7 Puisi untuk Ibu yang Maknanya Mendalam dan Menyentuh Hati

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mengungkapkan perasaan cinta pada ibu bisa dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya lewat puisi. Karya sastra lama ini sering dijadikan sebagai medium untuk mencurahkan isi hati, perasaan, dan pikiran.
Dikutip dari buku Sastra Anak: Pengantar Pemahaman Dunia Anak Edisi Revisi oleh Burhan Nurgiantoro, pada hakikatnya, puisi adalah curahan jiwa atau hati yang diekspresikan dalam bentuk bahasa terseleksi. Itu kenapa diksi puisi sering kali tidak umum digunakan.
Bagi yang ingin mempersembahkan puisi untuk ibu, tapi bingung mencari diksi yang tepat untuk mewakili perasaan, simak kumpulan puisi di bawah ini yang bisa dijadikan inspirasi.
Kumpulan Puisi untuk Ibu
Dikutip dari buku Antologi Puisi Kasih Ibu Sepanjang Masa susunan Dahlia Damayanti Sholikhah, dkk., berikut ini kumpulan puisi untuk ibu yang bisa dijadikan inspirasi:
1. "Syair untuk Ibu" karya Amelia Zelianti
Ibu setiap rintikkan air matamu
Menyadarkan diriku atas perbuatanku
Pengorbanan yang telah kau berikan untukku
Selalu ku kenang sepanjang hidupku
Di bawah redupnya pelita malam
Ku rebahkan kepalaku di pangkuanmu
Aku merasakan hati yang penuh ketenangan
Lewat belaian hangat tangan halusmu
Ibu
Kau lah jantung dan hatiku
Darahmu mengalir deras di tubuhku
Semua tentang lukamu terikat dibatinku
Kutuliskan syair ini untukmu ibu
Dengan bait yang langsung terhubung denganmu
Dikiasi oleh goresan pena yang indah
Syair ini akan selalu mewarnai hidupmu
2. "Malaikat Tak Bersayap" karya Angelia Arum Arizana
Bidasan dirgantara menodong sebuah mata tua
Menaruh aksentuasi pada wanita yang memarut muka
Turut larat membeliak dedikasi kepada putra putrinya
Memeras keringat dan senantiasa mengurut dada
Sudah serasa bahara yang teramat biasa bagi dirinya
Durjana dunia telah menyulih resistansi raga
Menguruk cua menjadi kentara derana yang menyatukan kalbu
Melegar profesi menyerak sang pembela barga
Tanpa basa basi mencerap sumbu mengggebu-gebu
Dia laksana pelita pada ketaksaan jiwa
Senandungnya abadi merajai hati gembira
Sosoknya mampu memberus sorotan seluruh pemirsa
Tertawan segala kiprah yang kejat berjibak
Malaikat tak bersayap, kupanggil ia dengan sebutan ibu
3. "Teruntuk Bunda" karya Dahlia Damayanti Sholikhah
Semilir sarayu yang bersibak dalam afsun swastamita
Tak memupuskan langkah Bunda tuk menyiratkan afeksinya
Setiap malam, kidung harsa terdengar manis dalam ruang hampa
Tanpa harap eulogi; walau peluh melumpuhkan sekujur atma
Kalbuku berdegup memandang wajah cantikmu seakan tiada beban
Tutur manismu mampu mengiringi seluk-beluk kehidupan
Meredum tamparan perkara yang menghantui kalbu; berhamburan
Hingga atma berdaya melampaui liku buana kian pagan
Ditengah penghujung malam, terselip doa walau derai menerpa
Memanjatkan doa teruntuk bunda yang menyuguhkan afeksi amerta
Tak lesap dirimu dalam jelma seram yang merisaukan asa
Meninabobokkan elegi menjadi nirwana dalam candramawa
Mungkin, aksara dalam pena ini tak sebanding adorasimu kian nirmala
Walau netra menatapku sebagai insan apatis tak berperasa
Kau menatapku laksana insan anindita tanpa dosa
Oh Tuhan, mampukah hamba mengabdi jasa Bunda yang tak mampu ku jangka?
4. "Bidadari Pergi Tak Berpamit" karya Della Puspita
Jerit kalbu memekik pilu
Duka selaksa kian terasa
Wajah berseri kini pucat pasi
Belai tangan takkan terasa lagi
Dalam sepi ku ratapi Kasih pergi tanpa permisi
Terisak tangis tersembunyi
Bayang gelap pun menyelimuti
Kendati banyak mata mengasihani
Sosok putri kini seorang diri
Teringat pesan yang kau ajari
Ingatlah tuhan bahwa kau tak sendiri
Teruntuk segala hal yang kau torehkan
Kata yang tak sempat ku ucapkan
Terima kasih semesta telah menghadirkan
Bidadari terindah dalam kehidupan
5. "Ibuku" karya Dewi Fatimatul Faizah
Tak kan kulupakan jasamu ibu...
Kau mengandungku, melahirkanku
Resah, gelisah menjadi satu Kau rasakan di dalam kalbu
Setiap waktu berjalan
Pekerjaanmu begitu melelahkan
Walau lelah keringat bercucuran
Tak pernah engkau keluhkan
Ibu...
Kau curahkan cinta kasihmu
Kau belai dengan sentuhan lembutmu
Mendidikku dengan kasih sayangmu
Agar aku menjadi maju
Ibu...
Tak hentinya aku membuatmu marah
Hingga kau menjadi gundah
Namun, engkau tetap tabah
Tersenyum ramah, tanpa keluh kesah
Dirgahayulah ibunda
Salam baktimu ananda
Teriring ucapan doa
Semoga Tuhan mengabulkannya
6. "Ibu Matahariku" karya Eni Safitri
Katanya alarm terbaik adalah Ibu
Katanya berkeluh kesah ternyaman pada Ibu
Katanya tak ada yang lebih dahsyat dari doa seorang Ibu
Faktanya tidak ada yang tidak benar dari semua itu
Ibu.....
Terima kasih karena yang sesungguhnya
Tanpamu aku bukanlah apa-apa
Tanpamu hidupku tak akan bermakna
Tanpamu duniaku tak ada artinya
Ibu....
Putri kecilmu yang dulu sangat manja
Kini keadaan telah memaksanya untuk dewasa
Belajar menjadi seperti Ibu
Memberikan segala pengorbanan hanya untukku
Ternyata aku belum mampu
Maafkanlah bu.....
Terkadang hanya karena rutinitasku
Aku tak sempat mengatakan rindu
Ibu tetaplah menjadi matahariku
Selalu berperan penting dalam hidupku
7. "Eufoni Hati" karya Ega Febrian Kurnia
Biarkan sekali ini ku berbisik
Alangkah indahnya hariku denganmu
Kala arunika menyerbak di kelopak mataku saat pertama kalinya
Kau buai dengan tangan halus dan air mata bahagia
Sesuatu yang indah dari anugerah-Nya
Kini langkah tak terasa
Telah ada suara yang berbeda dari suara tangis itu
Telah ada beban yang berbeda dari sekadar pangkuanmu dulu
Dan telah ada pelukan hangat ketika kau sedang sendu
Sungguh segalanya tak sepadan dengan ketegaranmu
Ibu
Ibu
Ibu
Kaulah awal dan akhir dari cinta pertamaku
Sungguh, biarkan sua ini menyertai
Bahwa aku sangat menyayangimu
Baca Juga: 25 Puisi Hari Ibu yang Menyentuh Hati dan Penuh Makna
(DEL)
