Konten dari Pengguna

5 Khotbah Tahun Baru Semangat Baru Lengkap dengan Ayat Alkitab

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 16 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi umat Kristiani yang mendengarkan khotbah tahun baru. Foto: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi umat Kristiani yang mendengarkan khotbah tahun baru. Foto: Pexels

Khotbah tahun baru semangat baru bisa menjadi bahan renungan dan refleksi diri bagi umat Kristen dalam menyambut pergantian tahun. Dengan begitu, umat bisa mengembangkan diri dan menjadi pribadi yang lebih baik dari tahun sebelumnya.

Setiap akhir tahun dan awal tahun, sebagian besar umat Kristiani umumnya akan mengadakan ibadat di gereja. Rangkaian ibadat yang dilakukan terdiri atas beberapa kegiatan, salah satunya mendengarkan khotbah tahun baru.

Bagi sebagian orang, mendengarkan khotbah tahun baru bisa memberikan kesempatan untuk merenungkan pencapaian masa lalu dan menetapkan tujuan untuk masa depan.

Lantas, apa saja contoh khotbah tahun baru semangat baru yang bisa menjadi bahan renungan? Simak ragam contohnya berikut ini.

5 Khotbah Tahun Baru Semangat Baru

Ilustrasi umat Kristiani yang mendengarkan khotbah tahun baru. Foto: Pexels

Dirangkum dari berbagai sumber, berikut adalah beberapa contoh khotbah tahun baru semangat baru yang bisa dijadikan renungan oleh umat Kristiani:

1. Contoh Khotbah Tahun Baru Semangat Baru Versi 1

Dikutip dari laman Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW), berikut contoh khotbah tahun baru berjudul "Membangun Tekad yang Baru Hidup Bersama dengan Tuhan".

Ayat Alkitab:

Bacaan 1: Pengkhotbah 3:1-13

Bacaan 2: Wahyu 21:1-6a

Bacaan 3: Matius 25:31-46

Setiap saat dan masa manusia mengalami perubahan. Perubahan umur, perubahan bentuk tubuh, perubahan cara pandang hidup, dan lain sebagainya.

Tentu setiap kita menginginkan perubahan yang kita alami menuju pada perubahan hidup yang lebih baik dan bukan malah sebaliknya. Waktu terus berjalan, hari demi hari, bulan demi bulan, dan tahun berganti tahun.

Waktu dan masa terus berjalan, dan kita tidak dapat kembali kepada masa lalu. Maka, ketika kita masuk tahun yang baru, kita ingin semuanya juga baru. Ada perubahan kehidupan dan harapan yang baru.

Di tahun yang baru ini, banyak orang akan membuat tekad yang baru, berbeda dengan tahun yang lama. Ada yang bertekad untuk menguruskan badan, lebih banyak berolahraga, berhenti merokok, dan mengamalkan gaya hidup yang lebih sehat.

Banyak orang Kristen yang bertekad untuk lebih banyak berdoa, membaca Alkitab setiap hari, dan teratur ke gereja. Tetapi sering kali, mereka gagal untuk menepati apa yang telah menjadi tekad mereka di awal tahun. Mengapa? Alasan satu-satunya adalah karena mereka tidak mempunyai kekuatan untuk melakukannya.

Pada bacaan pertama, Pengkhotbah 3:1-13 mengingatkan kita bahwa seluruh kehidupan, termasuk aktivitas manusia adalah bagian dari sebuah siklus yang sudah ditentukan.

Walaupun manusia merindukan sesuatu yang lebih daripada itu, dia tidak dapat berbuat apa-apa. Dia harus puas mendapat sedikit kebahagiaan yang bisa diperolehnya, sementara dia terlibat dalam siklus kejadian-kejadian yang tak ada hentinya. Semua ada waktunya di bumi ini.

Segala sesuatu di alam ini dan dalam kehidupan manusia berada di bawah satu rangkaian rencana. Ada masa (suatu periode yang ditetapkan) dan waktu (kejadian yang ditentukan sebelumnya) untuk semua yang terjadi di bawah matahari.

Kejadian-kejadian yang kelihatannya kebetulan, semuanya merupakan bagian dari rencana sangat besar, dan kita tidak akan bisa mengulang waktu yang sudah lewat. Namun, kita harus percaya penuh bahwa pada waktu Tuhan semua itu tentu indah pada waktunya.

