5 Khotbah Kristen Akhir Tahun Lengkap dengan Ayat Alkitab

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 15 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Khotbah Kristen akhir tahun biasanya disampaikan pengkhotbah di gereja menjelang pergantian tahun. Khotbah ini bisa menjadi bahan renungan dan refleksi diri bagi umat Kristiani dalam menyambut tahun baru dengan kondisi yang lebih baik.
Momen akhir tahun merupakan kesempatan yang tepat bagi umat Kristen untuk melakukan evaluasi dan retrospeksi diri terhadap segala sesuatu yang sudah dilakukan selama setahun ke belakang.
Tidak jarang, khotbah yang disampaikan di gereja-gereja mengangkat tema tentang renungan akhir tahun. Khotbah ini biasanya termasuk salah satu rangkaian kegiatan ibadah yang diselenggarakan gereja.
Lantas, apa saja contoh khotbah Kristen akhir tahun yang bisa dijadikan bahan renungan? Simak ragam contohnya berikut ini.
5 Khotbah Kristen Akhir Tahun
Dirangkum dari berbagai sumber, berikut adalah beberapa contoh khotbah Kristen akhir tahun yang bisa menjadi bahan renungan umat Kristiani:
1. Malam Akhir Tahun
Mengutip laman Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM), berikut adalah contoh khotbah Kristen akhir tahun berjudul "Malam Akhir Tahun".
Bacaan Alkitab: Mazmur 106: 1-12
Salam sejahtera,
Ibarat mengadakan suatu perjalanan, maka hari ini kita telah tiba pada akhir dari satu perjalanan panjang di tahun 2023. Selama 365 hari telah kita lalui dengan berbagai macam warna kehidupan, ada yang manis dan menggembirakan, tetapi ada juga yang pahit dan tidak menyenangkan.
Kita meyakini bahwa semua yang telah dijalani bukan karena kemampuan kita, tetapi justru oleh kasih setia Tuhan. Dialah yang telah menopang dan menyertai kita di sepanjang perjalanan hidup ini.
Momen akhir tahun ini, mari kita jadikan suatu kesempatan untuk mengevaluasi diri dengan melihat ke belakang (retrospeksi) hari-hari yang telah kita lalui.
Bagaikan berada di neraca timbang kehidupan, kita boleh mengukur dan menilai manakah timbangan terberat: apakah kebaikan atau keburukan, kebenaran atau kesalahan, keberhasilan atau kegagalan?
Kitalah yang paling bisa mencermati dan menilai beratnya timbangan hidup kita. Dari hasil mengevaluasi timbangan kehidupan, maka saat ini kita jadikan momen yang strategis untuk membangun tekad atau komitmen menata kehidupan di tahun yang baru, tahun 2024.
Jika demikian, kita menjadi orang yang lebih bijak dalam menyikapi dan mengantisipasi perjalanan hidup di tahun yang baru.
Dengan kerinduan dan harapan untuk tidak mau lagi mengulang kesalahan dan kegagalan di tahun yang lalu. Inilah langkah awal bahwa kita mau belajar dari masa lalu untuk membangun masa kini dan menyongsong masa depan yang lebih baik.
Kita memang tak dapat mengubah masa lalu, tetapi kita dapat membangun masa kini lebih baik dari dari masa lalu serta menyambut masa depan yang penuh harapan.
Tentunya bukan karena kepandaian dan kekuatan kita, melainkan oleh kasih setia Tuhan. Sekali lagi hanya karena Tuhan bukan karena kita.
Contoh yang baik mengevaluasi hidup adalah dengan belajar dari sejarah hidup umat Perjanjian Lama.
Abraham Lincoln pernah berkata, "One cannot escape history" yang artinya "Orang tidak dapat meninggalkan sejarah". Hal yang sama disampaikan oleh Presiden Soekarno, "Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah."
Setiap orang adalah produk masyarakat dan masyarakat adalah produk masa lampau, ialah produk sejarah. Dengan mempelajari sejarah, kita akan mampu menghindari berbagai kesalahan dan kekurangan masyarakat masa lampau untuk kemudian memperbaiki masa depan.
Bangsa Israel gagal untuk belajar dari masa lalu, gagal belajar dari sejarah. Berulang kali mereka mengalami kasih setia Tuhan dan pemeliharaan-Nya yang tak berkesudahan.
