Konten dari Pengguna

7 Puisi Hari Pahlawan yang Bangkitkan Semangat Perjuangan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustasi puisi Hari Pahlawan. Foto: Wikimedia Commons
zoom-in-whitePerbesar
Ilustasi puisi Hari Pahlawan. Foto: Wikimedia Commons

Daftar isi

Hari Pahlawan diperingati setiap 10 November. Ada berbagai cara yang bisa dilakukan untuk menyemarakan peringatan tersebut, salah satunya yaitu dengan membaca puisi Hari Pahlawan.

Puisi Hari Pahlawan juga dapat dibagikan di media sosial untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air dan mengingat jasa para pahlawan.

Di bawah ini terdapat kumpulan puisi bertema pahlawan yang dapat dijadikan refrensi atau dibacakan di Hari Pahlawan.

Kumpulan Puisi Hari Pahlawan

Ilustasi puisi Hari Pahlawan. Foto: Unplash/Subulu Salam

Mengutip buku Menggores Tinta Puisi oleh Ahmad Wayudi, M.Pd., puisi adalah karya sastra yang berisi pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengonsentrasikan kekuatan bahasa.

Puisi dapat mengangkat berbagai tema, misalnya tentang pahlawan untuk menyemarakan peringatan Hari Pahlawan. Menyadur buku Puisi Hari Pahlawan oleh Siti Isnatun dkk., dan Puisi Sejarah (130 Puisi Terbaik Lomba Tingkat Nasional) oleh Firmansyah dkk., berikut contoh puisi Hari Pahlawan:

1. Sepotong Sunyi di Taman Makam Pahlawan oleh Siti Isnatun M.

Di sebuah makam

jauh dari kehidupan

yang tersimpan hanyalah kenangan

akan keabadian yang temaram

Sepotong sunyi menepi

di antara nisan-nisan berjejer rapi

seolah jadi teman yang peduli

menyanyikan sepi tanpa henti

Berkalang tanah engkau para kebanggaan

tenggelam bersama keteladanan

betapa tamanmu kini sunyi dan sepi

seakan duniamu tlah ikut mati

Taman makammu makin tak terjamah

Perjuanganmu makin terlupa sejarah

Sungguh ironis dan menggugah

Semua terjadi saat jasamu terasa indah

Nisanmu yang dulu megah

kini tampak mulai layu dan jengah

bagai bunga kamboja berguguran ke tanah

tak terusik oleh deretan kisah

Sepotong sunyi terus menggelanyuti

taman makammu... wahai pahlawan negeri

Hati berbisik dengan sepi

akankah kami bisa berbagi

meski hanya kisah yang tak selesai

dari perjalananmu yang telah usai

2. Indonesia oleh Adi Yolandri

Indonesia,

Kemana hati kita tanam dalam-dalam

Dimana ruh kita simpan dalam dada

Dimana bangsa kau junjung tinggi

Indonesia,

Ingatlah Budi Utomo dan para pemuda dalam rumahnya

Ingatlah Soepomo, Syahrir, Soekarno dalam ide juangnya

Mereka belum mati

Ruhnya masih bersemayam di setiap nurani anak-anak bangsa

Semangatnya masih menggema dalam dada

Masihkah kita bertanya

Sudahkah kita merdeka?

Baca Juga: 7 Lagu Wajib Nasional untuk Memperingati Hari Pahlawan 10 November

3. Benteng Vandenburg oleh Endah Susanti

Tembok tebal yang menjulang

Saksi yang diam

Vandenburg, bukan hanya ruang kosong

Bukan hanya tempat penyimpanan mesiu dan senjata

Vandenburg adalah saksi

Saat Belanda memata-matai kota ini

Saat berperan sebagai rumah sakit tentara masa perang

Saat badan penuh luka dan rintihan dikorbankan

Tangisan, jeritan pilu, dan ketakutan akan kematian mengancam

Saat diam dalam perjalanan panjang kebohongan

Engkau tak semegah kini yang hanya disaksikan orang-orang yang tak tahu siapa sebenarnya dirimu

