Konten dari Pengguna

5 Contoh Esai Beasiswa LPDP yang Bisa Jadi Referensi

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 17 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Persiapan LPDP. Foto: Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Persiapan LPDP. Foto: Pexels.

Beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) diberikan oleh Kementerian Keuangan RI kepada masyarakat Indonesia yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang magister dan doktor. Beasiswa ini digolongkan sebagai program paling kompetitif dan prestisius di Indonesia.

Dikutip dari laman resmi LPDP, terdapat beberapa kategori beasiswa yang bisa diakses oleh masyarakat Indonesia, yaitu targeted scholarship, affirmative Scholarship, general Scholarship, dan collaborative Scholarship.

Masing-masing kategori menyasar penerima yang berbeda. Misalnya targeted scholarship yang menyasar TNI, POLRI, dan PNS serta general scholarship yang ditujukan ke semua kalangan yang ingin melanjutkan jenjang S2 dan S3.

Dalam proses seleksi, pelamar perlu mengirim esai yang membahas tentang pemahamannya tentang diri sendiri, masa depan, dan kontribusi bagi bangsa. Yuk, simak contoh esai beasiswa LPDP berikut untuk dijadikan referensi!

Cara Menulis Esai Beasiswa LPDP yang Baik

Ilustrasi Persiapan Menulis Esai LPDP. Foto: Unsplash/nicrosenau.

Dalam Buku Indonesia 2045 oleh Mata Garuda dijelaskan bahwa terdapat empat jenis esai yang wajib ditulis pelamar, yakni:

1. Esai "Sukses Terbesar dalam Hidupku"

2. Esai "Rencana Studi"

3. Esai "Kontribusiku bagi Indonesia"

4. Esai on-the-spot

Menurut panduan resmi LPDP, esai harus ditulis dengan jujur, runtut, dan mencerminkan karakter serta tujuan hidup pelamar. Mengacu pada Panduan Sukses Beasiswa dalam dan Luar Negeri oleh Suhendra (2018), berikut prinsip yang perlu diperhatikan dalam menulis esai LPDP:

  • Tunjukkan keunikan diri dan pengalaman hidup.

  • Gunakan bahasa yang lugas, jujur, dan tidak berlebihan.

  • Kaitkan tujuan studi dengan kontribusi nyata bagi bangsa.

  • Bukan hanya bercerita, tetapi juga menunjukkan refleksi dan pembelajaran.

5 Contoh Esai Beasiswa LPDP

Ilustrasi Persiapan Menulis Esai. Foto: Unsplash/margasantoso.

Berikut 5 contoh esai beasiswa LPDP yang bisa dijadikan referensi dikutip dari Buku Awardee Story: Kisah dan Kiat dari Penerima Beasiswa LPDP karya Seng Hansen dan Buku Sukses Lolos Beasiswa LPDP dan MEXT Plus Short Course Gratis ke Jerman karya Bayu Mayura.

Contoh Esai 1

Sukses, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti berhasil atau beruntung. Namun setiap orang bisa merumuskan sendiri apa makna sukses, tergantung pengalaman hidup dan bidang yang digelutinya. Thomas Alfa Edison yang berhasil mendapatkan ribuan hak paten dari kegagalan demi kegagalan, menyebut-kan bahwa sukses adalah 1% inspirasi dan 99% usaha. Sementara Winston Churchil, politikus Inggris yang hidup semasa era militer Hittler, merumuskan bahwa sukses adalah mengalami kegagalan tanpa kehilangan antusiasme. GC Ahmad Fuadi, melalui tokoh Alif dalam novel Rantau 1 Muara, menuliskan bahwa hakikat hidup adalah seni menjadi. Menjadi hamba Allah, sekaligus khalifah untuk kebaikan alam semesta. Saya sepakat, bahwa sukses sebetulnya adalah upaya menjadi hamba Allah yang baik, serta melakukan pencapaian yang dapat memotivasi diri kita untuk lebih bermanfaat bagi kehidupan.

