Konten dari Pengguna

3 Teks Kultum Ramadhan Hari ke-28 yang Penuh Pesan Kebaikan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Kultum.  Foto: Ferlian Septa Wahyusa/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Kultum. Foto: Ferlian Septa Wahyusa/ANTARA FOTO

Umat Islam telah memasuki hari ke-28 bulan Ramadhan pada Rabu, 18 Maret 2026. Momen ini menjadi tanda bahwa kewajiban berpuasa selama bulan Ramadhan akan segera berakhir.

Karena hal itu, umat Islam dianjurkan untuk memanfaatkan sisa waktu yang ada dengan mengerjakan banyak amal ibadah. Salah satu amalan yang dapat dikerjakan adalah menyampaikan kultum atau kuliah tujuh menit, yang biasanya dilakukan setelah sholat subuh maupun tarawih.

Mengingat durasinya yang terbatas, khatib perlu menyusun teks kultum yang ringkas, jelas, dan mudah dipahami. Dengan penyampaian yang terstruktur, isi kultum diharapkan mampu memberikan pencerahan sekaligus meningkatkan keimanan para jemaah.

Jika Anda mendapat amanah untuk mengisi materi kultum di masjid, sekolah, atau lingkungan sekitar, berikut beberapa contoh teks kultum yang dapat menjadi inspirasi untuk mengisi hari ke-28 Ramadhan.

Kultum Ramadhan Hari ke-28

Ilustrasi ustaz atau pemuka agama saat memberikan kultum. Foto: Getty Images

Dirangkum dari kanal YouTube SDIT Latansa Cendekia dan ArminarekaInd Channel, berikut tiga contoh teks kultum untuk hari ke-28 Ramadhan:

Contoh Kultum 1 - Menyambut Hari Kemenangan

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillah, kita semua masih diberikan kesehatan lahir dan batin, kenikmatan iman, Islam, serta ihsan kepada kita semua, sehingga kita bisa menjalankan aktivitas ibadah Ramadhan dengan sebaik-baiknya.

Salam dan shalawat semoga selalu tercurah kepada junjungan Nabi Besar Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Semoga kita semuanya termasuk hamba Allah yang selalu bisa mengikuti dan meneladani beliau, serta bisa istiqamah di dalam jalannya sampai yaumul akhir nanti. Aamiin.

Apa kabar anak-anak saleh dan salehah semuanya? Semoga kalian semua dalam keadaan sehat walafiat dan tidak kurang suatu apa pun. Alhamdulillah, kita bisa bersua kembali di penghujung bulan Ramadhan ini.

Kita semuanya telah menjalani pekan-pekan sebelumnya dengan penuh semangat menjalankan berbagai aktivitas Ramadhan, baik di rumah maupun di sekolah. Alhamdulillah, kita semua masih semangat sampai hari ini menjalankan tanggung jawab kita, baik sebagai siswa, sebagai anak di rumah, maupun sebagai hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh keutamaan, bulan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan. Bulan yang penuh berkah, rahmat, dan magfirah dari Allah. Bulan yang penuh ampunan, sekaligus bulan untuk mencapai kemenangan.

Anak-anak saleh dan salehah, selama ini dari hari ke hari kita telah berlomba-lomba melaksanakan berbagai aktivitas positif, seperti murajaah, tilawah, berbuat kebaikan, serta mengikuti berbagai kegiatan yang memotivasi kita semua agar semangat melakukan aktivitas yang bermanfaat dan memperoleh pahala yang dilipatgandakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pada bulan Ramadhan ini, pahala bahkan bisa dilipatgandakan hingga sepuluh kali lipat.

Menjelang penghujung Ramadhan ini, tentu banyak harapan bagi kita semua. Semoga kita memperoleh ampunan dan dapat mentarbiyah diri kita dalam berbagai segi kehidupan. Kita bisa menciptakan dan membentuk karakter yang baik dalam diri masing-masing. Baik dalam hubungan kita dengan Allah, yaitu dengan semakin mendekatkan diri kepada-Nya serta memperkuat keimanan, kepercayaan, dan keyakinan kita bahwa Allah Maha Segalanya.

