Konten dari Pengguna

7 Contoh Puisi tentang Hutan yang Penuh Makna

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi hutan yang bisa dijadikan tema puisi. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi hutan yang bisa dijadikan tema puisi. Foto: Unsplash

Puisi merupakan ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, rima, serta penyusunan larik dan bait. Puisi memiliki berbagai macam tema, misalnya puisi tentang hutan.

Mengutip Ringkasan Materi dan Latihan Soal-Soal UN SMP 2011 oleh Dewi Damayanti, dkk. (2010: 10), terdapat empat unsur puisi yang harus diperhatikan, antara lain:

  • Tema, yaitu gagasan pokok atau ide yang dikemukakan penyair dalam sebuah puisi. Tema bersifat khusus (penyair), objektif (bagi semua penafsir), dan lugas (tidak dibuat-buat).

  • Perasaan, yaitu ungkapan perasaan penyair dalam puisi. Setiap puisi bisa memiliki ungkapan perasaan yang berbeda meskipun temanya sama.

  • Suasana puisi, yaitu gambaran pengalaman yang berhubungan dengan benda, peristiwa, atau keadaan yang dialami penyair.

  • Amanat, yaitu pesan tersirat di balik kata-kata yang disusun dan berada di balik tema yang diungkapkan dalam puisi.

Puisi adalah karya sastra yang menggunakan kata-kata indah dan padat makna. Ada banyak tema puisi dengan makna mendalam, salah satunya mengenai hutan. Lalu, seperti apa contoh puisi tentang hutan?

7 Contoh Puisi tentang Hutan

Ilustrasi membaca puisi tentang hutan. Foto: Unsplash

Puisi selalu mengandung pesan yang ingin disampaikan penyair, tidak terkecuali jika puisi tersebut memiliki tema hutan. Puisi mengenai hutan umumnya disisipkan hal-hal yang berkaitan dengan keberlanjutan hutan, kritikan mengenai kerusakan hutan, dan lain sebagainya.

Dikutip dari Bahasa Indonesia 5B Kelas 5 SD Semester 2 oleh Engkos Kosasih (2007) dan Lewat Puisi oleh Risang Raditya Abisatya (2018), berikut beberapa contoh puisi tentang hutan yang bisa dijadikan sebagai referensi.

1. Hutan

Hutan

Kau dulu berwarna hijau

Kaulah sumber kekayaan alam

Kau simpan air dalam akarmu

Kau hasilkan berbagai jenis kayu

Kau lindungi pula tumbuhan dari hewan

Semua itu untuk kami

Namun, kini kau digunduli

Oleh orang yang tidak tahu

Atau memang tidak mau tahu

Bahwa sungguh berarti dirimu

Kini tiada lagi akarmu

Yang mampu menahan

Lajunya banjir dan tanah longsor

Hutan

Sebagai manusia aku malu

Tak dapat melindungimu

2. Hutanku

Dulu

Hutanku hijau subur

Menyelimuti gunung dan bukit

Sebagai sumber kehidupan

Kini

Hutanku tak hijau lagi

Gundul, gersang kerontang

Tangan-tangan tuan menebang

Meski dilarang

3. Ziarah Hutan

Hutan kini tinggal menyisakan kenangan

Sebab kehadirannya sudah tak lagi bermakna

Pohon-pohon sebagian ditebangi oleh manusia

Dan sebagian lainnya dibumihanguskan

Hutan kini tinggal menyisakan cerita

Yang konon kehadirannya dianggap

Sebagai salah satu paru-paru dunia

Namun telah usang termakan zaman

Hutan kini tinggal menyisakan sejarah

Yang ada ada sepanjang masa

Sebab bertahun-tahun lamanya tumbuh dengan permain

Namun sekarang batang hidungnya hampir punah

Hutan kini tinggal menyisakan nama

Yang terukir indah di dalam keabadian

Bersama ditaburkannya bunga mawar dan kantil

Mengiringi langkah kepergianmu

4. Rinduku pada Hutan

Rinduku pada hutan

Menghirup udaranya

Memandang rimbunnya

Hijau daunnya

Sepinya

Rinduku pada hutan

Menginjak rumputnya

Embunnya

Rinduku pada hutan

Mendengar kicau burungnya

Teriakan sang kera

Auman harimau

Kegesitan kijang

Atau ular yang melata

Rinduku pada hutan

Rindunya kehidupan

5. Hutanku, Hutan Besi

Berikut puisi karya Ananda Cahyo Wibowo yang dikutip dari Kumpulan Puisi Salam Terakhir oleh Anis Rohana, dkk. (2018).

Jikalau hutan punya pohon, hutanku punya beton

Jikalau hutan ada burung, hutanku punya gedung

Jikalau kau tahu hutan punya hulu, kami tak ada hilir

Kami hanya punya semen yang diukir

Apabila hutan punya satwa, kami pun punya pekerja

Apabila hutan punya tumbuhan, kami juga punya pusat perbelanjaan

Hutan rimba pasti teduh dan tenang

Jangan harap, hutanku malah terasa gersang

Bila di hutan punya kembang dan rumput bertabur, setidaknya kami punya aspal yang tumbuh subur

Jika hutan itu sejuk dan menyenangkan, hutanku sesak dan memuakkan

Jika di hutan ada hukum alam yang seimbang

Apalah kuasa, hutanku punya politik yang menggila

Aku tak keberatan bila harus menunggu hujan dari awan

Aku tak keberatan bila harus memakan liarnya rerumputan

Aku pun tak keberatan bila harus tidur beratap awan

Aku lebih tak keberatan bila harus tinggal sendiri di belantara hutan

Asal saja

Hutan rimba ini tak tumbuh jadi hutan besi

Para singa juga tidak menggila akan tahta

Jangan ada para ular yang ikut makan rumput

Ya, inilah sepetak hutan baru

Yang mulai tumbuh di hutan Balikpapanku

6. Hutan

Berikut puisi yang ditulis oleh Yun Dong Ju dalam Langit, Angin, Bintang, dan Puisi (Antologi Puisi dan Prosa) (2018).

Waktu menghentak dada

Hutan memanggil jiwa yang gelisah

Seribu tahun telah silam, hutan itu kini kelam

Padanya tersimpan takdir, yang siap memeluk tubuh lelah

Dari atas gelombang hitam yang dipancarkan hutan

Kegelapan menginjak dada muda

Angin malam yang mengusik dedaunan

Mengembuskan kengerian yang menggentarkan

Celoteh kawanan katak di musim panas pertama terdengar di kejauhan

Menyuarakan kisah tentang masa lalu desa yang memusingkan

Di sela pohon, bintang bekerjap sendirian

Membawaku menuju harapan akan hari baru

7. Hutan Kota

Berikut puisi yang ditulis oleh Dewi Mulyati dalam Rangkaian Puisi di Gunung Belah (2019).

Pagi ini

Bersama teman-teman di kelasku

Berjalan kami menuju hutan kota

Hutan merupakan paru-paru dunia

Jangan ganggu hutan kita

Sawahlunto

Itulah nama hutan kota yang ada di kota kami

Selain tanaman

Ada juga beberapa hewan-hewan

Yang hidup di dalamnya

Kami senang

Dapat mengunjungi selain rekreasi

Juga pembelajaran yang memuat materi

Ilmu tak sekadar di ruang kelas

Namun di alam bebas banyak yang harus diulas

(SFR)