Konten dari Pengguna

7 Puisi untuk Ibu yang Maknanya Mendalam dan Menyentuh Hati

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi buku puisi. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi buku puisi. Foto: Shutter Stock

Mengungkapkan perasaan cinta pada ibu bisa dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya lewat puisi. Karya sastra lama ini sering dijadikan sebagai medium untuk mencurahkan isi hati, perasaan, dan pikiran.

Dikutip dari buku Sastra Anak: Pengantar Pemahaman Dunia Anak Edisi Revisi oleh Burhan Nurgiantoro, pada hakikatnya, puisi adalah curahan jiwa atau hati yang diekspresikan dalam bentuk bahasa terseleksi. Itu kenapa diksi puisi sering kali tidak umum digunakan.

Bagi yang ingin mempersembahkan puisi untuk ibu, tapi bingung mencari diksi yang tepat untuk mewakili perasaan, simak kumpulan puisi di bawah ini yang bisa dijadikan inspirasi.

Kumpulan Puisi untuk Ibu

Ilustrasi buku puisi. Foto: Shutter Stock

Dikutip dari buku Antologi Puisi Kasih Ibu Sepanjang Masa susunan Dahlia Damayanti Sholikhah, dkk., berikut ini kumpulan puisi untuk ibu yang bisa dijadikan inspirasi:

1. "Syair untuk Ibu" karya Amelia Zelianti

Ibu setiap rintikkan air matamu

Menyadarkan diriku atas perbuatanku

Pengorbanan yang telah kau berikan untukku

Selalu ku kenang sepanjang hidupku

Di bawah redupnya pelita malam

Ku rebahkan kepalaku di pangkuanmu

Aku merasakan hati yang penuh ketenangan

Lewat belaian hangat tangan halusmu

Ibu

Kau lah jantung dan hatiku

Darahmu mengalir deras di tubuhku

Semua tentang lukamu terikat dibatinku

Kutuliskan syair ini untukmu ibu

Dengan bait yang langsung terhubung denganmu

Dikiasi oleh goresan pena yang indah

Syair ini akan selalu mewarnai hidupmu

2. "Malaikat Tak Bersayap" karya Angelia Arum Arizana

Bidasan dirgantara menodong sebuah mata tua

Menaruh aksentuasi pada wanita yang memarut muka

Turut larat membeliak dedikasi kepada putra putrinya

Memeras keringat dan senantiasa mengurut dada

Sudah serasa bahara yang teramat biasa bagi dirinya

Durjana dunia telah menyulih resistansi raga

Menguruk cua menjadi kentara derana yang menyatukan kalbu

Melegar profesi menyerak sang pembela barga

Tanpa basa basi mencerap sumbu mengggebu-gebu

Dia laksana pelita pada ketaksaan jiwa

Senandungnya abadi merajai hati gembira

Sosoknya mampu memberus sorotan seluruh pemirsa

Tertawan segala kiprah yang kejat berjibak

Malaikat tak bersayap, kupanggil ia dengan sebutan ibu

3. "Teruntuk Bunda" karya Dahlia Damayanti Sholikhah

Semilir sarayu yang bersibak dalam afsun swastamita

Tak memupuskan langkah Bunda tuk menyiratkan afeksinya

Setiap malam, kidung harsa terdengar manis dalam ruang hampa

Tanpa harap eulogi; walau peluh melumpuhkan sekujur atma

Kalbuku berdegup memandang wajah cantikmu seakan tiada beban

Tutur manismu mampu mengiringi seluk-beluk kehidupan

Meredum tamparan perkara yang menghantui kalbu; berhamburan

Hingga atma berdaya melampaui liku buana kian pagan

Ditengah penghujung malam, terselip doa walau derai menerpa

Memanjatkan doa teruntuk bunda yang menyuguhkan afeksi amerta

Tak lesap dirimu dalam jelma seram yang merisaukan asa

Meninabobokkan elegi menjadi nirwana dalam candramawa

Mungkin, aksara dalam pena ini tak sebanding adorasimu kian nirmala

Walau netra menatapku sebagai insan apatis tak berperasa

Kau menatapku laksana insan anindita tanpa dosa

Oh Tuhan, mampukah hamba mengabdi jasa Bunda yang tak mampu ku jangka?