Dalam Al-Qur'an surah Al-Mujaadilah: 11 disebutkan, orang yang beriman dan berilmu pengetahuan akan ditinggikan kedudukannya beberapa derajat. Ayat tersebut selalu menjadi landasan saya untuk menjadi pembelajar. Dan alhamdulillah, Allah memberikan kesuksesan atas kesungguhan saya menuntut ilmu, dengan meraih predikat juara kelas sejak SD hingga SMA. Capaian prestasi saya saat SMP, tidak saja di bidang akademik. Tahun 1996 saya dipilih sebagai kontingen Jambore Nasional dari Tuban. Sementara di SMA, beberapa kali saya menjuarai lomba pidato bahasa Inggris dari tingkat lokal hingga daerah.

Di bangku kuliah, capaian terbaik saya adalah ketika terpilih mendapatkan Beasiswa Penelitian untuk Penulis Perempuan se-Jawa Bali. Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sebagai penyelenggara kegiatan ini, memilih 10 pengaju proposal terbaik untuk dibimbing dalam melakukan riset dan menuliskannya dalam bentuk jurnal ilmiah. Dalam kegiatan ini, saya banyak men-dapat asupan ilmu dari para dosen dan peneliti senior untuk mengkaji tentang Fenomena Islam liberal di Indonesia.

Masih di tahun yang sama, tahun 2003, saya mendapatkan kesempatan untuk melakukan minor research pada Pusat Studi Wanita UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dengan kajian tentang Poligami dan Keti-dakadilan. Sedangkan pada 2004, saya mendapatkan kesempatan untuk menjadi peserta International Workshop and Public Forum on Equality and Plurality yang diadakan oleh Centre for The Study of Religious and Socio-Cultural Diversity.

Saya menyelesaikan kuliah dalam 3 tahun 8 bulan, dengan IPK 3,52. Meski bukan sebagai yang terbaik, saya bersyukur karena orientasi saya bukanlah studi semata. Bisa dikatakan saya berhasil menerapkan moto "studi cepat, organisasi dapat, nilai hebat (cum-laude)".

Usai kuliah saya mengabdikan diri di tanah ke-lahiran, sambil menunggu waktu yang tepat untuk melanjutkan studi lagi.

Saya merasa sukses saat saya bisa bermanfaat bagi banyak orang. Seperti saat saya bergabung dalam kegiatan pendampingan program pelayanan masyarakat Keaksaraan Fungsional, Koperasi Wanita, dan Dasawisma. Di bidang pendidikan, saya berusaha menjadi guru yang visioner, kreatif, dan menginspirasi siswa, dengan memberikan keteladanan melalui sikap dan prestasi. Alhamdulillah, beberapa kali saya memenangkan kompetisi guru. Usaha untuk memudahkan proses belajar siswa dengan membuat alat peraga edukatif juga telah membawa saya menjadi juara Lomba Alat Peraga Edukatif berbahan daur ulang.

Di bidang jurnalistik dan kepenulisan, saya bergabung sebagai kontributor majalah sehingga saya dapat berbagi pengetahuan melalui tulisan saya. Selain itu, melalui Forum Lingkar Pena (FLP), saya melakukan kampanye membaca pada masyarakat luas, beberapa kali mengirimkan karya ke media cetak daerah, berpartisipasi dalam pameran sastra, serta menjadi narasumber diskusi kepenulisan di radio Pemerintah Kabupaten Tuban. Capaian saya yang sangat berarti lainnya adalah ketika saya mendapatkan kesempatan untuk melakukan eksplorasi ke Singapura bersama penulis buku terkenal, Gola Gong. Begitu banyak hal yang saya pelajari dari kunjungan singkat tersebut, membuat saya ingin lebih banyak belajar dari kota-kota besar negara lain di seluruh dunia, kemudian menerapkan sisi positifnya bagi kemajuan masyarakat.