Kemudian, semoga kita juga mampu menyemangati dan memotivasi diri untuk memperbaiki hubungan dengan sesama ciptaan Allah. Baik hubungan dengan diri sendiri, dengan keluarga, dengan masyarakat, dengan lingkungan, maupun dengan alam semesta ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Semoga anak-anak yang saleh dan salehah dapat membentuk karakter yang beriman, bertakwa, dan berakhlakul karimah. Harapan kita semua, tarbiah di bulan Ramadhan ini dapat menghasilkan pribadi Muslim yang kuat.

Kemudian kita mampu mengaplikasikan apa yang sudah kita peroleh di bulan Ramadhan ini dan bisa istiqamah merealisasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan puasa adalah memperoleh ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Keberhasilan di bulan Ramadhan ini akan terlihat setelah Ramadhan berlalu. Apakah kita bisa mempertahankan kebiasaan-kebiasaan baik yang kita lakukan di bulan Ramadhan, seperti tilawah Al-Qur’an, bersedekah, serta menjaga sholat lima waktu dengan tepat waktu.

Dengan berakhirnya bulan Ramadhan tahun ini, semoga dapat mengantarkan kita semua ke derajat yang lebih tinggi, yaitu derajat ketakwaan. Kita juga berharap semoga dipertemukan kembali dengan Ramadhan di tahun yang akan datang.

Untuk mengakhiri kultum kali ini, Ibu/Bapak mengucapkan:

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah. Mohon maaf lahir dan batin.

Sekian.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Contoh Kultum 2 - Mendoakan Orang Tua

Ilustrasi Kultum. Foto: Dok. Biro Humas Kemensos/Ayub Argyan

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Apa kabar Ayah, Bunda, dan anak-anak sholih sholihah? Semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan diberikan kesehatan. Aamiin ya rabbal ‘alamin.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Yang pertama dan paling utama, marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hingga hari ini kita masih diberikan banyak nikmat, di antaranya nikmat iman, nikmat Islam, nikmat panjang umur, dan nikmat kesempatan, sehingga kita masih bisa bersama-sama menjalankan ibadah puasa hari ini. Semoga puasa kita tahun ini menjadi puasa yang lebih baik daripada tahun-tahun sebelumnya.

Sholawat serta salam tak lupa kita sanjungkan kepada junjungan Nabi Besar kita, yaitu Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Semoga kita selalu istiqamah dalam menjalankan ajaran-ajaran beliau, sehingga kita mendapatkan syafaatnya di yaumul akhir nanti. Aamiin.

Dalam agama Islam, kita diwajibkan untuk berbakti kepada orang tua kita, baik ketika orang tua masih hidup maupun ketika orang tua sudah meninggal dunia. Tentunya anak-anakku semua sudah paham bagaimana cara berbakti kepada orang tua.

Salah satu bentuk bakti kita kepada orang tua adalah mendoakan mereka. Dalam Surah Al-Isra ayat 24, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya:

“Rendahkanlah dirimu kepada keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah: ‘Wahai Tuhanku, kasihilah keduanya sebagaimana mereka telah menyayangiku di waktu aku masih kecil.’”

Dari ayat tersebut kita dapat mengambil pelajaran bahwa kita harus merendahkan diri kepada orang tua. Artinya, kita menaati perintah orang tua dalam hal kebaikan dengan penuh kasih sayang. Bukan karena takut kepada orang tua, bukan karena mengharapkan sesuatu dari orang tua, tetapi karena kasih sayang, rasa hormat, dan takzim kita kepada orang tua.

Selain itu, kita juga diwajibkan untuk mendoakan kedua orang tua kita dengan doa:

“Allahummaghfirli waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghira.”

Artinya: “Ya Allah, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, serta sayangilah mereka sebagaimana mereka telah menyayangiku ketika aku masih kecil.”

Tentunya anak-anakku semua sudah hafal doa tersebut, karena sering dibaca setelah sholat maupun dalam kehidupan sehari-hari. Kita juga dianjurkan untuk berdoa dengan penuh kekhusyukan agar doa kita dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang sholeh atau sholehah.” (HR. Imam Muslim)

Ada sebuah kisah tentang doa seorang anak yang sholeh yang sampai kepada orang tuanya yang telah meninggal. Kisah ini disebutkan dalam kitab Irsyadul ‘Ibad.

