Konten dari Pengguna

5 Khotbah Natal Terbaik untuk Bahan Renungan Umat Kristiani

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi umat Kristen di gereja. Foto: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi umat Kristen di gereja. Foto: Pexels

Khotbah Natal terbaik dapat menjadi bahan renungan bagi umat Kristen untuk memperingati hari kelahiran Yesus Kristus. Biasanya, khotbah ini menjadi salah satu bagian dari rangkaian ibadah di gereja dalam perayaan Natal.

Khotbah Natal merupakan sebuah bahan renungan sekaligus untuk menginspirasi umat Kristiani agar dapat merasakan kehangatan, cinta, dan kasih Tuhan Yesus.

Khotbah Natal umumnya berisikan pesan-pesan rohani untuk mengingat dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Lantas, apa saja khotbah Natal yang bisa direnungkan? Simak pembahasan berikut ini.

Khotbah Natal Terbaik

Ilustrasi umat Kristen di gereja. Foto: Pexels

Mengutip buku Garis Besar Khotbah-Khotbah Menurut Tahun Gerejawi oleh Abraham Yeboah, berikut adalah beberapa khotbah Natal terbaik yang bisa menjadi bahan renungan.

1. Kelahiran Yesus Kristus

Mikha 5: 2-4

Titus 2: 11-15

Lukas 2: 1-20

a. Tujuan

Untuk mencetuskan kembali semangat kegembiraan yang menge- lilingi hari Natal yang paling pertama.

b. Pendahuluan

Bandingkan kelahiran Yesus seperti yang diceritakan oleh Lukas dengan apa yang terjadi apabila seorang anak lahir. Pada hari itu terdapat kegembiraan bagi orang tuanya, keluarga, dan kawan-kawan. Terus, ceritakan lagi tentang Hari Natal yang pertama. Ceritakan dengan sederhana, tetapi penuh imajinasi.

c. Pokok-Pokok

1. Allah memakai nabi-nabi Perjanjian Lama

Nats kita, dari kitab Mikha, adalah satu dari sekian banyak janji Allah kepada umatNya, bahwa la akan mengirim penebus. Alangkah tepatnya Mikha menubuatkan tempat kelahiran Kristus, 700 tahun sebelum peristiwa Natal terjadi.

2. Allah memakai gembala-gembala

Orang-orang sederhana ini sedang bekerja seperti biasa dalam suasana sunyi. Mereka tidak menantikan sesuatu yang luar biasa, tetapi sekonyong-konyong mereka mengalami suatu kejadian yang sangat ajaib.

Perhatikanlah hal-hal berikut:

a. Dengan tergesa-gesa mereka pergi menemui bayi Yesus. Allah juga telah berfirman kepada Saudara tentang Yesus. Segerakah Saudara menang- gapinya, seperti para gembala itu, atau apakah Saudara tangguhkan penyerah- an diri kepada Yesus Kristus?

b. Mereka menyebarkan berita yang diberitakan Allah kepada mereka tentang Yesus (ayat 17). Kita juga mempunyai kewajiban untuk meneruskan apa yang kita ketahui tentang Yesus.

c. Bila Kristus datang kembali, Ia datang dengan tidak disangka-sangka, sewaktu orang sedang melakukan pekerjaannya sehari-hari.

3. Allah memakai Yusuf dan Maria

Perlihatkan bahwa Yesus dan Maria adalah orang yang rendah hati dan sederhana. Jelaskan kewajiban orangtua untuk anak-anak yang telah dise- rahkan oleh Allah kepada mereka untuk diasuh.

Minta perhatian para orang- tua di dalam Jemaat, bahwa Allah pada suatu hari mungkin akan memakai bayi mereka yang kecil itu untuk membawa banyak orang ke jalan yang be-nar.

Bersediakah mereka menyerahkan anak-anak mereka untuk pelayanan Allah, ataukah mereka lebih tertarik akan gaji yang besar yang mungkin diperolehnya nanti?

4. Allah memakai para malaikat

Meskipun para gembala, Yusuf dan Maria adalah manusia-manusia biasa, tetapi bagi mereka Yesus itu menarik: Ia adalah Juruselamat dan Kristus Tuhan (Luk 2:11). Inilah sebabnya mengapa Allah mempergunakan malaikat-malaikat untuk memberitakan kelahiran=Nya.

d. Kesimpulan

Hari Natal adalah kesempatan bagi kita untuk melihat Allah, berada bersama Allah, ketika kita berkenalan dengan Yesus.