Kesuksesan yang sudah saya raih tidak membuat saya puas atau berhenti. Ibarat menapaki anak tangga, saya masih di bawah, dan masih harus melangkah menuju pencapaian selanjutnya. Melanjutkan studi S-2 lalu S-3 bukan hanya berarti melanjutkan harapan yang tertunda, tetapi juga menjadi sarana belajar, menimba ilmu lebih dalam, untuk menjadi semakin bermanfaat bagi diri sendiri maupun masyarakat. Besar harapan saya bahwa beasiswa LPDP ini dapat membantu saya meraih kesuksesan selanjutnya, agar saya dapat memberikan lebih banyak kontribusi untuk bangsa dan negara Indonesia di masa depan.

Contoh Esai 2

Bagi saya kesuksesan seseorang itu tidak dapat diukur dari segi apapun karena kesuksesan itu sangat bersifat kualitatif. Jika menurut saya saat ini saya sudah mencapai kesuksesan, tetapi belum tentu sukses menurut teman-teman atau rekan kerja saya.

Kesuksesan hanyalah penilaian yang diberikan oleh orang di sekitar kita terhadap apa yang sudah kita lakukan dan penilaian ini biasanya bersifat subjektif.

Dari sudut pandang saya kesuksesan itu sendiri sangat berkaitan dengan proses dan hasil akhir. Ini saya aplikasikan pada diri saya sendiri.

Saya tidak pernah menargetkan agar apa yang saya lakukan dan saya rencanakan tersebut akan menjadi sukses, tetapi saya sangat menghargai proses.

Begitu pula dengan hasil akhir, apapun itu hasilnya bagus atau jelek, benar atau salah menurut orang-orang disekitar, tetapi bagi saya proses dalam pengerjaan itu yang membuat kita sadar dimana letak kesalahan ataupun kelebihan kita, sehingga kita lebih termotivasi untuk mencoba lagi. Sampai saat ini saya belum bisa menilai diri saya sendiri sudah cukup sukses atau belum. Karena menurut saya biarkan orang lain yang menilai saya sudah cukup sukses atau belum.

Sejak saya duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) saya tidak pernah menargetkan diri saya untuk menjadi seorang dokter. Yang ada dalam benak saya saat itu hanyalah belajar dan apapun hasilnya akan saya terima.

Dari SD hingga SMA saya selalu mencari sekolah dengan kemampuan saya sendiri dan puji syukur saya selalu diterima di sekolah favorit di Denpasar dan saya selalu menduduki peringkat tiga besar di dalam kelas.

Klimaksnya ketika saya melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi, saya diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana melalui jalur Penelusuran Minat Dan Kemampuan (PMDK).

Saat itu keluarga saya bangga akan saya karena belum ada satupun dokter dari keluarga kami, baik dari pihak ibu ataupun ayah saya.

Disaat itulah orang-orang disekitar saya dan keluarga terdekat saya menganggap bahwa kedua orang tua saya sudah sukses membesarkan saya hingga menjadi seorang mahasiswa kedokteran.

Belum selesai sampai disana, panjangnya masa studi di fakultas kedokteran tidak membuat saya gentar.

Kembali saya memegang prinsip diatas, dimana yang diperlukan untuk menjadi seorang dokter selain ilmu, skill atau keterampilan yang tidak kalah penting adalah proses selama menimba ilmu dan berbagai keterampilan selama menjalani pendidikan profesi sebagai dokter muda.

Dari proses pendidikan di fakultas kedokteran ini saya bisa melihat kekurangan dan kelebihan saya dibidang apa. Hingga akhirnya masa studi 6 tahun itu pun saya lewati dan saya berhasil lulus dengan predikat cumlaude.

Saat itu kembali kedua orang tua saya yang mendapat pujian dari teman-teman mereka ataupun keluarga terdekat kami karena dianggap sukses mengantarkan anaknya menjadi dokter pertama di keluarga dan berhasil lulus dengan predikat cumlaude.