Diceritakan bahwa ada seorang laki-laki bermimpi melihat para ahli kubur bangkit dari kuburnya dan memunguti sesuatu. Namun ada salah satu ahli kubur yang hanya duduk santai dan tidak ikut memungut.

Laki-laki itu kemudian mendekatinya dan bertanya, “Apa yang sedang mereka pungut?”

Ahli kubur tersebut menjawab, “Mereka sedang memungut doa dan bacaan Al-Qur’an dari kaum muslimin yang ditujukan kepada para ahli kubur.”

Lalu laki-laki itu bertanya lagi, “Mengapa engkau tidak ikut memungut?”

Ia menjawab, “Karena aku sudah tercukupi dari bacaan Al-Qur’an yang dikhatamkan oleh anakku.” Ahli kubur itu menjelaskan bahwa anaknya berjualan di pasar, menjual makanan ringan yang terbuat dari tepung dan telur.

Keesokan harinya, laki-laki tersebut pergi ke pasar untuk mencari penjual makanan itu. Ketika ia menemukannya, ia melihat bahwa bibir penjual itu terus bergerak membaca sesuatu.

Ia pun bertanya, “Apa yang sedang kamu baca?”

Penjual itu menjawab, “Saya sedang mengkhatamkan bacaan Al-Qur’an yang saya hadiahkan untuk kedua orang tua saya.”

Beberapa waktu kemudian, laki-laki itu kembali bermimpi melihat para ahli kubur. Kali ini, ahli kubur yang sebelumnya duduk santai ternyata ikut memunguti doa dan bacaan yang dikirimkan oleh kaum muslimin.

Ketika ditanya, ia menjawab, “Karena anakku sudah meninggal dunia.”

Keesokan harinya laki-laki tersebut kembali pergi ke pasar dan benar saja, penjual makanan itu ternyata telah meninggal dunia.

Dari kisah tersebut kita bisa mengambil pelajaran bahwa sebagai anak kita memiliki kewajiban untuk berbakti kepada orang tua, salah satunya dengan mendoakan mereka.

Alhamdulillah, jika kalian semua diberi kesempatan oleh Allah untuk bersekolah di tempat yang mempelajari agama dan Al-Qur’an. Apalagi jika kalian sudah bisa membaca Al-Qur’an dengan baik, karena bacaan Al-Qur’an itu tidak hanya bermanfaat untuk diri kalian sendiri, tetapi juga untuk kedua orang tua kalian, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia.

Semoga kita semua bisa menjadi anak yang sholeh dan sholehah, yang menjadi kebanggaan orang tua, yang selalu mendoakan kedua orang tua kita sehingga mereka selamat dunia dan akhirat, dan kita pun mendapatkan keselamatan dunia dan akhirat.

Kurang lebihnya mohon maaf. Jika yang disampaikan benar, itu datangnya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika ada kesalahan, itu datangnya dari saya pribadi.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Contoh Kultum 3 - Baju Lebaran

Ilustrasi Kultum. Foto: Instagram/@ustadzabdulsomad_official

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahil ladzi ja‘alal ‘iida ‘iidan lil muslimin wal muslimat.

Asyhadu an la ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah.

Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala ali Sayyidina Muhammad.

Amma ba’du.

Para jemaah, tak terasa kita telah memasuki hari ke-28 Ramadhan. Semoga kita semua menjadi hamba yang paripurna, lahirnya baik, batinnya baik, sehingga dapat meraih rida Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Di tengah semangat menyambut hari kemenangan, ada banyak hal yang sering kali menjadi perhatian, salah satunya adalah persiapan baju lebaran. Baju lebaran memang penting bagi kita yang mampu. Namun bagi yang tidak mampu, jangan kita memaksakan diri bahwa baju lebaran itu harus dan wajib kita miliki.

Betapa banyak orang yang tidak berpuasa dan tidak mementingkan Ramadhan. Namun ketika Idul Fitri tiba, semangatnya luar biasa hanya untuk memakai baju lebaran yang bagus.

