9 Puisi Menyambut Bulan Ramadhan untuk Refleksi Diri

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Sebentar lagi, umat Muslim akan menyambut bulan suci Ramadhan. Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk menyemarakkan momen spesial ini, salah satunya dengan membagikan puisi menyambut Ramadhan di media sosial.
Puisi tersebut bisa memuat pesan yang menggambarkan keindahan, ketenangan, dan makna spiritual Ramadhan. Dengan rangkaian kata yang indah, puisi tidak hanya dapat menginspirasi orang lain tetapi juga menjadi sarana refleksi diri.
Tentu, puisi tersebut tidak bisa dibuat sembarangan. Anda harus menyusun kata-kata yang sesuai agar maknanya bisa tersampaikan dengan baik. Jika butuh referensi, simak beberapa contoh puisi menyambut bulan Ramadhan selengkapnya berikut ini.
Contoh Puisi Menyambut Bulan Ramadhan
Dihimpun dari buku Antalogi Puisi Ramadhan Upgrade Level oleh Remaja Islam Online, Antalogi Puisi Ramadhan Kita oleh Dandy Arie Pramudya, dkk., dan sumber lainnya, berikut beberapa contoh puisi menyambut bulan Ramadhan yang bisa dijadikan referensi:
1. Sahur Ramadhan oleh Barkah Wulandari
Pagi yang benar-benar buta
Matahari pun tertidur
Bulan tak ada
Semua bangun untuk sahur
Meski waktu ini adalah waktu terdingin
Saat mata ingin terlelap manja
Namun saat ini adalah saat umat muslim penuh makan dalam kehidupan
Saatnya berniat untuk berpuasa
2. Bulan Candu Rindu oleh Dandy Arie Pramudya
Menulis aksara tentang rindu
Rindu akan suasana kala itu
Masa yang paling indah dan mulia
Satu tahun sekali untuk dijumpa
Aku hanya terdiam di sudut ruang rindu
Mengingat akan kenangan itu
Suara adzan maghrib yang selalu dinantikan
Dan suasana imsak subuh yang selalu dirindukan
Menahan lapar dan dahaga
Berlomba-lomba untuk melakukan kebaikan
Zakat fitrah yang harus dilakukan
Penuh adorasi hingga puncak kemenangan
Berdiam diri
Menunggu bulan mulia
Semoga dipertemukan kembali
Atas rahmat Allah Yang Maha Kuasa
3. Doa oleh Chairil Anwar
Kepada pemeluk teguh
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namamu
Biar susah susah
mikirnya Sepenuhnya
Cahaya Mu panas suci
Tinggal kerdip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
Aku hilang bentuk remuk
Tuhanku
Aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
Di pintu Mu aku bisa mengetuk
Aku tidak bisa berpaling
Baca Juga: 3 Teks Khutbah Jumat tentang Puasa Ramadhan Singkat dan Penuh Makna
4. Lailatul Qadar oleh Taufik Ismail
Margasatwa tak berbunyi
Gunung menahan nafasnya
Angin pun berhenti
Pohon-pohon tunduk
Dalam gelap malam
Pada bulan suci
Qur'an turun ke bumi
Qur'an turun ke bumi
Inilah malam seribu bulan
Ketika cahaya sorga menerangi bumi
Ketika cahaya sorga menyinari bumi
Inilah malam seribu bulan
Ketika Tuhan menyeka airmata kita
Ketika Tuhan menyeka dosa-dosa kita
5. Tarawih Pertama oleh Pensil Kajoe
Penuh sesak para jamaah
Hingga meluber ke halaman masjid
Penuh semangat berjajar
Dalam shaf di belakang imam
Tarawih pertama
Sangat menggoda
Tak ada jeda di antara
Rapat berderet
Serempak mengangkat tangan
Ketika imam mengucap Takbiratulihram
Allahu Akbar
Allah maha besar
Jaga hati
Dihadapannya manusia
Tak ada seujung kuku
Untuk pantas mencela
Sebab kita masih manusia
Sama seperti teman kita
Tarawih pertama
Di Masjid samping rumah
Di bawah langit beralas sajadah
Aku pasrahkan
Lillah
6. Dahaga oleh Krisna Tama
Angin mengembus-eratkan pelukan
Pelupuk mata jingga menari dalam bayang-bayang kelam
Kembali hadir sebagai teman, sanak saudara layaknya musuh bebuyutan
Sajak-sajak loka kian hari kian liar bercengkerama lepas, mencintai ego, meluapkan ikhlas
Hanya tersisa dua cangkang kerang
Terpecah lalu menusuk hingga mengerang
Hebat bukan berarti kalah
Hanya sesal, sungguh kesal
Kini kepiting-kepiting lapar itu tersungkur, sujud
Pintu gerbang ampunan terbuka lebar, pacuan waktu tak lagi segila dulu
Kau katakan, "detik ini aku berjanji, sucinya bulan Ramadan ini akan menjadi saksi"
Kembali, sendiri namun jauh dari kata sunyi
Ditemani ribuan bintang dan suara jangkrik menembang,
berniat akan bertauabt dengan maksud akan taat
Di bulan berkah,
Bulan Ramadan, yang dimulai hari ini
7. Akankah Sampai oleh Rahayu Purwatiningsih
Kau ku nanti-nanti datangnya
Banyak orang yang tak sampai menemuimu
Akankah aku sampai menemuimu?
Bulan penuh berkah dan pahala dilipatgandakan
Tilawah dikencangkan
Sedekah diperbanyak
Sholat dan ibadah lainnya dimaksimalkan
Titik akhir kedatanganmu ialah taqwa
Titik akhir kedatanganmu ialah hari kemenangan
Titik akhir kedatanganmu ialah manusia kembali fitrah
Semoga aku bisa mencapai titik akhir kedatanganmu
8. Rasa Ku yang Bertanya "Inikah Ramadhan Terakhirku?" oleh Putri Ayu Anandita
Ramadhan, adalah bulan yang telah aku tunggu-tunggu akan datang
Serta kemenangan dalam beribadah hanya kepada-Nya
Tetapi, aku terlalu bodoh
Aku tidak menyambut dengan meriah
Seperti meriahnya aku menyambut tahun baru
Aku mengabaikan shalat sunnah tarawih dan witir berjamaah
Serta aku mengabaikan kandungan isi dalam kitab suci Al-Quran
Dan aku lebih memilih untuk ke rumah makan bersama teman-temanku
Tertawa terbahak-bahak hingga lupa
Apa yang harus aku lakukan untuk mengakhiri bulan yang suci ini
Saat ini adalah saat-saat terakhir
Ya, Ramadhan akan pergi
Pergi jauh dari kehidupanku
Dan ia berjanji akan datang apda tahun berikutnya
Saat itu aku bertanya pada hatiku
Apakah aku masih bernafas di tahun itu?
9. Kini Berbeda oleh Maylani Lovvita Jiyanto
Ramadhan kini berbeda
Beda cara juga penyampaian
Tetapi makna sesungguhnya
Harus tetap ada dan terjaga
Menahan lapar dan dahaga
Sebulan penuh menjaga raga
Perbanyak ibadah saat puasa
Dua kali lipat akan pahalanya
Rindu saat bersama keluarga
Petasan di malam sebulan Ramadhan
Keramaian di rumah tetangga
Kumpul dengan sanak saudara
Lindungi keluarga dari bahaya
Jangan lupa dengan tradisinya
Mohon maaf kata kuncinya
Tetap di rumah adalah caranya
(NSF)
