3 Larangan Bulan Dzulhijjah yang Sebaiknya Dihindari Umat Islam

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dzulhijjah adalah salah satu bulan mulia dalam Islam yang menyimpan banyak keutamaan. Namun di balik itu semua, terdapat larangan bulan Dzulhijjah yang tak boleh diabaikan.
Larangan ini diperuntukkan bagi umat Muslim yang hendak menyembelih hewan kurban ataupun tidak. Apabila tidak diindahkan, maka ia tidak akan memperoleh keutamaan yang dijanjikan oleh Allah SWT.
Di samping itu, sikap waspada terhadap larangan bulan Dzulhijjah juga bisa mencerminkan ketaatan seorang hamba kepada Allah dan pengagungannya terhadap syiar-syiar Islam. Adab ini menjadikan ibadah yang dijalankan lebih bermakna.
Lantas, apa saja larangan bulan Dzulhijjah yang mesti diwaspadai oleh para muslim? Yuk, simak penjelasan lengkapnya berikut ini.
Larangan Bulan Dzulhijjah
Keutamaan bulan Dzulhijjah terletak di 10 hari pertamanya. Rasulullah SAW menegaskan bahwa tidak ada hari-hari lain di mana amal shalih lebih dicintai oleh Allah melebihi 10 hari pertama Dzulhijjah. Dalam sebuah hadis, beliau bersabda:
"Tiada hari-hari yang amal shalih di dalamnya lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini (10 hari pertama Dzulhijjah)." (HR. Bukhari dan Muslim)
Umat Islam dianjurkan untuk memanfaatkan waktu ini secara optimal. Selain ibadah haji dan kurban, amalan seperti puasa sunnah, sedekah, membaca Al-Qur'an, dzikir, dan shalat malam juga sangat dianjurkan untuk dilakukan selama periode ini. Selain itu, umat Islam pun perlu memperhatikan beberapa larangan di bulan Dzulhijjah, di antaranya:
1. Larangan Memotong Rambut dan Kuku bagi yang Akan Berkurban
Salah satu larangan yang paling dikenal di bulan Dzulhijjah adalah larangan memotong rambut dan kuku bagi umat Islam yang berencana berkurban. Dalam buku Perintah & Larangan Dalam Surat Al Baqarah Bagi Pemula, Dede R.U.Widodo Suryasoemirat & Soelistyati Ismail Gani Soentono (2019), dijelaskan bahwa larangan ini berlaku sejak awal bulan Dzulhijjah hingga setelah kurban dilakukan. Larangan ini merujuk pada hadis dari Anas bin Malik:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم " مَنْ أَرَادَ أَنْ يُضَحِّيَ فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ
"Barangsiapa yang berniat untuk berkurban, maka hendaknya ia menahan diri dari mencukur rambut dan memotong kukunya." (HR. Muslim)
Tujuan dari larangan ini adalah untuk menunjukkan kesiapan dan keseriusan seseorang dalam melaksanakan ibadah kurban. Menurut mayoritas ulama, larangan tidak lagi berlaku setelah hewan kurban disembelih. Artinya, umat diperbolehkan kembali memotong rambut dan kukunya setelah itu.
2. Menjauhi Segala Bentuk Maksiat
Bulan Dzulhijjah merupakan salah satu dari empat bulan haram dalam Islam, di mana segala bentuk maksiat sangat dikecam. Melakukan dosa di bulan ini dapat menghalangi rahmat Allah SWT, sebagaimana termuat dalam hadis Bukhari dan Muslim:
"Sesungguhnya Allah itu cemburu, dan kecemburuan Allah itu manakala seorang hamba melakukan apa yang diharamkan Allah terhadapnya."
Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal baik dan menjauhi larangan agama, seperti ghibah, fitnah, mencuri, atau bentuk maksiat lainnya.
Baca juga: Tanggal Berapa Lebaran Idul Adha 2025? Ini Jawabannya
3. Tidak Berperang Kecuali dalam Keadaan Membela Diri
Pada bulan Dzulhijjah, umat Islam juga dianjurkan untuk menjauhi peperangan, kecuali untuk membela diri. Larangan ini bertujuan untuk menjaga kedamaian dan menghormati kesucian waktu yang telah ditetapkan Allah SWT. Terlebih, Islam mengajarkan pentingnya menjaga nyawa dan tidak melakukan kekerasan, terutama di bulan-bulan suci.
(SLT)
