Adab dan Tata Cara Istinja, Membersihkan Diri dari Kotoran

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Salah satu perkara dunia yang dicintai Allah SWT adalah menyucikan diri. Suci di sini bersifat universal, bisa secara lahiriyah maupun bathiniyah.
Menyucikan diri ada banyak jenisnya, salah satunya adalah istinja. Secara bahasa, kata istinja' ( اسنتجاء ) berasal dari bahasa Arab yang artinya menghilangkan kotoran. Sedangkan secara istilah, istinja adalah membersihkan diri dari segala kotoran yang keluar dari qubul dan dubur manusia.
Meski terlihat sepele, perkara ini tidak bisa dianggap remeh. Sebab, Islam telah mengatur segala halnya dengan sempurna. Apa hukum istinja dan bagaimana tata caranya yang benar menurut syariat Islam?
Hukum Istinja
Hukum istinja dalam Islam terbagi menjadi dua, yaitu wajib dan sunah. Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut.
Wajib
Sebagian ulama berpendapat bahwa hukum istinja adalah wajib bagi setiap Muslim. Dasarnya adalah hadis Rasulullah SAW berikut ini:
Dari Aisyah Radhiyallahu ‘Anh berkata bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Bila kamu pergi ke tempat buang air maka bawalah tiga batu untuk membersihkan. Dan cukuplah batu itu untuk membersihkan. (HR. Ahmad Nasai Abu Daud Ad Daaruquthuni)
Para ulama berpendapat bahwa hadis ini sifatnya perintah (amr) dan konsekuensinya adalah kewajiban. Pendapat ini didukung oleh Al Malikiyah Asy-Syafi’iyah dan Al Hanabilah
Sunah
Sebagian ulama lain berpendapat bahwa hukum istinja adalah sunah. Pendapat ini didukung oleh madzhab imam hanafi dan imam maliki. Dasar yang digunakan Imam Abu Hanifah mengenai hukum istinja’ adalah hadis Rasulullah SAW berikut ini:
Siapa yang beristijmar maka ganjilkanlah bilangannya. Siapa yang melakukannya maka telah berbuat ihsan. Namun bila tidak maka tidak ada keberatan. (HR. Abu Daud).
Tata Cara Istinja Menurut Syariat Islam
Ada tiga macam cara beristinja menurut syariat Islam, yaitu sebagai berikut:
Menggunakan tiga buah batu atau tiga lembar tisu. Namun apabila masih belum bersih, maka ditambah lagi hingga ganjil, lima, tujuh, dan seterusnya. Ini dilakukan apabila tidak ada air atau ada air yang tersedia, namun disediakan untuk minum.
Menggunakan air bersih.
Menggunakan tiga lembar tisu terlebih dahulu, dan diakhiri dengan menggunakan air. Cara istinja yang ketiga ini adalah yang terbaik.
Adab Istinja Menurut Syariat Islam
Adapun adab seorang Muslim ketika hendak beristinja adalah sebagai berikut:
Membaca doa saat masuk toilet
Adapun bacaan doanya adalah sebagai berikut:
بِسْمِ اللهِ اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِك من الْخُبْثِ وَالْخَبَائِثِ
Bismillâhi Allâhumma innî a’ûdzu bika minal khubutsi wal khabâitsi
“Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari godaan iblis jantan dan betina.”
Masuk toilet dengan mendahulukan kaki kiri.
Membuang kotoran kita pada lubang kakus, bukan di dinding atau di lantai toilet.
Duduk saat buang air kecil, apalagi buang air besar.
Mentuntaskan keluarnya kotoran.
Melakukan istinja menggunakan tangan kiri.
Membaca doa ketika keluar dari toilet.
Adapun bacaan doanya adalah sebagai berikut:
غُفْرَانَكَ الْحَمْدُ لِلهِ الذي أَذْهَبَ عَنِّيْ الْأَذَى وَعَافَانِيْ اللهم اجْعَلْنِيْ مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِيْ مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ. اللَّهُمَّ طَهِّرْ قَلْبِيْ مِنَ النِّفَاقِ وَحَصِّنْ فَرْجِيْ مِنَ الْفَوَاحِشِ
Guhfroonaka alhamdulillahi alladzi adzhaba ‘anni al-adza wa ‘aafaani. Allahumma ij’alni minat tawwaabiina waj’alni minal mutathohhiriin. Allahumma thohhir qolbi minan nifaaqi wa hashshin farji minal fawaahisyi
Artinya: “Dengan mengharap ampunanmu, segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan penyakit dari tubuhku, dan mensehatkan aku. Ya Allah, jadikanlah aku sebagian dari orang yang bertaubat dan jadikanlah aku sebagian dari orang yang suci. Ya Allah, bersihkan hatiku dari kemunafikan, dan jaga kelaminku dari perbuatan keji (zina).”
(MSD)