Sayangnya, umat tak merespons kasih setia Tuhan dengan hidup sesuai kehendak-Nya. Mereka tidak mengerti perbuatan-perbuatan ajaib Tuhan dan tidak ingat besarnya kasih setia-Nya. Itulah sebabnya berulang kali mereka memberontak dari hadapan Tuhan.
Mazmur 106 ini diawali dengan ajakan pemazmur untuk bersyukur kepada Tuhan sebab Ia baik. Kebaikan Tuhan berlaku selama-lamanya. Pernyataan ini menegaskan bahwa kasih setia Tuhan tidak dibatasi oleh waktu dan berlaku dalam segala situasi.
Hal ini juga berarti bahwa kebaikan Tuhan tidak bergantung pada manusia, melainkan keberpihakkan Allah bagi umat-Nya. Kendati umat berulang kali menikmati kebaikan Tuhan dan berkali-kali gagal untuk merespons kebaikan-Nya, kasih setia Tuhan tidak pernah berubah.
Pemazmur berdoa agar Tuhan mengingat dan memperhatikannya, bukan karena kebaikannya melainkan karena semuanya bergantung pada Tuhan; demi kemurahan terhadap umat-Mu dan keselamatan dari pada-Mu.
Pemahaman yang membingkai doa ini terpola pada pemahaman yang inklusif, yaitu melihat kebaikan Tuhan pada orang pilihan-Nya, bersukacita dan bermegah bersama umat milik Tuhan, yaitu umat ciptaan-Nya.
Meneladani pemazmur, kita diajak untuk mengutamakan kebersamaan, menikmati sukacita dan berkat dalam suatu persekutuan umat pilihan tetapi selalu terajak untuk bersyafaat bagi orang lain.
Sering kita mengakhiri tahun bukan dalam persekutuan orang percaya di gereja, melainkan di tempat pesta, kelab malam, dan kumpulan orang yang berhura-hura sambil mabuk-mabukkan.
Doa pemazmur ini memang berbeda dengan doa kita, kita ingin berkat Tuhan hanya untuk keluarga, kelompok, bahkan diri kita sendiri. Keinginan hati seperti ini adalah awal dari suatu tindakan yang merugikan dan merusak.
Bukankah perayaan ini masih diwarnai dengan pemuasan keinginan diri serta upaya untuk menunjukkan bahwa kita lebih dari yang lain. Itulah sebabnya, kita harus berdoa layaknya pemazmur yang mengakui bahwa kami dan nenek moyang kami telah berbuat dosa, bersalah, dan berbuat fasik.
Perbuatan Tuhan berbanding terbalik dengan perbuatan umat-Nya, Ia menyelamatkan mereka dari tangan pembenci dan musuh, sehingga dapat melintasi samudera raya. Pengalaman dahsyat ini membuat mereka percaya pada Firman-Nya dan menyanyikan pujian kepada-Nya.
Memasuki tahun baru, kita diajak untuk tidak pernah melupakan perbuatan dahsyat Tuhan. Janganlah menjadi orang yang pura-pura lupa atau sengaja tidak mau mengingat kasih setia Tuhan.
Kebaikan Tuhan harus terpatri di hati kita dan tugas kita untuk menceritakan dan mengajarkan berulang-ulang tentang kasih setia Tuhan. Dapat juga melalui suatu peristiwa monumental (peringatan pada sesuatu yang agung) sebagai wujud ucapan syukur kepada-Nya.
Kasih setia Tuhan tidak sekadar diceritakan dan dirayakan tapi juga diwujudkan. Orang percaya yang mengalami kasih setia Tuhan harus hidup dalam kasih setia-Nya.
Kasih setia adalah dua hal yang berbeda namun menyatu dalam tindakan iman. Kasih tanpa kesetiaan ibarat fatamorgana, indah dipandang, tetapi akan segera hilang.
Kesetiaan tanpa kasih hanyalah ketaatan yang hampa, hidup yang dipenuhi dengan kewajiban belaka. Mewujudkan kasih setia kita tidak boleh dipaketkan dengan materi, melainkan satu paket dengan ketulusan dan ucapan syukur.
