4 Teks Singkat Khutbah Jumat Bulan Muharram yang Penuh Makna

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bulan Muharram menandai awal tahun baru dalam kalender Hijriah bagi umat Islam. Tidak seperti perayaan tahun baru masehi, umat Islam dianjurkan untuk merayakan tahun baru Islam dengan memperbanyak ibadah, mempererat silaturahmi, serta menyimak ceramah atau khutbah Jumat bulan Muharram.
Berikut adalah 4 contoh teks singkat khutbah jumat bulan Muharram yang penuh makna, dikutip dari beberapa sumber.
Contoh Khutbah Jumat 1
Judul: Merenungi Makna dan Hikmah Hijrah (Muhammad Faizin)
Dikutip dari laman NU Online
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat rahimakumullah, Saat ini kita berada di bulan Muharram yang merupakan bulan pertama dalam kalender Islam. Dijadikannya Muharram sebagai bulan pertama tahun hijriah tidak terlepas dari sejarah fenomenal yang dialami oleh Nabi Muhammad yakni peristiwa hijrah atau pindahnya Nabi bersama sahabat-sahabatnya dari Kota Makkah ke Madinah.
Hijrah yang dilakukan Nabi ini merupakan perintah Allah swt dan menjadi momentum kebangkitan umat Islam dari penindasan dan ketidakberdayaan yang dialami bertahun-tahun di Makkah. Oleh karena itu, pada khutbah kali ini, khatib mengajak kepada seluruh jamaah untuk merenungi kembali makna dan hikmah yang terkandung dalam peristiwa hijrah dengan meresapi pesan-pesan moral yang terkandung di dalamnya sekaligus diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Secara harfiah, hijrah bisa dimaknai ‘berpindah’. Berpindah dalam konteks hijrah tidak bisa dimaknai sebagai perpindahan secara fisik semata. Namun lebih dari itu, hijrah yang dilakukan Nabi merupakan perpindahan yang memiliki dimensi spiritual dalam rangka membangun masa depan umat Islam yang lebih baik di berbagai sektor kehidupan.
Contoh Khutbah Jumat 2
Judul: Mengaku Islam saja Tidak Cukup (KH Marzuki Mustamar)
Dikutip dari Buku Khutbah Jumat 7 Menit Tuntunan & Kumpulan Khutbah Berdasarkan Aqidah Ahlussunah Waljamaah
Kaum muslimin rohimakumullah
Kita harus bersyukur kepada Allah SWT yang memberi anugerah kepada kita, berupa iman dan islam. Lebih dari itu, kita juga bersyukur kepada Allah SWT memberi anugerah kepada kita Islam Ahlussunah Waljamaah yang memang sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW.
Di antara ada bermacam-macam aliran Islam, ada Islam mu’tazilah, ada aliran kebathinan, ada kejawen dan ada banyak yang lain lagi. Kita bersyukur karena Allah SWT mempertemukan kita kepada kiai-kiai, yang Ahlussunah Waljamaah, sehingga dari kiai-kiai, habaib-habaib dan guru-guru Ahlussunah, kita mewarisi Islam murni dari Rasulullah SAW.
Kita dipertemukan dengan lembaga-lembaga Pendidikan, madrasah, diniyah, TPQ dan seterusnya yang berhaluan Islam Alsunnah Waljamaah, Alhamdulillah, kita juga ditakdir ada di organisasi Ahlussunah Waljamaah, Nahdlotul Ulama. Meskipun sekedar menjadi anggota.
Kaum muslimin rohimakumullah, ini merupakan kenikmatan yang luar biasa. Andai kita islam namun tidak ikut Ahlussunag Waljamaah, mungkin dhohirnya Islam tapia da sekian banyak point yang bertentangan dengan ajaran Rasulullah SAW.
Padahal prinsipnya, siapa yang sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW maka dia akan selamat dan siapa yang menyimpang dari ajaran Rasulullah SAW, maka dia akan celaka.
Contoh Khutbah Jumat 3
Judul: Memaknai Puasa di Bulan Muharram (Dr. Rustam Ibrahim)
Dikutip dari laman NU Online
Jamaah shalat Jumat hafidhakumullah,
Mengapa kita perlu berpuasa? Menurut Abdurrahman bin Khalaf dalam kitab Bulughul Ghayah juz 1 halaman 74, beliau menjelaskan bahwa puasa memiliki pengaruh yang luar biasa dalam menjaga kesehatan jiwa dan raga.
Beberapa penelitian tentang kesehatan menjelaskan bahwa puasa berguna untuk menjaga kesehatan, seperti menurunkan gula darah, mengurangi peradangan, meningkatkan kesehatan jantung, meningkatkan kesehatan otak, menurunkan berat badan, dan memperbaiki suasana hati.
Puasa juga berpengaruh terhadap kesehatan jiwa, karena puasa mendidik seseorang tidak hanya menahan makan dan minum, namun mendidik untuk menahan diri dari penyakit hati, seperti menggunjing, mencela dan berbuat dusta.
Puasa merupakan sarana yang ampuh untuk meningkatkan kesehatan tubuh, kesehatan jiwa, dan yang lebih utama menjadi orang yang bertaqwa dan mendekatkan diri kepada Allah yang maha kuasa.