Tujuan dan maksud utama Pengkhotbah 3:1-13 ialah menunjukkan pengalaman pribadi, apabila semua tujuan dan berkat-berkat duniawi itu sendiri dijadikan tujuan akhir, maka itu akan membawa pada kekecewaan dan kehampaan.

Kebajikan paling mulia dalam hidup ini ialah menghormati dan mematuhi Allah, serta menikmati hidup ini sepanjang orang itu dapat melakukannya.

Hal ini mengingatkan kita untuk menggunakan waktu kita dengan baik selama hidup di dunia ini, percaya kepada Tuhan dan waktu yang telah ditentukan-Nya, bukan malah hidup dengan sia-sia dan semau diri kita sendiri.

Pada bacaan ketiga, dalam Matius 25:31-46 ini disampaikan tentang penghakiman terakhir. Di mana diceritakan tentang perumpamaan kambing dan domba yang dipisahkan oleh Tuhan Allah pada akhir zaman.

Yesus menjelaskan, "Sewaktu Anak Manusia datang.., semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya, dan Dia akan memisahkan orang-orang, seperti gembala memisahkan domba dari kambing.

Domba-domba akan Dia tempatkan di sebelah kanan-Nya, tapi kambing-kambing di sebelah kiri-Nya."​ (Mat. 25:31-33)

Apa yang akan terjadi dengan domba-domba itu? Yesus mengatakan, "Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan." (Mat. 25:34)

Mengapa Sang Raja berkenan kepada domba-domba itu? Karena telah dilayani, diberi makan, minum, pakaian. Ketika sakit dirawat, ketika dipenjara dikunjungi. Orang-orang yang tidak setia dianggap sebagai kambing dan dibuang ke neraka (Mat. 25:41-43).

Sementara Wahyu 21:1-6a ini diceritakan penglihatan Yohanes sang penulis Wahyu tentang langit dan bumi yang baru. Yohanes menyatakan bahwa ia melihat langit yang baru dan bumi yang baru (Wahyu 21:1).

Bumi yang lama, yang penuh dengan dosa dan kejahatan, akan digantikan dengan bumi yang baru. Itu adalah dunia yang diperbarui, dimana laut lambang dari kekacauan, sudah tidak ada lagi.

Yohanes melihat Yerusalem baru, yang dari Allah, bagai pengantin yang telah berdandan untuk suaminya (Wahyu 21:2).

Ia mendengar suara nyaring: "Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka." (Wahyu 21:3).

Yerusalem adalah pusat hidup keagamaan Israel, disitulah umat Israel mendirikan Bait Suci. Kota Yerusalem disebut kudus karena kota itu memang dikhususkan bagi Allah. Hanya Yerusalem yang lama tak lagi menjunjung citra surga.

Mesias pun dibunuh di sana. Di Yerusalem yang baru tak ada Bait Suci karena Allah sendiri berada di tengah-tengah manusia. Dia tidak jauh. Dia bersama dengan umat-Nya. Itulah persekutuan sejati.

Saat Allah bersekutu dengan manusia dalam kekekalan, "Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu." (Wahyu 21:4).

Allah yang bertahta, Allah Sang Alfa dan Omega yang bersekutu bersama umat-Nya mewujudkan penglihatan itu semua. Dunia yang baru, dunia penuh berkat bersama dengan Tuhan.

Inilah harapan dan impian kita bersama untuk masuk dalam dunia baru, hidup bersama-sama Tuhan yang menjadi Raja dalam kehidupan kita, di mana ada banyak berkat damai dan sukacita didalamnya.

Menjadi impian sekaligus harapan kita bersama hidup di dunia ini, damai dan bahagia bersama dengan Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari.

2. Contoh Khotbah Tahun Baru Semangat Baru Versi 2

Ilustrasi umat Kristiani mendengarkan khotbah tahun baru. Foto: Pexels

Dikutip dari laman Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) Klasis Bekasi Denpasar, berikut contoh khotbah tahun baru berjudul "Tekun, Percaya, dan Takut akan Tuhan".