Ujian sesungguhnya dari seorang dokter itu adalah ketika kita sudah menyelesaikan masa studi. Disini kembali saya dihadapkan pada banyak pilihan.

Banyak teman-teman saya yang langsung melanjutkan ke jenjang Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) namun tidak dengan saya. Sadar akan kondisi ekonomi keluarga, saya putuskan untuk bekerja terlebih dahulu.

Sebenarnya cita-cita terbesar ayah saya adalah ingin melihat anaknya menjadi seorang dokter spesialis, sedangkan keinginan terbesar saya adalah ingin menjadi seorang dosen di almamater saya sendiri.

Belum sempat terpenuhi cita-cita ayah saya, Sang Pencipta sudah memanggil beliau terlebih dahulu. Kembali saya dihadapkan pada situasi sulit yang mengharuskan saya menjadi tulang punggung keluarga.

Saat itu saya bekerja di klinik-klinik swasta di daerah Denpasar untuk menafkahi keluarga saya sementara cita-cita saya untuk menjadi dosen saya tunda sementara waktu.

Namun seiring berjalannya waktu saya pun bangkit mengingat keinginan terbesar saya dan juga tidak ingin melihat cita-cita ayah saya ikut terkubur. Saya pun bertekad agar terus dapat melanjutkan studi saya hingga ke jenjang tertinggi. Tidak pernah ada kata terlambat untuk belajar.

Akhirnya saya diterima menjadi salah satu staf dosen di almamater kampus saya di bagian Mikrobiologi Klinik FK UNUD.

Saya sendiri adalah orang yang senang belajar dan dengan menjadi dosen banyak terbuka kesempatan beasiswa untuk melanjutkan studi S2 ataupun Program Pendidikan Spesialis (PPDS) untuk saya.

Jadi ketika pertanyaan apakah sukses terbesar dalam hidup saya, saya belum bisa menilai diri saya sukses sampai saat ini tetapi saya bangga menjadi anak dari ibu dan almarhum ayah saya yang menurut saya mereka berdua sangat sukses membesarkan dan mengantarkan saya sampai saat ini. Karena menurut saya pribadi mereka berdualah kesuksesan terbesar dalam hidup saya.

Contoh Esai 3

Indonesia, negara yang kaya akan keberagaman budaya, alam, dan sumber daya manusia, menjadi sumber inspirasi utama dalam perjalanan hidup saya.

Sejak dini, saya menyadari tanggung jawab besar untuk turut serta dalam membangun negeri ini. Oleh karena itu, saya berkomitmen untuk memberikan kontribusi positif bagi Indonesia melalui berbagai aspek, terutama dalam bidang pendidikan, teknologi, dan kewirausahaan.

Pendidikan menjadi fondasi utama perubahan dan kemajuan suatu bangsa. Saya yakin bahwa Indonesia dapat mencapai puncak kejayaannya melalui peningkatan kualitas pendidikan.

Sebagai seorang yang telah mendalami ilmu teknik, saya berkomitmen untuk terlibat aktif dalam inisiatif pendidikan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) di Indonesia.

Saya bermimpi melihat generasi penerus kita memiliki pemahaman mendalam tentang teknologi dan mampu menghadapi tantangan global.

Selain pendidikan, teknologi memainkan peran sentral dalam perkembangan suatu negara. Dengan perubahan dunia yang semakin cepat, Indonesia harus dapat mengikuti perkembangan teknologi untuk tetap bersaing secara global.

Saya berencana untuk mendirikan sebuah pusat riset dan inovasi yang fokus pada solusi teknologi untuk permasalahan lokal. Inovasi-inovasi ini diharapkan dapat memberikan solusi nyata bagi kemajuan sektor-sektor kritis seperti pertanian, kesehatan, dan lingkungan.

