4 Puisi Paskah Modern Karya Penyair Indonesia

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Paskah adalah hari suci bagi umat Kristen yang menandai kebangkitan Yesus Kristus dari kematian. Momen istimewa tersebut bisa dirayakan dengan berbagai cara, salah satunya membacakan puisi Paskah.
Paskah merupakan peristiwa agung saat Yesus Kristus bangkit setelah mati di salib untuk menebus dosa umat manusia. Peristiwa itu terjadi pada hari ketiga setelah ia wafat karena penyiksaan yang dilakukan oleh tentara Kekaisaran Romawi.
Mengutip Learn Religion, Yesus ditelanjangi, dicambuk, dan dipukuli dengan sangat kejam. Kepalanya dipasangi mahkota duri dan tangan serta kakinya dipancang dengan paku untuk ditempelkan pada kayu salib. Penderitaan tersebut ia lalui semata untuk umatnya.
Selain beribadah, umat Kristen juga bisa memperingati pengorbanan Sang Juru Selamat dengan merenungkan beberapa puisi bertema Paskah.
4 Puisi Paskah Modern
Berikut 4 puisi Paskah gubahan penyair-penyair ternama di Tanah Air yang dihimpun dari jurnal Sang Kristus dalam Puisi Indonesia Modern oleh Yoseph Yapi Taum.
1. Balada Penyaliban
Oleh: WS Rendra
Yesus berjalan ke Golgota
disandangnya salib kayu
bagai domba kapas putih
Tiada mawar-mawar di jalanan
tiada daun-daun palma
domba putih menyerap azab dan dera
merunduk oleh tugas teramat dicinta
Mentari meleleh
segala menetes dari lupa
dan leluhur kita Ibrahim
berlutut, dua tangan pada Bapa:
Bapa kami di sorga
telah terbantai domba paling putih
atas altar paling agung.
Bapa kami di sorga
berilah kami bianglala!
Ia melangkah ke Golgota
jantung berwarna paling agung
mengunyah dosa demi demi
dikunyahnya dan betapa getirnya.
Tiada jubah terbentang di jalanan
bunda menangis dengan rambut dan
debu dan menangis pula segala
perempuan kota
Perempuan!
mengapa kau tangisi diriku
dan tiada kau tangisi dirimu?
Air mawar merah dari tubuhnya
menyiram jalanan kering
jalanan liang-liang jiwa yang papa
dan pembantaian berlangsung
atas taruhan dosa.
Akan diminumnya dari tuwung kencana
anggur darah lambungnya sendiri
dan pada tarikan napas terakhir bertuba
Bapa, selesailah semua!
2. Celana Ibu
oleh: Joko Pinurbo
Maria sangat sedih
menyaksikan anaknya
mati di kayu salib tanpa celana
dan hanya berbalutkan sobekan jubah
yang berlumuran darah.
Ketika tiga hari kemudian
Yesus bangkit dari mati,
pagi - pagi sekali Maria datang
ke kubur anaknya itu, membawa
celana yang dijahitnya sendiri
dan meminta Yesus mencobanya
"Paskah?" tanya Maria.
"Pas!" jawab Yesus gembira
Mengenakan celana buatan ibunya,
Yesus naik ke surga
3. Leiden 12/10/78
Oleh: Subagio Sastrowardoyo
Mengapa selalu harus ada siksa
sebelum bisa terucap geliat nyawa
Dia yang disalib
ditusuk lambungnya dengan tombak derita
darahnya titik memurnikan sabda
Kebahagiaan melumpuhkan tenaga
berkata sebelum sama sekali bisu
Biar kujatuhkan diri dari menara
sehingga terlepas sengsara dalam
syair paling merdu
4. Himne
Oleh: Saini K. M.
Bahkan batu-batu yang keras dan bisu
Mengagungkan namaMu dengan cara sendiri
Menggeliat derita pada lekuk dan liku bawah sayatan khianat dan dusta.
Dengan hikmat selalu kupandang patungMu
Menitikkan darah dari tangan dan kaki dari mahkota duri dan sembulan paku
Yang dikarati dosa manusia
Tanpa luka-luka yang lebar terbuka
Dunia kehilangan sumber kasih
Besarlah mereka yang dalam nestapa
mengenalmu tersalib di dalam hati.
Baca Juga: Apa Itu Kamis Putih? Ini Sejarah dan Rangkaian Ibadahnya
(GLW)