Ayat Alkitab:

"Aku sangat bersukacita, bahwa aku mendapati, bahwa separuh dari anak-anakmu hidup dalam kebenaran sesuai dengan perintah yang telah kita terima dari Bapa.

Dan sekarang aku minta kepadamu, Ibu–bukan seolah-olah aku menuliskan perintah baru bagimu, tetapi menurut perintah yang sudah ada pada kita dari mulanya–supaya kita saling mengasihi.

Dan inilah kasih itu, yaitu bahwa kita harus hidup menurut perintah-Nya. Dan inilah perintah itu, yaitu bahwa kamu harus hidup di dalam kasih, sebagaimana telah kamu dengar dari mulanya." (2 Yohanes 1:4-6)

Syalom, Selamat Tahun baru 2024 bagi kita sekalian, hari ini adalah hari perdana di tahun 2024. Kalau kita melihat ke belakang, tentu saja banyak sekali situasi yang sudah kita alami, dan semuanya bisa kita lewati.

Sungguh, itu semuanya karena kasih setia Allah kita, dan pada tahun yang baru ini kita juga tetap memiliki keyakinan di dalam iman bahwa Allah juga akan menyertai hidup kita.

Ketika membaca ayat 2 Yohanes 1:4-6, kita diajarkan tentang suatu kebenaran agung, bahwa kita tidak punya kemampuan sendiri untuk memikirkan atau mengatakan apa pun yang bijaksana dan baik tentang diri kita sendiri.

Sebaliknya, segala kemampuan kita berasal dari Allah, yang menyertai hati dan mulut kita, dan yang mengerjakan di dalam kita baik kemauan maupun pekerjaan (Filipi 2:13; Mazmur 10:17).

Manusia dapat menimbang-nimbang dalam hati (boleh saja ia berencana dan merancangkan ini dan itu) tetapi jawaban akhirnya berasal dari pada Tuhan.

Maksudnya, manusia berencana. Ia memiliki kebebasan berpikir, dan kebebasan berkehendak diperbolehkan untuknya. Biarlah ia membentuk rancangan-rancangannya, dan menyusun rencana-rencananya. Namun, bagaimanapun juga, Tuhan yang menentukan.

Manusia tidak bisa terus bekerja tanpa bantuan dan berkat dari Allah, yang menciptakan mulut manusia dan mengajarkan kepada kita apa yang harus kita katakan.

Bahkan, Allah dengan mudah dapat, dan sering kali, menggagalkan tujuan-tujuan manusia, dan mengacaukan perhitungan-perhitungan mereka. Kutuklah yang diniatkan oleh Bileam di dalam hatinya keapda bangsa Israel, tetapi jawaban yang keluar dari mulut lidahnya adalah berkat.

Penulis kitab Amsal memberikan nasihat abadi kepada para pembacanya bahwa: "Memperoleh hikmat sungguh jauh melebihi memperoleh emas, dan mendapat pengertian jauh lebih berharga dari pada mendapat perak."

Hal ini mengingatkan kita untuk mengutamakan hikmad dalam kehidupan orang beriman, Pertanyaannya, bagaimana kita dapat memperolehnya?

Dalam Amsal 16:1-4, penulis Amsal menegaskan bahwa jawaban dari segala kehidupan dan pergumulannya adalah Tuhan Allah, bukan manusia. Karena itu, amatlah penting bagi kita untuk mengenali nilai-nilai kebenaran dan mempraktekkannya.

Sikap demikian hanya bisa diperoleh ketika kita belajar untuk menyerahkan segala rencana kita kepada Tuhan. Allah adalah Tuhan yang menciptakan segala sesuatu di dunia dengan arah dan tujuan masing-masing, dan Dia juga sanggup melihat dan menguji isi hati manusia.

Takut akan Tuhan haruslah menjadi sikap hidup yang mendasari semua perbuatan dan penilaian kita. Dalam kitab Perjanjian Baru juga banyak disebutkan:

"Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya. Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu."

Nasihat senada juga diajarkan oleh Paulus, "Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu."

Jelas terlihat bahwa Allah menghendaki agar terang kebenaran Kristus ada di dalam kita dan Ia menghendaki kita menggapainya. Sebab itu, jangan berhenti berharap dan berserah kepada Kristus.

