Konten dari Pengguna

5 Gaya Hubungan Suami Istri yang Dilarang Agama Islam

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 4 menit

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi gaya hubungan suami istri yang dilarang agama Islam foto: shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi gaya hubungan suami istri yang dilarang agama Islam foto: shutterstock

Setiap pasangan Muslim harus mengetahui gaya hubungan suami istri yang diperbolehkan atau dilarang agama Islam. Ini diperlukan untuk menghindari dosa dan penderitaan bagi salah satu pihak, baik suami ataupun istri.

Menurut Mashur dalam Jurnal Seks dalam Perspektif Islam, jima atau hubungan intim suami istri merupakan ibadah yang sangat dianjurkan dalam ajaran Islam.

Jima dalam ikatan pernikahan menjadi jalan halal yang disediakan Allah untuk melampiaskan hasrat biologis insani dan menyambung keturunan bani Adam. Hal ini dijelaskan dalam surat Al-Baqarah ayat 223 yang berbunyi:

"Istri-istrimu adalah ladang bagimu, maka datangilah ladangmu itu kapan saja dan dengan cara yang kamu sukai. Dan utamakanlah (yang baik) untuk dirimu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu (kelak) akan menemui-Nya. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang yang beriman."

Kendati demikian, jima harus dilaksanakan dengan adab Islam. Apabila melanggar adab, jima justru dapat menjauhkan umat dari pahala dan malah mendatangkan dosa. Salah satu adab yang perlu diperhatikan adalah gaya hubungan suami istri.

Lantas, bagaimana gaya hubungan suami istri yang dilarang agama Islam? Simak ulasan berikut ini.

Baca juga: Tuntunan Sholat dan Doa Sebelum Berhubungan Suami Istri

Ilustrasi gaya hubungan suami istri yang dilarang agama Islam foto: shutterstock

Gaya Hubungan Suami Istri yang Dilarang Agama Islam

Berikut gaya hubungan suami istri yang dilarang agama Islam yang dikutip dari Jurnal Seks dalam Perspektif Islam tulisan Mashur dan Jurnal Qurrah Al-Uyun: Seksualitas dalam Literatur Islam oleh Ma'ruf:

1. Berhubungan Lewat Dubur

Berhubungan intim bisa dilakukan dari beberapa arah, namun tidak boleh dilakukan melalui dubur. Dubur bukan tempat untuk menghasilkan keturunan, namun tempat pembuangan kotoran.

Sebagaimana disebutkan dari Abi Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Dilaknat orang yang menyetubuhi wanita di duburnya”. (HR Ahmad, Abu Daud dan An-Nasai)

Ini juga dibahas dalam hadis riwayat Tirmidzi yang berbunyi: “Allah tidak berkenan melihat laki-laki yang mendatangi (jima') kepada istrinya atau kepada laki-laki lain melalui anus/dubur." (HR. At Tirmidzi: 1086).

2. Berhubungan dengan Posisi Berdiri

Menurut Syeikh Muhammad Al Tahami bin Madani dalam kitab Qurratul Uyun, hubungan seks dengan cara berdiri sebaiknya tidak dilakukan. Ini karena posisi itu dapat menyebabkan sakit perut, lemah ginjal, dan sakit pada persendian.

3. Berhubungan dengan Posisi Istri di Atas Suami

Posisi hubungan intim dengan istri di atas suami alias woman on top tidak dianjurkan dalam ajaran Islam. Alasannya, hal ini bisa menimbulkan luka pada saluran kencing suami.

4. Berhubungan dengan Posisi Miring

Pasangan suami istri yang hendak melakukan hubungan intim harus menghindari posisi miring. Sebab, posisi tersebut dapat menyebabkan sakit pada lambung.

5. Berhubungan dengan Posisi Istri Meringkuk

Kitab al-Waghsiliyah melarang suami dan istri untuk bersetubuh dengan posisi istri yang meringkuk. Pasalnya, posisi meringkuk dapat membuat istri kesulitan.

Ilustrasi gaya hubungan suami istri yang dilarang agama Islam foto: shutterstock

Adab Setelah Berhubungan Suami Istri

Terdapat beberapa adab yang perlu diperhatikan setelah suami dan istri melakukan hubungan intim, antara lain:

1. Berdiam Diri

Suami dan istri sebaiknya tidak langsung meninggalkan satu sama lain setelah berhubungan intim. Mereka diharuskan untuk berdiam diri terlebih dahulu.

2. Mencuci Kemaluan Jika Ingin Mengulang Jima

Apabila ingin mengulangi hubungan intim, suami dan istri harus mencuci kemaluan dan berwudhu terlebih dahulu. Sebagaimana dikatakan dalam salah satu hadist:

Dari Abu Sa’id, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Jika salah seorang di antara kalian mendatangi istrinya, lalu ia ingin mengulangi senggamanya, maka hendaklah ia berwudhu.” (HR. Muslim no. 308)

3. Bersyukur

Setelah bersetubuh, istri dan suami diharuskan untuk bersyukur.

4. Mandi Besar

Pasangan suami istri harus mandi besar atau mandi jahaban setelah bersetubuh. Ini sesuai yang dikatakan dalam hadis berikut:

Dari Ubai bin Ka`ab bahwasanya ia berkata : “Wahai Rasul Allâh, apabila ia seorang laki-laki menyetubuhi isterinya, tetapi tidak mengeluarkan mani, apakah yang diwajibkan olehnya? Beliau bersabda,

”Hendaknya dia mencuci bagian-bagian yang berhubungan dengan kemaluan perempuan, berwudhu’ dan lalu shalat”. Abu `Abd Allâh berkata, “mandi adalah lebih berhati-hati dan merupakan peraturan hukum yang terakhir.

Namun mengetahui tidak wajibnya mandi kamu uraikan juga untuk menerangkan adanya perselisihan pendapat antara orang `alim.” (HR. Bukhâriy dalam Kitab Shahihnya/Kitab Mandi, hadits ke-290)

(GTT)