Konten dari Pengguna

3 Renungan Natal Singkat untuk Dibacakan Saat Khotbah

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pendeta. Foto: MVolodymyr/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pendeta. Foto: MVolodymyr/Shutterstock

Renungan Natal merupakan salah satu ibadah yang sangat utama dalam perayaan Natal. Ibadah ini berisikan khotbah dan pesan-pesan rohani yang bisa mendekatkan diri kepada Tuhan Yesus.

Melalui renungan ini, umat Kristen dapat memperkuat keimanannya kepada Tuhan. Mereka juga bisa merenungi kisah hidup Yesus beserta pengorbanan-Nya kepada umat.

Mengutip Khotbah Natal dan Tahun Baru: Beritakan Kasih Kristus Kepada Dunia karya Pdt. Yunus Laukapitang (2018), renungan Natal biasanya dibacakan oleh pendeta Gereja. Isinya bisa berpedoman pada ayat-ayat Alkitab seperti Kisah Para Rasul, Yesaya, Yohanes, dan lainnya.

Ada banyak contoh renungan Natal singkat yang bisa kamu jadikan referensi untuk perayaan Natal nanti. Simak selengkapnya dalam artikel berikut ini.

Contoh Renungan Natal Singkat

Ilustrasi berdoa di gereja. Foto: Shutterstock

Berikut ini beberapa renungan Natal singkat yang bisa Anda jadikan referensi saat berkhotbah:

1. Natal adalah Rencana Agung Allah

Dalam Kitab Ulangan 18: 4-22,dikatakan tentang dibangkitkannya seorang nabi dari tengah bangsa Israel. Penting pula kita perhatikan  bahwa apa yang diungkapkan Musa kemudian menjadi sebuah nubuatan yang mengacu kepada Yesus Kris-tus.

Bahwa dari tengah-tengah bangsa Israel akan dibangkitkan seorang nabi yang luar biasa, ini mengacu pada realita tentang Kristus. Satu fakta bagaimana luar biasanya sebuah Natal. Natal bukan peristiwa kebetulan.  

Natal adalah peristiwa yang sudah dirancang Allah. Natal bukan sesuatu yang mendadak terselip dalam sejarah, tetapi Natal adalah rencana Allah yang agung bagi manusia. Semakin kita memahami prinsip-prinsip seperti ini semakin tahulah kita  bahwa Allah bekerja di dalam sejarah, intervensi ke dalam dengan satu karya yang sangat luar biasa.

Ada apa gerangan latar bela-kang peristiwa kedatangan Sang Juru Selamat itu? Dalam konteks dikatakan bangsa-bangsa di sekitar Israel pada saat itu adalah  penyembah berhala, suatu yang menyedihkan, menjengkelkan, murka bagi Tuhan. Maka Tuhan berkata kepada Musa: Tetapi kamu, tidak diijinkan Tuhan mela-kukan hal-hal yang demikian (peramal, petenung). Karena itu suatu aib, kemarahan bagi Tuhan.

Musa adalah seorang yang setia, penuh rasa iba, dan cinta kasih, seorang yang dapat mendoakan umatnya dengan kuat. Seorang pendoa syafaat, yang berbicara dengan Allah, bertatap muka dan memantulkan kemuliaan Allah. Musa itu juga dikatakan seorang nabi yang kuat di dalam perkataan dan perbuatannya, karena perkataannya dan perbuatannya seim-bang. Kemudian dia yang menya-takan kehendak dan tujuan Allah. Dia pula yang meletakkan dasar Perjanjian Lama, yaitu Taurat itu sendiri. Musa yang memulai mem-buka babakan baru hubungan Allah dengan manusia dengan Taurat itu, kemudian ditutup oleh Yesus yang menggenapinya. Kalau awal memulai, maka akhir menutup dengan sempurna.