Kini tahun akan berganti tapi kasih setia Tuhan berlaku sepanjang kehidupan. Itulah kiranya membuat kita menyanyikan pujian bagi-Nya menjemput tahun baru, karena Tuhan telah menjamin terpeliharanya kebahagiaan dan kesejahteraan kehidupan umat-Nya. Amin.
2. Refleksi Akhir Tahun
Mengutip laman Nafiri Discipleship Church (NDC), berikut adalah contoh khotbah Kristen akhir tahun berjudul "Refleksi Akhir Tahun".
Bacaan Alkitab: Mazmur 90:9-17
Tahun 2023 akan segera berakhir, dan sekarang waktu yang tepat untuk mengevaluasi apa yang telah kita lakukan selama 365 hari yang lalu.
Apakah hidup dan pekerjaan kita menuai hasil? Bagaimana dengan pemberian kita kepada Tuhan? Ia telah memberkati kita dengan waktu, pengalaman, sumber daya, bakat, karunia rohani, dan orang-orang di sekitar kita.
Sudahkah kita memiliki sikap syukur akan semua itu? Sudahkah kita menggunakan semua berkat yang kita terima untuk memuliakan nama Tuhan?
Berapa banyak waktu yang kita habiskan untuk membaca firman dan berdoa? Berapa banyak orang yang kita doakan? Berapa banyak orang yang dimenangkan karena kesaksian hidup kita?
Bagi kebanyakan orang, perubahan tahun tidak ada bedanya dengan hari-hari biasa. Tahun yang baru hanyalah perpanjangan dari tahun lalu. Kehidupan tetap berjalan seperti biasa.
Namun, tidak ada salahnya kita menggunakan kesempatan ini untuk memikirkan perubahan, menentukan tujuan, dan membuat rencana untuk tahun mendatang sehingga tahun 2024 bukanlah tayangan ulang dari tahun 2023.
Bagaimana kita akan mengakhiri tahun 2023 nanti akan ditentukan oleh bagaimana kita memulainya dan bagaimana kita menjalaninya. Kita dapat memulai tahun yang baru dengan berdoa agar Tuhan mereformasi hidup kita dari dalam ke luar, berdoa menyerahkan hidup kita kepada Tuhan sehingga Ia mengubah prioritas hidup kita.
Biarlah resolusi tahun baru kita kali ini adalah komitmen untuk menjadikan Tuhan segalanya dalam hidup. Tidak seperti kebanyakan orang yang membuat resolusi dan kemudian gagal.
Tujuan dan makna hidup didapatkan di dalam hubungan yang dekat dengan Tuhan. Pemeliharaan-Nya bersama kita di sepanjang perjalanan hidup kita, tidak ada yang perlu kita takutkan.
Jika setiap hari kita hidup dalam kasih Tuhan, kita akan diberdayakan untuk hidup bagi Dia. Tuhan memberikan kekuatan bagi kita untuk menjalani hari-hari bersama Dia.
Kita tidak akan khawatir tentang berlalunya tahun, tetapi melihat waktu yang diberikan Tuhan sebagai kesempatan mengasihi dan melayani Dia.
Biarlah damai sejahtera dari Tuhan sendiri ada bersama kita dalam menghadapi dan menjalani tahun yang akan datang. Semoga apa pun yang terjadi di tahun depan akan menjadi yang terbaik. Amin.
3. Akhir Tahun: Masa Refleksi dan Mengucap Syukur
Mengutip laman Gereja Kristus Yesus (GKY), berikut adalah contoh khotbah Kristen akhir tahun berjudul "Akhir Tahun: Masa Refleksi dan Mengucap Syukur".
Bacaan Alkitab: Efesus 5:20
Akhir tahun adalah masa yang baik untuk melakukan refleksi atas hidup kita sepanjang tahun: apa yang telah atau belum berhasil serta apa yang perlu ditingkatkan. Apa pun hasil refleksi kita, tutuplah tahun ini dengan bersyukur kepada Allah sebagai bukti dari dua butir pengakuan iman kita di hadapan-Nya:
Pertama, bersyukur berarti mengakui kebaikan Allah. Sama seperti ucapan terima kasih merupakan pengakuan atas kebaikan seseorang, demikian pula ucapan syukur adalah pengakuan bahwa segala sesuatu dalam kehidupan terjadi karena kebaikan Allah.