Kita dapat dipenuhi dengan kegembiraan Natal, karena seperti halnya dengan para gembala, kita telah melihat Yesus. Kita dapat mempersembahkan diri kita kembali kepada Allah untuk dipakai-Nya.

2. Orang-Orang Majus

Ilustrasi membaca ayat Alkitab tentang orang-orang Majus di gereja. Foto: Pexels

Yesaya 60: 1-6

Ibrani 1: 1-4

Matius 2:1-12

a. Tujuan

Memperlihatkan bahwa kebijakan tidak selalu berarti mempunyai pengetahuan, tetapi mengetahui bagaimana mengumpulkan ilmu dan bagaimana mengamalkannya jika telah memilikinya.

b. Pendahuluan

Banyak orang berpendapat bahwa mereka tidak pintar apabila tidak mengetahui semua jawaban. Seorang petani yang tidak berhasil akan berpendapat bahwa ia tidak pintar, karena tidak tahu apa yang harus dilakukan. Sebenarnya bukan selalu demikian.

Jika saja ia suka bertanya, ia mungkin mendapatkan pengetahuan yang ia perlukan. Barangkali ia harus bertanya kepada orang dari kantor pertanian setempat, atau kepada seorang anggota jemaat yang mempunyai pengetahuan di bidang pertanian atau seorang tetangga yang telah berhasil.

Barangkali pertanyaan yang benar bukanlah "Hasil tanaman saya tidak seperti yang diharapkan. Apakah yang harus saya perbuat?"

Barangkali ia harus lebih teliti bertanya, "Tanaman saya berubah warnanya dari yang biasa- nya. Tahukah Saudara apa sebabnya?"

Atau barangkali ia harus bertanya, "Pertumbuhan tanaman saya sangat lamban, karena sangat kekurangan air. Apakah yang dapat saya lakukan untuk menyalurkan lebih banyak air ke desa saya?"

Jika ada orang yang menjawab pertanyaan petani tadi dan mengatakan kepadanya apa yang harus dilakukannya, petani itu harus segera bertindak, supaya nasihat baik tadi tidak menjadi sia-sia.

Kebijaksanaan bukanlah hanya kemampuan mengajukan pertanyaan yang benar, atau mengetahui jawaban- nya, tetapi juga bertindak sesuai dengan yang diketahui.

Kita dapat mencari jawaban-jawaban pertanyaan kita dari Alkitab. Di sanalah kita akan mendapat jawaban yang tepat. Akan tetapi jawaban Kitab Suci tidak akan berguna bagi kita, jika kita tidak mempraktekkannya dalam hidup kita.

c. Pokok-Pokok

1. Nabi-nabi bekerja untuk sebuah tujuan

Mereka mengabarkan kedatangan bayi Kristus (Yes 60:2-3), dan bahkan cara bayi Kristus dimuliakan (Yes 60:6).

2. Kebijaksanaan seringkali diperoleh dari kemampuan bertanya dengan tepat

Orang majus adalah manusia biasa dan tidak mampu mengetahui di mana bayi Kristus itu berada. Mereka cukup bijaksana untuk bertanya dengan tepat (Mat 2:2). Mereka mendapat jawaban yang benar (Mat 2:5-6).

3. Kebijaksanaan dapat membuahkan keberhasilan

Begitu orang-orang majus mengetahui jawabannya, mereka bertindak (Mat 2:9) dan mereka memperoleh hasil kebijakannya (Mat 2:10-12).

4. Kristuslah jawabannya

Kita tidak usah menambahkan sesuatu kepada jawaban itu: cukup kita harus mengerti dan mengerjakannya. Seperti orang-orang majus ini, kita bertanya-tanya dulu untuk mengetahui lebih banyak tentang Yesus, lalu bertindak sesuai dengan yang dikatakan sampai kita bertemu muka dengan Yesus sendiri dan akhirnya menerangkan apa yang kita lihat kepada orang lain.

d. Kesimpulan

Sekarang tantanglah para pendengar Saudara. Apakah mereka mengira bahwa mereka orang-orang bijaksana? Apakah mereka mengira bahwa mereka sudah mengetahui semua jawaban, mungkin karena mereka orang Kristen yang cerdas dan berpendidikan dan mengenal Alkitab lebih baik daripada orang-orang lain?

