan waktu lama untuk mengirimnya. Hanya dengan surat elektronik, semua orang dapat mengirim surat kepada siapapun, di manapun, bahkan ke ujung dunia sekalipun! Hebat sekali era digital ini, kan, bu?

Satu lagi hal yang berubah seiring dengan perkembangan waktu, yaitu pendidikan, Karena jasa ibu, wanita kini dapat memperoleh kedudukan yang setara dengan para pria, salah satunya kesetaraan pendidikan.

Tentu di zaman ini pendidikan selalu disangkut pautkan dengan teknologi. Bahkan ada yang namanya IPTEK, atau Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Segala macam Ilmu Pengetahuan tak hanya bersumber dari buku, kini dapat diperoleh juga lewat internet.

Saya jadi teringat sebuah kepingan kata dari surat ibu yang berbunyi, “Bila orang hendak sungguh-sungguh memajukan peradaban, maka kecerdasan pikiran dan pertumbuhan budi harus sama-sama dimajukan.”

Yang kami perjuangkan kini bukan lagi soal kemajuan dalam berpikir, melainkan soal kembalinya budi pekerti yang tergerus oleh teknologi. Satu penampakan nyata akan saya jabarkan kepada ibu; orang tak lagi memedulikan sekitarnya karena tak sanggup mengalihkan pandangan dari layar gawai.

Di dunia yang serba modern ini, saya memiliki banyak harapan untuk kedepannya. Tapi, hanya satu harapan yang menjadi tujuan hidup saya, sejuta mimpi yang telah saya gantungkan di langit.

Semoga bisa bersinar terang bersama bintang, didorong oleh dukungan dan kekuatan dari sekitar, tak lupa juga wadah untuk menyalurkan bakat dan minat agar saya bisa terus maju memperjuangkan cita-cita.

Kelak, saya ingin menjadi seperti ibu, yang bekerja demi kebahagiaan sesama manusia. Yang juga menganut semboyan “saya mau” dan menjunjungnya dengan bangga. Dua patah kata yang selalu menjadi semangat ibu dalam melewati batas-batas ketidakmungkinan sewaktu memperjuangkan emansipasi di Bumi Pertiwi.

Dengan semangat penuh yang tersalur lewat surat ini, saya mengakhiri sepenggal kisah ini. Sekian dulu ya, bu. Lain kali saya akan menceritakan lebih banyak kisah lagi.

(Sumber: karya Syadah Fahrunisa, dari buku 20 Surat Terbaik untuk Kartini (2021) oleh Kominfo)

(FHK)

Baca juga: 3 Contoh Surat Undangan Hari Santri Nasional untuk Sekolah dan Pesantren