3. Contoh Khotbah Tahun Baru Semangat Baru Versi 3

Dikutip dari laman Gereja Kristen Indonesia (GKI) Kayu Putih, berikut contoh khotbah tahun baru berjudul "Harapan di Tahun yang Baru".

Ayat Alkitab:

"Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku." (Filipi 4: 13)

Biasanya, tahun yang baru identik dengan sukacita dan harapan. Sebuah awal baru yang patut dirayakan. Karena itu, kita akan memasuki tahun baru dengan suasana penuh sukacita, diiringi dengan begitu banyak harapan dan semangat.

Namun, memasuki tahun 2024 ini, kita merasakan suasana yang sangat berbeda. Curah hujan yang tinggi, diikuti banjir dan longsor melanda berbagai wilayah di malam pergantian tahun.

Tak sedikit warga ikut terkena dampak dari bencana ini. Rumah dan harta milik mereka porak poranda, bahkan banyak yang tidak bisa diselamatkan lagi. Semua datang begitu cepat dan tiba-tiba sehingga sebagian dari kita tidak sempat lagi menyelamatkan barang-barang penting.

Bagi kami, dukacita kami tak berhenti sampai di situ. Memasuki tahun yang baru, kami menerima berbagai kabar duka dari sahabat dan rekan di sekitar kami. Ada anggota keluarga mereka harus mengalami sakit parah, dan bahkan ada yang harus kehilangan orang terkasih di momen tahun baru.

Sungguh kami terhenyak melihat semua peristiwa yang terjadi. Suasana tahun baru yang biasanya diisi dengan sukacita, berganti dengan kabar dukacita yang beruntun. Sinar mentari dan harapan kini seolah berganti dengan awan mendung dan ketidakpastian yang membayangi.

Melihat semua ini, hati saya bertanya-tanya, apa yang mau Tuhan sampaikan, mengapa semua Tuhan izinkan terjadi di saat kami justru sedang bersemangat memasuki tahun yang baru?

Sekalipun tidak mudah mendapatkan jawabannya, tetapi saya belajar tentang kehidupan ini. Kehidupan manusia, bahkan orang beriman sekalipun, memang tidak selalu berjalan mulus. Kita kerap mengalami tragedi dan dukacita.

Kita tidak kebal terhadap kegagalan dan pergumulan hidup. Keadaan kehidupan kita tidak selalu lebih mudah dan lebih baik dari orang lain.

Lalu, apa yang membedakan kehidupan kita sebagai orang beriman dengan kehidupan orang lain? Perbedaan kehidupan kita terletak pada kehadiran Yesus Kristus di dalam hidup kita!

Semua peristiwa yang mengawali tahun ini mengingatkan saya dan kita semua, betapa kecil dan lemahnya manusia. Kekuatan kita terbatas. Kemampuan kita bisa lenyap.

Pergumulan demi pergumulan kerap masih harus kita hadapi. Sehebat apapun manusia, kita tak akan mampu melewati kehidupan kita dengan kekuatan sendiri.

Namun, ayat bacaan kita hari ini mengingatkan, segala perkara dapat kita tanggung di dalam Dia yang memberi kita kekuatan. Tak ada yang tak dapat kita lalui bersama Yesus. Kita hanya bisa menghadapi apa pun, dengan mengandalkan diri kepada kekuatan-Nya semata.

Mari kita memasuki hari-hari ke depan dengan keyakinan teguh pada Yesus, satu-satunya Sumber Pengharapan kita.

4. Contoh Khotbah Tahun Baru Semangat Baru Versi 4

Ilustrasi umat Kristiani yang berkumpul untuk mendengarkan khotbah. Foto: Pexels

Dikutip dari laman Gereja Kristen Indonesia (GKI) Kavling Polri, berikut contoh khotbah tahun baru berjudul "Tahun Baru, Harapan Baru".

Ayat Alkitab:

Bacaan 1: Filipi 3:13b

Bacaan 2: Roma 5:3-5

2024 telah tiba, apa yang menjadi harapan Anda di tahun yang baru ini? Biasanya, kebanyakan dari kita akan membuat komitmen, rencana-rencana, dan cita-cita baru yang belum sempat dicapai pada tahun sebelumnya.