Engkatu tak semulus cat dindingmu kini yang telah dipoles berkali-kali

Benteng Vandenburg

Benteng yang pernah hancur oleh serangan pesawat perang

Benteng yang pernah diperebutkan dengan puluhan nyawa

Benteng yang pernah menjadi tempat tahanan politik yang menyimpan rahasia dengan menjadi saksi diam

Benteng yang di dalamnya menyimpan sejarah panjang perjuangan

Di balik tembok tebalmu ini tersimpan kejadian

Hingga kau jugalah yang menjadi bukti

Pada dunia jika semua adalah tipuan

Tembok tebal saksi yang diam

Vandenburg kini dan yang akan datang

Tetap akan diam dalam sejarah panjang

4. Goreasan Tinta oleh Aginta Purnama

Goresan tinta mewarnai

Secara kertas

Menghasilkan sebuah karya

Menghasilkan tumpukan tulisan

Yang menjadi kenangan

Otak,

Kadang bisa saja tak mengingat

Yang menorehkan goresan

Untuk dikenang

Perjuangan

Tak akan bisa luput dari pengorbanan

Yang akdang kita lupa

Telah menjadi sejarah

Yang telah memenuhi tumpukan tulisan

Untuk dikenang

Sejarah

Berjalan seperti air tenang

Tapi mengandung makna yang besar

Sampai kita terlena mengikuti arus goresan tinta itu

Kita hanyut dengan derasnya makna

Sejarah jangan pernah hati melupakannya

5. Doa Ibu Seorang Pejuang oleh Siti Isnatun M.

Tuhanku,

Hamba memohon kepada untuk anakku

Anak yang tlah pergi bersama waktu

Dalam perjuangan melawan serdadu

Tuhanku,

Ampunilah anakku

Kasihilah anakku

Dan kupasrahkan dia di tangan-Mu

Seandainya waktu bisa kembali

Pergi pun dia tak kan kuhalangi

Bahkan, semangat akan kuberi

Melawan penjajah yang menindas negeri

Tuhanku,

Ampunilah anakku

Terimalah amal kebaikannya

Berikan tempat-Mu yang terindah untuknya

dan terima kasih karna dia terlahir dari rahimku

terima kasih karna pejuang itu adalah anakku...

seorang yang amat kukasihi dan menjadi kebanggaanku

6. Histori Negeri oleh Andreas Agil Munarwidya

Tiga setengah abad dan seumuran jagung

penderita serta perjuangan berkelindan nyata

Dikisahkan dalam babad

Dikenang dalam kidung Nusantara

Maka akan kuceritakan padamu, bumiputra

dengan linang air mata

Soekarno-Hatta dan para kolega

Menaytu jiwa raga suci proklamasi

Lewat bambu lawan bayonet

Lewat takbir seruan massa

Lewat diskusi-diskusi panjang kemerdekaan

yang kini diluluhlantakkan keserakahan

Dalam catatan kita,

Budo Oetomo bukan Ferdy Sambo

Sumpah Pemuda bukan sumpah serapah

G3oSPKI dan Reformasi

212 juga Farel Prayoga,

membelajarkan jati diri bangsa

Maka sekali lagi, insan Indonesia

Mengheningkan ciptalah lalu bangkit berdiri

Jas merah dan pakaian takwa

Naikkan kasta Indonesia madani

Histori berulang,

bukan dengan titik tapi koma

7. Diambang Dualitas oleh Aulia Rahman Oktaviansyah

Untuk siapakah nyawaku ini?

Untuk siapakah ragaku ini?

Pahlawanku! Dulu mereka menyebutku begitu

Pahlawanku! Dulu mereka memuja dan menyanjungku

Pekik MERDEKA tak lagi kudengar

Semangat berjuang tak lagi kukobarkan

Aku hanyalah satu di antara pejuang yang terbebas dari peluru

Namun kini tergeletak dengan nafas yang memburu

Pertanda diri mulai lelah berpacu dengan waktu

Lanjutkan pejuanganku pekikku dalam hati

Jangan biarkan diri terjajah di negeri sendiri

MERDEKA atau MATI!

(NSF)