Dengan Kesehatan jiwa dan raga, jasmani dan rohani, harapannya di bulan yang mulia ini kita menjadi manusia yang bertakwa, menjadi manusia yang semakin baik, baik secara vertical maupun horizontal, baik kepada Allah dan baik kepada sesama manusia. Karena pahala di bulan mulia ini lebih banyak.
Sebaiknya selalu menghindari terhadap gunjingan, permusuhan, perceraian, kejahatan lainnya. Karena kejahatan dan kejelekan di bulan mulia ini lebih dahsyat siksanya. Na’udzubillah. Semoga kita dapat menjadi orang yang selalu diberi rahmat Allah dalam kebaikan dan dijauhkan dari kejelekan. Allahumma Aamiin.
Contoh Khutbah Jumat 4
Judul: Menghiasi Diri dengan Kedermawanan (Muhammad Idris, Lc.)
Dikutip dari laman muslim.or.id
Jemaah yang semoga senantiasa Allah bimbing untuk berlaku dermawan,
Berikut ini adalah beberapa alasan dan keutamaan yang dapat mendorong kita untuk lebih dermawan dalam kehidupan ini.
Yang pertama wahai jemaah sekalian, mereka yang baik dan penyayang kepada siapa pun yang menghuni bumi ini, maka akan mendapatkan rahmat dan kasih sayang Allah Ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,
الرَّاحِمونَ يرحَمُهم الرَّحمنُ تبارَك وتعالى؛ ارحَموا مَن في الأرضِ يرحَمْكم مَن في السَّماءِ.
“Orang yang memberi kasih sayang, maka dia akan mendapatkan kasih sayang dari Ar-Rahman (Allah) Tabaraka Wata’ala. Sayangilah orang yang di bumi, niscaya kamu
akan mendapatkan kasih sayang dari Yang berada di atas langit (Allah).” (HR. Abu Dawud no. 4941, Tirmidzi no. 1924, dan Ahmad no. 6494)
Kedua, Allah akan melipatgandakan pahala kedermawanan kita. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَنْ تصدَّقَ بعدْلِ تمرَةٍ مِنْ كسبٍ طيِّبٍ ، ولَا يقبَلُ اللهُ إلَّا الطيِّبَ ، فإِنَّ اللهَ يتقبَّلُها بيمينِهِ ، ثُمَّ يُرَبيها لصاحبِها ، كما يُرَبِّى أحدُكم فَلُوَّهُ حتى تكونَ مثلَ الجبَلِ
“Barangsiapa yang bersedekah dengan sebutir kurma hasil dari usahanya sendiri yang baik (halal), sedangkan Allah tidak menerima kecuali yang baik saja, maka sungguh Allah akan menerimanya dengan tangan kanan-Nya, lalu mengasuhnya dan merawatnya untuk pemiliknya sebagaimana jika seorang dari kalian mengasuh dan merawat anak kudanya hingga membesar seperti gunung.” (HR. Bukhari no. 1410 dan Muslim no. 1014)
Yang ketiga wahai jemaah sekalian, kedermawanan akan menjauhkan kita dari api neraka. Di dalam hadis yang sahih, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,
اتَّقُوا النَّارَ ثُمَّ أعْرَضَ وأَشَاح، ثُمَّ قالَ: اتَّقُوا النَّارَ ثُمَّ أعْرَضَ وأَشَاحَ ثَلَاثًا، حتَّى ظَنَنَّا أنَّه يَنْظُرُ إلَيْهَا، ثُمَّ قالَ: اتَّقُوا النَّارَ ولو بشِقِّ تَمْرَةٍ، فمَن لَمْ يَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ.
“Jagalah diri kalian dari api neraka!” Kemudian beliau berpaling dan menyingkir, kemudian beliau bersabda lagi, “Jagalah diri kalian dari neraka!” Kemudian beliau berpaling dan menyingkir (tiga kali) hingga kami beranggapan bahwa beliau melihat neraka itu sendiri, selanjutnya beliau bersabda, “Jagalah diri kalian dari neraka sekalipun hanya dengan sebiji kurma, kalaulah tidak bisa, lakukanlah dengan ucapan yang baik.” (HR. Bukhari no. 6540 dan Muslim no. 1016)
Keempat, sedekah akan menjadi naungan di hari kiamat bagi orang yang melakukannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya,
“Setiap orang akan berada di bawah naungan sedekahnya hingga urusannya diputuskan di antara manusia.” (HR. Ahmad no. 17333, dinilai sahih oleh Syekh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib)
Yazid ibnu Habib perawi hadis ini kemudian mengatakan, “Dahulu kala, Abu Mursid (perawi hadis ini dari sahabat Uqbah bin Amir) tidaklah melewati satu hari pun, kecuali ia akan bersedekah dengan sesuatu yang dimilikinya, meskipun itu hanyalah sepotong roti atau bawang merah.”
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
===
Khutbah Jumat di bulan Muharram merupakan momentum untuk merenungkan makna hijrah dalam kehidupan sehari-hari. Semoga teks singkat khutbah ini dapat menjadi inspirasi bagi para khatib dan jamaah dalam upaya memperdalam keimanan serta memperbaiki diri di awal tahun Hijriah.
(WAU)
