Konten dari Pengguna

4 Tradisi Unik Tolak Bala Wabah Corona di Indonesia

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jenis Sesajen di tempat Peribadatan Bali, Rabu (10/10/2018). Foto: Helmi Afandi Abdullah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Jenis Sesajen di tempat Peribadatan Bali, Rabu (10/10/2018). Foto: Helmi Afandi Abdullah/kumparan

Pandemi virus Corona yang turut merebak di Indonesia menimbulkan banyak kerugian. Banyak nyawa telah menjadi korban, perekonomian terpukul, dan lain-lain.

Berbagai upaya dilakukan untuk meminimalisir dampak negatif COVID-19. Selain menjalankan physical distance dan menjaga kebersihan serta kesehatan diri sesuai anjuran pemerintah, masyarakat Indonesia yang memiliki beragam adat memiliki cara tersendiri untuk menolak bala.

Berikut adalah beragam tradisi untuk menghalau wabah Corona dari berbagai kelompok masyarakat di Indonesia:

Lodeh Tujuh Rupa

Sayur lodeh sebagai tolak bala telah menjadi tradisi masyarakat Yogyakarta. Merespon pandemi virus Corona di Indonesia, masyarakat Plosokuning, Sleman menyantap lodeh tujuh rupa bersama.

Sesuai namanya, lodeh ini terdiri dari tujuh bahan, yakni kluwih, cang gleyor, terong, kulit melinjo, waluh, daun so, dan tempe, yang memiliki filosofi masing-masing. Contohnya kulit melinjo yang bermakna jangan hanya paham akibatnya saja, tapi harus paham secara mendalam penyebab wabah.

Sementara itu tempe mengingatkan agar manusia meminta pertolongan kepada Tuhan. Dengan demikian, lodeh tujuh rupa merupakan simbol optimisme warga dalam menghadapi musibah.

Pawai Doa dengan Suluh

Untuk menolak bala COVID-19, warga di Meunasah Gampong Gla Meunasah Baro, Aceh Besar melakukan pawai suluh (obor) sambil melantunkan doa. Ritual ini telah menjadi tradisi di Aceh sejak lampau ketika ada wabah penyakit atau marabahaya lainnya.

Rombongan laki-laki mulai dari pemuda, orang tua, hingga anak-anak berkeliling kampung. Tetua mengingatkan agar peserta menjaga jarak agar tidak sampai berdekatan.

Berbagai doa dibaca, sesekali muazin melantunkan azan. Surat dalam Al-Quran yang dibaca berulang-ulang salah satunya surat Al Isra ayat 81.

Sesajaen Tolak Bala

Pemimpin Puri Agung Klungkung, Bali, menyarankan agar warga membuat upakara (sesajen) menolak bala di pintu rumah. Sesajen ini berupa daun pandan berduri tiga lembar yang diikat dengan benang tridaru, dan diberi cabai, bawang merah dan pis bolong. Upakara lalu dipasang di pintu rumah sebelah kanan sebagai tolak bala.

Tahlil Tulak Bala Menyusuri Pinggir Sungai

Warga Masyarakat Nagari Taratak Sungai Lundang, Sumatera Barat melakukan tahlilan tolak bala untuk mengusir virus Corona. Tahlilan yang diikuti ratusan warga ini dilakukan dengan berjalan kaki menyisiri pinggiran sungai sambil melantunkan tahlil.

Makna mengapa warga berjalan di pinggir sungai adalah sebagai simbol agar wabah hanyut bersama dengan aliran air. Sampai di ujung sungai, Imam Khatib mengumandangkan azan sekaligus memimpin doa bersama.

Selain itu, ibu-ibu membakar daun sicerek, capo, dan daun siriang-siriang di depan pintu rumah. Aroma wangi dedauanan tersebut dipercaya mampu menangkal masuknya bakteri dan virus ke dalam rumah.

(ERA)