Padahal ada sebuah maqolah Arab yang mengatakan bahwa Idul Fitri menjadi istimewa bukanlah karena memakai pakaian baru. Sesungguhnya Idul Fitri adalah ketika takwa kita bertambah, iman kita bertambah, dan ketaatan kita kepada Allah semakin meningkat. Itulah makna Idul Fitri yang sebenarnya.

Oleh karena itu, mari kita bersama-sama memahami bahwa setelah Ramadhan berakhir, Idul Fitri datang sebagai momentum kemenangan. Jika Alhamdulillah kita memiliki pakaian baru yang bagus, itu tentu baik.

Namun jangan sampai ketika Ramadhan kita hanya memperbaiki hubungan dengan Allah, yang disebut hablum minallah, tetapi ketika Idul Fitri kita lupa memperbaiki hubungan dengan sesama manusia, yaitu hablum minannas. Hubungan vertikal kepada Allah harus baik, dan hubungan horizontal kepada sesama manusia juga harus baik.

Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan peringatan dalam Surah Ali Imran ayat 112, bahwa kehinaan akan menimpa manusia di mana pun mereka berada, kecuali mereka yang memiliki hubungan yang baik dengan Allah dan hubungan yang baik dengan sesama manusia.

Karena itu, jangan hanya fokus memperindah baju lebaran saja. Memang terasa kurang lengkap jika Idul Fitri tanpa baju yang baik. Namun alangkah lebih baiknya jika setelah Ramadhan kita merayakan kemenangan dengan memperbaiki semuanya. Bagus akhlak kita, bagus ketaatan kita, bagus iman kita, dan jika bisa, bagus pula pakaian kita.

Karena kita tidak pernah tahu kapan kematian akan datang. Barang siapa yang membiasakan dirinya dengan kebaikan sejak masa mudanya, maka seperti itulah akhir kehidupannya.

Maka setelah Ramadhan berakhir dan Idul Fitri tiba, mari kita terus meningkatkan kualitas iman dan kehidupan kita. Ada juga peribahasa Arab yang mengatakan bahwa sebagian orang menghias dirinya dengan pakaian yang indah. Namun sesungguhnya keindahan yang sejati adalah ilmu dan adab. Karena ilmu itu penting, dan sopan santun atau akhlak juga sangat penting. Bahkan dikatakan bahwa akhlak lebih utama daripada ilmu. Sebab banyak orang yang memiliki ilmu, tetapi sayangnya tidak memiliki akhlak.

Salah seorang ulama juga mengatakan bahwa tegaknya sebuah bangsa tergantung pada akhlaknya. Jika akhlaknya baik, maka bangsa itu akan kuat dan kokoh. Namun jika akhlaknya rusak, maka bangsa itu pun bisa hancur.

Oleh karena itu, mari kita jaga kehidupan ini dengan sebaik-baiknya.

Setelah Ramadhan berakhir dan Idul Fitri datang, mari kita perbaiki semuanya, pakaian kita baik, hati kita baik, iman kita baik, dan kehidupan kita juga baik.

Semoga setelah Ramadhan ini kita memiliki kemantapan akidah, kemantapan akal dan pola pikir, kemantapan jiwa, serta kemantapan dalam kehidupan sosial bermasyarakat.

Insya Allah, jika semua itu kita jaga, maka baju kita baik, hati kita baik, dan kehidupan kita pun akan penuh keberkahan.

Semoga kita semua diberikan kesuksesan dan keberkahan.

Selamat Hari Raya Idul Fitri.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Menjelang Lebaran, tradisi mudik kembali menjadi perjalanan yang penuh makna untuk pulang dan berkumpul bersama keluarga. Melalui semangat #KebaikanBersama, kumparan menghadirkan beragam informasi seputar mudik, dari kondisi rute perjalanan, tips mudik, hingga rekomendasi kuliner khas daerah.

Temukan info selengkapnya di kum.pr/mudik2026

Baca Juga: Kapan Terjadinya Malam Lailatul Qadar 2026? Ini Informasinya

(ANB)