Konten dari Pengguna

50 Ramalan Jayabaya yang Dipercaya Masyarakat Jawa

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Ramalan Jayabaya. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Ramalan Jayabaya. Foto: Unsplash

Ramalan Jayabaya dilestarikan secara turun-temurun oleh para pujangga di tanah Jawa. Sebagian masyarakat Jawa masih percaya bahwa Ramalan Jayabaya dapat memprediksi fenomena-fenomena besar di masa depan.

Ramalan Jayabaya memang dianggap memiliki akurasi dan ketepatan tersendiri. Itu sebabnya, wajar jika dalam situasi tertentu masyarakat berpaling pada Ramalan Jayabaya untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mereka.

Menurut kebudayaan Jawa, ramalan tersebut ditulis oleh Jayabaya, raja Kerajaan Kediri. Asal-usul Ramalan Jayabaya sendiri dapat dilihat pada Kitab Musarar yang digubah oleh Sunan Giri Prapen.

Isi Ramalan Jayabaya

Ilustrasi Ramalan Jayabaya. Foto: Unsplash

Mengutip buku Menguak Rahasia Ramalan Jayabaya oleh D. Soesetro dan Zein al Arief, Ramalan Jayabaya berbentuk tembang atau kakawin dalam bahasa Jawa kuno.

Kata-kata dalam ramalan ini bisa dilagukan dan mengandung arti yang mendalam. Lewat kata-kata itulah masyarakat mencari makna apa yang terjadi di kemudian hari menurut ramalan.

Banyak yang percaya akan ramalan-ramalan Jayabaya, tapi tak sedikit pula yang menganggap itu mitos belaka. Mereka beranggapan, akurasi Ramalan Jayabaya disebabkan oleh sifat-sifatnya yang luwes sehingga cocok diterapkan di segala situasi.

Beberapa peristiwa yang dianggap sebagai bukti kebenaran ramalan Jayabaya adalah penjajahan Jepang di Indonesia yang berlangsung sebentar dan datangnya benturan antara tradisi dan kebudayaan modern.

Selain itu, masih banyak ramalan Jayabaya yang diyakini kebenarannya oleh sebagian masyarakat Jawa. Berikut beberapa di antaranya yang dikutip dari buku Ilmu Mistik Kejawen, Menguak Rahasia Hidup Orang Jawa tulisan Petir Abimanyu.

Ilustrasi Ramalan Jayabaya. Foto: Unsplash
  1. Besuk yen wis ana kreta tanpa jaran. (Kelak jika sudah ada kereta tanpa kuda)

  2. Tanah Jawa kalungan wesi. (Pulau Jawa berkalung besi)

  3. Prahu mlaku ing dhuwur awang-awang. (Perahu berjalan di angkasa)

  4. Kali ilang kedhunge. (Sungai kehilangan mata air)

  5. Pasar ilang kumandhang. (Pasar kehilangan suara)

  6. Iku tandha yen tekane zaman Jayabaya wis cedhak. (Itulah pertanda zaman Jayabaya telah mendekat)

  7. Bumi saya suwe saya mengkeret. (Sejengkal tanah dikenai pajak)

  8. Jaran doyan mangan sambel. (Kuda suka makan sambal)

  9. Wong wadon nganggo pakeyan lanang. (Perempuan berpakaian lelaki)

  10. Iku tandhane yen wong bakal nemoni wolak-waliking zaman. (Itu pertanda orang akan mengalami zaman berbolak-balik)

  11. Akeh janji ora ditetepi. (Banyak janji tidak ditepati)

  12. Akeh wong wani nglanggar sumpahe dhewe. (Banyak orang berani melanggar sumpahnya sendiri)

  13. Manungsa padha seneng nyalah. (Manusia saling lempar kesalahan)

  14. Ora ngendahake hukum Allah. (Tak peduli akan hukum Allah)

  15. Barang jahat diangkat-angkat. (yang jahat dijunjung-junjung)

  16. Barang suci dibenci. (yang suci justru dibenci)

  17. Akeh manungsa mung ngutamakke dhuwit. (Banyak orang hanya mementingkan uang)

  18. Lali kamanungsan. (Lupa jati diri kemanusiaan)

  19. Lalu kabecikan. (Lupa hikmah kebaikan)

  20. Lali sanak lali kadang. (Lupa sanak lupa saudara)

  21. Akeh bapa lali anak. (Banyak ayah lupa anak)

  22. Akeh anak wani nglawan ibu. (Banyak anak berani melawan ibu)

  23. Nantang bapa. (Menantang ayah)

  24. Sedulur padha cidra. (Sesama saudara saling berkhianat)

  25. Kulawarga padha curiga. (Keluarga saling curiga)

  26. Kanca dadi mungsuh. (Kawan menjadi lawan)

  27. Akeh manungsa lali asline. (Banyak orang lupa asal-usul)

  28. Ukuman ratu ora adil. (Hukuman raja tidak adil)

  29. Akeh pangkat sing jahat lan ganjil. (Banyak pejabat yang jahat dan ganjil)

  30. Akeh kelakuan sing ganjil. (Banyak ulah/tabiat yang ganjil)

  31. Wong apik-apik padha kapencil. (Orang yang baik justru tersisih)

  32. Akeh wong nyambut gawe apik-apik padha kerasa isin. (Banyak orang bekerja halal justru merasa malu)

  33. Luwih utama ngapusi. (Lebih mengutamakan menipu)

  34. Wegah nyambut gawe. (Malas untuk bekerja)

  35. Kepingin urip mawah. (Inginnya hidup mewah)

  36. Ngumbar nafsu angkara murka, mggedhekake duraka. (Melepas nafsu angkara murka, memupuk durhaka)

  37. Wong bener thenger-thenger. (Orang (yang) benar termangu-mangu)

  38. Wong salah bungah. (Orang (yang) salah gembira ria)

  39. Wong apik ditampik-tampik. (Orang baik ditolak)

  40. Wong jahat munggah pangkat. (Orang jahat naik pangkat)

  41. Wong agung kasinggung. (Orang (yang) mulia dilecehkan)

  42. Wong ala kapuja. (Orang jahat dipuji-puji)

  43. Wong lanang ilang kaprawirane. (Laki-laki hilang keperwiraan atau kejantanannya)

  44. Akeh wong lanang ora duwe bojo. (Banyak laki-laki tak mau beristri)

  45. Akeh wong wadon ora setya marang bojone. (Banyak perempuan ingkar kepada suami)

  46. Akeh ibu padha ngedol anake. (Banyak ibu yang menjual anaknya)

  47. Akeh wong wadon ngedol awake. (Banyak perempuan yang menjual diri)

  48. Akeh wong ijol bebojo. (Banyak orang yang bertukar istri/suami)

  49. Wong wadon nunggang jaran. (Perempuan menunggang kuda)

  50. Wong lanang linggih plangki. (Laki-laki naik tandu)

(ADS)

Frequently Asked Question Section

Apa itu Ramalan Jayabaya?

chevron-down

Ramalan Jayabaya merupakan ramalan yang dilestarikan secara turun temurun oleh para pujangga di tanah Jawa.

Apa saja isi Ramalan Jayabaya?

chevron-down

Salah satunya yaitu penjajahan Jepang di Indonesia yang berlangsung sebentar.

Siapa yang menulis Ramalan Jayabaya?

chevron-down

Menurut kebudayaan Jawa, ramalan tersebut ditulis oleh Jayabaya, raja Kerajaan Kediri.