Selain itu, saya percaya bahwa kewirausahaan memiliki peran vital dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi Indonesia. Saya berencana untuk memberdayakan masyarakat dengan melibatkan diri dalam pembentukan dan pengembangan startup.

Dengan mendukung para pengusaha muda, saya berharap dapat menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan produktivitas, dan membantu pertumbuhan ekonomi mikro.

Selain kontribusi konkrit dalam bidang pendidikan, teknologi, dan kewirausahaan, saya juga berkomitmen untuk menjaga dan mempromosikan keberagaman budaya Indonesia.

Melalui proyek-proyek seni dan kebudayaan, saya berharap dapat memperkuat rasa persatuan dan kesatuan di tengah keanekaragaman yang menjadi kekuatan utama bangsa ini.

Dengan mendapatkan dukungan dari LPDP, saya yakin bahwa impian untuk memberikan kontribusi nyata bagi Indonesia dapat terwujud.

Saya siap menghadapi tantangan dan tumbuh bersama dengan negara ini. Bersama-sama, kita dapat membangun Indonesia yang lebih maju, adil, dan berdaya saing global.

Kontribusiku tidak hanya menjadi janji, melainkan komitmen nyata untuk membawa Indonesia ke arah yang lebih baik.

Contoh Esai 4

Lahir sebagai salah satu putra Indonesia dengan berbagai macam kemajemukan adat dan budaya merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi saya. Indonesia merupakan negara kepulauan yang sangat kaya akan sumber daya alam. Di samping itu, sumber daya manusia di Indonesia tidak kalah jauh dibandingkan dengan sumber daya manusia negara lain.

Sumber daya manusia di Indonesia sangatlah beragam jika dilihat dari latar belakang pendidikan dan keterampilan. Sumber daya manusia dalam suatu negara sangat berkaitan erat dengan pendidikan dan keterampilan yang nantinya sangat berperan penting dalam mata pencaharian ataupun profesi yang digeluti.

Saya sendiri merupakan bagian dari sumber daya manusia Indonesia. Saya seorang dokter dan juga seorang dosen. Di usia saya yang menginjak 27 tahun, menjadi seorang dokter dan seorang dosen itu tidaklah mudah, tetapi dengan segala kelebihan dan kekurangan masing-masing saya senang menekuni kedua profesi saya.

Menurut masyarakat umum, profesi dokter merupakan profesi yang sangat mulia tetapi tidak bagi saya, menurut saya semua profesi sama mulianya. Contohnya petani, jika bukan karena petani kita tidak akan dapat menikmati hasil panen padi yang sudah kita terima dalam bentuk beras, sedangkan kita hanya tinggal mengolahnya menjadi nasi. Contoh lain lagi adalah guru. Seorang dokter, seorang polisi, bahkan seorang presiden pun bisa menyandang gelar tersebut karena jasa dan didikan dari seorang guru. Jika dilihat lagi masing-masing profesi ataupun mata pencaharian tersebut sama-sama memberikan jasa dan sumbangsihnya yang sangat besar untuk Indonesia.

Menjadi seorang dokter di Indonesia adalah suatu kebanggan bagi saya. Tetapi beban berat terpikul di pundak kami (dokter) karena masih ada daerah di Indonesia yang masih sulit mendapatkan akses kesehatan. Tugas besar bagi ami (dokter) agar dapat meningkatkan derajat kesehatan maupun kesejahteraan bangsa Indonesia secara merata. Karena sampai saat ini akses kesehatan di Indonesia masih belum tersebar merata. Semuanya hanya masih terpusat di kota-kota besar saja.

Sebagai seorang dokter layanan primer saat ini saya bertugas di salah satu klinik swasta di Bali. Dalam menjalankan tugas sebagai dokter layanan primer, saya berpegang pada Five-star doctor, yakni care-provider, decision maker, communicator, community leader, dan manager. Profil five-star doctor ini sangat penting diaplikaskan bag seorang dokter untuk memajukan taraf kesehatan bangsa Indonesia secara merata. Selain itu peran sebagai dokter layanan primer adalah melakukan pencegahan dan deteksi dini penyakit. Dalam hal ini, saya berkolaborasi dengan puskesmas setempat untuk memberikan pelayanan baik berupa penyuluhan tentang penyakit ataupun penyuluhan tentang perilaku hidup bersih dan sehat untuk masyarakat sekitar.