Sebaliknya, tidak mengucap syukur mengungkapkan penyangkalan atau ketidakpedulian atas kebaikan Allah.
"Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita." (Efesus 5:20)
Kedua, bersyukur berarti mengakui kedaulatan Allah dalam hidup kita. Kata “senantiasa” dalam bacaan Alkitab hari ini merujuk kepada waktu dan kondisi, yakni setiap saat dalam segala kondisi.
Kata “segala sesuatu” merujuk kepada segala peristiwa yang terjadi dalam hidup kita. Jadi, bersyukurlah baik saat keadaan lancar dan aman maupun saat muncul banyak masalah karena kita yakin bahwa segala sesuatu terjadi di bawah kedaulatan Allah atau atas izin-Nya.
Percayalah bahwa segala sesuatu akhirnya akan mendatangkan kebaikan dan keindahan bagi orang yang dikasihi-Nya (Roma 8:28).
Tutuplah tahun ini dengan mengucap syukur kepada Allah. Ucapan syukur apakah yang Anda persembahkan kepada Allah atas kebaikan dan kedaulatan-Nya dalam kehidupan Anda tahun ini?
Dengan bersyukur, kita mengakui bahwa kita dapat melewati tahun ini hanya karena kasih karunia Allah, bukan karena kekuatan atau kehebatan kita. Dengan bersyukur, kita mengekspresikan iman bahwa dalam memasuki tahun depan, kita meyakini pimpinan Allah dalam kasih karunia-Nya.
4. Renungan Spesial Akhir Tahun
Mengutip laman Gereja Bethel Indonesia (GBI) Imamat Rajani Surabaya, berikut adalah contoh khotbah Kristen akhir tahun berjudul "Renungan Spesial Akhir Tahun".
Bacaan Alkitab: Mazmur 77:1-21
Banyak yang sudah kita lalui di sepanjang tahun ini, situasi dan kondisi yang naik turun mengguncang iman, hati, dan hidup kita.
Lika-liku perjalanan yang penuh kegembiraan maupun kesedihan, yang meninggalkan kenangan indah dan kenangan pahit dalam ingatan. Banyak doa yang telah dijawab Tuhan dan banyak pula yang masih menunggu waktu yang tepat.
Sudah berapa jauh kita berjalan menuju arah yang lebih baik? Berapa banyak yang kita lakukan pada sesama? Sekarang saatnya kita mengevaluasi semua yang sudah kita lakukan satu tahun belakangan ini.
Waktu yang sudah berlalu tidak bisa dikembalikan lagi. Semua yang telah kita alami adalah guru terbaik yang mengajar kita dalam banyak hal.
Kenangan dari setiap perjalanan dan proses yang telah kita lewati adalah pelajaran yang sangat berharga. Semua itu tidak pernah lepas dari campur tangan Tuhan sebagai bukti kasih-Nya dalam hidup kita. Maka, biarlah semua itu semakin menguatkan iman dan pengharapan kita dalam menyambut tahun yang baru.
Bersihkan hati dan lepaskan hal-hal yang menyakitkan, kekecewaan, kegagalan, permusuhan, dan yang lainnya. Hendaklah kita saling mengampuni seperti Allah telah mengampuni kita terlebih dahulu.
Tanamkan semangat yang positif, senantiasa bersyukur dan percaya pada Allah kita yang luar biasa. Simpan kenangan indah yang telah kita alami untuk dapat kita kenang dikemudian hari.
Tutup tahun ini dengan sukacita dan damai di hati. Ucapkan selamat tinggal pada tahun yang lama, yang mungkin merupakan tahun yang penuh dengan kenangan pahit. Persiapkan hati dan hidup kita menyambut tahun yang baru, tahun dengan lebih banyak sukacita dan harapan baru.
Pada tahun yang baru, banyak yang membuat tekad baru. Ada yang bertekad untuk menguruskan badan, lebih banyak berolahraga, berhenti merokok, dan mengamalkan gaya hidup yang lebih sehat.
Ada pula orang Kristen yang bertekad untuk lebih banyak berdoa, membaca Alkitab, dan lebih teratur ke gereja.