Apakah mereka mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang memimpin mereka kepada Kristus? Bertindakkah mereka sesuai dengan apa yang mereka pelajari? Jika tidak, kebijakan mereka akhirnya hampir tak ada faedahnya bagi mereka.

3. Bayi Yesus di Bait Allah

I Samuel 1:20-28

Roma 12:1-8

Lykas 2:21-40

a. Tujuan

Menunjukkan bahwa bila Allah meminta orang Yahudi untuk menyerahkan anak sulung mereka kepada-Nya, demikianlah Ia mengharapkan dari kita, untuk menyerahkan diri kita sebagai korban yang hidup

b. Pendahuluan

Yesus Kristus dipersembahkan kepada Tuhan di Bait Allah setelah empat puluh hari, menurut kebiasaan orang Yahudi, dengan persembahan yang di- harapkan dari orang miskin, yakni dua ekor burung tekukur.

Dengan demikian Yesus disamakan dengan orang yang miskin dan kekurangan agar la dapat merangkul baik yang kaya maupun yang miskin. Bahwa Yesus dipersembahkan kepada Allah sesuai dengan kebiasaan orang Yahudi menunjukkan, bahwa la memang datang sebagai ganti kita, karena sebenarnya Ia tidak berdosa dan tidak perlu dibersihkan dengan korban semacam itu.

c. Pokok-Pokok

1. Perlukah Allah mempersembahkan korban penghapus dosa?

Yusuf dan Maria sebenarnya tidak perlu membawa bayi itu ke Bait Allah dalam rangka persembahan korban penghapus dosa, mengingat nubuat-nubuat tentang Anak itu. Malaikat telah berkata, bahwa anak Maria harus diberi nama Yesus, sebab la datang untuk menyelamatkan umat-Nya dari dosa. Ia adalah Juruselamat.

Mengapakah seorang Juruselamat harus mempersembahkan korban penghapus dosa? Tetapi Yusuf dan Maria seolah-olah lupa akan nubuat-nubuat itu dan hanya berpikir tentang mempersembahkan Dia dalam Bait Allah, sesuai dengan Taurat.

2. Bukan secara kebetulan

Kealpaan ini bukan secara kebetulan, tetapi menurut kehendak Tuhan sendiri. Yesus akan mengambil tempat orang berdosa dan menderita sebagai pengganti mereka, sebab itu la harus melalui jalan hidup seorang lelaki yang dilahirkan oleh seorang perempuan, dan dalam dosa.

3. Kesaksian Simeon dan Hana

Kesaksian Simeon dan Hana mungkin mengingatkan Yusuf dan Maria kepada kata malaikat, ketika bayi itu mulai berada dalam kandungan. Simeon telah bersedia meninggal, karena matanya telah melihat Juruselamat umat Allah dan terang bagi segala bangsa, Yahudi dan bukan Yahudi.

Kepadanya telah diberitahukan oleh Allah, bahwa ia tidak akan mati, sebelum melihat Juruselamat. Seharusnya ia akan berdukacita, sebab kedatangan Juruselamat berarti kematian baginya, namun sebaliknya ia girang memohon kepada Allah, supaya ia meninggal dalam damai sejahtera.

Bagaimanakah kita menghadapi kematian? Takutkah Saudara mati, atau tahukah Saudara bahwa Saudara akan berkumpul dengan para orang suci yang hidup dalam kemuliaan Allah?

d. Kesimpulan

Kebanyakan orang pergi ke Gereja tiga bulan setelah melahirkan untuk mengucap syukur akan tetapi apakah mereka betul-betul mempersembahkan anak itu kepada Allah, seperti Samuel dipersembahkan?

Beberapa Gereja mempunyai kebaktian khusus untuk para ibu dan anaknya yang baru lahir, di luar pembaptisan bayi, tetapi kebanyakan tidak mengerti, bahwa Allah menuntut lebih dari sekedar kebaktian saja.

Ia menginginkan kita mempersembahkan bayi itu kepadaNya, sehingga Ia dapat melakukan kehendakNya terhadap bayi itu, seperti pernah diucapkan Hana dalam I Samuel 1:27-28.

Saudara tidak dapat membiarkan bayi Saudara dalam Bait Allah, seperti yang dilakukan oleh Hana: tetapi dapat membuat rumah Saudara menjadi suatu Bait yang pantas ditempati oleh Allah. Saudara dapat bersama-sama berdoa, meneliti Alkitab, hidup secara Kristen dengan anak-anak Saudara. Mulailah hari ini.