Di sisi lain saat ini saya juga seorang dosen di kampus almamater saya di bagian Mikrobiologi Klinik, khususnya bidang bakteriologi. Satu kesempatan besar bagi saya karena cita-cita saya menjadi seorang dosen dapat terwujud. Sebagai seorang dosen saya berpegang pada Tri Dharma Perguruan Tinggi yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat.

Dalam pengamalan dari Tri Dharma Perguruan Tinggi untuk pendidikan saat ini saya aktif ikut dilibatkan sebagai fasilitator dalam kelompok diskusi mahasiswa. Disini saya berperan sebagai mediator yang memfasilitasi mahasiswa berdiskusi dalam memecahkan suatu kasus. Besar harapan saya nantinya generasi dokter penerus di Indonesia dapat bersaing dari segi kualitas dengan dokter lulusan luar negeri.

Untuk penelitian saya berkolaborasi dengan para senior khususnya bidang bakteriologi untuk melakukan suatu riset biomolekuler. Hasil dari riset-riset yang telah dilakukan nantinya diharapkan bisa diaplikasikan sebagai penunjang diagnosis molekuler di bidang mikrobiologi klinik. Saat ini kita sering sekali terkecoh dengan ajakan kerja sama peneliti dari pihak asing yang ingin melakukan kolaborasi riset dengan kita, mereka hanya memanfaatkan sampel yang kita punya tetapi setelah riset selesai dan dipublikasikan nama peneliti Indonesia tidak satupun ada yang tercantum. Dari pengalaman ini besar harapan saya agar nantinya saya bisa menjadi leader dari suatu riset yang akan berkolaborasi dengan pihak asing dan kecurangan dalam hal riset seperti ini tidak pernah terjadi lagi.

Tri Dharma Perguruan Tinggi yang terakhir adalah pengabdian masyarakat. Beberapa kegiatan saya lakukan di bidang pengabdian masyarakat, diantaranya melakukan penyuluhan dan pelayanan kesehatan untuk lansia di salah satu daerah di Bali. Masih ada beberapa penyuluhan dan pelayanan kesehatan yang akan saya berikan bersama teman-teman sejawat dokter lainnya mengingat masih kurangnya pengetahuan masyarakat tentang kesehatan terutama di daerah-daerah terpencil serta minimnya fasilitas kesehatan.

Dengan apa yang saya lakukan baik sebagai dokter layanan primer maupun sebagai dosen, saya berharap aktivitas-aktivitas saya tersebut dapat memberikan kontribusi yang mampu meningkatkan taraf hidup dan kesehatan masyarakat Indonesia.

Baca Juga: 7 Contoh Esai Beasiswa LPDP dan Cara Membuatnya

Contoh Esai 5

Sukses Terbesar dalam Hidupku: Mendobrak Tradisi di Desa

Saya lahir dan dibesarkan di sebuah desa kecil di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, yang masih memegang erat tradisi dan nilai-nilai patriarkal. Di lingkungan saya, menjadi perempuan berarti harus bersiap untuk menikah muda, mengurus rumah tangga, dan merawat keluarga. Pendidikan bagi perempuan masih dianggap sebagai sesuatu yang tidak terlalu penting—terutama jika harus pergi jauh dari rumah. Dalam situasi inilah saya tumbuh, dengan mimpi yang bagi banyak orang di desa saya terdengar seperti khayalan: kuliah di universitas negeri di luar daerah.