Namun, sering kali kita gagal untuk menepati apa yang telah ditekadkan pada awal tahun. Mengapa? Alasannya adalah karena tidak ada kekuatan dalam diri kita untuk menggenapinya.
Bertekad untuk memulai kebiasaan yang baik atau menghentikan kebiasaan yang buruk tak akan berhasil bila kita tak memiliki motivasi yang kuat.
Contohnya, bila Anda mau setiap hari membaca Alkitab, apakah itu ditujukan untuk memuliakan Allah dan bertumbuh secara spiritual, ataukah karena Anda mendengar bahwa hal tersebut merupakan hal yang baik dilakukan?
Sebagai pengandaian, mengapa kita menguruskan badan? Apakah untuk memuliakan Allah lewat tubuh kita, atau untuk kecantikan dan memuliakan diri di mata orang lain?
Tekad Anda akan berhasil bila hanya Allah yang menjadi fokusnya dan berkomitmen total untuk melakukannya. Jika tidak memuliakan Tuhan, kita pun tidak akan pernah menerima pertolongan Tuhan di dalam melakukannya.
Mengingat-ingat perbuatan-perbuatan Tuhan dan keajaiban kuasa-Nya adalah hal yang harus kita lakukan, terlebih-lebih ketika sedang dalam masalah atau kesulitan. Karenanya, selalu libatkan Tuhan dalam semua urusan Anda.
5. Berhenti Berkeluh Kesah dan Tetap Optimis Menghadapi Tantangan Hidup
Mengutip laman Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW), berikut adalah contoh khotbah Kristen akhir tahun berjudul "Berhenti Berkeluh Kesah dan Tetap Optimis Menghadapi Tantangan Hidup".
Bacaan Alkitab: I Raja-raja 3:5-15 dan Yohanes 8:12-20
Hari ini merupakan hari terakhir di tahun 2023 ini. Apa yang patut kita lakukan di hari ini? Baik, mari kita melihat ulang perjalanan hidup kita di sepanjang tahun 2023 yang segera akan kita tinggalkan dan membuat komitmen untuk kita lakukan di tahun 2024 yang akan datang.
Ada sebuah kata-kata mutiara dari M. Scott Peck yang berbunyi: "Kehidupan adalah serangkaian masalah. Namun kita bebas memilih untuk mengeluh atau memecahkan masalah-masalah itu."
Berkaitan dengan kata-kata mutiara tersebut, apa yang akan kita pilih ketika kita menghadapi serangkaian masalah atau tantangan? Bukankah seringkali kita berkeluh-kesah?
Sebaiknya hal itu kita tinggalkan dan kita ganti dengan kesediaan memecahkan dan menemukan solusi atas berbagai masalah/tantangan yang akan kita hadapi.
Firman Tuhan ini menolong kita untuk berhenti berkeluh-kesah!
Apa yang sebenarnya kita butuhkan?
Doa kita sering kali berisi berbagai permintaan/permohonan. Kita memohon anak-anak kita sehat, belajar dengan giat, dan tidak nakal. Kita memohon keluarga kita tercukupi semua kebutuhan. Kita memohon orangtua kita baik-baik saja. Kita memohon bangsa dan Negara kita aman.
Ada banyak permohonan. Tentu saja, hal itu tidak salah. Namun, itu semua sebenarnya merupakan kebutuhan fisik atau jasmani saja. Padahal, diri kita terdiri dari jiwa dan raga, rohani dan jasmani.
Sering kali kita sulit membedakan antara apa yang sebenarnya kita butuhkan dan apa yang menjadi keinginan kita. Jika kita membiarkan diri dengan selalu memenuhi keinginan kita saja, maka kita akan merasa lelah, sebab keinginan itu tidak akan pernah ada akhirnya.
Ketika Allah memberi kesempatan kepada Salomo untuk meminta sesuatu, Salomo meminta hati yang paham menimbang perkara untuk menghakimi umat dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat.
Salomo meminta agar dapat memimpin dengan baik dan membuat keputusan benar. Kita dapat meminta hal yang sama kepada Allah (Yakobus 1:5).
Perhatikan bahwa Salomo meminta hati yang paham menimbang perkara (ketajaman) untuk dapat menyelesaikan pekerjaannya. Salomo tidak meminta agar Allah menyelesaikan pekerjaannya baginya.