Banyak dari kita yang membuat komitmen yang sama dengan komitmen tahun yang lalu, tapi bukan karena terlalu banyak target yang harus dicapai hingga kita kehabisan tenaga untuk mencapainya. Namun, karena kita pandai untuk memulai tapi tidak pandai dalam menyelesaikannya.

Coba kita lihat, berapa banyak dari kita yang bertekad untuk mulai membaca Alkitab dari Kejadian sampai Wahyu selama satu tahun, dan akhirnya berhenti di akhir Kitab Kejadian, atau malah melompat langsung ke Wahyu?

Berapa banyak kita berjanji pada diri kita sendiri untuk memasuki semester baru dengan semangat belajar yang baru nyatanya malah memiliki semangat belajar yang ngak jauh beda bahkan lebih buruk?

Berapa banyak dari kita yang berjanji untuk lebih memperhatikan orang tua, sahabat hingga kekasih, tapi malah semakin tidak punya waktu untuk mereka? Adapun punya waktu, malah digunakan untuk bertengkar.

Kita dapat melontarkan berbagai macam alasan dari yang rasional hingga irrasional. Tapi sebenarnya alasan kita hanya kita lontarkan untuk menutupi kemalasan kita.

Kita memang manusia yang pandai untuk mencapai sesuatu, tapi tidak cakap mempertahankannya. Kenapa itu kerap kali terjadi dalam hidup kita? Tentunya bukan tanpa alasan, bukan? Mari kita periksa diri:

Apa yang biasanya membuat kita merancangkan sebuah komitmen, cita-cita atau harapan? Kebanyakan manusia, mulai merancangkan sebuah komitmen ketika berada dalam situasi dan kondisi tertentu.

Kehidupan manusia di masa kini memang dipengaruni oleh masa lalu dan kehidupan di masa depan dipengaruhi oleh pilihan-pilihan yang kita ambil pada masa kini. Anda sepakat dengan pernyataan ini? Saya sepakat!

Masa lalu saya yang saya nilai tidak bersahabat dengan saya telah membentuk pribadi saya yang keras kepala, tapi ketika saya telah mengetahui kebenaran bahwa kasih adalah kelemah lembutan dan bukan keras kepala, tentunya seharusnya saya berkomitmen untuk menjadi lemah lembut di masa mendatang, bukan?

Tapi, saya tidak akan dapat menjadi orang yang lemah lebut di kemudian hari bila saya tidak memulainya dari sekarang. Nah, bagaimana kalau saya memutuskan untuk tidak berubah dan terus mengingat masa lalu saya yang buruk yang menjadikan saya keras kepala bahkan menjadi pemurung?

Saya tidak akan pernah menajdi manusia yang lembut hingga kapanpun. Tahukah kita mengapa banyak dari kita tidak berhasil menjalankan komitmen yang telah kita buat?

Karena kita biarkan diri kita terikat pada masa lalu yang mengingatkan kita pada hal hal-negatif seperti kegagalan, sakit hati, kepahitan, kesedihan, ataupun yang ‘positif’ kenyamanan, kenikmatan, kebahagiaan, kemakmuran dan banyak hal lain… Maukah Anda menjadi manusia yang lebih baik kalau mau bersikaplah seperti

Paulus bersikap:

Filipi 3:13b menjadi cara Paulus untuk dapat mewujudkan komitmennya. Ia meninggalkan apa yang di belakang dan mengarahkan diri kepada apa yang ada dihadapannya. Ia tidak mengingat betapa bahagianya ia ketika menjadi seorang Yahudi yang menghabisi orang Kristen dimanapun.

Ia tidak mengingat betapa ia dibenci oleh orang Kristen dimanapun karena sikapnya yang membenci mereka. Tapi ia mengarahkan hidupnya pada panggilan Tuhan, yaitu menjadi pelayan Tuhan yang setia. Dan ia membuktikannya dengan kehidupan dan pelayanannya sepanjang sisa hidupnya.

Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian, adalah pribahasa yang selalu dikatakan oleh ibu saya ketika saya mulai malas belajar. Masa kita mau senangnya saja dan tidak mau merasakan susahnya hidup.

