3 Khotbah tentang Paskah yang Singkat dan Penuh Makna

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagi umat Kristiani, Paskah merupakan perayaan agung untuk mengenang peristiwa bangkitnya Yesus Kristus usai wafat di kayu salib. Perayaan ini diisi berbagai rangkaian kegiatan rohani, salah satunya penyampaian khotbah tentang Paskah.
Penyampaian firman Tuhan ini menjadi bagian penting dalam ibadah Paskah untuk merenungkan makna kebangkitan Kristus. Bagi yang membutuhkan referensi, simak beberapa contohnya berikut ini!
Contoh Khotbah tentang Paskah
Mengutip buku Firman Hidup 67: Khotbah-khotbah Paskah, Kenaikan Tuhan Yesus, dan Pentakosta (2007) oleh Hermin Lambe Sangka, berikut khotbah tentang Paskah yang dapat menjadi referensi untuk pelayanan firman di gereja.
Khotbah 1
MAKNA PENDERITAAN YESUS
Sepanjang kehidupan manusia di atas muka bumi ini, belum ada manusia yang mau menderita, apalagi untuk orang lain. Manusia berusaha dengan semaksimal mungkin untuk menghindari penderitaan, baik penderitaan fisik maupun batin.
Bagi Yesus, penderitaan itu mempunyai maksud tersendiri. Penderitaan dan kematian Yesus adalah suatu cara untuk memproklamirkan diri-Nya sebagai Mesias, bukan suatu aib yang harus dijauhi. Penderitaan Yesus mempunyai makna tersendiri, sebagai bagian integral dari ketaatan-Nya kepada Sang Bapa yang mengutus-Nya untuk melaksanakan karya penyelamatan bagi dunia ini.
Di puncak penderitaan-Nya Ia berkata "sudah selesai". Ucapan Tuhan Yesus ini bukanlah teriakan kekalahan, melainkan seruan kemenangan.
Misi Yesus Kristus datang ke dunia ini adalah menyelamatkan barang siapa yang percaya kepada-Nya (lih. Yoh. 3:16). Semua yang perlu untuk keselamatan kita sudah dikerjakan dan sudah digenapi oleh Tuhan Yesus. Harga tebusan untuk menyelamatkan kita sudah dibayar lunas oleh Yesus melalui pengorbanan diri-Nya.
Dengan rendah hati hendaknya kita memberi diri dipimpin oleh Roh Kudus, agar kita dimampukan untuk dapat saling mengampuni (Ef. 4:32).
Amin.
Khotbah 2
PENGAMPUNAN YANG MENGHERANKAN
Eksekusi hukuman mati melalui siksaan salib adalah kebiasaan yang berlaku di daerah pantai timur Laut Tengah. Bagi orang Israel, seseorang yang dihukum mati dan digantung di kayu salib, adalah karena ia dikutuk oleh Allah (lih. Ul. 21:22-23). Yesus juga harus mengalami eksekusi ini. Ia dituduh menghujat Allah, dan hukuman yang paling tepat untuk kejahatan itu adalah hukuman salib.
Sejak keberangkatan ke Golgota, pikulan dan sengsara Yesus begitu berat. Namun, semua itu dilakukan-Nya dengan penuh penyerahan diri kepada Bapa-Nya. Yesus sadar bahwa Ia sedang melaksanakan rencana "penyelamatan Allah" terhadap dunia ini.
Namun, Yesus taat sampai akhir, sampai Ia menyerahkan nyawa-Nya (ay. 37). Bahkan, oleh karena kasih-Nya yang besar, Yesus mengampuni orang-orang yang menyalibkan-Nya. Dalam penderitaan-Nya, Yesus berkata kepada Bapa-Nya, "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat" (Luk. 23:34).
Dalam Yesus Kristus dosa-dosa kita diampuni. Hal ini terjadi bukan karena usaha kita sendiri, melainkan oleh kematian dan pengorbanan Tuhan Yesus Kristus. Ia rela mati untuk kita hanya karena kasih-Nya semata. Marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus dan dengan keyakinan iman yang teguh (Ibr. 10:22).
Amin.
Khotbah 3
ROH KUDUS DALAM GEREJA
Gereja berasal dari kata Yunani ekklèsia yang berarti perhimpunan. Kita dapat mendefinisikan gereja sebagai perhimpunan orang-orang milik Tuhan yang telah dipanggil keluar. Mengapa dikatakan milik Tuhan? Karena orang-orang tersebut sudah ditebus oleh Tuhan melalui kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Manusia dipanggil keluar dari kehidupannya yang lama, yang berada di bawah kuasa dosa, kepada sebuah kehidupan yang baru, yaitu hidup dalam persekutuan dengan Tuhan.
Kitab Kisah Para Rasul memberikan kepada kita kerangka yang paling mendasar tentang ciri gereja mula-mula, yaitu gereja dipimpin oleh Roh Kudus. Ada 3 hal yang dapat kita simpulkan:
1. Roh Kudus menjadikan persekutuan dalam gereja
Munculnya gereja mula-mula justru sesudah peristiwa Pentakosta. Setelah Roh Kudus datang, maka terjadilah persekutuan (koinonia) yang sebelumnya tidak ada. Alkitab kita mengatakan, "Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan" (ay. 42). Agaknya kita perlu diubahkan oleh Roh Kudus agar dapat menyadari makna dari kehadiran kita selama ini dalam kebaktian di gereja.
2. Roh Kudus menanamkan ketaatan untuk melakukan firman Tuhan
Kata menerima mengandung pengertian yang jauh lebih dalam, yakni taat. Gereja lahir dari orang-orang yang mau menerima (taat) pada firman Allah. Jadi, jelaslah bahwa menjadikan diri kita sebagai pendengar firman Allah yang setia saja tidaklah cukup.
3. Roh Kudus memampukan gereja untuk berdoa
Gereja perdana lahir dari kebaktian doa pada hari Pentakosta. Oleh karena ketekunan dan kesehatian mereka berdoa, maka terjadilah suatu peristiwa ajaib yang menandai kelahiran gereja di dunia. Roh Kudus dicurahkan dan memenuhi para murid dan orang-orang yang percaya kepada Yesus.
Doa adalah sumber tenaga (energi) bagi gereja. Gereja yang rajin berdoa adalah gereja yang sehat. Dengan kekuatan kita sendiri, kita tidak akan dapat berdoa dengan benar kepada Allah. Namun, terpujilah Allah atas Roh Kudus-Nya, karena Ia telah menolong kita untuk berdoa dengan benar kepada-Nya.
Kita selalu bisa memohon pimpinan dan kuat kuasa Roh Kudus agar Ia memberikan semangat (spirit) yang selalu baru untuk menatap ke depan dan melangkah maju bersama dalam persekutuan.
Amin.
(FHK)
Baca juga: 5 Lagu Pujian Kamis Putih untuk Umat Kristiani