Kita sebaiknya tidak meminta Allah menyelesaikan bagi kita apa yang Ia ingin lakukan melalui kita, tetapi kita minta Allah memberi kita kebijaksanaan untuk mengetahui apa yang harus kita lakukan (bagaimana melakukannya) dan kemampuan untuk mengikuti-Nya.
Salomo minta hati yang penuh hikmat dan pengertian, dan bukan kesejahteraan, tetapi justru Allah memberinya kekayaan dan umur panjang.
Meskipun Allah tidak berjanji memberi kekayaan bagi mereka yang mengikuti-Nya, tetapi Ia memberi kita apa yang kita perlukan jika kita menempatkan Kerajaan-Nya, kehendak-Nya, dan hukum-hukum-Nya sebagai hal yang utama (Matius 6:31-33).
Menempatkan kekayaan sebagai yang utama malah akan menyisakan rasa tidak puas, sebab meskipun kita mendapat kekayaan yang melimpah, kita akan tetap ingin sesuatu yang lebih lagi.
Namun, jika kita menempatkan Allah dan pekerjaan-Nya sebagai yang utama, Ia akan memuaskan kita lebih daripada yang kita butuhkan.
Kebijaksanaan adalah kemampuan melihat dengan tepat apa yang terbaik dan memiliki karakter yang kuat untuk melaksanakannya. Ternyata, Salomo tidak selalu berbuat bijaksana dalam hidupnya.
Jadi, kita perlu tahu bahwa ada hal yang lebih penting dan utama yang perlu kita miliki, yakni hati yang penuh hikmat, paham untuk dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat, sehingga dapat membuat keputusan yang baik dan benar.
Untuk itulah, Salomo dikenal sebagai pemimpin yang bijaksana. Salomo tidak menempatkan kesejahteraan jasmani sebagai hal yang utama.
Hati merupakan tempat konflik dalam diri kita: pergumulan antara baik dan buruk, benar dan salah, dan lain-lain. Kita perlu memelihara hati, sebagai sumber ide, ucapan, dan perilaku kita agar tetap terkendali dengan baik.
Tetap optimis menghadapi tantangan hidup!
Mengikuti Kristus membutuhkan kemampuan menempatkan kepatuhan sebagai hamba menjadi hal yang utama, karena Tuhan Yesus yang membawa kehadiran, pemeliharaan, dan bimbingan Allah bagi kita.
Tuhan Yesus berbicara di bagian Bait Suci di mana persembahan ditempatkan (8:20), di mana lilin dinyalakan untuk menggambarkan tiang api yang memimpin umat Israel melalui padang gurun.
Dalam konteks ini, Tuhan Yesus menyebut diri-Nya sebagai terang dunia. Tiang api mempresentasikan kehadiran, pemeliharaan, dan bimbingan Allah atas umat-Nya. Tuhan Yesus membawa kehadiran, pemeliharaan, dan bimbingan Allah.
Apakah Tuhan Yesus sebagai terang bagi dunia kita juga?
Menempatkan pola berpikir menurut diri kita sendiri, sering kali akan menimbulkan konflik dan penolakan bagi kehadiran kebenaran-Nya. Kita perlu membuka diri, berproses bersama-Nya, agar kita mampu menghadapi kenyataan hidup.
Apa arti mengikut Kristus? Seperti seorang tentara mengikuti komandannya, dengan cara demikian sebaiknya kita mengikut Kristus, komandan kita.
Sebagai seorang hamba mengikut tuannya, demikian juga sebaiknya kita mengikut Kristus, Tuan kita. Sebagaimana kita mengikuti nasihat seorang konselor yang kita percaya, demikian juga kita mengikuti perintah Tuhan Yesus, sebagaimana tertulis dalam Kitab Suci.
Sebagaimana kita taat hukum negara kita, demikian juga kita seharusnya taat hukum Kerajaan Sorga.
Jika kita ingin tahu siapa sebenarnya Tuhan Yesus, maka kita jangan menutup pintu sebelum melihat dengan jujur. Hanya dengan pikiran terbuka kita akan tahu kebenaran bahwa Ia adalah Mesias dan Tuhan.
Berhenti berkeluh kesah dan tetap optimis menghadapi tantangan hidup.
(SFR)