4. Yang Lama dan Yang Baru

Ilustrasi membaca ayat Alkitab di gereja sebagai bahan renungan. Foto: Pexels

Yoel 2:15-19, 21-22

II Korintus 3:4-11

Markus 2:18-22

a. Tujuan

Menunjukkan bahwa yang lama tidak dapat dicampur dengan yang baru, sebab yang baru akan menggantikan yang lama.

b. Pendahuluan

Berikan contoh perobahan yang terjadi di negeri kita pada tahun 1965, dari orde lama ke orde baru. Tiap sistem tidak dapat dicampurbaurkan. Hukum baru, orde baru menggantikan hukum lama, orde lama.

c. Pokok-Pokok

1. Perjanjian yang lama tak dapat dicampur dengan perjanjian yang baru (covenant)

Perjanjian yang lama memuat suatu sistem hukum untuk hidup dan kebaktian, yang diberikan kepada bangsa Israel melalui Musa. Perjanjian yang lama mengungkapkan kepada kita, kesucian Allah yang mutlak dan keadaan manusia yang penuh dosa.

Hukum mengatur semua pekerjaan yang benar yang harus kita lakukan; akan tetapi bagaimanapun kerasnya kita berusaha melakukannya, kita tidak dapat mendekati ukuran Tuhan: sebab barang siapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian daripadanya, ia bersalah terhadap seluruhnya (Yak 2:10). Karena semua orang telah berbuat dosa (Rm 3:23), bagaimanakah orang dapat mengenal Allah?

Allah menjawab ini untuk kita dalam perjanjian yang baru dengan Anak- nya Yesus Kristus, yang mati di kayu salib guna menebus dosa kita (2 Kor 5:21).

Dengan menerima Kristus dalam hidup kita, kita telah mendapat manfaat, karena Ia menerima hukuman yang seharusnya bagi kita.

Hasilnya kita menjadi bersih, "suci", atau tak berdosa di hadapan Allah. Akan tetapi perjanjian yang lama dan perjanjian yang baru tidak dapat dicampuraduk (Gal 2:21). Perjanjian yang baru menggantikan perjanjian yang lama.

2. Hidup lama tidak boleh dicampur dengan hidup baru (2 Kor 5:17)

Di dalam hidup kita masing-masing ada suatu pusat pengontrolan, boleh dikatakan sebuah kursi pimpinan atau singgasana. Sebelum kita mengenal Kristus, diri kita sendirilah yang berada di singgasana dan menguasai hidup kita.

Tetapi setelah kita mengundang Kristus di dalam hidup kita, kita mengundang-Nya untuk duduk di singgasana untuk memimpin hidup kita dan membuat kita menjadi orang-orang yang diinginkan-Nya.

Tetapi adalah mungkin bagi kita orang-orang Kristen, dapat memutuskan lagi untuk mengontrol hidup kita. Hasilnya adalah dosa. Kita mengusir Kristus dari singgasana! Banyak orang Kristen hidup seperti ini.

Mereka bersedia mengundang Kristus dalam hidupnya sebagai tamu mereka, tetapi tidak bersedia menyerahkan tampuk pimpinan yang sebenarnya kepada Kristus.

Yesus berkata, bahwa tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan (Mat 6:24). Kita dapat memutuskan untuk melayani diri sendiri dengan nafsu sendiri, atau melayani Allah.

Hidup yang lama dengan kepentingan sendiri, duduk di atas kursi pimpinan, tidak dapat dicampur dengan hidup baru, di mana hanya Allah sendirilah yang menempati singgasana dan yang mengambil keputusan-keputusan.

d. Kesimpulan

Kita perlu menyelidiki hidup kita masing-masing untuk menginsafi, apa- kah kita tergantung pada perjanjian yang lama (pekerjaan baik, keanggotaan gereja, dan lain-lain), atau kita telah menerima hidup baru dari Yesus.

Mungkin beberapa orang mencoba mencampurkan hidup lama yang men- jadi kebiasaan kita dengan hidup baru dalam Kristus. Jika ini benar, kita perlu mengakui dosa kita sesuai dengan 1 Yohanes 1:9, dan membiarkan Yesus kembali duduk di singgasana hidup kita.

5. Murid-Murid Pertama

Yeremia 1:4-10

Kisah Para Rasul 26:1, 9-18

Markus 1:14-20

a. Tujuan

Memperlihatkan bagaimana Andreas dan murid-muridNya yang pertama berusaha membawa orang kepada Kristus.

b. Pendahuluan

Andreas adalah orang pertama yang disebut dalam Alkitab menjadi murid Kristus, tetapi ia tidak menjadi sepenting Petrus, yang dibawanya ke Yesus. Di sinilah mulai muncul kebesaran Andreas.