2. Natal Menjembatani Sorga dan Dunia

Natal adalah sebuah perjalanan panjang, dan tidak akan pernah bisa kita ukur atau ketahui dengan tepat karena memang tidak terjangkau oleh kita. Natal adalah sebuah perjalanan luar biasa yang dilakukan oleh Yesus, anak Allah. Ia tidak mempertahankan kesetaraan-Nya dengan Allah, Ia mengosongkan diri, menjadi sama dengan manusia. Ia meninggalkan surga untuk datang ke dunia. Bisakah kita mengukur berapa panjang perjalanan surga-dunia? Bisakah kita menjangkau surga dengan alat yang dibuat manusia? Tentu tidak. Surga itu paradoks: terlalu jauh untuk dijangkau, tetapi sangat dekat untuk dipercayai. Iman.

Ketika Yesus melakukan perjalanan dari surga ke dunia, Ia menggunakan “alat” yang sangat luar biasa, yakni kerelaan kehendak-Nya. Itulah yang membuat perjalanan panjang itu mungkin dilalui. Karena kerelaan Allah menjadi manusia maka  perjalanan dari surga ke dunia itu terealisir. Kerelaan kehendak itu menjadi kendaraan yang membawa Dia dari surga mulia, turun ke dunia yang hina. Natal adalah suatu  peristiwa ajaib. Di mana dalam kerelaan kehendak-Nya Ia mau menjadi sama dengan manusia. Tidak ada persamaan antara Allah dengan manusia, tetapi Dia mau melakukan itu.

Jadi, Natal membuat sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin: surga dan dunia terjembatani oleh kerelaan Anak Allah, Yesus Kristus, Tuhan kita. Dan kerelaan kehendak ini seharusnya menjadi gambaran yang kuat dalam hidup kita. Seperti yang juga digambarkan Paulus kepada orang-orang di Filipi, bagaimana dengan kerelaan kehendak, kita mampu meniadakan nilai diri, menyangkali kemanusiaan kita (sangkal diri), supaya kita mampu menghargai orang lain. Jadi,  perjalanan Natal yang panjang akan tetap menjadi kekuatan yang tidak bisa diubah, karena surga bertemu dengan dunia hanya oleh karena kerelaan kehendak Yesus untuk menanggalkan keilahian-Nya. Maka di tengah kehidupan manusia.

Ilustrasi gereja. Foto: Raiyani Muharramah/Shutterstock

3. Natal, Kemauan Baik Allah

Selamat pagi selamat berbakti di dalam nama Tuhan Yesus. Kita buka cerita Natal dalam Lukas pasal yang ke 2 ayatnya yang ke 1;

  • Luk 2:1 Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah, menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia.

  • Luk 2:2 Inilah pendaftaran yang pertama kali diadakan sewaktu Kirenius menjadi wali negeri di Siria.

  • Luk 2:3 Maka pergilah semua orang mendaftarkan diri, masing-masing di kotanya sendiri. Luk 2:4 Demikian juga Yusuf pergi dari kota Nazaret di Galilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem, --karena ia berasal dari keluarga dan keturunan Daud--

  • Luk 2:5 supaya didaftarkan bersama-sama dengan Maria, tunangannya, yang sedang mengandung. Luk 2:6 Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin,

  • Luk 2:7 dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.

Yesus yang kita sembah, Dia lahir di sebuah kandang, karena tidak ada tempat  bagi mereka di rumah penginapan. Tidak ada tempat berteduh. Kalau tidak punya tempat di tempat penginapan, berarti tidak ada roti. Tidak ada makanan.

Kita sudah melupakan akar kita. Yaitu, Yesus itu tidak punya tempat di  penginapan. Dia lahir di tempat palungan, hanya tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan. Penginapan di sini di dalam Bahasa Inggris dipakai kata Inn. Ada Holiday Inn.

Baca juga: 10 Ayat Alkitab tentang Natal untuk Memahami Kelahiran Yesus Kristus

(MSD)