Kita ingin kaya tapi tak mau bekerja. Kita ingin pandai tapi ngak mau belajar. Kita ingin naik kelas dengan nilai baik tapi masuk sekolah saja malas. Intinya untuk meraih harapan baru, dan sungguh-sungguh mewujudkannya harus pakai usaha.

Kita ingin jadi orang sabar, tapi kita tidak pernah menghadapi sesuatu, kondisi atau situasi yang buat kita ngak sabar, bagaimana caranya kita bisa belajar sabar?

Harapan, cita-cita, dan komitmen adalah sesuatu yang harus kita capai bukan kita tunggu hingga ia menghampiri kita. Jangan lihat kesulitannya, sengsaranya, susahnya, lihat tujuannya!

Kita menjadi pribadi yang makin baik, makin dikasihi Tuhan, makin jadi berkat… dengan begitu kita akan mendapat semangat dorongan untuk menajdi tekun, seperti kata Paulus pada jemaat di Roma:

"Karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan."

Paulus dapat berkomitmen, meninggalkan masa lalu dan menatap ke depan dengan penuh harapan bukan karena ia memang orang yang hebat, kuat dan mampu. Namun, karena ia sadar bahwa ia punya Allah yang menjadikan hidupnya tidak sia-sia.

5. Contoh Khotbah Tahun Baru Semangat Baru Versi 5

Ayat Alkitab:

Bacaan 1: Kitab Keluaran 40:36-38

Bacaan 2: Yeremia 29:11

Bacaan 3: Kisah Para Rasul 20:35

Saat kita berdiri di pengujung akhir tahun untuk menyambut Tahun Baru, kita merayakan kesempatan yang diberikan Tuhan kepada kita untuk memulai lembaran baru dalam perjalanan hidup kita.

Tahun yang telah berlalu membawa pelajaran berharga, kegembiraan, dan tantangan yang mungkin telah menguji iman kita. Namun, Tuhan telah setia sepanjang perjalanan itu.

Dalam Kitab Keluaran 40:36-38, kita membaca tentang perjalanan umat Israel dan tabernakel yang dibangun untuk menyembah Tuhan. Ketika awan Tuhan menaungi mereka, mereka bertahan; dan ketika awan itu bergerak, mereka juga bergerak.

Sebagai umat Kristiani, kita juga diundang untuk mengikuti kehendak Tuhan dan membiarkan-Nya memimpin langkah-langkah kita.

Dalam Yeremia 29:11, Tuhan berfirman, "Sebab Aku mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan."

Tahun baru memberikan kita kesempatan untuk merenungkan firman ini. Tuhan memiliki rencana yang indah bagi kita. Dia ingin memberikan kepada kita hari depan yang penuh dengan harapan, perdamaian, dan tujuan yang jelas.

Marilah kita berpegang pada janji-Nya, percaya bahwa setiap langkah yang kita ambil dalam iman akan dipandu oleh-Nya.

Saudara-saudari, mari kita mengambil semangat baru dalam iman kita. Kita bisa memulai dengan menyelesaikan apa yang belum selesai di masa lalu, memaafkan seperti Tuhan telah memaafkan kita, dan menabur benih kasih di sekeliling kita.

Dalam Kisah Para Rasul 20:35, "Lebih berbahagia memberi daripada menerima." Mari kita menerapkan pesan ini dalam hidup kita sehari-hari. Berikanlah cinta, kebaikan, dan perhatian kepada sesama. Kita bisa menjadi saluran berkat bagi orang lain sesuai dengan rencana Tuhan.

Di awal tahun ini, marilah kita berjanji untuk lebih dekat dengan Tuhan. Menghidupi firman-Nya setiap hari, berdoa tanpa henti, dan melangkah dalam iman yang kokoh.

Ketika kita membiarkan Tuhan memimpin hidup kita, Dia akan memberikan kita kekuatan dan keberanian untuk menghadapi apapun yang mungkin kita hadapi.

Saudara-saudari terkasih, mari kita sambut Tahun Baru ini dengan hati yang penuh dengan semangat baru, keyakinan dalam janji Tuhan, dan tekad untuk hidup yang lebih saleh. Semoga Tuhan memberkati setiap langkah kita dalam perjalanan yang baru ini.

(SFR)