Terangkan peristiwa-peristiwa yang dipakai Andreas untuk membawa orang-orang kepada Kristus, saudaranya (Yoh 1:40-42); seorang anak lelaki yang mempunyai lima roti dan dua ikan (Yoh 6:8-9); dan orang-orang Yunani yang datang ke Yerusalem untuk mengikuti kebaktian hari raya itu (Yoh 12:20-22).

c. Pokok-Pokok

Jika kita ingat ketiga peristiwa ini yang melukiskan Andreas sebagai pem- bawa orang kepada Yesus, maka ada tiga hal yang kita lihat tentang Andreas. Marilah kita pakai pelajaran ini bagi kita sendiri, karena kita juga berusaha membawa orang kepada Kristus.

1. Andreas tidak mementingkan diri sendiri

Petrus adalah seorang yang bernaluri atau berbakat sebagai seorang pemimpin. Andreas mengetahui apa yang akan terjadi, jika Petrus menjadi salah satu murid Yesus. Ia tahu, bahwa bila ada Petrus, yang lain pasti mundur.

Andreas mempunyai sifat khusus yang harus dihargai, yaitu sifat yang tidak mementingkan diri sendiri. Ia terus berusaha membawa orang kepada Kris- tus, meskipun itu berarti pasti akan merugikan kepentingannya sendiri.

Yesus berkata: "Setiap orang yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya" (Mrk 8:34). Rasul Paulus berkata: Aku disalibkan dengan Kristus (Gal 2:19).

Menjadi murid dapat berarti mengajar di kebaktian anak-anak meskipun Saudara ingin duduk di bangku gereja terdepan. Mungkin ini berarti Saudara tidak disenangi teman-teman Saudara, tetapi yang sudah terang ialah, bahwa sama seperti Andreas, Saudara harus bersedia diperintah oleh orang lain walaupun sebenarnya Saudara tidak selalu setuju.

2. Andreas bersifat optimis

Ia tidak pernah berpikir bahwa ada orang yang tidak berguna bagi Kristus. Bagi Andreas, semua pemberian atau bakat berguna bagi Kristus. Ia percaya sungguh-sungguh bahwa Kristus dapat mempergunakan semua bakat yang dibawa orang kepada-Nya.

Para pengikut Yesus dewasa ini cenderung berpikir bahwa hanya mereka sendirilah yang dapat melakukan pekerjaan itu. Kita merasa terancam jika orang lain dapat melakukan pekerjaan itu sebaik yang kita kerjakan (atau mungkin lebih baik).

Tugas pengikut Yesus yang sejati ialah menjadikan lebih banyak murid (Mat 28:19) dan ini berarti bilamana Saudara bekerja, Saudara harus berusaha untuk melatih orang lain melakukan pekerjaan itu bersama Saudara.

3. Andreas bersifat terbuka

Ia tidak senang menyendiri, seperti sifat kebanyakan orang Yahudi. Berikan beberapa contoh pendapat orang Yahudi tentang orang bukan Yahudi. Mungkin Saudara dapat memberi contoh dari kesukuan kita sendiri untuk menjelaskan pendirian Saudara.

Bagaimana pendapat kita tentang suku tertentu? Bukankah kita sama dalam pendapat dan sikap kita dengan orang Yahudi yang kaku itu? Tentu saja, malah mungkin lebih kaku lagi. Tidak ada tempat dalam Injil untuk sikap yang tertutup itu. Injil keselamatan berlaku bagi setiap orang yang mau menerimanya.

Adakah orang atau golongan yang tidak Saudara sukai? Yang buta huruf? Buruh dari negara lain? Orang berkulit putih? Ingatlah bahwa Yesus mati juga untuk mereka. Abdikan diri Saudara untuk membawa siapa saja kepada Yesus.

d. Kesimpulan

Tekankan dalam kesimpulan Saudara, perlunya usaha pemuridan yang sungguh-sungguh untuk masa sekarang ini dan juga bahwa seruan itu ditujukan kepada semua orang.

Cara Andreas yang siap menuruti panggilannya, dan caranya membawa orang kepada Kristus, adalah dua pelajaran yang tinggi nilainya bagi kita.

(SFR)