4. "Bidadari Pergi Tak Berpamit" karya Della Puspita

Jerit kalbu memekik pilu

Duka selaksa kian terasa

Wajah berseri kini pucat pasi

Belai tangan takkan terasa lagi

Dalam sepi ku ratapi Kasih pergi tanpa permisi

Terisak tangis tersembunyi

Bayang gelap pun menyelimuti

Kendati banyak mata mengasihani

Sosok putri kini seorang diri

Teringat pesan yang kau ajari

Ingatlah tuhan bahwa kau tak sendiri

Teruntuk segala hal yang kau torehkan

Kata yang tak sempat ku ucapkan

Terima kasih semesta telah menghadirkan

Bidadari terindah dalam kehidupan

5. "Ibuku" karya Dewi Fatimatul Faizah

Ilustrasi buku puisi. Foto: Shutter Stock

Tak kan kulupakan jasamu ibu...

Kau mengandungku, melahirkanku

Resah, gelisah menjadi satu Kau rasakan di dalam kalbu

Setiap waktu berjalan

Pekerjaanmu begitu melelahkan

Walau lelah keringat bercucuran

Tak pernah engkau keluhkan

Ibu...

Kau curahkan cinta kasihmu

Kau belai dengan sentuhan lembutmu

Mendidikku dengan kasih sayangmu

Agar aku menjadi maju

Ibu...

Tak hentinya aku membuatmu marah

Hingga kau menjadi gundah

Namun, engkau tetap tabah

Tersenyum ramah, tanpa keluh kesah

Dirgahayulah ibunda

Salam baktimu ananda

Teriring ucapan doa

Semoga Tuhan mengabulkannya

6. "Ibu Matahariku" karya Eni Safitri

Katanya alarm terbaik adalah Ibu

Katanya berkeluh kesah ternyaman pada Ibu

Katanya tak ada yang lebih dahsyat dari doa seorang Ibu

Faktanya tidak ada yang tidak benar dari semua itu

Ibu.....

Terima kasih karena yang sesungguhnya

Tanpamu aku bukanlah apa-apa

Tanpamu hidupku tak akan bermakna

Tanpamu duniaku tak ada artinya

Ibu....

Putri kecilmu yang dulu sangat manja

Kini keadaan telah memaksanya untuk dewasa

Belajar menjadi seperti Ibu

Memberikan segala pengorbanan hanya untukku

Ternyata aku belum mampu

Maafkanlah bu.....

Terkadang hanya karena rutinitasku

Aku tak sempat mengatakan rindu

Ibu tetaplah menjadi matahariku

Selalu berperan penting dalam hidupku

7. "Eufoni Hati" karya Ega Febrian Kurnia

Biarkan sekali ini ku berbisik

Alangkah indahnya hariku denganmu

Kala arunika menyerbak di kelopak mataku saat pertama kalinya

Kau buai dengan tangan halus dan air mata bahagia

Sesuatu yang indah dari anugerah-Nya

Kini langkah tak terasa

Telah ada suara yang berbeda dari suara tangis itu

Telah ada beban yang berbeda dari sekadar pangkuanmu dulu

Dan telah ada pelukan hangat ketika kau sedang sendu

Sungguh segalanya tak sepadan dengan ketegaranmu

Ibu

Ibu

Ibu

Kaulah awal dan akhir dari cinta pertamaku

Sungguh, biarkan sua ini menyertai

Bahwa aku sangat menyayangimu

Baca Juga: 25 Puisi Hari Ibu yang Menyentuh Hati dan Penuh Makna

(DEL)