Saya adalah anak keempat dari enam bersaudara, dan hanya saya yang bercita-cita melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi. Ayah saya adalah petani dan ibu saya berjualan kue di pasar. Kehidupan kami sangat sederhana, dan kadang harus memilih antara membeli beras atau membayar uang sekolah. Namun saya selalu percaya bahwa pendidikan adalah satu-satunya jalan keluar dari lingkaran kemiskinan dan keterbatasan.

Perjalanan saya dimulai ketika saya berhasil lolos seleksi masuk Universitas Negeri di Kupang. Saat pengumuman diterima, bukannya mendapat ucapan selamat, saya justru menghadapi penolakan dari keluarga besar dan tokoh masyarakat. Mereka berkata, "Perempuan tidak perlu sekolah jauh-jauh. Nanti ujung-ujungnya juga di dapur." Saat itu, saya hampir menyerah. Namun ibu saya, dengan segala keterbatasannya, berkata satu kalimat yang selalu saya ingat, “Kalau kamu yakin bisa mengubah nasib kita, ibu akan dukung.” Dengan restunya, saya pergi ke Kupang hanya dengan satu tas pakaian, sejumlah uang hasil menjual kambing satu-satunya, dan harapan besar.

Selama kuliah, saya harus bekerja paruh waktu sebagai penjaga warung, guru les, bahkan sempat menjadi petugas kebersihan di kampus. Saya belajar mengatur waktu, mengatur keuangan, dan bertahan tanpa jaminan finansial. Saya pernah tidak makan selama dua hari karena uang bulanan habis untuk membeli buku wajib. Namun saya tidak menyerah. Justru kesulitan itu mengasah daya juang saya.

Empat tahun kemudian, saya lulus sebagai salah satu lulusan terbaik di jurusan saya. Saat pulang ke desa membawa ijazah, sambutan yang saya terima berbeda dari sebelumnya. Tokoh masyarakat yang dulu meragukan saya, kini memanggil saya untuk berbicara di hadapan pemuda desa. Bahkan, saya dipercaya menjadi relawan literasi dan diminta membantu mendampingi anak-anak perempuan yang ingin melanjutkan sekolah.

Sukses terbesar saya bukan hanya tentang menyelesaikan studi S1. Bagi saya, keberhasilan terbesar adalah mematahkan stigma bahwa perempuan desa tidak berhak bermimpi tinggi. Saya telah membuka jalan bagi adik-adik perempuan di desa saya agar tidak lagi merasa rendah diri dan takut bercita-cita. Hari ini, ada tiga anak perempuan dari desa saya yang sedang berkuliah di luar NTT—dan mereka sering menghubungi saya untuk bertukar cerita dan semangat.

Keberhasilan ini telah membentuk saya menjadi pribadi yang tidak hanya kuat secara akademis, tetapi juga matang secara emosional dan sosial. Saya belajar bahwa sukses bukan hanya milik mereka yang tinggal di kota atau lahir dari keluarga berkecukupan, tetapi juga milik siapa pun yang berani bermimpi dan berusaha keras, walau di tengah keterbatasan.

Saya percaya bahwa pendidikan yang tinggi akan memberi saya lebih banyak kesempatan untuk berkontribusi bagi desa saya, khususnya dalam mendorong kesetaraan akses pendidikan dan pemberdayaan perempuan. Jika saya mendapat kesempatan melanjutkan studi melalui beasiswa LPDP, saya ingin memperluas pengaruh saya, membangun program pelatihan literasi digital untuk perempuan desa, dan bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk meningkatkan angka partisipasi sekolah perempuan di NTT.

Esai ini saya tulis bukan untuk menunjukkan kesempurnaan, tetapi sebagai bukti bahwa perubahan bisa dimulai dari satu langkah kecil yang dilakukan dengan tekad besar. Dan bagi saya, menjadi perempuan pertama dari desa saya yang berhasil lulus S1 bukanlah akhir cerita, tetapi awal dari perjuangan yang lebih besar untuk membuka jalan bagi generasi berikutnya.